Tiga Pertanyaan

“Apa tiga pertanyaan teratas yang ingin kamu tanyakan kepada penerjemah senior?” tanya Ade Indarta usai acara pertemuan yang diselenggarakan oleh HPI. Saat itu aku dan Ade sedang mengobrol dengan Erika Manurip, yang menurut pengakuannya penerjemah pemula, dan mas Hanif Rusli, pengurus HPI bidang keanggotaan.

Pertama, menurut Erika, pertanyaan terkait teknik penerjemahan seperti bagaimana mencari padanan kata yang pas dalam penerjemahan. Kedua, cara mempromosikan diri sebagai penerjemah baru yang pengalaman kerja dengan klien belum banyak. Apakah dengan memberikan contoh hasil terjemahan atau bagaimana? Ketiga, mengenai honor.

Berhubung sudah ABG (ampir berumur gocap), aku menerima dimasukkan ke dalam kategori penerjemah senior padahal yang punya pengalaman terjemah lebih panjang sangat banyak. Namun, di antara kami berempat, saat itu, di Gedung Samudra Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta Timur, Sabtu 6 Juli 2019, aku memang salah seorang dari tiga penerjemah yang lebih senior.

Selain banyak wajah baru baik karena baru kulihat maupun karena mereka (mengaku) penerjemah atau juru bahasa pemula, banyak tokoh penerjemah yang hadir di acara, di antaranya Ibu Sofia Mansoor, Pak Hendarto Setiadi, Pak Eddie Notowidigdo, Ibu Inanti Diran, Ibu Rahayu S Hidayat, dan tentunya Pak Hananto Sudharto beserta jajaran pengurus HPI periode saat ini. Kehadiran beliau-beliau ini sangat menginspirasi aku yang telah sekian lama bergelut di dunia penerjemahan. Kuharap titian karierku sebagai penerjemah profesional bisa sepanjang karier mereka. Hadirnya mereka memungkinkan aku menanyakan dan mendiskusikan hal-hal yang sungkan dilakukan jika tidak bertatap muka, karena aku tahu mereka telah meluangkan waktu untuk berada di sana dan tidak sedang mencurahkan perhatian ke pekerjaan atau keluarga. Contohnya, pertanyaan menyangkut honor yang sesuai dengan tema gelar wicara acara HPI kali ini, yaitu “Tarif Penerjemahan Buku dan Penjurubahasaan” dengan narasumber Pak Danny Susanto (Ketua AICI)* dan Pak Rahmat Edi (Penerbit Komunitas Bambu) serta diampu oleh Mutiara Yasmin, penerjemah sekaligus juru bahasa jempolan. (Isi pemaparan beliau berdua sengaja tidak kubahas di sini. Biarlah itu menjadi privilese peserta yang hadir.) Yang jelas, percakapan dengan orang-orang pintar dan bersemangat tentang pekerjaanya selalu membuat ide-ide segar bermunculan dan semangat bekerja berkobar.

Kembali ke pertanyan-pertanyaan Erika.

  • Mengenai bagaimana mencari padanan kata yang pas.

Semoga aku tidak keliru menangkap maksudnya. Biasanya, penerjemah lepas atau freelance translator bekerja sendiri dengan bantuan mesin pencarian internet dan menemukan informasi yang melimpah. Kadang-kadang, kita ragu apakah satu istilah itu sudah berterima atau belum, lumrahkan istilah itu dipakai di dalam konteks tertentu? Kita perlu konfirmasi. Mau bertanya kepada siapa? Hindari ujug-ujug berkirim email atau pesan WA kepada penerjemah yang sudah lebih berpengalaman menanyakan “Selamat pagi/siang/sore, mau tanya, istilah ini padananya apa ya?” Saranku, bergabunglah dengan grup diskusi penerjemah baik itu di media sosial, mailing list, maupun grup semacam WhatsApp atau telegram. Berpartisipasilah di dalam diskusinya agar interaksinya timbal balik, memberi dan menerima saran. Dengan begitu, peluang mendapatkan jawaban lebih besar.

  • Mengenai cara mempromosikan diri.

Silakan simak tulisan Lulu Fitri Rahman berjudul CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda.

  • Mengenai honor.

Aku membayangkan konteks pertanyaan ini adalah setelah pembicaraan dengan calon klien tiba di topik honor, berapakah angka yang diajukan agar tidak terlalu tinggi sehingga calon klien “kabur” dan tidak terlalu rendah sehingga penerjemah yang menanggung derita. Salah satu caranya dengan masuk ke direktori penerjemah ini https://www.translationdirectory.com/ dan lihat berapa angka yang dicantumkan oleh penerjemah di sana. Simak pengalaman kerjanya, perangkat lunak dan subyek apa saja yang dia kuasai. Kemudian, bandingkan dengan diri Anda, lalu tentukan angka entry level Anda. Dengan bertambahnya “jam terbang”, Anda bisa menawarkan angka yang lebih tinggi kepada calon klien baru, demikian seterusnya. Sepanjang perjalananku menjadi penerjemah lepas aku belum pernah mengalami kenaikan honor dari satu pemberi kerja. Kalaupun ada, dan itu pun jarang, biasanya itu terjadi setelah ada jeda panjang. Ketika klien lama menghubungiku kembali untuk menggarap terjemahan aku memberinya angka yang kuharapkan saat itu, bukan angka dahulu. Bagiku ini masuk akal karena selama jeda itu pengalamanku bertambah, jumlah kata yang telah kuterjemahkan bertambah, hasil terjemahan lebih mulus seperti pipi orang yang rajin melakukan perawatan kulit wajah. (Dengan catatan selama jeda itu Anda tetap menekuni pekerjaan terjemah lho, ya, bukan banting setir menggeluti fashion designer, misalnya, lalu kembali menerjemah ketika ada tawaran.) Sebagai gambaran, berikut honorku saat masih pemula, silakan simak postingan ini.

Semoga pertanyaanmu terjawab, ya, Erika.

Nah, dalam rangka menyambut Hari Penerjemahan Sedunia yang jatuh pada 30 September 2019, aku dan teman-teman penerjemah mengundang penerjemah pemula dan calon penerjemah untuk mengajukan tiga pertanyaan membara teratas yang ingin diajukan kepada penerjemah senior melalui komentar di postingan ini. Satu orang tiga pertanyaan, ya, tidak boleh berulang-ulang menulis komentar baru, kecuali untuk memverifikasi pertanyaan di utas yang sama agar lebih jelas. Pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan penerjemahan tidak akan dijawab.

Penerjemah yang akan berpartisipasi:

Salah seorang (atau lebih) dari kami akan menjawab pertanyaan Anda berdasarkan pengalaman masing-masing. Kesempatan ini dibuka selama bulan Juli 2019. Pada tanggal 30 September 2019 semua pertanyaan dan jawaban akan dirangkum menjadi postingan blog.

*Association of Indonesian Conference Interpreters (Perkumpulan Juru Bahasa Konferensi Indonesia)

22 respons untuk ‘Tiga Pertanyaan

  1. Henny Prianto berkata:

    Dear Mbak Dina Begum,

    Hallooo, salam kenal sebelumnya, saya Henny Prianto, penerjemah pemula yang juga anggota baru di wag Bahtera. Akhirnya saya punya kesempatan untuk mengetik sepatah dua patah kata menyapa mbak Dina (dan berikutnya bertanya), karena selama setahun ini masih menjadi penggemar, penyimak, dan pembaca senyap blog mbak Dina. Terima kasih juga untuk mbak Dina dan rekan-rekan senior yang telah membuat ide menjawab tiga pertanyaan dari penerjemah pemula dan semoga nanti berkenan menjawab pertanyaan dari saya.
    Dalam latihan saya menerjemahkan novel maupun webnovel selama ini, sering kali saya bertanya-tanya tentang beberapa hal berikut:
    1. Untuk mempersingkat waktu pengerjaan tapi tetap menjaga kualitas, kapan biasanya mbak Dina dan rekan-rekan mengedit hasil terjemahan setelah dari CAT Tools? Apakah setiap selesai beberapa halaman, satu bab, atau setelah semua selesai sekaligus?
    2. Jika penulis menggunakan kata-kata yang monoton apakah kita juga menerjemahkannya monoton ataukah kita boleh modifikasi sedikit dengan menerjemahkan berbeda-beda menyesuaikan konteks dalam bahasa Indonesia? Misalnya, penulis hanya menggunakan kata “say” di sepanjang cerita, apakah kita boleh menerjemahkannya menjadi mengatakan, mengucapkan, dan mengutarakan disesuaikan dengan suasana di dalam cerita agar lebih luwes?
    3. Adakah tips-tips khusus atau gaya terjemahan tertentu yang cocok dengan selera penerbit agar bisa lolos tes ataupun saat melamar dengan menyertakan sampel terjemahan?
    Sebenarnya ada nomor 4,5,6 dan seterusnya yang ingin saya tanyakan, tapi saya sudah sangat berterima kasih diberi kesempatan bertanya 3 hal, semoga di lain kesempatan bisa menggali lebih banyak ilmu dari rekan-rekan senior. Mohon maaf jika terlalu panjang yaa mbak Dina…hehehe
    Semoga suatu saat bisa bertatap muka dengan mbak Dina dan rekan-rekan senior yang lain.
    Salam hangat dan sukses.
    Henny.

    1. Dina Begum berkata:

      Hai Henny,
      Sedikit kiat tambahan untuk pertanyaan ketiga dari sisi penerjemah, untuk mengenali selingkung penerbit tertentu, bacalah buku-buku terjemahan terbitan mereka, dan simak isinya. Kalau bisa sih lebih dari satu.

      1. Henny Prianto berkata:

        Wuaah iya benar juga, belum terpikir itu, jadi dari buku-buku terjemahan dari satu penerbit ada kesamaan selingkungan itu yaa mbak, okay okay baik. Terima kasih untuk tipsnya yaa mbak Dina (^_^)

  2. Femmy Syahrani berkata:

    1. Saya biasanya mengedit setelah seluruh materi selesai diterjemahkan, jadi sudah memiliki pemahaman lengkap tentang materinya.

    2. Boleh, selama sesuai dengan konteks dan makna intinya tidak berubah. Memvariasikan terjemahan kata “say” tidak akan mengubah makna, saya kira.

    3. Saya pribadi, sewaktu masih menjadi editor di penerbit dan memeriksa contoh terjemahan pelamar, melihat dua hal, ketepatan makna dan keluwesan bahasa. Gaya terjemahan tidak menjadi kriteria. Jadi, menurut saya, fokus saja pada dua hal ini.

    Semoga membantu.

    1. Henny Prianto berkata:

      Dear Mbak Femmy

      Hallooo, Salam kenal sebelumnya.
      Terima kasih banyak sudah menjawab pertanyaan saya, jawaban mbak Femmy sungguh sangat membantu. Mulai sekarang sudah tidak ragu-ragu lagi jika bertemu kasus serupa dan makin semangat berlatih menerjemahkan setiap hari.
      Sekali lagi terima kasih, senang bisa berguru pada rekan yang sudah berpengalaman. (^_^)

  3. putriaryandini berkata:

    Salam kenal Bu Dina, saya Putri, saya penerjemah yang masih sangat pemula. Saya memiliki 3 pertanyaan, yang pertama software atau aplikasi apa yg biasanya penerjemah gunakan untuk membuat receipt? Lalu, skill tambahan apa yang sebaiknya dimiliki seorang penerjemah? Pertanyaan terakhir merupakan hasil dr rasa ingin tahu saya ttg “peralatan tempur” seorang penerjemah pro, apakah prosesor minimal harus i3, memakai 3 monitor, puluhan kamus berbagai merk, dll, mohon diceritakan. Terima kasih.

    1. Dina Begum berkata:

      Salam, Putri.
      1. Apakah yang dimaksud itu invoice atau tagihan, bukan receipt atau kuitansi? Baik tagihan maupun kuitansi, aku bikin pakai MS Word. Contoh tagihan bisa di-google. Pilih saja yang cocok dengan kebutuhanmu. Mungkin dirimu tertarik membaca tentang caraku mengelola administrasi agar tidak terlalu menyita waktu: https://dinabegum.com/2017/07/15/tertib-administrasi/

      2. Mungkinkah yang Putri maksud dengan keterampilan tambahan itu soft skills? Yang langsung terpikir adalah penerjemah yang baik itu adalah penerjemah yang enggak terasa kehadirannya, semacam ninja. (Jangan kayak aku yang selalu mencari perhatian setiap buku terjemahanku terbit. :p) Maksudku, penerjemah yang baik itu yang berhasil menyampaikan maksud penulis di dalam bahasa sasaran. Bila penulis bermaksud menerangkan sesuatu, pembaca paham. Pada umumnya (enggak semua), bila pembaca teks terjemahan kebingungan dengan apa yang dia baca dia akan membatin “Siapa sih yang nerjemahin? Jelek amat.” Jangan sampai begitu. Simak sedikit dari soft skills yang menurutku penting untuk penerjemah: https://dinabegum.com/2018/03/23/satu-dasawarsa/

      3. Silakan simak “senjata” yang kupakai saat ini: https://dinabegum.com/2016/01/27/senjata-penerjemah/

    2. Femmy Syahrani berkata:

      1. Saya sama dengan Mbak Dina, menggunakan Word saja untuk membuat invoice. Juga menggunakan Excel untuk mencatat database pekerjaan.

      2. Keterampilan berkomunikasi agar dapat menjalin hubungan baik dengan klien. Selain itu, keterampilan riset di internet, terutama berbagai kiat untuk menggunakan Google. Keterampilan berjejaring (networking) juga bermanfaat.

      3. Artikel Mbak Dina sudah lengkap sekali. Saya hanya berbagi pengalaman saya saja. Pada zaman internet ini, banyak sekali sumber daya yang bisa kita peroleh dari internet, tidak perlu lagi buku fisik. Ini terutama untuk kamus umum, tesaurus, dan informasi umum. Untuk istilah di bidang tertentu, sebagian bisa dicari di internet, tetapi memiliki kamus khusus fisik tetap bermanfaat. Apakah perlu sampai puluhan? Tergantung jenis pekerjaan yang kita terima. Kalau semua diterima, ya memang perlu banyak kamus. Kalau menerima bidang tertentu saja, jumlah kamus juga tidak perlu banyak-banyak. Secukupnya saja.

  4. mury berkata:

    Dear mb Dina,
    Bagaimana caranya untuk pertama kali bergabung menjadi penerjemah? Saya masih mahasiswa sastra inggris tingkat 1. Satu2nya modal yg saya punya adalah sdh pernah kursus english grammar 6 bulan, dan ambil kelas translation dan writing. Saya pengen nyobain, mudah2an bisa buat bayar uang kuliah juga. Mohon saran. Terimakasih. Mury

  5. akbarmt25 berkata:

    Halo, Mbak Dina.
    Salam kenal. Saya Taufiq, penerjemah pemula, anggota junior HPI sejak 2017. Saya silent reader blog Mbak Dina dan beberapa penerjemah yang berpartisipasi menjawab pertanyaan di postingan ini. Saya dapat banyak inspirasi tentang “work from home” dari Mbak dan sekarang bekerja sebagai ‘penerjemah rumahan’ juga, hehehe.
    Poin-poin yang ingin saya tanyakan:
    1. Bagaimana teknik penerjemahan keterangan waktu (dalam kasus ini dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia)? Perbedaan budaya antara kedua bahasa terkadang membuat saya bingung saat menerjemahkan keterangan waktu.
    2. Bagaimana tips “self-review” yang baik? Terkadang saya sering “miss” memeriksa hasil terjemahan sendiri sebelum saya kirimkan ke tim yang bertugas memeriksa terjemahan sebelum diserahkan ke klien.
    3. Selain terampil menggunakan CAT, apa saja software lain yang perlu seorang penerjemah kuasai?
    Sebenarnya masih banyak pertanyaan, namun bertanya langsung sepertinya lebih bagus. Semoga bisa dapat kesempatan untuk bertukar pikiran langsung dengan Mbak Dina dan penerjemah-penerjemah HPI lainnya.
    Terima kasih, Mbak Dina.
    Salam.

    1. Dina Begum berkata:

      Salam kenal, Mas Taufiq.
      1. Mungkin tulisan ini bisa menjawab sebagian kebingungan Anda. https://penerjemahan.wordpress.com/category/tata-bahasa/tenses/

      2. Biasanya, setelah menyelesaikan satu bahan terjemah, aku tidak langsung melakukan swasunting. Aku beristirahat dahulu agar pikiran jernih saat membaca ulang hasil terjemahan.

      Dengan banyak membaca, dan menulis, Anda bisa lebih peka menangkap makna bahasa sumber dan menuangkannya ke dalam bahasa sasaran.

      3. Untuk perangkat lunak selain CAT Tool, aku mempelajari dan memakai perangkat lunak yang sesuai kebutuhan saja. Kadang-kadang aku pakai Adobe Photoshop untuk mengedit gambar sebelum diposting di blog atau sosmed, misalnya. Atau, mencoba-coba berbagai aplikasi android untuk berbagai keperluan, misalnya mencatat keuangan, dan sebagainya.

      Semoga sukses, ya!

    2. Femmy Syahrani berkata:

      1. Yang utama adalah kita harus mengenal baik kekhasan kedua bahasa (bahasa sumber maupun bahasa sasaran) dalam menangani keterangan waktu. Misalnya, bahasa Inggris dapat menyampaikan kapan sesuatu terjadi dengan mengubah tense, sedangkan bahasa Indonesia menyampaikan hal yang sama dengan memberi keterangan waktu atau dengan memberi konteks.
      2. Saat menetapkan target harian, selalu perhitungkan waktu untuk swa-sunting. Misalnya, kita harus mengerjakan 6000 kata dalam tiga hari. Jangan targetkan 2000 kata per hari, tetapi targetkan 3000 kata per hari untuk dua hari pertama, dan sisakan satu hari untuk swa-sunting 6000 kata. Sebaiknya tahap swa-sunting ini jangan dilewatkan.
      3. MS Word dan Excel sudah pasti ya. Selain itu, Acrobat Reader, karena sering kali klien meminta kita mem-proofread naskah dan menandai perbaikan dalam format PDF.

      1. akbarmt25 berkata:

        Terima kasih atas sarannya, Mbak Dina dan Mbak Femmy. Saya sudah terapkan tips untuk swa-sunting. Terima kasih sudah mengingatkan istilah bahasa Indonesia dari “proofreading”, hehehe. Tipsnya berhasil; dalam mengerjakan projek saya berusaha untuk menyisakan waktu satu hari untuk swa-sunting, tentu setelah beristirahat yang cukup (tapi tadi karena tuntutan pekerjaan akhirnya swa-sunting saya agak kacau karena capek, harus lebih pandai mengatur waktu).
        Salam penerjemah! 😀

  6. Mey berkata:

    Salam kena Ibu Dina, nama saya Mey. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk mengadakan sesi tanya jawab singkat di blog Ibu. Pertanyaan yang ingin saya tanyakan adalah sebagai berikut:
    1. Sejak lama saya tertarik untuk menjadi seorang penerjemah novel/komik, namun biasanya saya jarang sekali menemukan lowongan tersebut di website penerbit lokal. Apakah biasanya penerjemah memang harus bertanya langsung melalui email/telepon mengenai adanya lowongan sebagai penerjemah atau menunggu dibukanya lowongan? Jika harus bertanya langsung melalui email, apakah harus langsung inisiatif mengirimkan CV berserta contoh terjemahan sambil memperkenalkan diri atau lebih baik menunggu sampai diminta saja?
    2. Saat memberikan contoh terjemahan kepada agensi/penerbit, apakah jenis contohnya harus disesuaikan dengan tujuan (misalnya memberikan contoh terjemahan cerpen/novel kepada penerbit atau memberikan contoh terjemahan berita atau artikel kepada agensi) atau bebas?

    Untuk pertanyaan ketiga, boleh kapan-kapan saya tanyanya? Karena saat ini sedang tidak terpikirkan ingin tanya apa lagi. Maaf jika pertanyaannya mungkin agak aneh, karena saya baru saja mulai menjadi penerjemah freelance. Terima kasih untuk jawabannya.

    1. Dina Begum berkata:

      Hai, Mey.
      1. Memang lowongan penerjemah jarang ditemukan di dalam apalagi di luar jaringan. “Jurus” yang kulakukan untuk membuka peluang itu adalah dengan datang ke acara-acara yang berhubungan dengan buku seperti bookfair yang ada acara diskusinya lalu berkenalan dengan editor dan penggiat buku lainnya. Setelah berkenalan, aku lebih mudah menanyakan apakah mereka sedang membutuhkan jasa penerjemah atau tidak. Bila tidak sempat datang langsung ke acara-acara seperti itu, aku ikut bergabung ke dalam grup pembaca atau penerbit online. Aku tanyakan kepada adminnya kalau ingin mengajukan lamaran menjadi penerjemah ke mana sebaiknya mengirimkan email.

      2. Iya, sebaiknya disesuaikan.
      Silakan simak kiat-kiat melamar ke penerbit yang dibeberkan oleh Dyah, editor Mizan ini: http://dyahdblueholic.blogspot.com/2016/04/tips-mengirim-lamaran-penerjemah-ke.html

      3. Silakan, ditunggu ya.

      Semoga sukses.

    2. Femmy Syahrani berkata:

      1. Jawaban standarnya, langsung saja “melamar” menjadi penerjemah lepas ke penerbit, dilengkapi dengan CV dan contoh terjemahan. Jawaban panjangnya, editor biasanya sudah sibuk dengan berbagai aspek penerbitan, jadi memeriksa contoh terjemahan pelamar menjadi prioritas nomor sekian. Kiat-kiat yang diberikan Mbak Dina bisa membantu nama kita dikenal oleh editor, sehingga lamaran kita ditangani lebih cepat.

  7. Nur Shabrina berkata:

    Salam kenal Bu Dina, nama saya Shabrina. Terima kasih sebelumnya atas kesempatan sesi tanya-jawab ini. Pertanyaan yang ingin saya tanyakan sementara ini hanya terpikir 1, semoga di kemudian hari saya diperbolehkan menanyakan 2 pertanyaan sisanya (bila terpikir).

    Yang ingin saya tanyakan adalah, bagaimana cara mengetahui buku yang ingin kita terjemahkan itu belum diterjemahkan?

    1. Dina Begum berkata:

      Ahahaha salam kenal, Shabrina.
      Boleh, asalkan di blog ya. Selama bulan Juli teman-teman berpengalaman yang lain bisa turut menjawab pertanyaan. Setelah itu, dikau mungkin terpaksa harus puas denganku yang menjawab pertanyaanmu, bila ada.
      Aku enggak tahu bagaimana cara untuk mengetahui buku mana saja yang sudah diterjemahkan atau belum. Biasanya, aku mengandalkan hasil pencarian di internet saja. Bila bukunya sudah diterjemahkan tetapi belum diterbitkan aku enggak akan pernah tahu, kecuali ada teman penerjemah yang cerita. Mungkin teman-teman yang lain punya kiat jitu. Kita tunggu sama-sama, ya.

    2. Femmy Syahrani berkata:

      Untuk memeriksa apakah suatu buku sudah ada edisi Indonesianya, saya biasanya cek ke Goodreads. Di situ kita bisa melihat daftar edisi yang sudah terbit untuk suatu judul.

Tinggalkan Balasan ke mury Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.