Di balik layar

Bring it on!

Tahun 2020 sungguh berat, tetapi bagiku sama beratnya dengan kapan saja. Dengan pandemi melanda, tentu saja semua orang menjadi lebih terkungkung dalam berkegiatan fisik dan terpaksa menyesuaikan diri dengan cara-cara baru yang kemudian menjadi normal. Aku ingat pada awal tahun itu membaca sebuah analisis di LinkedIn yang mengatakan bahwa dengan dihentikannya banyak sektor ekonomi akibat pandemi, akan melimpah tenaga kerja berpendidikan yang terampil. Salah satu bidang yang akan banyak diminati adalah penerjemahan karena itu jenis pekerjaan bisa dilakukan di mana saja asalkan ada pendukung yang memadai (terutama listrik dan sambungan internet), cocok untuk kondisi saat ini. Glk. Bakal banyak saingan, dong!

Benar saja, penghasilanku menurun drastis akibat sepinya permintaan terjemahan dan celengan pun dipecahkan. Cemas? Tentu saja, tetapi cuma sebentar. Sambil berserah diri, kulakukan apa yang kubisa dengan sebaik-baiknya. Aku sadar betul kondisiku termasuk bagus untuk ukuran masa ini. Aku juga sadar bahwa semua orang punya berbagai rupa beban hidup masing-masing. Pandemi memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda dan ditangani secara berbeda pula oleh setiap individu. Ini masa yang tepat untuk pesan ibunda kandung Cinderella, “Have a courage, be kind,” dari film Cinderella tahun 2015, kita harus berani dan berbaik hati dalam menghadapi kehidupan. Kita berada di dalam badai yang sama tetapi tidak di kapal yang sama, begitu kata rangorang. Di tengah keadaan yang seolah-olah tanpa harapan ini, tak pelak rasa takut, marah, putus asa, iba terhadap diri sendiri, iri, malu, gengsi, dan tidak puas mewarnai keseharian dan menyedot energi yang sangat kita butuhkan untuk memutar otak demi menemukan jalan keluar. Kata Dr. David Hawkins di dalam buku-bukunya yang kuterjemahkan, semua itu adalah ilusi ego yang selalu berusaha eksis dan hanya akan menghalangi mewujudnya potensi. Cara untuk melampaui semua kenegatifan adalah dengan  surrender dan humility (sikap pasrah dan rendah hati). Siap, laksanakan, Mbah! Benar saja, pasrahku menghilangkan sebagian besar kecemasan dan kegalauan dalam menghadapi keadaan yang serba tidak pasti dan itu sangat besar pengaruhnya terhadap kinerja. Sebagian orang bertahan di tengah pandemi dengan mengeluarkan bakat terpendamnya dan menciptakan peluang untuk mengisi pundi-pundinya. Sebagian lagi terpuruk dan terjebak di lembah nestapa tetapi tak sedikit juga yang lalu bangkit bagaikan burung phoenix yang terlahir kembali dari abunya dengan kobaran semangat yang sama dengan sebelumnya. Ada juga yang bertahan, dan berhasil mengembangkan sayap di jalurnya dengan berbagai penyesuaian. Aku berusaha menjadi orang yang termasuk ke dalam kategori yang terakhir, sebisa mungkin. Aku melihat teman-teman yang sukses, orang-orang terbaik, memiliki satu—atau banyak—“bekas luka” tanda mereka berhasil melampaui tantangan dan menang. Aku pengin menjadi pemenang seperti mereka, tidak patah semangat oleh satu atau dua “lecet” akibat berjuang. Maka, sambil bersyukur, sesekali aku beranjak dari kursi lalu menari mengikuti irama lagu dan naik ke loteng untuk berfotosintesis menikmati matahari pagi agar tidak stres.

Saat orang tidak bisa keluar rumah seperti dahulu, media sosial adalah satu sarana untuk berhubungan dengan orang lain. Caranya bukan sekadar posting atau membagikan konten melainkan menjalin hubungan dengan kawan-kawan dunia maya kita sebagaimana layaknya yang kita lakukan ketika masih bisa bertatap muka, cipika-cipiki, dan tergelak sambil diselingi menghidu aroma kopi: secara tulus. Bercengkerama di status teman Facebook, grup WhatsApp, atau panggilan video sedikit mengurangi kerinduan akan pertemuan tatap muka dan bisa gercep kalau ada teman yang butuh bantuan. Aku juga rajin mengikuti berbagai webinar dan mendapatkan wawasan yang tak kalah berharganya dengan mengikuti pertemuan fisik era BC 19 (Before Covid 19). Hal positif yang didapatkan dari normal yang baru adalah acara pertemuan virtual menjadi semakin lumrah. Sebelumnya, banyak orang berharap pengurus Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) menyelenggarakan pelatihan atau pertemuan daring tetapi tak kunjung terwujud. Kini, harapan itu terpenuhi. Dengan normal baru, dalam sekejap mata rasanya seisi dunia dipaksa untuk menerima dunia virtual sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan, dan mereka yang bersedia (willing) bisa menikmati berbagai pelatihan dan sesi berbagi pengalaman dari kenyamanan tempat tinggal masing-masing. Setidaknya untuk saat ini, acara temu daring yang diselenggarakan oleh HPI merupakan ajang berjejaring yang aman dan berpotensi membawa rezeki (sekilas iklan).

Ada yang melekat dari sekian banyak webinar yang kuikuti, “Jangan ubah targetnya, ubahlah prosesnya. Fleksibilitas adalah kekuatan,” kata Sony Novian dalam acara Temu Penerjemah Jatim 2021 tanggal 20 Februari di Zoom, “kalau tidak ada pandemi pun tantangan pasti ada, kita harus fleksibel untuk mencapai target.” Kemudian, Sony melanjutkan memaparkan langkah selanjutnya dari lima langkah untuk kelangsungan hidup bisnis bahasa.

Ini membuatku meninjau apa saja yang telah kulakukan tahun lalu. Cukup fleksibelkah aku? Beranikah aku punya target dan berencana?

Awal tahun biasanya arus pekerjaan memelan bagiku karena baik agensi asing maupun pemberi kerja dalam negeri kebanyakan masih dalam masa liburan sehingga aku belum merasakan perubahan signifikan dalam pesanan terjemahan pada Januari-Februari 2020. Ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar diberlakukan pada pertengahan Maret 2020, aku sedang menggarap terjemahan novel dari salah satu penerbit dan terlibat dalam proyek penerjemahan situs jaringan hotel. Setelahnya, pesanan terjemahan dari agensi luar negeri tak kunjung deras malah semakin menetes. Dasar jodoh, satu penerbit meminangku untuk menerjemahkan buku nonfiksi yang topiknya terbilang berat tetapi sungguh mencerahkan, disusul penerbit lain yang menawariku buku klasik untuk diterjemahkan. Total, aku menerjemahkan sepuluh buku yang berbeda-beda genre untuk beberapa penerbit sepanjang tahun 2020. Cintaku terhadap dunia penerjemahan buku tidak bertepuk sebelah tangan.

Ada kejadian menarik yang kualami pada tahun itu. Buku Charlotte’s Web karya E.B. White yang kuterjemahkan untuk Penerbit Dolphin pada 2012 diminta untuk diterbitkan oleh penerbit Kakatua karena menurut editornya terjemahannya berhasil dan genrenya sesuai dengan misi penerbit tersebut. Setelah mendapatkan izin dari editor pertama, aku mengulang terjemahan buku itu karena walau bagaimana sewindu telah berlalu sehingga pastinya banyak yang masih perlu diperbaiki agar pantas disebut terjemahan yang berhasil. Beberapa buku yang kuterjemahkan pernah dicetak ulang (termasuk si Charlotte’s Web yang pertama diterbitkan dengan judul Laba-laba dan Jaring Kesayangannya oleh Penerbit Dolphin) dan aku merasa senang. Namun, pengalaman ini berada di level yang lebih tinggi bagiku. Timbul rasa cemas, aku takut menjadi gede rasa lalu lengah dalam menjaga kualitas. Oleh karena itu, saat ada yang memintaku memberikan pelatihan penerjemahan aku ciut nyali. Kendati pernah memberanikan diri mengisi tak kurang dari tujuh webinar tentang penerjemahan sepanjang tahun 2020, aku merasa belum pantas menjadi pelatih.

Pekerjaan terjemah dari agensi asing masih ada, walaupun volumenya tidak sebesar era BC 19. Bahkan, ada satu agensi yang baru bisa kutagih pada penghujung tahun 2020, saking “tipisnya” pesanan pekerjaan yang datang, karena mereka memberlakukan angka minimal untuk mengajukan invois. Tidak mengapa, aku mengumpulkan setiap sen dengan hati senang. Memang, tak banyak informasi lowongan yang mencari penerjemah dengan pasangan bahasa (Inggris-Indonesia) dan subyek yang kukuasai (pariwisata, e-commerce, pemasaran, dll.) sementara penerjemah yang memiliki kualifikasi seperti itu banyak di belantara penerjemah. Namun, ketika ada yang membutuhkan, aku tak segan melamar dan mengikuti tes. Perkara honor, memang angka yang ditawarkan calon klien lebih rendah daripada sebelumnya tetapi pilihan untuk menerima atau menolaknya tetap ada walaupun telah dinyatakan lulus tes. Aku pernah “diselamatkan” dari terpaksa menerima tawaran seperti itu dengan … tidak lulus tes, blessing in disguise banget. Aku ikhlas menerimanya dan mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku seraya menyatakan kesediaan untuk bekerja sama pada masa mendatang. Awalnya, kegagalan ini sempat menggoyahkan rasa percaya diriku. Namun, setelah ditelaah ternyata itu akibat ketidakcocokan antara keahlianku dengan kebutuhan pemberi kerja. Contohnya, subyek yang banyak dibutuhkan saat ini adalah kesehatan, peralatan medis, hal-hal terkait pandemi, sementara pengalamanku dalam bidang ini kurang. Keahlian menerjemahkan game dan takarir film atau subtitle juga sedang banyak dicari. Atau, calon pemberi kerja mencari seorang reviewer sementara aku lebih sering menggarap terjemahan ketimbang me-review. Jalan keluarnya sudah jelas, aku harus mengasah keterampilan di bidang-bidang tersebut dan belajar lagi jika mau berhasil, dan aku bersedia belajar. Tak dinyana, selang beberapa pekan ada agensi di Eropa yang menghubungiku dan menawarkan kerja sama dalam proyek jangka panjang di bidang yang kukuasai. Aku terenyak. Tentu saja aku mau. Rezeki memang sudah ada yang mengatur dan tidak salah alamat. Surrender, humility, willingness—checked! Walhasil, aku masih menerima honor dengan rate seperti sedia kala.

Omong-omong tentang belajar, studiku di Universitas Terbuka sejak 2017 sudah menginjak semester delapan, memasuki tahap persiapan menghadapi Tugas Akhir Program (ujian komprehensif khas UT berbentuk uraian, salah satu syarat untuk lulus dari UT). Semua nilai sudah keluar, walaupun tak semua mata kuliah lulus dengan “warna-warna terbang”. Ujian semester pun tak luput dari perubahan, yang tadinya diselenggarakan secara fisik yakni mahasiswa harus datang ke lokasi yang telah ditentukan (selama ini aku ujian di berbagai sekolah menengah) kini dilaksanakan di dalam jaringan. Jenis soal yang tadinya pilihan ganda menjadi esai, yang tadinya tidak bisa buka buku (apalagi mengakses internet) saat ujian sekarang bisa. Pada waktu yang telah ditentukan, mahasiswa harus mengunduh soal serta lembar jawaban dari situs THE (Take Home Exam) UT dan mengerjakannya sesuai panduan lalu mengunggahnya sesuai tenggat. Soal ujian tersedia dalam format PDF dan jawaban mahasiswa pun harus dikirimkan dalam format yang sama. Tidak ada yang menjamin kelak setelah menjadi Sarjana Sastra karierku di dunia persilatan penerjemahan akan semakin baik. Bila ternyata nasibku begitu-begitu saja, aku akan mencari cara lain demi tetap up to date.

Aku hanya bisa bersyukur atas kelimpahan ini. So … bring it on, 2021!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.