Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

OOT: Bekal Pakaianku Saat Umrah

Tahun ini, kakak ipar sekeluarga berniat umrah ke tanah suci. Dia menanyakan hal-hal seputar busana untuk keperluan di sana. Sama seperti aku, sehari-hari dia berpenampilan tanpa kerudung. Kalau salah kostum tentu akan mengganggu niat ibadah. Aku jadi terkenang tahun lalu, saat disibukkan oleh pertanyaan apakah sebaiknya membeli pakaian baru, meminjam, atau memanfaatkan pakaian yang ada? Berapa banyak yang harus kubawa, bolehkah memakai celana panjang, apakah boleh tidak memakai gamis, dan sebagainya. Saat manasik umrah, biro perjalanan tentunya memberikan gambaran apa saja yang sebaiknya dibawa. Karena saat itu kondisi tidak memungkinkan menghadiri acara tersebut, aku mencari informasi sendiri. Kami berangkat bulan Mei 2016, jadi menurut informasi cuaca di Arab Saudi sedang panas-panasnya.

Biro perjalanan menyediakan seragam yang wajib dipakai saat pergi dan pulang demi kemudahan pengaturan. Seragam yang diberikan berupa kain bercorak batik, kita sendiri yang menjahit dengan model sesuai keinginan. Berarti, aku harus mencuci baju di sana. Setelah mendapatkan informasi dengan membaca berbagai buku panduan umrah dan pengalaman orang-orang melalui blogwalking, inilah perlengkapan pakaian yang kubawa untuk 9 hari, termasuk perjalanan:

  • 2 celana panjang kain (hitam dan putih)
  • 2 celana alibaba (yang biasa kupakai untuk berlatih yoga)
  • 2 rok panjang
  • 4 blus lengan panjang (termasuk seragam bercorak batik)
  • 2 baju terusan
  • 3 daster
  • 1 jaket
  • 5 beha
  • Banyak celana dalam (baik kain maupun kertas).
  • 3 ciput agar rambut tertib
  • 2 manset lengan sambung (karena ada lengan blus yang panjangnya tidak mencapai pergelangan tangan)
  • 7 kerudung (terlalu banyak, ternyata)
  • 4 pasang kaus kaki sebetis
  • 1 pasang penutup punggung tangan (aku hanya memakainya saat ibadah umrah)
  • 1 pasang kaus kaki dengan tapak bintik-bintik karet (agar tidak licin saat melakukan sa’i di lantai satu yang jalannya agak naik-turun di antara bukit Shafa dan Marwah)
  • 1 mukena
  • 8 gantungan baju lipat untuk menggantung pakaian bersih dan cucian (untukku dan suami)
  • Setrika lipat.
  • Sepatu berhak datar
  • Peniti

Aku tak merasa perlu berpakaian dengan model tertentu melainkan cukup mengikuti syariat, yaitu dapat menutupi seluruh aurat, dengan bahan yang tidak transparan dan bisa menutupi warna kulit, tidak terlalu indah dan menarik perhatian, tidak terlalu ketat sampai menampakkan lekukan tubuh, motif busana tidak menyerupai motif busana lawan jenis, dan tidak diberi wewangian yang dapat menggelitik berahi.

Selama di tanah suci, anehnya keringatku tidak bau mungkin karena cepat menguap  sehingga bakteri tidak sempat bermukim. Mencuci baju tidak terlalu berat, hanya dikucek-kucek. Dengan suhu udara bulan Mei yang rata-rata di atas 37 derajat, cucian menjadi cepat kering walaupun hanya digantung di kamar mandi atau di lemari dengan pintu dibuka. Aku membeli detergen di mini swalayan terdekat seharga 2 Riyal. Tentunya kita mencuci seperlunya saja, tidak perlu setiap hari dan tidak perlu pulang sambil membawa pakaian bersih semua karena bagaimanapun juga di sana air merupakan kemewahan.

Dua baju terusan yang kubawa hanya terpakai satu kali masing-masing. Jaket hanya terpakai saat tiba di bandara di Madinah itu pun segera kubuka, di pesawat ternyata suhunya tidak sedingin yang kubayangkan.

Semoga sekelumit pengalaman ini bisa membantu meringankan persiapan sehingga Anda bisa berkonsentrasi pada menyempurnakan ibadah.

Baca juga:

Membuat paspor baru dan menambah nama

Vaksinasi Meningitis

Iklan

5 comments on “OOT: Bekal Pakaianku Saat Umrah

  1. latree
    Januari 27, 2017

    sangu baju menurutku harus menyesuaikan musim. aku pergi bulan februari dan udara masih sangat dingiiiiiiin. butuh jaket musim dingin bahkan long john. cucian juga tidak cepat kering. tapi aku juga tidak bikin list apa aja yang kubawa. lupa :))

    • Dina Begum
      Januari 27, 2017

      Betul. Bulan Februari konon cuaca masih dingin jadi sangat disarankan membawa kostum musim dingin.
      Aku memang sudah bikin draf tulisan ini tahun lalu tapi kok rasanya sepele amat ya nulis ginian. Eh ternyata ada beberapa orang yang nanya. Rupanya topik ini sering tebersit di benak ibu-ibu saat hendak umrah, makanya setelah kakakku tanya-tanya aku merampungkan tulisan.

      • latree
        Januari 27, 2017

        penting mbak ini.

  2. Rindu Kelana
    Februari 1, 2017

    berarti bulan feb nggak cocok bawa celana yoga ya? :)) tadinya mau ngikutin bawa itu.. hehehe.. jaket yang suka dipke ke gunung, bisa dipakai kan? atau pakai baju berlapis2 kali ya supaya ga terlalu dingin.. brrrrr..

    • Dina Begum
      Februari 1, 2017

      Menurut jeng Latree, bulan Februari masih dingin. Jaket wajib dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 26, 2017 by in OOT and tagged , , , , , .

Navigasi

Bergabunglah dengan 318 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 241,029 hits
%d blogger menyukai ini: