Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

[OOT] Membuat Paspor Baru

Jadi, ceritanya aku dan suami diberi rezeki oleh Gusti Allah untuk berangkat umroh bersama keluarga di Malang bulan Mei 2016. Kami mendapat kabar baik ini sekitar dua bulan sebelum tanggal rencana keberangkatan. Rupanya, selain menyiapkan diri untuk beribadah di tanah suci seperti menghafal doa-doa, banyak sekali hal-hal duniawi yang harus diurus, di antaranya membuat paspor dan kartu kuning vaksinasi meningitis untuk keperluan visa, pakaian apa saja yang harus dibawa, berapa lama ibadah berlangsung dan sisanya ngapain aja di sana dan lain-lain.

Nama Harus Sama

Berhubung suami belum punya paspor, kami lantas mengurus pembuatan paspornya. Berbekal pengalamanku membuat paspor di Kantor Imigrasi Bekasi yang melelahkan karena jumlah pemohon sangat banyak, kami pergi ke Kantor Imigrasi Karawang. Syaratnya yaitu:

  • KTP
  • akta kelahiran (atau ijazah atau buku nikah)
  • kartu keluarga dan
  • membayar biaya pembuatan paspor sebesar Rp355.000,-
  • pembuatan paspor bisa di kantor imigrasi mana saja.

Semuanya harus difotokopi tanpa dipotong, khususnya untuk KTP – jadi bukan diperbesar sebagaimana yang mungkin dikatakan orang. Kami mendaftar online lalu memilih tanggal pengurusan. Ada satu file dikirimkan ke email kita, file itu harus kita cetak untuk melakukan pembayaran ke bank BNI.

Clip_3

Setelah membayar, pemohon harus melanjutkan proses pendaftaran online dan setelahnya sistem akan mengirimkan Tanda Terima Permohonan. Tanda terima ini juga harus dicetak dan dibawa saat ke imigrasi. Di tanda terima terdapat catatan yang harus diperhatikan:

  • Membawa dokumen persyaratan asli;
    Jam : 08:00 – 14:00
  • Pakaian sopan warna bebas selain putih;
  • Membawa paspor asli bagi mereka yang melakukan penggantian karena habis masa berlaku (penggantian);
  • Apabila pemohon tidak datang ke Kantor Imigrasi hingga 7 hari sejak jadwal tanggal kedatangan, maka permohonan ini akan dibatalkan secara otomatis oleh sistem SPRI;
  • Tanda Terima Permohonan ini wajib dibawa beserta bukti pembayaran dari bank (khusus Kantor Imigrasi yang melakukan pembayaran via bank) untuk mendapatkan nomor antrean.

Pada hari yang ditentukan, kami tiba di kantor imigrasi sekitar pukul 8.30. Ada mesin untuk mengambil karcis antrean di samping pintu masuk bangunan tempat pengurusan pembuatan paspor. Petugas yang ramah menanyakan maksud kedatangan kami lalu menekan-nekan mesin, menerima berkas kami dan dimasukkan ke dalam map (disediakan oleh kator imigrasi) lalu map ditandai dengan nomor antrean dan memberikan secarik salinan nomor antrean kepada kami. Saat itu kami mendapat nomor antrean 1 digit.

Tak berapa lama, nomor antrean dipanggil. Rupanya ini untuk memeriksa kelengkapan persyaratan. Setelah lengkap, pemohon diberi karcis antrean baru. Kali ini nomornya B 014, di konter pelayanan pendaftar online.

Setelah dipanggil, pemohon ditanya keperluan membuat paspor, direkam sidik jarinya (dengan mesin perekam sidik jari, bukan memakai bak stempel seperti zaman dahulu kala) lalu difoto. Ternyata, saat data dicocokkan dengan berkas asli, timbul masalah karena di akta kelahiran suamiku namanya ditulis dengan ejaan lama sementara di KTP ditulis dengan ejaan baru.

“Ini tidak bisa, Pak,” kata petugasnya.

“Lalu, bagaimana jalan keluarnya, Pak?”

Untuk mengoreksi ejaan itu (huruf “a” menjadi huruf “o”), suamiku harus datang ke catatan sipil dan meminta surat keterangan pendukung.  Petugas menyarankan suamiku mengganti bukti penunjang akta kelahiran dengan ijasah SMA karena nama KTP sama dengan nama di ijasah. Karena suamiku tidak membawa ijasah, kami terpaksa pulang ke Bekasi lalu kembali ke Karawang untuk menyusulkannya tanpa melalui proses antrean lagi. Berkas berupa fotokopi diserahkan kepada petugas, setelah diverifikasi aslinya kami bawa pulang. Jika semua persyaratan lengkap, proses memakan waktu dua jam.

Seluruh proses pembuatan paspor memakan waktu empat hari. Paspor diambil di bangunan yang berbeda dengan tempat mengajukan permohonan pembuatannya. Untuk mengambil paspor, pemohon tinggal menunjukkan bukti pembayaran dari bank. Proses memakan waktu sekitar lima menit.

Di kantor imigrasi Karawang ada bank cabang BNI. Aku berasumsi orang yang mendaftar secara manual bisa melakukan pembayaran di sana. Konter yang melayani pemohon ada empat, tiga konter melayani pemohon yang mendaftar secara manual dan satu konter untuk melayani pemohon yang mendaftar secara online. Sebaiknya semua syarat sudah disiapkan sebelumnya, tapi bagi yang kurang lengkap di depan kantor imigrasi ada warung fotokopi yang juga menjual alat-alat tulis, map, meterai. Tak jauh dari kantor imigrasi ada warung fotokopi lain yaitu di dekat SMA 1 Karawang dan di SMP 5 Karawang. Biaya fotokopi selembar Rp 400,- sedangkan meterai Rp6.000,- dijual dengan harga Rp7.000,-.

Tiga Kata

Karena namaku terdiri dari dua kata, biro perjalanan kami mengabarkan bahwa aku harus mengurus penambahan nama di paspor menjadi tiga kata, sesuai dengan permintaan pihak Arab Saudi. Nama yang kurang dari tiga kata bisa ditambah dengan nama orangtua dengan bukti pendukung akta kelahiran/ijasah. Biro perjalanan menawarkan jasa penambahan nama pada paspor dengan imbalan Rp250.000,-. Seperti biasa, aku blogwalking untuk mencari tahu tentang persyaratannya. Ternyata tidak sulit, yaitu

  1. paspor yang masih berlaku minimal satu tahun dan fotokopinya
  2. fotokopi KTP
  3. fotokopi akta/ijasah/buku nikah – ada nama orangtua
  4. meterai untuk direkatkan di formulir permohonan
  5. surat keterangan dari biro perjalanan tentang kepesertaan umroh.

Berhubung memang hendak mengambil paspor suami, aku mencoba mengajukannya di kantor imigrasi Karawang dan walhasil ditolak. Waktu itu aku belum membawa surat keterangan dari biro perjalanan. Ternyata mengurus penambahan nama di paspor harus diurus di kantor imigrasi tempat diterbitkannya paspor dan memang harus ada surat keterangan keikutsertaan umroh dari biro perjalanan.

Setelah surat dari biro perjalanan didapat, kami pergi ke kantor imigrasi Bekasi. Pagi itu  pukul 06.30 kami tiba di kantor imigrasi dan melihat sudah ada antrean menunggu kantor buka, tidak seperti di kantor imigrasi Karawang yang memberdayakan mesin pembuat karcis antrean. Rupanya pelayanan pembuatan paspor sistem kuota di Bekasi dihapus dan digantikan oleh sistem waktu yakni mulai pukul 7.30 sampai 10.00 WIB. Kami pergi sarapan dahulu. Pukul delapan saat kembali ke kantor imigrasi, antrean sudah mengular.

antre

Antrean sekitar pukul 08.00 di Kantor Imigrasi Bekasi.

Selang beberapa lama, ada petugas yang mengumumkan untuk pemohon yang mendaftar secara online dan yang hendak menambah nama pada paspor dipersilakan langsung masuk. Aku mengacung.

“Paspornya dibuat di mana, Bu?” tanya mas petugas.

“Di Bekasi sini.”

“Masih berlaku, minimal satu tahun?”

“Masih.”

“Surat keterangan dari travel ada?”

“Ada.”

“Silakan ke meja Customer Service, Bu.”

“Yeeeey!”

Di meja layanan pelanggan aku menyatakan maksud dan tujuan datang ke situ sembari menyerahkan berkas.

“Ibu mau ke negara mana?” tanya petugas layanan pelanggan.

“Ke Arab Saudi, mau menambah nama di paspor.”

“Ini sudah tiga nama, Bu, enggak perlu ditambah lagi.”

Ternyata aku keliru memberikan paspor suamiku. Jeng-jeng! Berarti kami harus pulang dulu. #nangis

“Kami tunggu sampai jam dua, Bu.”

Oh, berarti masih ada harapan mengurus penambahan nama pada paspor hari itu juga. Setelah pulang, menambil paspor yang benar lalu kuserahkan kepada petugas, berkasku diperiksa lalu diberi dua lembar formulir permohonan untuk diisi, dibubuhi meterai lalu ditandatangani. Di dalam formulir di bidang nama yang ingin ditambahkan hanya ada “nama ayah” dan “nama kakek”, tidak ada nama suami.

“Boleh tambah pakai nama suami, Bu?”

“Tidak boleh. Harus nama ayah,” jawabnya.

Kusangka setelah itu ada proses lain lagi, ternyata aku diberi tanda terima yang berisi keterangan bahwa tidak dipungut biaya dan paspor bisa diambil empat hari setelah hari itu, artinya proses memakan waktu dua hari (kami datang hari Kamis).

“Nanti tinggal ambil, Bu?”

“Iya, di sana, ya,” katanya sambil mengisyaratkan ke arah loket pengambilan paspor.

Prosesnya sebentar, tak lebih dari lima belas menit jika semua dokumen lengkap. Alhamdulillah, hemat Rp250.000,-.

Pada hari yang telah ditentukan, aku menyerahkan tanda terima di loket pengambilan paspor lalu menunggu dipanggil. Proses pengambilan paspor memakan waktu kurang-lebih satu setengah jam.

Di luar kantor imigrasi Bekasi ada warung fotokopi yang juga menjual perlengkapan seperti meterai, map, dan pulpen. Tempat itu juga menerima jasa mencetak dokumen dengan cara mengirimkan file ke email mereka. Sayangnya printernya jadul banget. Untuk mencetak dua lembar saja lamanya bukan main. Tapi, lumayanlah daripada enggak ada.

Urusan untuk meminta visa selesai, tinggal menyiapkan apa saja yang harus dibawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 26, 2016 by in Ini-itu, OOT and tagged , .

Bergabunglah dengan 317 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 247,970 hits
%d blogger menyukai ini: