[Parenting Parents] Demensia Merongrong Keluarga Kami

“Hanjakal baheula ngadunga hayang panjang umur, geuning kieu.”*

Hati serasa teriris mendengar ucapan Papap pada saat itu. Sependek ingatanku, sejak tahun 2017 Papap yang saat itu berusia 81 tahun mulai sulit memahami segala sesuatunya dan mengeluhkan semuanya. Merasa kesepian dan galau termasuk yang paling sering dikeluhkan. Gerakan tubuhnya pun semakin kaku, berjalan dengan kaki diseret sehingga mudah tersandung. Oleh dokter penyakit dalam di RSUD Bogor, Papap dirujuk untuk berkonsultasi dengan dokter saraf yang kemudian mendiagnosis hydrocephalus ringan, lalu dirujuk ke dokter rehabilitasi medik untuk fisioterapi karena terdapat gejala parkinson juga. Karena kesulitan mobilitas untuk pergi ke rumah sakit dan mengantre bersama pasien lain yang jumlahnya sangat banyak, perawatan itu putus di tengah jalan.

Bulan Oktober 2017 Papap jatuh akibat tersandung sampai tulang pundaknya retak. Mengingat usia Papap, dokter bedah ortopedi tidak menyarankan pembedahan. Sejak saat itu, kondisi Papap menurun drastis. Puncaknya terjadi pada bulan Juni 2018, menjelang Idulfitri. Sudah beberapa waktu Papap mulai merasa tidak sedang berada di rumah. Karena tidak mau makan, tubuhnya semakin lemah dan kaku, Papap jatuh saat sedang berusaha memakai celana sambil berdiri dan kehilangan kesadaran. Untuk yang kedua kalinya seumur hidup Papap diopname (yang pertama pada tahun 1970-an akibat jatuh dari motor).

IMG-20180611-WA0011

“Parkinson, stroke hemoragik, demensia,” tiga momok itu yang kutangkap dari penjelasan dokter saraf di RS PMI Bogor yang menyampaikan hasil CT scan. Kesulitan makan Papap kemungkinan gara-gara otot lehernya kaku akibat parkinson, demikian juga gerakan tubuh yang seperti robot sehingga langkahnya diseret. Kehilangan kesadaran bisa karena pendarahan otak yang tidak menyebabkan kelumpuhan dan kurang asupan. Prioritas utamanya adalah memperbaiki asupan. Pendarahan di otak diatasi dengan obat-obatan, diharapkan dalam waktu tiga bulan bisa hilang dengan sendirinya. Selama di rumah sakit, Papap diberi makanan cair yang dimasukkan melalui selang sonde. Tangannya sempat diikat karena terus-menerus hendak melepaskan selang-selang yang menempel di tubuh. Kupikir tindakan ini tepat terbukti setiap setelah diberi makan, sindromnya mereda. Papap belum sanggup menelan. Oleh karena itu, selang sonde harus dipertahankan, yang penting makanan dan obat masuk. Anak-anak beserta para menantu dan cucu-cucu Papap dan Mamah bergantian berjaga bahkan berlebaran di rumah sakit.

Walaupun sudah beberapa waktu turut membantu suami merawat ibundanya yang juga ODD (Orang Dengan Demensia), tak pelak aku terpukul menyaksikan kondisi Papap. Sindrom Papap berbeda dengan sindrom ibu mertua. Papap berteriak-teriak seperti orang yang disakiti, berhalusinasi, sulit tidur, selalu berusaha melepaskan pakaian, ingin berjalan tetapi dengan parkinson menggerogoti tubuh itu berbahaya.

Lewat seminggu, dokter menyatakan secara medis kondisi Papap sudah bisa dibawa pulang dan mengatakan bahwa keluarga harus bersiap untuk melakukan perawatan di rumah. Padahal, sindrom Papap masih belum mengalami perubahan. Sehari-hari, kami lima bersaudara tidak tinggal serumah dengan Papap dan Mamah. Kondisi fisik Mamah yang usianya enam tahun lebih muda daripada Papap dengan fisik yang tidak sesehat dahulu juga tidak memungkinkan untuk merawat Papap sendirian. Kami pun sepakat untuk menggunakan jasa perawat lansia.

*Menyesal dulu berdoa panjang umur, ternyata begini [rasanya].

5 respons untuk ‘[Parenting Parents] Demensia Merongrong Keluarga Kami

  1. Semoga dimudahkan segala sesuatunya ya Mbak. Membaca cerita ini, aku jd ikut teriris rasa hati. Mendiang bapak mertuaku demensia, meninggal akhir tahun lalu. Papaku stroke, terserangnya 2 tahun lalu dan skrg lumpuh plus ingatannya semakin kabur.

  2. Mba Dinaaa *peluuuk

    Kayaknya mba Dina jauuh lebih sabar daripada aku. Ayahku dulu juga sakit, tapi sirosis hati. Kondisi fisik dan kesadarannya menurun terus hingga akhir hayat. Hampir tiap malam manggil-manggil aku, sampai aku kurang tidur dan sering kesal. Duh, kalau ingat itu sekarang rasanya nyesel banget. Kalau aja dulu bisa lebih baik merawat Ayah…

    Semoga Papap diringankan sakitnya, dan Mba Dina sekeluarga selalu diberikan kesabaran dan kesehatan ya…

    1. Aamiin. Makasih, Lulu.
      Aku enggak sabar-sabar amat. Aku sering merutuk dalam hati, sering kesal juga kepada saudara-saudara yang lain, ya gitu deh. Akhirnya aku sadar sehat dan sakit itu pemberian Gusti Allah, kita hanya bisa menerima lalu berusaha meringankannya. Membaca kisah-kisah orang lain yang merawat lansia dan segala perjuangannya membantu menimbulkan rasa senasib sepenanggungan sehingga kita lebih legawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s