Stalker

Ya, aku penguntit di media sosial dan tidak malu mengakuinya. Aku menguntit akun-akun yang sering mengirimkan informasi yang sesuai dengan minatku, di antaranya perbukuan dan penerjemahan. Aku siaga menanti informasi tentang peluang pekerjaan atau keterlibatan di dalam suatu kegiatan. Sadar bahwa kesibukan orang berbeda dengan kesibukanku, aku tidak bisa mengandalkan mereka akan menghubungi aku jika sedang membutuhkan keterampilan yang kumiliki. Aku yang harus proaktif tanpa terkesan merongrong. Keuntungan dari menguntit akun-akun kredibel adalah begitu mereka mengirimkan ajakan untuk terlibat di dalam suatu kegiatan, baik itu proyek, kuis, maupun pelatihan, selama waktunya cocok, aku bisa langsung menyambarnya.

Misalnya, aku mengikuti akun Litara. Kegiatan yang “kusambar” dari akun itu tempo hari adalah lokakarya penerjemahan buku anak di platform Let’s Read Asia bersama Litara dan Asia Foundation di Bandung. Aku mengerjakan tes terjemah sebagai syarat keikutsertaan acara tersebut. Tak dinyana, aku malah diajak menjadi salah seorang mentor acara oleh mbak Eva Nukman. Lalu, apakah dengan begitu aku otomatis diajak saat ada kegiatan serupa? Oh, belum tentu. Aku tetap mengikuti akun Litara sehingga ketika ada berita tentang kegiatan penerjemahan cerita anak bersama Room to Read dan ProVisi Education pada Juli 2018, kembali aku mendaftar.

Kali ini, kegiatan diikuti oleh penulis, editor, dan penerjemah. Peserta lokakarya yang berlangsung selama dua hari di Bandung itu dibagi ke dalam beberapa kelompok tiga orang: penulis, editor, penerjemah. Kelompokku terdiri dari aku, mbak Erna Fitrini, penulis cerita anak, dan mbak Suhindrati Shinta, manajer penerbit Noura Books. Sebelum memulai, kami diberi pengarahan oleh Alisha Berger dari Room to Read mengenai lembaga yang dia wakili, poin-poin yang harus diperhatikan dalam menerjemahkan cerita anak seperti level-level kelompok umur (1-6) dan target jumlah cerita yang akan diterjemahkan. Alisha juga mengharapkan masukan mengenai plot cerita terutama dari para editor dan penulis.

Bekerja langsung dengan editor dan penulis seperti ini merupakan pengalaman yang sangat baru bagiku. Aku bisa menyaksikan secara langsung bagaimana mereka membedah setiap kata, kalimat, dan paragraf bukan hanya untuk mencari padanan yang pas melainkan juga logika cerita yang tepat sehingga pesan penulis sampai di dalam bahasa sasaran sesuai dengan sasaran pembacanya. Menerjemahkan cerita anak bukan perkara main-main, begitu mbak Eva mengutip Regina Pantos, mantan Presiden IBBY Jerman. Selain ada pesan moral yang tentunya mengandung konsekuensi besar yang harus dipikirkan masak-masak, ada juga pertimbangan apakah kata tertentu lumrah untuk kelompok umur tertentu, misalnya. Jumlah kata dalam satu kalimat pun tak luput dipertimbangkan dalam menerjemahkan cerita anak Level 1 hinggal Level 3 (keterangan tentang level ini ada di situs web Room to Read). Sebagai penerjemah, tentu aku kurang berani mengolah cerita hingga ke mengubah kalimat aslinya karena penerjemah memang tidak boleh mengubah isi maupun judul buku tanpa izin dari penulis atau ahli warisnya. Oleh karena itu, dengan tertakjub-takjub aku bekerja bersama penulis dan editor untuk meramu minuman ajaib kata-kata hingga menjadi cerita yang memikat dan bermanfaat.

Kegiatan serupa berlangsung kembali pada Februari 2019 di Jakarta. Kali ini, aku bekerja berpasangan dengan Lulu Fitri Rahman, sesama penerjemah.

Berikut adalah cerita-cerita hasil terjemahan kelompok kami:

Untuk selengkapnya, silakan meluncur ke Room to Read.

Seperti itulah kegiatan menguntit yang kulakukan selama ini. Di tengah keriuhan dan kegaduhan media sosial, pasti banyak hal positif yang bisa kita manfaatkan asalkan kita tahu ke mana harus menguntitnya mencarinya.

3 respons untuk ‘Stalker

  1. Abi Sulam berkata:

    Dear Dina,
    Let me know please, what inspired you become a reliable translator up to now and you able to manage your own task among paper works, time and caring the family?
    Your reply would be valuable, and I would be very glad to read from you soonest.
    My regards,
    Abi sulam

      1. Dina Begum berkata:

        What I meant was:
        Translating is my profession to earn my keep so that motivates me to keep going.
        I work according to deadlines and wedge other activities in between those deadlines. My kids are already grown up and do not need much caring as they did when they were little. My husband and I have been caring each other so this is a team effort.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.