Di balik layar

Bring it on!

Tahun 2020 sungguh berat, tetapi bagiku sama beratnya dengan kapan saja. Dengan pandemi melanda, tentu saja semua orang menjadi lebih terkungkung dalam berkegiatan fisik dan terpaksa menyesuaikan diri dengan cara-cara baru yang kemudian menjadi normal. Aku ingat pada awal tahun itu membaca sebuah analisis di LinkedIn yang mengatakan bahwa dengan dihentikannya banyak sektor ekonomi akibat pandemi, akan melimpah tenaga kerja berpendidikan yang terampil dan salah satu bidang yang akan banyak diminati adalah penerjemahan. Glk. Bakal banyak saingan, dong! Cemas? Tentu saja, tetapi cuma sebentar. Aku berserah diri, kulakukan apa yang kubisa dengan sebaik-baiknya.

Tentunya, semua orang punya berbagai rupa beban hidup masing-masing. Kita berada di dalam badai yang sama tetapi tidak di kapal yang sama, begitu kata rangorang. Pandemi memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda dan ditangani secara berbeda pula oleh setiap individu. Tidak ada gunanya mengasihani diri sendiri, iri, malu, gengsi, dan tidak puas. Semua itu hanya ilusi ego yang maunya cari keributan dan hanya akan menghalangi mewujudnya potensi. Kata Dr. David Hawkins, cara untuk melampaui semua kenegatifan itu adalah dengan surrender dan humility (sikap pasrah dan rendah hati). Siap, laksanakan, Mbah! Sebagian orang mengeluarkan bakat terpendamnya dan menciptakan peluang untuk mengisi pundi-pundinya. Sebagian lagi terpuruk dan terjebak di lembah nestapa tetapi tak sedikit juga yang lalu bangkit bagaikan burung phoenix yang terlahir kembali dari abunya. Ada juga yang bertahan, dan berhasil mengembangkan sayap di jalurnya dengan berbagai penyesuaian. Aku ingin menjadi orang yang termasuk ke dalam kategori yang terakhir sebisa mungkin.

Saat orang tidak bisa keluar rumah, media sosial adalah satu sarana untuk berhubungan dengan orang lain. Caranya bukan sekadar posting atau membagikan konten melainkan juga menjalin hubungan dengan kawan-kawan dunia maya kita sebagaimana layaknya yang kita lakukan ketika masih bisa bertatap muka, cipika-cipiki, dan tergelak sambil diselingi menghidu aroma kopi: secara tulus. Aku juga rajin mengikuti berbagai webinar dan mendapatkan wawasan yang tak kalah berharganya dengan mengikuti pertemuan fisik era BC (Before Covid). Hal positif yang didapatkan dari normal yang baru adalah acara pertemuan virtual menjadi semakin lumrah. Sebelumnya, banyak orang berharap pengurus Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) menyelenggarakan pelatihan atau pertemuan daring tetapi tak kunjung terwujud. Kini, harapan itu terpenuhi. Dengan normal baru, dalam sekejap mata rasanya seisi dunia dipaksa untuk menerima dunia virtual sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan, dan mereka yang bersedia (willing) bisa menikmati berbagai pelatihan dan sesi berbagi pengalaman dari kenyamanan tempat tinggal masing-masing. Setidaknya untuk saat ini, acara temu daring yang diselenggarakan oleh HPI merupakan ajang berjejaring yang aman dan berpotensi membawa rezeki.

Ada yang melekat dari sekian banyak webinar yang kuikuti, “Jangan ubah targetnya, ubahlah prosesnya. Fleksibilitas adalah kekuatan,” kata Sony Novian dalam acara Temu Penerjemah Jatim 2021 tanggal 20 Februari di Zoom, “kalau tidak ada pandemi pun tantangan pasti ada, kita harus fleksibel untuk mencapai target.” Kemudian, Sony melanjutkan memaparkan langkah selanjutnya dari lima langkah untuk kelangsungan hidup bisnis bahasa.

Ini membuatku meninjau apa saja yang telah kulakukan tahun lalu. Cukup fleksibelkah aku?

Awal tahun biasanya arus pekerjaan memelan bagiku karena baik agensi asing maupun pemberi kerja dalam negeri kebanyakan masih dalam masa liburan sehingga aku belum merasakan perubahan signifikan dalam pesanan terjemahan pada Januari-Februari 2020. Ketika PSBB diberlakukan pada pertengahan Maret 2020, aku sedang menggarap terjemahan novel dari salah satu penerbit dan terlibat dalam proyek penerjemahan situs jaringan hotel. Setelahnya, pesanan terjemahan dari agensi luar negeri tak kunjung deras malah semakin menetes. Dasar jodoh, satu penerbit meminangku untuk menerjemahkan buku nonfiksi yang topiknya terbilang berat, disusul penerbit lain yang menawariku buku klasik untuk diterjemahkan. Total, aku menerjemahkan sepuluh buku yang berbeda-beda genre untuk beberapa penerbit sepanjang tahun 2020. Pekerjaan terjemah dari agensi asing masih ada, walaupun volumenya tidak sebesar era BC. Bahkan, ada satu agensi yang baru bisa kutagih pada akhir tahun, saking “tipisnya” pesanan pekerjaan yang datang, karena mereka memberlakukan angka minimal untuk mengajukan invois. Tidak mengapa, aku mengumpulkan setiap sen dengan hati senang.

Mengenai peluang, memang tak banyak informasi lowongan yang mencari penerjemah dengan pasangan bahasa (Inggris-Indonesia) dan subyek yang kukuasai. Namun, ketika ada yang membutuhkan, aku tak segan melamar dan mengikuti tes. Perkara honor, memang angka yang ditawarkan calon klien lebih rendah daripada sebelumnya tetapi pilihan untuk menerima atau menolaknya tetap ada walaupun telah dinyatakan lulus tes. (Aku pernah “diselamatkan” dari terpaksa menerima tawaran seperti itu dengan … tidak lulus tes, blessing in disguise banget.) Walhasil, aku masih menerima honor dengan rate seperti sedia kala.

Sementara itu, permintaan berbagi pengalaman dalam berbagai webinar berdatangan. Berhubung waktu luang banyak, aku lebih leluasa dalam menyiapkan bahan untuk dibicarakan dalam webinar. Dengan menekan rasa tak percaya diri berbicara di hadapan orang banyak (walaupun virtual), aku memberanikan diri mengisi tak kurang dari tujuh webinar sepanjang tahun 2020.

Aku hanya bisa bersyukur atas kelimpahan ini. So … bring it on, 2021!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.