Tang ting tung, yuk, kita hitung

“Mbak, gimana caranya menjawab kalau ada yang mengatakan ‘Masa ga bisa nanti malam jadi, cuma lima lembar,’ atau, ‘Kalimat-kalimatnya kan sederhana, masa semahal itu?'”

Kira-kira begitulah inti  pertanyaan seorang peserta lokakarya penerjemahan buku anak di Bandung beberapa waktu lalu. Temanku ini mengaku menawarkan jasa terjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia dan Indonesia ke Inggris dari teman-temannya dengan imbalan sekian rupiah per halaman di sela-sela kesibukan kuliahnya.

Orang memang sering meremehkan pekerjaan yang tidak dia ketahui. Tujuan kita sebagai pelaku pekerjaan tersebut bukan untuk membuat orang mengerti bagaimana proses mengalih bahasakan suatu informasi ke dalam bahasa yang dapat dipahami sesuai kebutuhan klien, orang tidak perlu tahu itu. Tujuan kita adalah meyakinkan bahwa hasil pekerjaan kita sepadan dengan uang yang dia keluarkan.

Agar dapat menjelaskan kepada calon pemberi kerja, kita harus tahu bagaimana kemampuan menerjemah kita. Luangkan waktu untuk menghitung berapa jumlah kata yang dapat kita terjemahkan dalam satu hari (termasuk melakukan swasunting) lalu hitung berapa jam kita bekerja dalam sepekan, dengan jam kerja 9-17. Misalnya, sebagai penerjemah purnawaktu kapasitas menerjemahku sekitar 3000 kata per hari. Dalam sepekan aku mendedikasikan 5 hari untuk bekerja. Jadi, dalam satu pekan aku bisa menggarap terjemahan sekitar 15.000 kata. Mari kita konversikan ke dalam satuan lembar. Asumsi per lembar adalah 250 kata (A4 spasi ganda, margin kiri-kanan-atas-bawah 1” dengan font Times New Roman 12pt) jadi sehari aku bisa menerjemahkan sekitar 12 lembar. Jangan lupa, kita butuh istirahat, beribadah, dan lain-lain. Jangan mentang-mentang bukan karyawan dan tidak terikat jam kerja 9-17 kita bisa menggunakan 24 jam waktu kita untuk mencari uang, kalau sampai jatuh sakit kerugiannya lebih besar daripada rupiah yang didapatkan.

Jadi, kembali ke pertanyaan temanku tadi, bila ada yang bertanya mengapa tidak bisa mengerjakan terjemahan lima lembar dalam semalam aku jawab, “Kapasitas per hariku 12 lembar, dengan jam kerja 9-17, Senin sampai Jumat. Selain dari kamu, aku juga menerima order dari orang lain dan bekerja sesuai prioritas.” Kalau ada yang keberatan dengan ongkos terjemah karena “kalimat-kalimatnya sederhana” persilakan saja dia menerjemahkannya sendiri. Kita harus menghormati kemampuan diri. Pikirkan apa yang telah kita keluarkan untuk mendapatkan kemampuan ini. Laptop untuk mengetik, sekian banyak buku yang telah kita baca, biaya berlangganan internet, biaya mengikuti berbagai pelatihan dan seminar yang berhubungan dengan penerjemahan, di antaranya. Kalau pekerjaan itu batal, berarti bukan rezeki kita. Kalau sampai kewalahan menerima order, berarti sudah waktunya menaikkan honor. 😉

Selamat Hari Penerjemahan Sedunia 30 September 2017.

 

Iklan

4 thoughts on “Tang ting tung, yuk, kita hitung

Add yours

  1. cuma 5 lembar. Kalimat ‘cuma’ itu yang trekesan meremehkan banget ya, Mbak. Setuju sih kalau memang ‘cuma’ ya kerjakan saja sendiri 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: