“Senjata” Penerjemah

Ada teman penerjemah yang mengirimkan survei kecil-kecilan: “Laptop atau komputer pribadi apa (merk dan/atau spesifikasi) yang rekan-rekan penerjemah gunakan untuk bekerja? Selain CAT Tools, program/perangkat lunak apa saja yang rekan-rekan gunakan untuk membantu pekerjaan penerjemahan? Terima kasih!”

Rata-rata rekan penerjemah yang menanggapi mengaku memakai laptop, beberapa orang memiliki komputer personal untuk bekerja di rumah dan laptop untuk saat bepergian, beberapa orang memakai Macintosh. Spesifikasinya pun generasi 5 ke atas (dengan beberapa orang memakai i3) dan RAM 4GB ke atas. Ini perangkat standar yang digunakan agar bisa bekerja. Ada juga punya “artileri” tambahan seperti harddisk eksternal sebagai cadangan, monitor tambahan (bahkan ada yang sampai memakai tiga monitor untuk bekerja) keyboard+ mouse nirkabel, yang merupakan perangkat opsional. Selain itu, penerjemah juga butuh buku (banyak sekali buku selain kamus) dan sambungan internet.

Berikut persenjataanku:

Tautan ini bukan iklan atau dukungan terhadap produk melainkan sebagai informasi semata.

Perlengkapan ini tidak kumiliki sekaligus. Awalnya aku membeli laptop, kamus, meja dan kursi kerja sebagai modal. Seiring datangnya kebutuhan dan rezeki, aku menambah “persenjataan”. Aku tidak mau berspekulasi membeli sesuatu tanpa ada kebutuhan, apalagi jika harga barang tersebut mahal. Simak selengkapnya.

Menariknya, ada yang “curcol” gagal menerima proyek karena belum punya dan belum pernah memakai perangkat lunak tertentu. Itulah sebabnya penerjemah harus selalu memperbarui keterampilan dengan mengikuti pelatihan, belajar dan berdiskusi dengan rekan penerjemah lain serta sesekali bertemu muka dengan sesama penerjemah.

Kita juga harus menguasai matematika emak-emak. Bila masih ada yang bertanya-tanya berapa honor penerjemah buku, kira-kira begini gambarannya: Setelah diterjemahkan, satu novel berbahasa Inggris 400 halaman menjadi 329 lembar (A4 spasi ganda, margin kiri-kanan-atas-bawah 1” dengan font Times New Roman 12pt). Jika memakai angka Rp15.000 per halaman, penghasilan dari menerjemahkan buku ini adalah 329 x Rp 15.000 = Rp4.935.000. Waktu yang diberikan kepada penerjemah untuk menyelesaikan penerjemahan dua bulan. Rp4.935.000 dibagi dua… y-yaaah… masih di atas UMR. #PositiveThinking. Tentu saja tidak semua penerjemah buku menerima honor ini. Ada yang di atas bahkan ada juga yang di bawah angka ini.

Aku sering tak habis pikir banyak penerbit yang menyangka bisa mendapatkan jasa penerjemah yang baik dengan honor serendah mungkin sementara penerjemah diharapkan untuk melakukan riset sendiri dengan membaca beberapa buku terbitan penerbit yang dibidik. Kami mengerti penerbitan merupakan perusahaan yang harus menghasilkan laba, tidak bisa semaunya menaikkan honor penerjemah tetapi please deh, sama penjual kertas (dan penyedia komponen produksi lain) kalian bisa menaikkan anggaran.

Bagi yang sedang berikhtiar mencari klien internasional, mungkin ada baiknya mempertimbangkan ini sebelum mengiyakan honor yang ditawarkan oleh agen: Banyak agen penerjemah luar negeri (tidak semua) yang menerapkan penghitungan honor berdasarkan fuzzy match. Jadi, honor yang ditawarkan hanya berlaku untuk kata-kata baru. Untuk kata-kata pengulangan (yang disebut “fuzzy”) biasanya dihargai 25% – 50% nya. Kita juga harus mempertimbangkan durasi pembayaran yang bisa memakan waktu 30-45 hari. Selain itu, kita juga harus jeli mempertimbangkan biaya transfer dan nilai tukar mata uang. Untuk pembayaran dalam mata uang asing, biasanya klien hanya menanggung biaya transfer dari pihak mereka ke bank perantara. Kita yang menanggung biaya transfer dari bank perantara ke bank kita. Besarnya sekitar USD30-35 per transaksi, tergantung kebijakan bank kita.

 

 

Iklan

8 thoughts on ““Senjata” Penerjemah

Add yours

  1. Menurutku profesi penerjemah itu keren! Harus benar-benar menguasai topiknya dan menyesuaikan dengan gaya bahasa yang biasa digunakan penerbit. Btw kawan seperjuangan menerjemahkannya kerean ^_^

    1. Sama saja. Tulisan ini hanya membahas alat bantu menerjemah, berlaku untuk pasangan bahasa apa saja. Aku ingin menjelaskan keseriusan dan upaya yang kukerahkan dalam menekuni profesi penerjemah.

  2. Wah, mbak… Aku pengalamannya nerjemahin beberapa cerita anak, iklan dan artikel dari bahasa Jerman gara-gara mata kuliah penerjemahan, itu aku kerjain manual semua, gak pakai software. Kalau mau jadi penerjemah beneran harus bisa pakai software ya, mbak?

    1. Hai Fafafauzia.
      Enggak harus sih. Tergantung kebutuhan saja. Kalau merasa cukup menerjemah dengan memakai software MS Word, ya tidak apa-apa. Tapi, kalau ada calon klien menawarkan proyek penerjemahan yang harus digarap dengan software tertentu pilihannya ada dua: menerima atau menolak (karena tidak menguasai software tersebut). Aku memilih menerimanya, jadi merasa butuh mempelajari software alat bantu penerjemahan.
      Simak selengkapnya: https://dinabegum.com/2014/03/05/spekulasi-bukan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: