Public speaking: pengalaman yang ngeri-ngeri sedap

Assalamu’alaikum mba Dina,, slm knl mba Dina… mw nanya nih klo jadi penerjemah novel apa hrs bisa public speaking jg??

Waalaikumussalam, xxx
Penerjemah novel enggak dituntut harus mampu
public speaking. Yang paling penting adalah mampu menulis dengan baik, selain penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang sangat baik.

Jika “hanya” ingin menjadi penerjemah novel, memang orang tidak perlu menguasai kemampuan berbicara di depan umum, tetapi jika kemampuan tersebut dimiliki dia bisa menjadi pelatih yang membagikan pengalamannya kepada orang lain. Selain (mudah-mudahan) mendapatkan pahala jika di kemudian hari yang dilatih bisa menjadi “orang”, dia juga bisa menikmati “pahala” langsung berupa honor.

Seperti banyak penerjemah, aku lebih suka tidak harus berurusan dengan orang lain secara tatap muka. Berbicara di telepon pun beban bagiku. Komunikasi dengan tulisan melalui email dan pesan teks merupakan cara favoritku hingga kini. Aku berdebar-debar setiap hendak berbicara di antara sekumpulan orang, baik di antara teman-teman, di arisan RT, apalagi di dalam forum formal seperti rapat. Dahulu, aku biasa terlihat di satu tempat saja jika datang ke pesta ulang tahun, arisan, makan-makan, atau resepsi pernikahan. Aku tidak ke mana-mana, tidak berusaha berbicara dengan orang lain, tidak membaur.

Entah kapan dimulainya, yang jelas setelah memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas aku rajin datang ke pertemuan-pertemuan penerjemah yang diselenggarakan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia), acara perbukuan, dan berbagai pelatihan. Kupikir, rugi dong kalau aku tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan wawasan sebanyak-banyaknya setelah memaksakan diri keluar dan mengalahkan rasa enggan berbicara dengan orang lain. Dengan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki minat yang sama ternyata aku bisa bicara ngalor-ngidul secara gayeng.

Setelah beberapa buku terjemahanku terbit dan saat aku menjadi pengurus HPI, Rosmeilan Siagian yang kala itu sekretaris HPI mengajakku turut serta memberikan materi pelatihan penerjemahan sastra kepada penerjemah pemerintah. Sontak aku menolaknya dengan dalih tidak bisa berbicara di depan umum. Beberapa kesempatan serupa menghampiriku setelahnya. Aku selalu mengatakan tidak. Suatu ketika, aku diajak oleh mbak Eva Nukman untuk menjadi salah seorang mentor di acara pelatihan penerjemahan cerita anak bersama Litara dan Let’s Read Asia. Nah, kalau ramai-ramai begini, aku berani. Kesuksesan penyelenggaraan pelatihan di Politeknik Negeri Bandung pada 2017 ini membuat Litara kembali menyelenggarakannya di kota Padang dan Surabaya pada 2018. Pada tiga kesempatan itu, bersama rekan-rekan lain, aku mendampingi peserta menerjemahkan cerita anak dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, Minangkabau, dan Jawa. Alah bisa karena biasa.

Seolah-olah mendapatkan isyarat, mas Iwan Munandar, penerjemah dari Jember, seorang PhD Applied Linguistics, mengajakku turut menjadi pemateri dalam acara lokakarya untuk mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Jember (entah apa yang merasuki mas Iwan). Dengan rasa percaya diri yang setengah matang, aku menyanggupi. Dalam rangka riset, aku mengikuti Lab Ekosistem Sastra (LES) untuk terjemahan di acara Jakarta International Literary Festival pada 13-16 Agustus 2019. Aku mengamati bagaimana mas Anton Kurnia mengampu kegiatan tersebut. Belum lagi serpihan percaya diri yang ambyar terkumpul, melalui mas Ersan Pamungkas, bu Mei dari Sekretariat Kabinet menghubungiku terkait acara Bimbingan Teknis Pengembangan Karier Pejabat Fungsional Penerjemah dan memintaku mengisi acara tersebut.

Berbekal pengamatanku di kegiatan LES, berbagai pelatihan penerjemahan, dan sebagai mentor, aku menyusun materi dan presentasi. Ternyata, peserta pelatihan Bimbingan Teknis yang diselenggarakan di Bogor pada 9 November 2019 ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan jumlahnya lebih dari 50 orang, sodarah-sodarah! Namun, sepertinya aku cukup menghibur mereka dengan berbagi pengalaman, kiat-kiat, dan berlatih menerjemahkan cerpen serta sajak anak.

Semangat berkobar dan agak gede rasa setelah menerima testimonial positif dari seorang peserta bimbingan, aku menyiapkan materi lokakarya untuk Unej. Aku memberikan pemaparan tentang profesi penerjemah, permasalahan yang dihadapi dalam menerjemahkan karya sastra, mengulas terjemahan yang telah peserta kerjakan dua minggu sebelumnya, berlatih menerjemahkan cerpen, dan menunjukkan sekilas cara kerja program Trados. Rasa-rasanya, sebagian besar dari enam puluh peserta lokakarya yang diselenggarakan selama dua hari ini juga menganggap kegiatan tersebut cukup bermanfaat.

Antusiasme peserta pelatihan yang menyimak pemaparanku dan melontarkan pertanyaan tentang profesi penerjemah membuatku percaya diri bahwa aku bisa memenuhi rasa ingin tahu mereka. Selama ini, kekhawatiranku dianggap bodoh atau tidak pantas oleh orang lain itu prasangka belaka. Rupanya aku butuh pengalaman menerjemahkan delapan puluh buku sebelum berani berbicara di depan umum.

4 respons untuk ‘Public speaking: pengalaman yang ngeri-ngeri sedap

  1. Abi Sulam berkata:

    Learning from the basic to be usefull one and reaching the goal one for better life,,,,,while sharing to others who need it,,,,good deed,,,I wish you every success,,,

  2. Ridha berkata:

    Kok sama ya.

    Sabtu kemarin Komda Jabar diundang ke acara Radio RRI Pro2, Bandung. Ikut datang karena terpaksa. Dekat rumah soalnya. Gak jauh dari acara komda siang harinya juga. Tadinya mau di luar studio saja. Malu ketahuan gramatika bahasa Inggris berantakan. Akhirnya terpaksa ikut-ikutan muncul di radio.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.