Satu Dasawarsa

Tahun 2018, genap satu dasawarsa aku menggeluti profesi sebagai penerjemah, menghidupi keluarga dengan mengubah kopi, teh, dan camilan menjadi untaian kata-kata yang dapat dimengerti oleh pembacanya. Eits, jangan langsung kesengsem dahulu! Baca kisah suram di balik judul-judul buku terjemahanku ini.

Selain menerjemahkan buku dari bahasa Inggris ke Indonesia, aku pun menerjemahkan materi nonbuku, seperti manual, situs web pariwisata, subtitel, prospektus universitas asing, modul pelatihan, dan lain-lain. Banyak banget sukanya, dukanya juga enggak kalah banyak.

Setelah melewati sepuluh musim hujan dan musim kemarau, bolehlah kiranya aku berbagi kiat untuk bertahan di dunia penerjemahan. Ini bukan kiat jitu antigagal lho ya, hanya dongeng pengantar ngetik.

Hapus sifat baper*

Saat hasil terjemahan kita dihujat dikritik (terutama terjemahan buku), tidak usah langsung berubah menjadi manusia hijau lalu smash! Banyak (tidak semua) pembaca yang kejam dalam berkomentar di media sosial, belum tentu semuanya tentang kita. Bisa jadi mereka mengalami hari yang buruk, diputusin sama pacar, kecopetan, di-PHK, dan lain-lain. Ada juga yang memang gemar mengomel sih tetapi anggap saja pada dasarnya mereka orang yang manis dan baik hati.

Tidak perlu terlalu reaktif. Belajar dari suhu penerjemah: jika ada yang mengkritik terjemahan buku kita tetapi kritiknya kurang membangun, hanya karena dia ingin mengomel, katakan “Terima kasih atas tegurannya, menurut kamu bagaimana ya yang lebih pas supaya aku bisa belajar?” sambil lantas mawas diri dan jangan mengulangi kesalahan yang sama. Itu lebih anggun, dijamin lebih cepat melipur lara lalu kita bisa melanjutkan kehidupan dengan menggarap order terjemahan berikutnya. Woles saja. Enggak bisa? Sudah, jangan menjadi penerjemah buku. Penerjemah buku bukan profesi untuk semua orang, hanya orang yang tahan banting yang sanggup menjadi penerjemah buku. Keadaan ini bukan kondisi unik, di mana-mana ya seperti ini.

pathTidak semua pembaca memahami bagaimana cara kerja menerjemah, bahkan terkadang penerjemah yang tidak menggarap jenis proyek yang kita garap pun clueless terhadap pekerjaan kita. Daripada menghabiskan energi untuk perang status yang kemudian akan ditanggapi dengan komentar yang membuat lebih emosi jiwa lagi, mendingan menulis blog, membuat brownies, merajut, mewarnai, menjahit, atau melakukan hobi apa saja. Mungkin Anda lebih suka berperang tulisan, tidak mau tetap kalem dan terus mengetik melainkan memilih memanggil kekuatan petir dan membuat api berkecamuk. Itu boleh-boleh saja tetapi jangan merengek ketika hasilnya jauh dari harapan.

Enyahkan iri dan dengki

Anda pernah iri melihat penerjemah yang mengirimkan foto-foto ciamik ke media sosial saat mereka berlibur atau sedang jeda tatkala bekerja di tempat-tempat eksotis? Hayo ngaku! (Ngacung.) Bila ingin seperti itu, tengoklah apa saja yang harus dia kerjakan sehingga mampu melakukannya. Sanggup? Lakukanlah. Kalau tidak, sebaiknya iri hatinya biarkan di dalam hati saja. Aku kerap menjumpai orang yang hidup “enak” ternyata punya kisah perjuangan hidup yang berat, membuatku malu karena telah mendengki. Do not compare your beginning with their middle, begitu yang kubaca di suatu tempat. Jikalau ingin sukses, Anda harus mau bekerja keras secara cerdas. Iri dan dengki hanya menyita waktu produktif kita.

Daripada terbakar api cemburu atau terpuruk merutuki nasib (atau lebih buruk lagi, menggunjingkan orang lain), lebih baik kepo-in buku apa saja yang dia baca (lalu perbanyak bacaan Anda). Cari hasil terjemahannya (ini lebih mudah bila yang bersangkutan penerjemah buku) dan simak seperti apa hasilnya. Berkenalanlah dengannya, coba cari tahu berapa jam dia bekerja dalam sehari, berapa kata kapasitas menerjemahnya dalam sehari, 3.000 kata, 10.000 kata, 15.000 kata? Apakah dia bekerja Senin-Minggu, Senin-Jumat, atau Sabtu-Minggu? Seperti apakah jam kerjanya: 9-17, 5-22, 21-5? Apakah selain menerjemah dia juga mengantor atau punya usaha lain yang menghasilkan pundi-pundi emas atau tidak, dan sebagainya. Intinya, cari tahu kiat sukses yang bisa Anda tiru sesuai dengan kondisi Anda, mungkin itu akan menempatkan Anda di jalan menuju kemakmuran yang Anda idamkan. Ini lebih mudah dilakukan secara tatap muka, oleh karena itu sempatkanlah keluar dan mengobrol dengan orang lain.

Interaksi tatap muka

Banyak teman penerjemah (bukan juru bahasa, ya) yang mengaku kurang berminat menggeluti pekerjaan yang mengharuskan dia sering-sering bertemu orang sehingga mantap berprofesi sebagai penerjemah. Rata-rata, kami memang menikmati bekerja sendiri menghadap layar monitor, ditemani kucing, anjing, atau boneka, bahkan ada yang begitu tidak menikmati berbicara sampai-sampai enggan menerima panggilan ponsel – dia lebih suka berkomunikasi lewat tulisan. Itu sah-sah saja.

Aku pun demikian. Aku deg-degan saat harus berbicara dengan orang yang baru kutemui. Apalagi jika berhadapan dengan orang yang lebih sakti berpengalaman daripada aku, lutut serasa menjadi bubur dibuatnya. Bila berbicara di depan orang banyak, dan sangat jarang aku mendapati diriku berada dalam situasi dengan hampir semua mata memandangku, aku acap kali tersesat di dalam kerikuhan sendiri lalu keliru mengucapkan apa yang sebenarnya kumaksud. Setelahnya aku hanya bisa menyesali, seandainya aku mengatakan mamimumemo, pasti terdengar lebih keren. Akan tetapi, aku merasa sifat itu lebih banyak merintangi ketimbang memberikan kepuasan batin. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengubah taktik. Awalnya, aku memaksakan diri untuk menghampiri orang dan mengajaknya berbicara (dengan nyali yang semakin lama semakin ciut) setiap datang ke pertemuan baik di forum pelatihan maupun sekadar beramah tamah entah di kedai entah berkunjung ke rumah seseorang atau di tempat pelatihan. Lama-kelamaan, sikap itu tidak perlu dipaksakan lagi dan aku memutuskan untuk mempertahankannya.

Banyak manfaatnya, lho, ikut kumpul-kumpul dengan teman seprofesi: untuk saling berbagi pengalaman, kiat, dan informasi lowongan. #uhuk Walaupun jarak bukan masalah untuk profesi ini, pertemuan tatap muka tetap memiliki nilai tambah tersendiri dalam menjajaki kecocokan berpartner.

“Oh, tapi rumahku jauh,” atau “Kamu enak dekat ke Jakarta, aku harus menyeberang pulau naik pesawat,” atau, “Kapan ya HPI mengadakan acara di [kota di luar P. Jawa]?”

Mohon maaf bila aku terdengar meremehkan dan hanya bisa membayangkan seperti apa hidup di “daerah” karena seumur-umur selalu tinggal relatif dekat ke Ibu Kota. Namun, beberapa kali aku bertatap muka dengan kawan-kawan penerjemah dari Bali, Banjarmasin, Batam, Jambi, Mataram, Palembang, dan tempat-tempat lain yang belum pernah kudatangi. Aku pun pernah pergi ke kota lain hanya untuk belajar CAT Tool karena saat itu sedang butuh dan hanya di tempat dan pada kesempatan itu aku bisa mendapatkan apa yang kubutuhkan. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. #nuffsaid

Riset

Satu hal lagi yang menurutku seyogianya selalu dipunyai oleh penerjemah, yaitu pola pikir riset dulu sebelum bertanya. Bukan sembarang meng-Google lho, ya, melainkan juga menganalisis hasil pencarian dan membandingkannya dengan berbagai sumber sebelum memutuskan mempercayai informasi tertentu. Bila masih bimbang, barulah bertanya tetapi pertanyaannya bukan sekadar, “Arti kata ini-itu apa, ya?” melainkan “Aku kesulitan menerjemahkan kata ini-itu dalam kalimat mamimumemo, menurutku kata ini-itu artinya itu-ini tapi menurut [tautan] artinya bisa ini-ini. Mana ya, yang lebih pas?” Kurang lebih begitu. Pertama, Anda menunjukkan bahwa Anda bukan pemalas (tidak ada yang menyukai pemalas) dan kedua, pertanyaan seperti itu berpotensi mengundang jawaban dari orang yang berkompeten.

Sepertinya sudah cukup ocehanku. Terima kasih sudah menyimaknya. Semoga sukses.

Jenny G Perry

 

*baper = bawa perasaan: Menanggapi sesuatu dengan perasaan berlebihan atau tidak pada tempatnya.

 

5 respons untuk ‘Satu Dasawarsa

  1. Tidak berasa ya Mba…
    Tahu-tahu sudah satu dasawarsa sebagai penerjemah. 😀

    Karena aku sebagai pembaca terjemahan kadang-kadang suka kesel juga sih sama buku yang banyak typho. Apalagi kalau buku terjemahannya tersebut ada : proofreader.
    Ealahhh typho masih ada.. kadang sebel2 gmana gitu, yang ada hanya bisa pasrah.

    Kecuali kalau aku kenal sama penerjemahnya.
    Biasanya, aku langsung japri semua typho, trus kalimat2 yang menurutku aneh, enaknya pakai kalimat apa. Disitu aku suka koreksi. Dan berbagi kesan-kesan tentang buku tersebut hahaha

    Dan terima kasih buat penerjemah yang sudah menjadi jembatan penyambung antara bahasa.
    Mau istilah buku terjemahannya ‘Setia dan kaku’ atau ‘luwes’ asalkan tidak ada typho dan tidak ada kerut dalam ketika proses bacanya. Buku terjemahan tersebut adalah buku yang sukses buat aku senang hahaha

  2. Dua poin pertama soal hati. 😅
    Kalau boleh nambahin, cat tools. Tiga hari ini terasa sekali ngecekin hasil kerjaan yang gak pakai cat tools. Kadang bingung juga mau mengimbau supaya belajar cat tools buat yang serius bergelut di dunia ubah kata.
    Di suruh pakai cat tools, takutnya malah dikirain jualan. Gak pakai alat bantu penerjemah, malah hasil terjemahannya kadang ada yang lupa diterjemahkan.

    1. Sering kali yang merintangi langkahku maju adalah keangkuhanku atau keminderanku sendiri, makanya urusan hati harus terus diberesin. 😉
      Ya, betul, walaupun CAT Tools sudah menemaniku sejak awal karier, jadi memang sudah merasakan manfaatnya, untuk menganjurkannya kepada orang lain agak-agak sungkan soalnya harganya itu lho yang mahal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s