[Kisah Kawan] Pengalaman Mengikuti TSN 2018

TSN (Tes Sertifikasi Nasional) HPI tahun 2018 diadakan tanggal 3 November 2018 di Jakarta dan Malang. Waktu kegiatan ini dijadwalkan, saya memberanikan diri mendaftar pada tanggal 9 Oktober. Biaya tes Rp1.500.000 untuk satu pasangan bahasa. Saya mengambil pasangan EN>ID karena selama ini lebih banyak bekerja di pasangan bahasa tersebut. Belum berani mengambil ID>EN karena selain belum yakin dengan kemampuan sendiri, saya juga tidak terlalu sering mendapat pekerjaan untuk pasangan bahasa ini. Jadi saya putuskan untuk mengambil satu pasangan bahasa saja dulu.

Setelah menelusuri Google dan membaca blog beberapa rekan penerjemah, saya mendapat lumayan banyak informasi terkait TSN ini. Tapi karena format tes berubah mulai tahun 2017, tidak banyak informasi yang bisa saya temukan mengenai format baru ini. Para blogger & penerjemah yang halaman blognya saya kunjungi untuk referensi belajar ternyata kebanyakan mengambil TSN sebelum tahun 2017.
Mulai tahun 2017, penilaian tes menggunakan sistem “blind-marking” dan mengikuti standar tes yang dikembangkan dan digunakan oleh ATA (American Translators Association). Selain itu, juga ada soal mengenai Pengejawantahan Kode Etik Penerjemah.

Sehari sebelum TSN

Karena saya tinggal di Bandung, demi ketenangan dan kenyamanan menghadapi tes, saya memutuskan untuk sudah berada di Jakarta. Saya berangkat naik travel DayTrans yang berangkat pukul 12.30. Dari Karawang sudah macet parah, sampai-sampai saya baru tiba di Jakarta dan check-in hotel sekitar pukul 01.30 dini hari. Jadi saya menghabiskan waktu di jalan 12 jam lebih, durasi Bandung-Jakarta terlama yang pernah saya tempuh. Begitu di kamar saking lelahnya malah tidak bisa tidur. Saya putuskan untuk “mengamankan perut” dulu dengan PopMie yang sengaja saya persiapkan sebelum berangkat, lalu minum sebungkus Tolak Angin. Perut saya suka mengulah kalau bepergian sendirian dan selera makan juga sering agak kacau. Jadi sebelum mules nggak karuan, harus diantisipasi. Sehabis mandi baru merebahkan badan di tempat tidur, dan benar-benar tertidur pukul 04.00.

Hari ujian

Saya terjaga sekitar pukul 06.15. Badan masih capek tapi pikiran cemas. Mana bisa dibawa tidur lagi. Ya sudah saya bangun, buat kopi, langsung mandi. Sekitar pukul 07.30 saya turun untuk sarapan, lalu keluar sebentar berjalan kaki mencari lokasi ujian. Begitu ketemu letaknya, saya balik ke kamar hotel untuk BAB, minum sebungkus Tolak Angin lagi, lalu mengangkut “senjata ujian” dan bergegas ke lokasi.

Begitu tiba di Gedung Inixindo, ternyata sudah ada banyak orang. Setelah pendaftaran ulang, saya langsung ke lantai 2 untuk briefing. Saat briefing diberitahukan bahwa tahun ini ada 2 pasangan bahasa baru yang di-TSN-kan, Mandarin-Indonesia dan Arab-Indonesia. Di meja peserta akan ada amplop berisi petunjuk, soal ujian, dan USB flashdisk untuk menyimpan hasil ujian yang dikerjakan. Penamaan file diberitahukan (tidak boleh menuliskan nama) dan peserta akan selalu diingatkan untuk mengklik “Save” secara berkala agar jawaban soal yang dikerjakan tersimpan sempurna. Sebab di tahun sebelumnya, di Malang ada kejadian mati lampu selama sekitar 10 menit, dan ada peserta yang jawaban ujiannya tidak tersimpan begitu listrik kembali menyala.

Yang saya tunggu-tunggu akhirnya dibahas juga, mengenai soal Pengejawantahan Kode Etik Penerjemah. Untuk soal ini, peserta diharapkan menghabiskan waktu tidak lebih dari 20 menit. Soalnya berupa contoh kasus yang harus dijawab dengan esai. Pesan panitia, “Jangan terlalu lama menghabiskan waktu di soal ini, jangan pula mengerjakannya terakhir. Manfaatkanlah waktu 20 menit di awal dengan baik.”

Selanjutnya, peserta akan diminta mengerjakan terjemahan satu teks wajib dan satu teks pilihan. Saat ujian diperbolehkan membuka segala materi cetak, entah kamus, tesaurus, atau bahkan glosarium pribadi bila ada (dan bila sempat dibuka). Gawai, perangkat elektronik, dan benda lainnya yang tidak berhubungan dengan ujian harus disimpan dan ditaruh di depan ruangan.

Ujian TSN

Pukul 09.00 tepat, peserta diperbolehkan membuka amplop dan mulai mengerjakan soal.

