Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Belajar Bersama

Profesi penerjemah bisa membuat seseorang kesepian jika tidak disiasati. Bisa bekerja di rumah membuatku jadi kurang bersosialisasi. Memang, dengan media sosial secara virtual kita bisa berinteraksi dengan siapa saja dan di mana saja. Namun, tidak ada yang mengalahkan keasyikan pertemuan tatap muka yang penuh canda tawa, makan-makan dan bertukar elmu kanyahoan ilmu pengetahuan.

10022015-2

Foto: Uci. Serasa di film Friends, ini kafe Central Perk.

Berawal dari Uci yang ingin belajar menggunakan perangkat lunak alat bantu penerjemahan (CAT Tools) Wordfast Classic, aku, Lulu, Uci dan Ayu berkumpul di rumah Rere di Jakarta Selatan. Terima kasih ya, Rere, udah melaju jauh-jauh dari Bandung untuk menampung kami. Sebenarnya aku bukan pemakai Wordfast Classic tapi tidak mau melewatkan kesempatan kumpul-kumpul bersama para Pemburu Singa Mati penerjemah buku.

10022015-5

Lulu menunjukkan cara memakai program WordFast.

Walaupun beda usia, ada yang emak-emak dan ada yang belum jadi emak-emak, ada yang bekerja di kantor dan ada yang bekerja di mana saja, ada yang makan sedikit tapi mudah gemuk dan ada yang makan banyak tapi tetap langsing, obrolan kami tetap nyambung. Selain belajar memakai software, pembicaraan berkutat di seputar trik menyiasati masalah yang dihadapi dalam materi terjemahan yang sedang digarap.

Misalnya, sheep, apa sebaiknya diterjemahkan menjadi biri-biri atau domba? Dua-duanya bergenus ovis, sama-sama penghasil wol. Biri-biri terdiri dari lebih banyak karakter (ha ha ha) tapi, jika kalimat menuntut penggunaan bentuk jamak, tak enak rasanya membaca “biri-biri biri-biri itu” atau “para biri-biri tersebut” <– langsung dikeplak editor. Jadi, kuputuskan untuk memakai kata “domba.” (Langsung find and replace).

10022015-3

Foto: Lulu.

Atau, dalam naskah novel klasik, kadang-kadang penulis menyebutkan tokoh dengan nama depan dan di baris berikutnya menggunakan nama belakang sehingga membingungkan pembaca, seperti yang ditulis pembaca novel “Misteri Segitiga Emas” karya Maurice LeBlanc terjemahanku ini, Jurnal si Bugot:

Satu-satunya masalah yang saya hadapi saat membaca buku ini pun sama dengan ketika membaca terjemahan lainnya. Well, yah! saya sangat payah dalam mengahafal-hafal nama. Dan di buku ini, Maurice LeBlance sering tidak konsisten dalam memperkenalkan tokohnya. Kadang dengan nama depan, kadang dengan nama keluarga. Jadi begitu sang penulis mengubah sebutan untuk tokohnya, saya langsung ngernyit “Lah, ini kapten Belval siapa lagi?“, Baru deh kemudian saya dapat hidayah “Eh iya, namanya kan Patrice Belval -____-”  Hal ini selalu saya hadapi tiap membaca karya terjemahan.

Untuk menghindari ini, aku tanya boleh enggak aku menyeragamkan penyebutan nama, misalnya menjadi “kapten Belval” saja, padahal di naskah penulis mencantumkan “Patrice,” minimal dalam satu halaman. Ternyata ini wajar-wajar saja. Okesip!

10022015-6

Tenggat ya tenggat, sedapat mungkin harus ditepati.

Hal-hal seperti itulah, kelihatan sepele dan kadang terlupa tapi muncul ketika asyik-asyiknya mengobrol. Selain penerjemah, beberapa teman juga berprofesi sebagai editor. Aku bisa mengorek-ngorek pendapat mereka tentang naskah terjemahan yang mereka kerjakan, apa yang menyulitkan dan memudahkan mereka. Ternyata, penerjemah yang melakukan swasunting hasil terjemahannya sebelum dikirimkan sangat dihargai. Memang, penerjemah boleh saja berpikir buat apa diedit segala, kan sudah ada editor? Namun, agar kualitas terjemahan kita semakin meningkat dan memiliki daya saing di dalam bisnis ini, usahakanlah hasil karya kita serapi-jali mungkin sebelum diserahkan kepada pemberi kerja.

Oh, iya. Aku senang sekali naik KRL. Hemat dan cepat. Lain kali kalau ketemuan kita atur di tempat yang mudah dicapai dengan kereta lagi, ya teman-teman!

Iklan

3 comments on “Belajar Bersama

  1. lulu
    Februari 20, 2015

    Iya, mba, sama banget, sesekali ngumpul kayak gini aku seneng banget, .mengingat di rumah biasa sendirian *lha curcol. Apalagi pasti selalu ada masukan baru, cerita baru. Btw, hidup KRL! Haha 😀

    • Dina Begum
      Februari 20, 2015

      Perjalanan pulangku lancar jaya. Di Manggarai pake acara lompat dari peron segala karena kereta menutupi jalur penyeberangan sementara kereta ke Bekasi udah datang. 😀

  2. Yati Rachmat
    Maret 8, 2015

    Nenek boleh ngumpul gak sebagai observer, gitu, hehe…#gaya, padahal pengen banget belajar jadi penerjemah amatiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 20, 2015 by in Di balik layar.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,830 hits
%d blogger menyukai ini: