Penghasilan Penerjemah Lepas

 

Saat ditanya “Berapa sih penghasilan penerjemah itu?” aku gelagapan. Selain sungkan menyebutkan angka, penanya juga merekamnya dengan ponsel untuk pembuatan vlog. Aku memang payah dalam urusan disorot lensa (baik lensa mata maupun lensa kamera), seperti kijang yang terkena sorotan lampu mobil. Akhirnya, aku menjawab, “Cukup.” Kurang puas, pertanyaannya diubah, “Penghasilan penerjemah itu bisa buat apa aja?” Waini, jawabanku agak panjang. Penghasilanku dari menerjemah bisa dipakai untuk membiayai kehidupan keluarga kecil kami yang terdiri dari 4 orang. Aku bisa menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang universitas, bisa membiayai kuliahku di Universitas Terbuka, bisa melunasi cicilan kendaraan bermotor, bisa membeli buku dan benang rajut, bisa top-up uang elektronik (semacam Gopay, OVO, LinkAja, dan lain-lain), bisa turut membantu meringankan beban orangtua, dan bisa sesekali meriung dengan teman-teman di rumah makan kece.

Tidak lengkap menyebutkan penghasilan tanpa menceritakan jam kerja. Bila sedang banyak order, aku bisa bekerja dari setelah salat subuh hingga pukul 22 (dengan beberapa kali waktu istirahat, tentunya), tujuh hari dalam sepekan. Bila sedang sepi order … aku bisa santai merajut sambil maraton menonton film seri sepanjang hari. Akan tetapi, mengingat ini pekerjaan lepas, santainya tidak bisa lama-lama. Enggak ada pekerjaan, enggak dapat uang dong. Bila tidak sedang menggarap terjemahan, aku memoles CV, mengirimkan lamaran, mempelajari CAT Tool baru, menulis blog, mengikuti pelatihan, bertemu teman-teman, mengurus keperluan orangtua, ulangi.

Perlu dijelaskan bahwa pekerjaan penerjemah itu banyak ragamnya, ada penerjemah buku, penerjemah nonbuku, juru bahasa, penerjemah teks film (subtitle), transkreasi, dan masih banyak lagi, simak selengkapnya. Penghasilan tiap-tiap jenis pekerjaan berbeda-beda. Misalnya, aku penerjemah buku dan nonbuku. Walaupun dalam satu tahun volume pekerjaanku menerjemahkan buku rata-rata dua kali lipat lebih banyak daripada volume nonbuku, perbandingan honornya terbalik, bisa hingga 1:10. Akan tetapi, bagiku kenikmatan dan kebahagiaan menerjemahkan buku (terutama novel) membuat perbandingan kepuasannya sepadan.

Di dalam tulisannya, Desi Mandarini menjelaskan apa saja yang  memengaruhi penghasilan seorang penerjemah lepas. Ringkasnya, besar pendapatan seorang penerjemah dipengaruhi oleh:

  • Keterampilan kerja penerjemah
  • Jumlah klien tetap dengan volume kerja stabil
  • Jumlah proyek yang diterima
  • Tingkat kerumitan proyek yang dikerjakan
  • Tarif yang disepakati oleh penerjemah dan klien.

Simak selengkapnya.

Aku ingat saat pensiun awal dari kantor tempatku bekerja selama sekitar 16 tahun dan memutuskan untuk menjadi penerjemah, ada teman yang bertanya, “Mampu enggak ngongkosin hidup dengan terjemahin buku?” Pertanyaan itu kini terjawab sudah. Bisa, asalkan mau bekerja keras. Kedengarannya klise, ya? Padahal itu 100% benar. Sebenarnya, yang membatasi penghasilan penerjemah adalah dirinya sendiri.

Contoh pertama, bekerja dengan klien agensi di luar negeri. Jika ada pekerjaan yang harus digarap, manajer proyek mengirimkan email pemberitahuan. Aku harus mengonfirmasi kesediaan secepatnya agar pekerjaan tidak diberikan kepada penerjemah lain. Penerjemah pasangan bahasa Inggris-Indonesia itu banyak, jadi aku harus gercep* jika ingin mendapatkannya. Masalahnya, dengan perbedaan zona waktu, terkadang email pemberitahuan datang ketika aku sudah berada di alam mimpi. Jika membalas email keesokan harinya (atau bahkan kadang-kadang beberapa menit kemudian), kemungkinan jawabannya adalah, “Sorry, Dina. I have assigned this task to other translator.” Aku memilih untuk tidak menerima pekerjaan (atau senantiasa siaga menunggu peluang pekerjaan) yang mengharuskan bekerja pada malam hari karena tidak sanggup begadang. Aku butuh aktif pada siang hari untuk keluarga. Sekarang, aku berhasil menyiasatinya dan sudah terbiasa malam-malam memeriksa ponsel begitu terdengar notifikasi email pekerjaan masuk, menimbang apakah volume pekerjaan dan tenggatnya masuk akal, dan memberikan keputusan lalu meneruskan tidur.

Contoh kedua, menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke Inggris atau menerjemahkan topik-topik khusus seperti hukum, kedokteran, dan teknik. Honor penerjemahan pasangan bahasa dan subyek-subyek ini biasanya lebih tinggi daripada pasangan bahasa dan subyek yang kukuasai. Banyak orang yang berasumsi aku bisa menerjemahkan teks bahasa Inggris-Indonesia-Inggris, atau menggarap subyek apa saja padahal tidak. Aku tidak berani menggarap terjemahan Indonesia-Inggris karena bahasa Inggris bukan bahasa ibuku. Demikian juga dengan menerjemahkan subyek-subyek yang tidak kukuasai. Menerjemahkan teks di luar kemampuan kita berisiko menghasilkan terjemahan buruk dan mencoreng reputasi sehingga orang akan enggan memakai lagi jasa kita. Mungkin jika mempelajarinya dengan berbagai cara aku bisa mengerjakannya, tetapi aku tidak menekuninya karena memilih menggunakan waktu untuk mengasah kemampuan yang sudah kukuasai. Biar penerjemah lain yang lebih menguasai yang mengerjakan tugas tersebut.

Tentu saja aku menginginkan penghasilan tinggi tetapi pada akhirnya aku sadar yang kubutuhkan bukan semata-mata seberapa panjang deretan angka di rekening atau seberapa banyak pundi bitcoin yang didapat dari pekerjaan melainkan juga merasa bahagia saat bekerja. Saat bahagia dalam bekerja, berapa pun hasilnya akan cukup untuk kita.

Bila masih ingin tahu pasaran penghasilan yang diterima oleh pekerja di bidang yang sama dengan Anda, coba gunakan fasilitas Cek Gaji di situs ini. Aku tidak kenal siapa pengelolanya, tapi pernah melihat seseorang membagikannya di Facebook lalu turut mengisi surveinya. Situs itu menampilkan gaji kotor dan bersih rata-rata per bulan dilihat dari jenis pekerjaan dan tahun pengalaman. Hasil survei menyimpulkan para penerjemah rata-rata puas dengan penghasilannya. 😉

Untuk potensi penghasilan maksimal seorang penerjemah lepas , Ade Indarta sudah membuat sebuah tulisan. Silakan simak. Hitungan versi realistisnya mendekati keadaan yang sebenarnya, walaupun pada kenyataannya mendapatkan pasokan pekerjaan setiap hari dari klien luar negeri jarang kualami.

Simak juga kiat bertahan dan berjaya di dalam industri terjemahan.

*gercep: gerak cepat

10 tanggapan untuk “Penghasilan Penerjemah Lepas

  1. Seberapa besar penghasilan seorang penerjemah…topik yang menarik..seorang ilmuwan berkata”Orang yang sukses adalah mereka yang mendapat penghasilan karena melakukan pekerjaan yang disukainya”tidak disebutkan besar-kecilnya penghasilan yang didapat ,kalau menurut saya itu relatif. Yang pasti kita coba mencari pekerjaan sesuai dengan keinginan kita kalau tidak ya..mencoba mencintai pekerjaan kita saat ini..

  2. Hampir tujuh tahun jualan, sudah bosan ditanya ini. Sebulan dapat duit berapa? Terkadang jawabannya, tergantung penanya. Kadang suka-suka jawabnya. Kadang jawab di bawah UMR atau setara UMR. Atau bilang, ya cukup lah. Kalau penanya tidak tahu prinsip berdagang, capek juga jelasin panjang lebar. Persis dalam tulisan ibu Dina ini. Kalau keberhasilan atau materi jadi tolak ukur, tentu si Qorun atau Firaun adalah manusia yang paling berhasil. Kok panjang sih komentarnya. 😅

    1. Wajar sih. Saat masih pemula, aku diberitahu berapa pendapatan kotor seorang penerjemah senior. Itu membuatku optimis dan yakin bahwa karier yang kupilih menjanjikan. Ada juga sih yang cuma kepo. Ya gitu deh.

  3. Masuk tahun ketiga aku masih menggunakan rate lama setelah dulu bertanya dengan Mbak di Messenger. Soalnya sehari-hari lebih banyak transkrip daripada translate juga.

    Dan waktu membaca untuk topik hukum, kedokteran dan teknik rate mbak berbeda, aku langsung deg, lha sekarang sedang nerjemahin paper di bidang hukum, kok tarifku sama. Hahahaha….

    1. Salam, Mas Kamtiyono.
      Betul, mengingat tingkat kesulitannya juga risiko tinggi bila terjadi kesalahan terjemah, biasanya penerjemahan ketiga topik tersebut berhonor lebih tinggi ketimbang topik-topik lain. Sayangnya tidak ada acuan khusus untuk ini. Yang jelas aku angkat tangan kalau diminta menerjemahkan topik-topik itu.

      1. Kebetulan saya dulu juga mengerjakan transkrip dari research yang menjadi dasar paper yang saya kerjakan ini Mbak, jadi sedikit terbantu dengan mengetahui proses wawancaranya juga. Memang ada beberapa vocab yang jarang dipakai dalam bidang umum sih, tapi so far saya merasa bisa mengerjakan, semoga saja nanti klien puas 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.