Pelatihan Mengalihbahasakan Cerita Anak

Sabtu dan Minggu, 26-27 Agustus 2017, Litara bersama Asia Foundation menyelenggarakan lokakarya  penerjemahan bertajuk “Getting into Children’s World and Words” di Politeknik Negeri Bandung. Acara diikuti oleh 35 calon penerjemah dan penerjemah (yang mengaku) pemula dengan dibimbing oleh empat editor dan diampu oleh Mbak Eva Nukman.

Sekilas tentang proyek Let’s Read Asia dapat Anda simak dalam video Youtube ini. (Buku Charlotte’s Web disebut-sebut. Aku menerjemahkan novel klasik itu. #uhuk)

Acara diawali dengan sambutan-sambutan dari Bapak Angki Apriliandi Rachmat (Pembantu Direktur III, Bidang Kemahasiswaan Politeknik Negeri Bandung), Bapak Brian Saliba (Let’s Read Project Contractor), dan Ibu Sofie Dewayani (Direktur Litara). Kemudian, Mbak Eva Nukman memberikan pembekalan tentang proses penerjemahan cerita anak. Peserta lalu dibagi menjadi empat kelompok.  Tiap-tiap kelompok terdiri dari delapan sampai sepuluh orang yang didampingi oleh seorang editor. Keempat editornya adalah: Mbak Anna Farida, aku, Mbak Erna Fitrini, dan Mbak Maria Lubis.

Tugas setiap kelompok adalah menerjemahkan cerita anak yang telah dipilih dari situs letsreadasia.org dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Ada 36 cerita dari berbagai penjuru dunia, dan kelompokku (kelompok 4) menerjemahkan sembilan cerita untuk tingkat pembaca berbeda-beda: Pemula, Madya, dan Mahir (Beginner, Intermediate, Expert). Tingkat pembaca ini sesungguhnya jebakan betmen. Cerita untuk tingkat Pemula cenderung lebih singkat sementara tingkat Mahir terdiri dari lebih banyak teks. Namun, tingkat kesulitan menerjemahkannya berbanding terbalik.

Cerita The Big Juicy Mango yang berlevel Pemula berupa puisi yang membuat penerjemahnya melintir memutar otak mencari makna dan rima yang mendekati tepat. Di dalam cerita ini, mangganya berwarna merah dengan daging kuning cerah. Kawan-kawan sempat mempertimbangkan apakah kondisi ini termasuk yang perlu dilokalkan, mengingat di Indonesia pada umumnya mangga berwarna hijau atau kuning. Namun, dengan sedikit meng-Google, diketahui ada mangga merah yang berasal dari Brasil. Oleh karena itu, penerjemah mempertahankan warna tersebut. Sementara itu, kisah Sniffles yang dilabeli tingkat Mahir menggunakan bahasa yang cenderung lebih mudah, lucu, dan diakhiri dengan penjabaran tentang bagaimana cara terhindar dari sakit flu. Semula, penerjemah memadankan sniffle menjadi hacim. Namun, hacim adalah onomatope* untuk bersin, sedangkan sniffle lebih ke suara isakan orang yang sedang pilek, ingsreuk dalam bahasa Sundanya. Kami sepakat untuk meniru bunyinya saja dan memutuskan “srot-srot” sebagai padanannya.

Di dalam pembekalan, Mbak Eva menjelaskan bahwa penerjemahan cerita anak itu bukan perkara main-main.  Ia memberikan contoh penyesuaian yang dilakukan dalam komik kisah petualangan Tin Tin. Di dalam komik asli, ada adegan Kapten Haddock yang memegang botol minuman beralkohol dan berujar:

Since we’ve got to die, I may as well have one last bottle.

Penggemar kisah Tin Tin tahu bahwa Kapten Haddock penggemar minuman anggur. Namun, di Amerika adegan ini dianggap tidak pantas untuk pembaca anak-anak karena dikhawatirkan bisa memberikan teladan buruk sehingga terjadi perubahan gambar dan teks menjadi:

As long as we’re going to go, I’d rather not die thirsty.

Clip_10

Sebenarnya, sampai sejauh manakah penerjemah boleh melokalkan kata atau frasa? Karakter di dalam komik Tin Tin pun mengalami perubahan (Milo si anjing menjadi Snowy). Jika di dalam cerita terdapat nama binatang seperti burung kingfisher, misalnya, bolehlah kita menggantinya dengan burung raja udang karena ada padanannya di dalam bahasa Indonesia. Mbak Erna yang juga penulis menjelaskan setiap penyesuaian seyogianya didiskusikan dengan dan atas seizin penulis aslinya. Jika nama tempat dalam karyanya yang tadinya antah berantah diubah menjadi tempat yang ada di dunia nyata kesan yang timbul akan berbeda, mengapa orang tersebut tidak menulis cerita sendiri saja? Saat kawan-kawan menerjemahkan Prach and Sathae, awalnya terlintas ide untuk mengubah nama menjadi Pras dan Setya, karena nama Prach dan Sathae dianggap kurang lumrah. Namun, cerita itu menyebutkan bahwa lokasi kisahnya di suatu desa di Kamboja. Walaupun mungkin saja terjadi, agak janggal rasanya bila ada anak-anak bernama Pras dan Setya tinggal di sana. Oleh karena itu, penerjemah hanya sedikit mengubah nama untuk memudahkan pembaca menjadi Praca dan Satha. Selain memerhatikan kata-kata, penerjemah juga bisa memakai gambar ilustrasi sebagai petunjuk untuk mendapatkan padanan yang sesuai.

Semua peserta memahami isi cerita dengan baik tetapi menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia itu perkara lain. Masih ada yang lupa mengakhiri kalimat dengan titik, masih ada yang lupa membubuhkan spasi di antara kata “di” dengan keterangan tempat, masih ada yang tertukar penggunaan kata “bahwa” dengan “kalau”, masih ada yang memisahkan imbuhan -nya, dan hal-hal “kecil” lain seperti itu. Dari segi kosa kata, beberapa peserta mengaku mengetahui apa maksud kalimatnya tetapi kesulitan mengingat apa padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia yang baku. Jangan berkecil hati, kawan-kawan, jangan enggan membuka kamus dan tesaurus. Semua itu bisa ditingkatkan dengan banyak membaca dan berlatih menerjemah. Banyak juga yang sudah mampu menerjemah dengan baik, tinggal mengasah keterampilan dan memperbanyak “jam terbang” menerjemah.

Apresiasi diberikan kepada Litara dan tim dari Politeknik Negeri Bandung yang menyelenggarakan acara ini dengan lancar dan menyenangkan. Semoga sukses selalu mengiringi kegiatan Anda semua.

LetsreadasiaTanggal 6 September 2017 adalah hari peluncuran situs letsreadasia.org. Mari kita mendongeng kepada anak-anak, keponakan, atau bahkan kelak cucu-cucu kita. Let’s read, Asia!

Berikut adalah kisah-kisah hasil terjemahan peserta kelompok 4 yang telah kusunting:

The Big Juicy Mango (Mangga Besar Bersari)

Curious Baby Elephant (Bayi Gajah yang Sangat Ingin Tahu)

I Can Make Things (Aku Bisa Membuat Banyak Benda)

Inside the World Wide Web (Di dalam World Wide Web)

Little Ant’s Big Plan (Rencana Besar si Semut Kecil)

Lost and Found (Yoyo yang Hilang)

Prach and Sathae (Praca dan Satha)

Sing in the Rain (Bernyanyi di Tengah Hujan)

Sniffles (Srot-srot)

* Onomatope: kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya

 

Iklan

11 thoughts on “Pelatihan Mengalihbahasakan Cerita Anak

Add yours

  1. Bu Dina, terima kasih tulisannya. Menginspirasi sekali buat saya yg sedang belajar menerjemahkan cerita anak. O iya, saya barusan cek letsreadasia, tapi kok nggak nemu cerita yg versi bahasa Inggris ya? Adanya yg sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia

      1. Sudah saya cek dan ada, Bu Dina, kemarin error sepertinya. O, ya, apakah cerita-cerita yg ada di situ boleh diterjemahkan siapa saja? Atau perlu izin dulu?

          1. Bu Dina, satu pertanyaan lagi. Boleh nggak sih kita menerjemahkan cerpen/cernak dsb yg ada di internet/buku utk dipublikasikan di blog pribadi (bukan utk tujuan komersil)?

            Kalau boleh, kira-kira perlu izin ke penulis/penerbitnya tidak ya? Saya sedang belajar menerjemahkan cerita anak 😊

          2. Agar aman, jangan menerjemahkan karya orang lalu menerbitkannya di blog tanpa izin. Pilihlah yang sudah tersedia online secara gratis, misalnya mengambil dari nukilan yang tersedia di Amazon dot com. Bukan masalah jika bukunya telah diterbitkan, siapa tahu hasil terjemahanmu lebih baik daripada terjemahan yang sudah terbit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: