Suka duka menerjemahkan buku masak

Gurame Bumbu Acar

Oleh: Sofia Mansoor

Untuk menghormati tamu mancanegara, sering kita menjamu mereka dengan makanan khas daerah kita. Hidangan khas Sunda, misalnya, adalah hidangan dari ikan, baik ikan pepes, ikan goreng, maupun ikan bakar. Sekadar menjamu makan memang mudah. Yang repot adalah bila sang tamu tertarik untuk mengetahui lebih jauh soal hidangan tersebut. Misalnya, apa penyebab warna kuning pada “Gurame Bumbu Acar”? Orang Sunda tentu tahu bahwa bumbu itu namanya koneng, yang dalam bahasa Indonesia disebut kunyit atau kunir. Tetapi apa bahasa Inggrisnya?

Tampaknya pendapat Josephine Bacon dari Chanterelle Translations di Inggris memang benar. Dia mengatakan dalam Kongres FIT (Himpunan Penerjemah Internasional) 1996 di Melbourne bahwa untuk dapat menerjemahkan buku masak dengan baik, seseorang bukan saja harus menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran, tetapi lebih dari itu. Penerjemah buku masak harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai cara masak-memasak dalam kedua bahasa tersebut, mengenal dengan baik nama bahan dan bumbu masak di negara pengguna bahasa sasaran, dan kekhasan budaya lainnya. Ragam bahasa masak-memasak memang sangat sarat dengan kata dan frase lokal, bahkan juga dalam bahasa Inggris. Menurut Bacon, tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa buku masak terbitan Amerika tidak bisa dipahami oleh koki Inggris!

Selanjutnya, Bacon mengatakan bahwa penerjemahan buku masak dapat digolongkan sebagai penerjemahan buku ilmiah, yang sangat terspesialisasi. Jadi, sama seperti penerjemah buku ilmiah, penerjemah buku masak pun harus menguasai bahan yang diterjemahkan, meliputi teknik memasak, nama bahan dan bumbu, peralatan masak, dan sebagainya. Bahkan memiliki pengetahuan masak-memasak ini jauh lebih penting daripada menguasai bahasa sumber. Hasil terjemahan penerjemah yang menguasai masalah masak-memasak sering jauh lebih baik daripada penerjemah yang hanya menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran tetapi tidak tahu banyak tentang dunia masak-memasak.

Yang lebih memberatkan tanggung jawab penerjemah buku masak adalah sangat minimnya keterlibatan penerbit atau penyunting dalam menangani hasil terjemahan. Boleh dikatakan staf penerbit sama sekali tidak bisa membantu karena mereka bukan pakar masak-memasak sehingga tanggung jawab mengenai kebenaran terjemahan sepenuhnya dipikul oleh penerjemah.

Selain itu, penerjemah buku masak dituntut untuk lebih dari sekadar menerjemahkan. Mereka harus dapat menafsirkan resep masakan agar sesuai dengan konteks di negara sasaran, misalnya menyulih bahan asli dengan bahan lain yang dikenal sehingga resep itu dapat dipraktikkan di negara sasaran tersebut.

Jenis Bahan, Berat, dan Suhu

Mencermati masalah peristilahan sangatlah penting dalam penerjemahan buku masak, sebagaimana juga dalam penerjemahan buku ilmiah. Kekeliruan menerjemahkan istilah atau kata – dalam hal ini biasanya nama dan ukuran bahan – bisa menimbulkan malapetaka. Misalnya, roti bisa terasa aneh karena jenis bahannya salah. Bayangkan bentuk dan rasa roti Anda jika resep mengatakan Anda harus memasukkan buah anggur, padahal seharusnya kismis! Kismis memang buah anggur, tetapi bukan anggur sebagaimana yang lazim kita bayangkan!

Berat dan ukuran merupakan masalah yang tidak kurang rumitnya. Bayangkan betapa kesalnya jika kue Anda bantat atau hidangan yang seharusnya berkuah kental ternyata malah encer karena jumlah bahan yang ditambahkan keliru. Ternyata penerjemah buku masak yang resepnya tengah Anda coba itu tidak mengetahui bahwa ukuran cup dalam buku masak Amerika tidak sama dengan ukuran cup dalam buku masak Inggris atau Australia; satu cup Amerika hanya 8 fl oz, sedangkan cup Inggris 10 fl oz.

Orang sering pula mengelirukan ukuran berat dalam oz dengan ons. Seorang penyiar TV swasta di Indonesia pernah menyampaikan informasi harga emas satu ons yang begitu murah, padahal ternyata yang dimaksudkannya adalah harga emas satu oz. Dapat dipastikan penyiar tersebut tidak tahu bahwa satu ons (100 gram) sungguh berbeda dengan satu oz (28,350 gram; dilafalkan auns). Bahkan satu oz bahan padat berbeda dengan satu oz bahan cair, yang biasa disebut fl oz. Penerjemah yang baik harus rajin membuka kamus atau buku rujukan lain agar terjemahannya benar-benar tepat dalam hal ukuran dan berat ini.

Hal lain yang juga harus dicermati adalah suhu oven. Penerjemah yang baik biasanya mencantumkan angka suhu dalam satuan fahrenheit dan celcius sekaligus sehingga pengguna buku masak tidak usah repot mengonversikannya sendiri jika oven miliknya hanya mencantumkan salah satu ukuran suhu tersebut. Jangan-jangan, masakan Anda hangus atau masih mentah hanya gara-gara Anda salah menafsirkan ukuran suhu!

Bacon juga mengemukakan pengalamannya menerjemahkan buku masak kuno yang terbit sebelum ukuran metrik digunakan. Dia perlu mencari buku rujukan untuk mengonversikan ukuran oka (digunakan pada zaman Kekaisaran Ottoman), quint (Inggris kuno), atau livre (Prancis kuno). Semua ukuran kuno ini menunjukkan berat yang berbeda-beda, bergantung pada negara, atau bahkan wilayah dalam suatu negara! Bayangkan betapa repotnya Bacon ketika menerjemahkan buku kuno tersebut.

Samakah “Aduk” dan “Kocek”?

Hal selanjutnya yang juga perlu diperhatikan adalah istilah yang digunakan; artinya, penerjemah harus taat asas atau konsisten dalam menggunakan istilah. Hal ini tentu berlaku juga pada semua jenis buku petunjuk. Menurut Bacon, resep masakan harus ditulis dengan kalimat perintah yang sama manakala menjelaskan proses yang sama. Misalnya, kalau di sebuah resep dituliskan kata “aduklah”, maka dalam resep lain harus digunakan kata yang sama untuk tindakan yang sama – jangan diragamkan dengan sinonimnya, misalnya “koceklah”. Jangan biarkan pengguna buku bertanya-tanya apakah gerakan “mengocek” dan “mengaduk” itu sama atau berbeda; mungkin penerjemah sengaja menggunakan kedua kata itu untuk membedakan gerakan yang dimaksud. Pengguna buku masak akan mengikuti perintah dalam buku selangkah demi selangkah; karena itu, semua instruksi harus dituliskan dalam kalimat perintah yang benar-benar jelas. Untuk menghasilkan naskah yang baik, jika perlu, penerjemah membuat sendiri format penulisan yang baku, dan inilah yang secara taat asas digunakannya sebagai pedoman.

Tanaman Telur!

Penerjemahan buku masak bukan satu-satunya yang berhadapan dengan nama bahan makanan yang begitu beragam di berbagai pelosok dunia. Penerjemahan yang sejenis dengan ini adalah penerjemahan buku yang mengupas bahan obat tradisional, buku tanaman atau pertanian, dan buku yang membicarakan masalah pangan.

Ada seorang penerjemah buku pertanian yang berhadapan dengan istilah grape fruit. Langsung saja dia menerjemahkannya menjadi buah anggur, padahal yang dimaksud adalah sejenis buah jeruk besar berwarna kuning, semacam jeruk bali. Bagaimana pula jika dia menjumpai kata star fruit? Jangan-jangan diterjemahkan menjadi buah bintang, padahal yang dimaksud adalah buah tropika yang sudah sangat kita kenal dengan nama belimbing, yang memang penampang irisannya berbentuk bintang. Penerjemah harus pula curiga jika menjumpai kata eggplant, jangan diterjemahkan menjadi tanaman telur, karena kita lazim menyebutnya terung ungu, yang tentu saja tidak berkerabat sama sekali dengan telur, baik telur ayam maupun telur penyu! Dalam hal ini, yang paling aman adalah menuliskan juga nama buah atau tanaman tersebut dalam bahasa Latin karena nama Latin bersifat internasional sehingga salah tafsir dapat dihindari.

Penutup

Menjadi penerjemah buku masak ternyata tidak mudah, bukan? Tetapi, menjadi tuan atau nyonya rumah yang baik pun sama tidak mudahnya, terutama jika tamu Anda “cerewet”. Karena itu, jika Anda sering harus menjamu tamu asing, sebaiknya Anda memperlengkapi diri dengan pengetahuan mengenai bumbu masak Indonesia, sekaligus mencari tahu istilah Inggrisnya atau istilah Latinnya. Dijamin, tamu Anda yang sering kali penuh rasa ingin tahu itu akan terpuaskan, bukan saja oleh kelezatan makanan khas yang Anda sajikan, tetapi juga karena Anda dapat menjawab semua pertanyaannya yang sebetulnya membuat Anda pusing tujuh keliling!

(Sebagian bahan diambil dari makalah Josephine Bacon yang disampaikan pada Kongres ke-14 FIT, Melbourne, 12-16 Februari 1996)

(Berita Buku, September/Oktober 1996)

Iklan

6 thoughts on “Suka duka menerjemahkan buku masak

Add yours

  1. Hai ka Dina, salam kenal
    Belum terlalu lama sih ngikutin blog ka Dina.. tapi dari beberapa artikel ka Dina yang aku baca, kayanya seru juga ya ka terjun di dunia penerjemah, bisa nambah wawasan banget. Sebenernya dulu waktu pertama terjun ke dunia penerjemah, motivasi ka Dina buat ningkatin kualitas terjemahan ka Dina apa ka?

    1. Salam kenal, Sabila.
      Motivasiku untuk meningkatkan kualitas terjemahan adalah agar keahlianku laris dan menerima banyak order dari pemberi kerja. Semakin tepat hasil terjemahan sesuai kebutuhan pemberi kerja, diharapkan jasa kita semakin sering dipakai.

  2. Hai mba Dina, salam kenal.
    Saya Anita dan saya tertarik dengan materi yang mba sampaikan di artikel ini. Mba, bila berkenan, bolehkan saya mendapat copy dari makalah Josephine Bacon yang disampaikan pada Kongres ke-14 FIT, Melbourne, 12-16 Februari 1996 itu. Saya tertarik ingin membacanya dan akan senang sekali bila mba berkenan. Terima kasih sebelumnya. ^^

    1. Salam kenal, Mbak Anita.
      Bila disimak dengan bain, tentu dirimu tahu ini tulisan ibu Sofia Mansoor, jadi silakan ajukan pertanyaan kepada beliau dengan mengklik namanya (akan ditautkan ke blog beliau). Walaupun demikian, aku sangsi apakah Bu Sofia masih menyimpannya, mengingat acara tersebut diselenggarakan tahun 1996 silam.

  3. Wah iya benar. Terima kasih informasinya mba DIna. Saya kurang teliti. Akan saya coba. Sekali lagi terima kasih mba artikelnya bagus sekali hingga saya tertarik membaca buku-buku tentang penerjemahan. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: