Demonglass (Hex Hall 2)

“Semester lalu sangat berat?” Dad menirukan, sambil mengambil berkasku. “Sebentar. Pada hari pertamamu di Hecate, kau diserang werewolf. Kau menghina seorang guru, yang berujung pada tugas ruang bawah tanah dengan Archer Cross. Menurut catatan, kalian berdua jadi ‘dekat’. Rupanya cukup dekat sehingga kau bisa melihat tanda L’Occhio di Dio di dadanya.”

Penulis: Rachel Hawkins
Penyunting: Uly Amalia
Pemeriksa aksara:
 Nur Sofiyani
Penerbit: 
Ufuk
Bahasa asli
:
Inggris
Terbit: 
21 April 2012

Sophie Mercer pikir dirinya penyihir. Itulah alasan utamanya mengapa ia dikirim ke Hex Hall, sekolah lembaga pemasyarakatan untuk Prodigium (alias penyihir, shapeshifter, dan peri) nakal. Tapi kemudian dia menemukan rahasia keluarga, dan kenyataan bahwa cowok yang ditaksirnya, Archer Cross, ternyata seorang agen Mata, kelompok yang bertekad untuk menlenyapkan Prodigium dari muka bumi.

Ternyata, Sophie adalah demon, salah satu dari hanya dua demon di dunia—yang satunya adalah ayahnya. Yang lebih buruk lagi, ia punya kekuatan yang mengancam nyawa orang-orang yang dicintainya. Yang menjadi alasan Sophie memutuskan untuk pergi ke London untuk menjalani Pemunahan, prosedur berbahaya yang bisa menghilangkan kekuatannya untuk selama-lamanya–atau menewaskannya.

Tapi begitu Sophie tiba, dia dikejutkan oleh penemuan baru. Teman serumahnya? Mereka juga demon. Artinya, seseorang sedang membangkitkan demon secara diam-diam, dengan rencana mengerikan untuk menggunakan kekuatan mereka, dan mungkin untuk selama-lamanya. Sementara itu, Mata bertekad untuk memburu Sophie, dan mereka menggunakan Archer untuk melakukannya. Bukannya Sophie masih punya perasaan terhadap pemuda itu. Benarkah?

***

Demonglass Cetul
Cetak ulang I 2014

“Semester lalu sungguh berat,” kataku kepada Dad.

“Berat?” Dad menirukan, sambil mengambil berkasku. “Sebentar. Pada hari pertamamu di Hecate, kau diserang werewolf. Kau menghina seorang guru, yang berujung pada tugas ruang bawah tanah dengan Archer Cross. Menurut catatan, kalian berdua jadi ‘dekat’. Rupanya cukup dekat sehingga kau bisa melihat tanda L’Occhio di Dio di dadanya.”

Aku merona mendengarnya, dan merasakan lengan Mom yang merangkulku mengencang. Selama enam bulan ini, aku menceritakan banyak kisah tentang Archer, tapi tidak semuanya.

Khususnya tidak menceritakan bagian aku-yang-bermesraan-di-ruang-bawah-tanah-dengan-warlock-yang-siap-membunuh-yang-bekerja-untuk-Mata.

Pujian-pujian untuk HEX HALL

“Debut Hawkins yang menghibur disesaki oleh misteri dan makhluk-makhluk fantasi”—Publishsers Weekly

“Veronica Marsh bertemu dengan Percy Jackson dan Olympian”—Kirkus Reviews

“Intinya: Sophie Mercer sudah menyihirku!”—Becca Fitzpatrick, penulis buku laris Hush, Hush dan Crescendo

 ***

Rachel Hawkins adalah guru bahasa Inggris SMA sebelum menjadi penulis penuh waktu. Dia dan keluarganya tinggal di Alabama, dan saat ini sedang mengerjakan buku selanjutnya dari seri Hex Hall. Sepanjang pengetahuannya, Rachel bukanlah penyihir, walaupun beberapa mantan muridnya mungkin tidak sependapat….

Kunjungi Rachel dalam jaringan www.rachel-hawkins.com

Ulasan:

Baca juga:

Kisah si vampir galau

Penulis: Tim Collins
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penyunting:
Musa Annaqi
ISBN
: 9786029837711
Rilis
: 2011
Halaman
: 286p 
Penerbit
: Kantera 
Bahasa
: Indonesia
Harga:
Rp 38.000

Menurutku sih ceritanya agak-agak mirip ‘Midnight Sun’-nya Stephenie Meyer tapi dari sisi vampir yang sungguh kurang beruntung (pada awalnya). Kelihatan jelas penulis ‘berkiblat’ kepada kaum vampir versi Meyer yang engga tidur, engga bisa makan makanan manusia, punya pesona yang menghanyutkan dan punya kekuatan super. Sayangnya dua ciri khas terakhir itu tak dimiliki Nigel si Vampir tengil ini.

Sepanjang membaca aku dibuat cengengesan, yang paling konyol menurutku adalah ketika si Nigel pulang sekolah dalam keadaan sakit sehabis mengikuti kelas gabungan toleransi beragama. Rupanya vampir jenis ini bisa migren parah kalau melihat simbol religius apa pun. Dan di kelas itu gurunya menunjukkan berbagai simbol dari semua agama besar. Hihihi… dia cuma bisa bertahan sampai Bulan Bintang dan Yin Yang sebelum akhirnya kabur dengan kepala berputar-putar…

Pokoknya ceritan ini menghibur. Tapi aku juga agak khawatir ketika ternyata buku ini merupakan buku pertama dari seri Vampir Tengil. Jangan-jangan nanti bermunculan tokoh werewolf dan Volturi di buku berikutnya :p

Sinopsis
Mungkin sebagian manusia menganggap vampir itu menyeramkan, dan sebagian lain menganggapnya makhluk yang keren. Tetapi tidak bagiku, aku tidak menyeramkan dan juga tidak keren.

Aku menjadi vampir di usia 15 tahun, dan saat ini umurku hampir 100 tahun. Terbayangkankah kalian, aku mengalami masa puber selama hampir 85 tahun. Tidak hanya suaraku yang baru pecah, jerawat yang mengerumuni wajah, tetapi aku juga harus mempelajari hal yang sama di sekolah berulang-ulang. Oleh sebab itu aku menjadi tidak PD, anti-sosial. dan  terpaksa bermain dengan anak-anak Emo dan Gotik.

Tetapi kemalangan ini berubah sejak Chloe hadir dalam hidupku. Dia mewarnai hari-hariku yang kuanggap gelap. Dan kutuliskan hari-hariku dalam sebuah diari.

Kuharap kalian akan mengetahui jika vampire juga berperasaan.

PS: Kalian ku perbolehkan mengutip puisi atau curhatan-ku untuk kartu valentine kalian.