Untuk soal Pengejawantahan Kode Etik, di petunjuk soal tercantum agar jawabannya (saya agak lupa, kalau tidak salah) maksimum 250 kata. Ada 2 soal. Pertanyaan pertama kurang lebih begini, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu diberi pekerjaan oleh klien lalu setelah setengah jalan kamu sadar kalau materi yang diterjemahkan ternyata berisi tentang bisnis yang terlarang dan bertentangan dengan norma agama. Soal kedua, kalau ada penerjemah X membagikan status di media sosial tentang pengalamannya bekerja dengan penerjemah Y lalu status itu mengundang komentar heboh, bagaimana sikap kamu?

Untuk teks terjemahan, di bagian atas ada keterangan untuk apa dan kepada siapa target pembaca teks tersebut ditujukan. Di bagian teks wajib, dijelaskan bahwa teks tersebut adalah untuk buku pelajaran dan target pembacanya adalah mahasiswa. Sedangkan pada teks pilihan, dijelaskan bahwa teks tersebut berupa artikel untuk pembaca situs web. Topik dari kedua teks yang saya kerjakan kurang lebih bertema lingkungan. Teks pilihan yang satu lagi kalau saya tidak salah bertema sosial. Kedua teks bila ditotal panjangnya 1.000 kata.

Selama durasi 3 jam tersebut yang terdengar hanya suara ketikan dan halaman kamus yang dibalik-balik. Sesekali panitia mengingatkan, “Jangan lupa disimpan.” Biasa bekerja menggunakan materi daring membuat saya agak kewalahan karena harus beralih antara kamus-tesaurus-keyboard-layar. Meskipun sudah berlatih sebelumnya, tetap saja rasanya tidak nyaman. Belum lagi area kerja yang terasa sesak karena harus dijejali berbagai materi cetak tebal. Satu kali Tesamoko saya jatuh dan suaranya agak “gubrak”. Syukurnya peserta lain tidak terganggu karena memang masing-masing sibuk dengan pekerjaannya.

Menjelang pukul 12.00 peserta diminta memeriksa dan memastikan kembali file jawabannya sudah tersimpan di flashdisk. “Setelah di-copy, coba tutup semua file, lalu buka lagi,” kata salah seorang pengawas. Lalu peserta diminta memasukkan kembali soal dan flashdisk ke dalam amplop sebelum meninggalkan ruangan. Makan siang sudah tersedia di luar ruang ujian dan boleh diambil setelahnya.

Kesan

Ini pengalaman pertama saya ikut TSN dan menurut saya kendala terberat adalah “putus hubungan” dengan Google. Ada istilah-istilah yang tidak saya temukan di kamus yang saya bawa, salah satunya “bagasse” (ampas tebu). Google juga biasanya sangat membantu untuk lebih memahami konteks. Bayangkan betapa betapa kita sebagai peserta dituntut untuk kembali menjadi penerjemah jadul yang bekerja serba manual, tanpa CAT tool, mbah gugel, juga copy-paste sesukanya. Tantangan lain juga ada pada beberapa istilah bermakna serupa yang terdapat dalam satu kalimat, misalnya “ocean” dan “sea”. Karena itu selain kamus, tesaurus juga penting dibawa.

Jujur setelah mengikuti tes ini saya jadi harap-harap cemas. Lulus tidak ya? Tapi saya pikir, memutuskan untuk ikut TSN saja sudah merupakan suatu langkah berani untuk beranjak dari zona nyaman saya selama ini. The chase is better than the catch. Kalau berhasil, itu bonus. Lalu kalau gagal? Ya persiapan lagi, nabung lagi, coba lagi.
Hasil TSN HPI 2018 akan diumumkan paling lambat tanggal 11 Februari 2019 via email.

Maris Ka
Anggota HPI

2 respons untuk ‘[Kisah Kawan] Pengalaman Mengikuti TSN 2018

  1. Halo mbak Dina,

    Perkenalkan, saya Tara Juliandra 🙂
    Saya tertarik dengan karir sebagai penerjemah karena saya sangat hobi baca novel, baik itu dalam bahasa Indonesia mau pun Inggris. Rasanya paling senang ketika ketemu novel deh, terutama novel fiksi bergenre fantasi.

    Saya saat ini sedang menjalani semester akhir di jurusan Teknik. Saya baru sadar bahwa saya tidak terlalu senang dengan apa yang saya jalani saat ini.
    Saya pikir untuk ke depannya saya mau pekerjaan di mana saya bisa bertemu dengan hal-hal yang saya suka. Oleh karena itu, saya ingin jadi penerjemah novel.

    Pengalaman saya menerjemahkan hanya sekedar ketika mengerjakan tugas kuliah, yaitu menerjemahkan dari buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan jurusan saya.
    Saya juga pernah tes untuk persiapan TOEFL tapi bukan TOEFL-nya.
    Pengalaman saya menulis, dalam bahasa Indonesia mau pun Inggris, hanya untuk sekedar tugas seperti makalah, esai, laporan, dan tugas akhir (skripsi).

    Apa saja ya kiat-kiatnya untuk mengejar karir penerjemah yang bisa mbak berikan kalau pengalaman saya hanya seperti itu? Mungkin mbak Dina bisa memberikan kiat-kiat itu dengan bentuk tahapan, karena saya benar-benar masih bingung harus melakukan upaya apa terlebih dahulu untuk mengejar karir ini.

    Terima kasih sebelumnya, mbak Dina.
    Saya akan sangat senang jika mbak bisa membantu saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.