Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Sisi Gelap Rembulan

Banyak yang mengatakan ingin bekerja di rumah agar bisa mengurus keluarga dan tetap mendapatkan penghasilan. Tentu saja itu sangat menggiurkan. Itulah impianku yang kini menjadi kenyataan.

Namun, tak lupa kuperingatkan agar jangan hanya terpesona pada kisah mengasyikkannya saja. Bagiku, menerjemah bukan pekerjaan sambilan, sering kali jam kerjanya lebih panjang daripada jam kerja normal kantor. Selain itu, Anda juga harus siap “mendidik” keluarga yang mungkin belum memahami betul jenis pekerjaan independen yang bermarkas di rumah. Anda harus sabar memberikan pengertian kepada keluarga bahwa walaupun di rumah, emak/bapaknya itu bekerja, tidak bisa sewaktu-waktu diganggu atau dituntut untuk memperhatikan. Belum lagi Anda mungkin akan berhadapan dengan orangtua/mertua/tetangga/handai tolan yang menyangka Anda menganggur lantas menganggap bisa sewaktu-waktu dimintai tolong, diajak mengobrol, atau diajak pergi menemani. Saat masih tertatih-tatih merintis karier, mereka yang iba dan berhati mulia mungkin berbaik hati mencarikan informasi lowongan pekerjaan. Setelah mulai agak mapan, mungkin ada yang mengira Anda (nauzubillah min zalik) memelihara tuyul. 

Betul, jam kerjanya fleksibel tetapi tenggat tidak sefleksibel itu. Agar terjemahan selesai tepat waktu, penerjemah harus menggarap sekian ribu kata per hari, selama sekian jam sehari. Semisal aku tidur siang, berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau memakai waktu kerja untuk keperluan lain, aku harus menggantinya dengan bekerja pada malam hari, dini hari atau akhir pekan. Jadi, aku sudah lama melupakan slogan “menjadi bos untuk diri sendiri”, itu hanya berlaku untuk pengaturan waktu kerja. Tetap saja aku harus mematuhi tenggat yang telah disepakati dengan pemberi kerja. Salah satu solusinya adalah mengasah kemampuan mengetik dengan cepat dan akurat. Namun, jaga jangan sampai terjangkit Carpal Tunnel Syndrome.

Ya, ya, kita bisa menolak pekerjaan. Namun, terlalu sering menolak pekerjaan berisiko dilupakan oleh pemberi kerja. Oh, ya, ditolak calon pemberi kerja juga bukan barang aneh bagiku. Sebelum mendapatkan order pertama untuk menerjemahkan buku, tak terhitung banyaknya lamaran yang kulayangkan ke penerbit. Ada yang sampai pada tahap tes tetapi tidak lulus, ada yang sampai dinyatakan lulus tetapi order tak kunjung datang dan tidak sedikit yang tidak memberikan tanggapan. Ditolak oleh agen penerjemahan internasional? Itu lumrah. Jangan cengeng. Punya pengalaman sekian tahun menerjemah dan telah menerjemahkan sekian puluh buku bukan berarti aku boleh takabur dan berharap order datang sendiri. Tidak begitu cara kerjanya.

Hal pertama yang terpikir olehku ketika memutuskan untuk mencari nafkah sebagai penerjemah adalah bagaimana kalau tidak ada order dan tidak ada penghasilan? Tentu saja bokek. Masa-masa “kekeringan” lumrah kujalani. Setiap pekerja lepas purnawaktu harus siap menghadapi ini. Cara mengatasinya adalah dengan pandai-pandai mengatur keuangan keluarga. Saat selama dua bulan berturut-turut mendapat proyek senilai belasan sampai puluhan juta, aku tidak berasumsi pendapatanku akan terus belasan atau puluhan juta rupiah per bulan. Kupertahankan gaya hidup sederhana karena bisa jadi berbulan-bulan berikutnya aku tidak mendapatkan proyek sama sekali. Bila sedang sepi order, aku mengisi waktu dengan mempelajari Cat Tools baru, menawarkan diri untuk memeriksa hasil terjemahan penerjemah pemula, merapikan file terjemahan di komputer, memanjakan diri setelah sekian lama mengejar tenggat tanpa jeda, memoles CV/resume dan surat lamaran lalu kirimkan kepada calon klien, menghabiskan waktu santai dengan keluarga, mengantar orangtua ke dokter atau berbelanja, dan lain-lain. Intinya, aku tidak mau membiarkan otak stres akibat takut tidak punya uang. Dengan pikiran tenang kita bisa melihat solusi dengan mudah. Alhamdulillah, aku tetap bisa membiayai kuliah anak-anak dan membayar cicilan kendaraan bermotor dengan penghasilan tunggal keluarga dari menerjemah.

Banyak orang yang sukses menjadikan pekerjaan menerjemah sebagai sumber penghasilan tambahan. Namun, menurutku, profesi penerjemah baru bisa dijadikan sandaran hidup setelah digeluti secara purnawaktu. Jangan dikira penerjemah hanya bermodal penguasaan bahasa, menulis, dan dengkul saja. Penerjemah perlu “senjata” berupa laptop, perangkat lunak, sambungan ke internet (dari beberapa penyedia layanan), buku (banyak sekali buku selain kamus), dan biaya untuk mengikuti acara kumpul-kumpul penerjemah, seminar, atau pelatihan. Nothing is free, baby. Coba tengok kriteria apa saja yang diinginkan oleh pemberi kerja, mustahil semua itu tidak butuh waktu dan biaya.

Anda yang baru ingin berkarier sebagai penerjemah pasti kebingungan harus mulai dari mana karena lowongan pekerjaan penerjemah jarang kita temukan. Percayalah, aku pernah mengalaminya. Alih-alih mengirimkan surel kepada penerjemah profesional untuk meminta pekerjaan atau meminta daftar alamat surel penerbit untuk mengajukan lamaran, aku datang ke tempat penerjemah berkumpul dan mengamati kiprah mereka di acara yang diadakan Himpunan Penerjemah Indonesia, di grup HPI di Facebook, dan di milis Bahtera. Aku mengamati diskusinya, menyimak informasi lowongan yang terkadang diberitakan di sana. Bila terbuka kesempatan untuk bertatap muka, kuusahakan untuk datang. Rezeki itu harus dijemput, bukan ditunggu apalagi diminta.

Bila sreg dan sudah punya cukup jam terbang menerjemah, bisa jadi Anda tertarik untuk mengambil sertifikasi HPI.

Nah, bagaimana? Apakah setelah membaca sisi lain dari profesiku ini keinginan Anda untuk menjadi penerjemah belum surut juga? Mungkin beberapa tulisan ini berguna. Risiko ditanggung sendiri, lho. Anda sudah diperingatkan.

Melamar ke Penerbit

CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda

Cara Beriklan Sebagai Penerjemah

Tips melamar ke agen penerjemahan luar negeri

Tips Menjadi Penerjemah Internasional

Tempat-tempat mencari lowongan kerja penerjemah bahasa

meja-dapur

Small Office/Home Office

Iklan

10 comments on “Sisi Gelap Rembulan

  1. Jannu
    September 2, 2015

    Seperti penulis, awal-awal berat dan berdarah-darah penuh pengorbanan. Setelah dikenal, baru mulai terasa hasilnya.

    • Dina Begum
      September 2, 2015

      Betul. Tidak ada hasil baik tanpa kerja keras. Orang suka silau melihat seorang penerjemah (atau penulis atau profesional lain) yang sudah mapan jadi kupikir ada baiknya kerja keras di balik itu juga diungkapkan agar seimbang.

  2. mariaperdana
    September 10, 2015

    Waw, kena ping back! Thanks 😀

  3. Rifkul
    Oktober 2, 2015

    Iya, gelap mbak, apalagi yg masih level anak PAUD macam saya. Lha tapi terlanjut jatuh hati e ..

  4. I'a R. Sudewo
    Oktober 18, 2015

    Aku paling susah nolak pekerjaan -selain emang butuh sih hehehe. Cuma seringnya gak nolak karena penasaran bisa atau enggak ngerjain order sebelum tenggat waktu -walaupun ujung-ujungnya keteteran juga KAYAK SEKARANG 😀

    Oh ya mbak aku mau tanya sesuatu yang agak melenceng sedikit dari topik. Aku tadi habis cek artikel acuan tarif penerjemahan di situs HPI, dan dijelaskan secara gamblang tarif per ketuk atau per lembar untuk buku dan nonbuku. Kira-kira mbak Dina berkenankah untuk ngasih masukan untuk tarif artikel majalah dan kiat-kiat menerjemahkan artikel? Aku curhat sedikit ya mbak soalnya mumet banget. Artikelnya tentang dunia penyelaman dan si empunya majalah secara spesifik minta supaya artikel dibuat seringkas mungkin karena ada banyak foto-foto bawah air yang ukurannya segede gajah. Yang bikin aku pusing, apakah dalam menerjemahkan artikel seperti ini, kita sebagai penerjemah punya kebebasan untuk habis-habisan merombak banyak kalimat untuk menghemat kolom selama artinya gak melenceng? Kalau ya, apakah ini berarti kita gak cuma sebagai penerjemah aja tapi juga sebagai copywriter? Kalau merangkap keduanya, apakah tarif penerjemahannya juga naik? Kalau hanya sebagai penerjemah aja, apakah kita menarik tarif per huruf/ketuk?

    Mohon bantuannya mbak Dina, aku berasa mau nangis ditodong kutipan tarif di depan (lah?) dan artikelnya belum siap T_T

    • Dina Begum
      Oktober 19, 2015

      Aku belum pernah menerjemahkan artikel seperti itu. Kalau aku sih akan tetap menghitung honor penerjemahan berdasarkan jumlah kata sumber karena untuk mendapatkan hasil terjemahan yang baik aku harus membaca, memahami dan mengolah seluruh teks aslinya. Ada kemungkinan klien tidak akan mau membayar honor yang kita minta. Tapi, menurut hematku sih biar saja. Cari klien lain yang mau membayar kita sesuai dengan pekerjaan yang kita lakukan.

  5. introvert.monbebe
    Maret 19, 2017

    hi kak… saya seneng deh bisa tau blog kakak srsly xD sebernya saya tau kakak dari novel terjemahan clockwork princess. tapi saya baru tau blog ini kemarin pas iseng2 nyari2 tentang terjemahan di google. salam kenal ya kak~

    • Dina Begum
      Maret 19, 2017

      Salam kenal juga. Semoga kamu bisa menikmati cerita yang kuterjemahkan.

  6. Tiyo Kamtiyono
    April 6, 2017

    Makasih buat inspirasinya mbak, memang kerja dari rumah juga butuh pinter-pinter ngatur waktu agar nggak kepepet deadline 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 25, 2015 by in Di balik layar, F.A.Q and tagged , , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,830 hits
%d blogger menyukai ini: