Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Bukan Kobayashi Maru

Akhirnya, setelah mengumpulkan nyali dan uang, aku mengikuti Tes Sertifikasi Nasional Himpunan Penerjemah Indonesia (TSN HPI) 2014 yang diselenggarakan di Universitas Atmajaya, Jakarta, 7 Desember 2014.

Tadinya kupikir mengapa ikut tes, toh tanpa mengantongi sertifikat juga aku alhamdulillah sudah dapat order. Namun, sebagai penerjemah profesional tentunya aku ingin pengukuhan yang mungkin bisa memberikan nilai tambah untukku di mata klien dan calon klien, untuk menunjukkan bahwa keterampilan menerjemahku mutakhir. Oleh karenanya, mengambil risiko kehilangan uang senilai sekian ribu kata itu sepadan. Ini toh bukan tes Kobayashi Maru* yang memang dirancang untuk menguji reaksi peserta tes dalam menghadapi kegagalan.

Sejak mendaftar, aku dihantui perasaan panik takut tidak lulus. Aku diam-diam saja, tidak memberitahu siapa-siapa bahwa aku mendaftar TSN 2014 agar kalau ternyata tidak lulus aku tidak malu. Setelah dipikir-pikir, buat apa malu. Aku kenal beberapa penerjemah senior yang dinyatakan tidak lulus pada TSN beberapa tahun silam tidak berkecil hati dan kembali ikut tes. Namun, tak pelak aku sempat mimpi buruk datang terlambat dan duduk di samping penerjemah hebat yang selesai satu jam lebih awal daripada waktu yang ditentukan. Untungnya mimpi ini tidak terwujud.

Aku teringat pengalaman Maria Renata mengikuti TSN, “Anggap saja begini,” katanya “ada klien yang bersedia membayar Rp 1 juta hanya untuk menerjemahkan 1000 kata dalam waktu tiga jam. Dan klien ini super kepo dan super resek, yang mau kita menggunakan komputer mereka.”

IRF_0016_600Aku lantas mengikuti sarannya agar pikiran jernih saat tes nanti. Aku mengunjungi Festival Pembaca Indonesia di Museum Nasional sehari sebelum TSN HPI. Aku berpura-pura jadi Pemburu Bayangan, bertemu dan berfoto bersama teman-teman, ikut lokakarya penulisan memoar, dan tukar menukar buku di meja Bookswap.

Ternyata, saran itu manjur! Menjelang tes yang pesertanya selain dari Jabodetabek juga datang dari Bandung, Jawa Timur, Bali, dan bahkan Kalimantan ini hatiku terasa ringan. Aku tetap santai, walaupun kulihat bukan hanya penerjemah yang masih perlu berburu order seperti aku saja yang hadir, melainkan juga orang-orang yang sudah diburu order. Rasanya seperti datang ke pertemuan HPI Kompak.

Aku tidak membawa kamus atau tesaurus. Kupikir untuk apa berat-berat membawa kamus kalau ternyata tidak sempat membukanya. Ternyata, begitu melihat “bekal” kamus teman-teman yang lain kejiperan yang berhasil kusembunyikan mendadak membanjir. Betapa tidak, ada yang sampai membawa sekoper penuh kamus dan tesaurus! Sontak aku mengeluarkan novel dari tas – aku memang hampir selalu membawa novel ke mana-mana.

Semua barang selain alat bantu tercetak harus disimpan di dalam loker berkunci yang tersedia di ruangan ujian. Lihat foto-foto suasana TSN tahun 2015.

Setelah sambutan dari Ketua HPI, Ketua Komite Kompetensi Sertifikasi (KKS) dan pihak Atmajaya sebagai tuan rumah, panitia menerangkan tata cara tes. Penjelasannya mudah dimengerti dan sistemnya sederhana. Masing-masing peserta mendapatkan amplop cokelat berisi bahan ujian dan flash disk untuk menyimpan hasil terjemahan yang harus dikumpulkan setelah selesai.

Tes dimulai. Amplop dibuka dan … ya ampun!
Soal tesnya sangat menantang. Jumlahnya sekitar 1000 kata. Teks wajib bertemakan perubahan iklim, 2 teks pilihannya tentang seorang penulis dan perilaku ikan yang berenang secara berkelompok. Yang istimewa dari tes ini adalah setiap teks diberi keterangan tentang pembaca sasarannya. Misalnya, teks tentang perubahan iklim itu hendak diajukan ke sebuah lembaga pemerintah, sementara teks tentang penulis akan dipakai sebagai bahan ajar tingkat SMP. Ini memudahkan sekaligus menyulitkan peserta. Memudahkan, karena peserta bisa membayangkan pembaca sasarannya sehingga bisa memutuskan gaya tulisan seperti apa yang cocok. Menyulitkan, bila penerjemahnya belum terbiasa menerjemah atau menyimak bacaan untuk kelompok pembaca itu. Mantap, bukan?

Semoga  tips ini bermanfaat:

  • Banyak-banyaklah membaca, menyimak, menonton berita mutakhir dan menulis. Perkaya wawasan Anda, jangan terlalu mengandalkan internet.
  • Tes diselenggarakan pukul 09.00 dan peserta diminta hadir pukul 8.30 untuk pendaftaran ulang. Berangkatlah lebih pagi dari rumah agar tidak terlambat. Usahakan sarapan, walaupun panitia menyediakan kudapan. Saat menunggu, cobalah berkenalan dengan peserta lain. Duduk diam akan membuat perasaan jadi tegang.
  • Materi tes terdiri dari dua bagian, teks wajib dan teks pilihan (pilih satu dari dua). Anggap saja Anda sedang bekerja di meja Anda dan menggarap order terjemahan seperti biasa. Kerjakan yang mana yang Anda anggap lebih mudah. Soal dikerjakan dengan program MS Word. Tidak ada bocoran, karena soalnya berbeda dengan soal tahun lalu.
  • Aku tidak membawa kamus maupun tesaurus, dan agak menyesal karena ternyata butuh juga, terutama tesaurus untuk memilih padanan kata yang pas. Fitur tesaurus di MS Word sangat membantu.
  • Jangan panik melihat peserta lain yang selesai lebih dahulu. Apa Anda seperti aku yang selalu mengandaikan punya tenggat lebih panjang untuk menggarap terjemahan? Nah, manfaatkan waktu yang tersisa untuk membaca ulang dan mengoreksi bila ada yang perlu dikoreksi. Ada untungnya juga membawa novel. Setelah selesai menerjemah, sebelum swasunting aku selingi dahulu dengan membaca 1-2 halaman novel. Saat menyunting otak rasanya agak segar. Waktu tiga jam yang disediakan cukup untuk melakukan ini, apalagi untuk orang yang terbiasa menggarap terjemahan 5.000 kata atau lebih per hari.
  • Sebelum tes, sempatkan ke kamar kecil.
  • Bawalah air minum ke dalam ruang tes, siapa tahu seret atau keselek. Batuk-batuk akan membuat gugup dan mengganggu peserta lain. Air minumnya air putih saja, ya. Cappuccino untuk usai tes.
  • Bawa alat tulis, entah itu untuk menandai sampai di mana kita menerjemah atau kata/frasa yang perlu diwaspadai.
  • Ruangan tes sejuk dan nyaman, tapi sebaiknya sediakan baju hangat atau syal untuk berjaga-jaga siapa tahu suhunya terlalu dingin untuk Anda.
  • Makan siang disediakan. Menunya pas bagiku, tidak terlalu banyak apalagi kurang, dan rasanya enak.
sertifikat-TSN

Sertifikat HPI dan sebagian buku terjemahanku

* The Kobayashi Maru is a test in the fictional Star Trek universe. It is a Starfleet training exercise designed to test the character of cadets in the command track at Starfleet Academy.

Iklan

13 comments on “Bukan Kobayashi Maru

  1. lulu
    Desember 7, 2014

    Waaah, iya mba Dina nggak bilang-bilang. Dan nggak kelihatan sama sekali tegangnya pas di IRF. Semoga lulus ya, Mba 😉

    • Dina Begum
      Desember 7, 2014

      Aamin. Orang yang rajin baca koran mungkin akan lebih sukses ikut TSN. Beneran.

      • lulu
        Desember 7, 2014

        Oooh… Sip sip, ini tips yang bagus kalau aku jadi ikut TSN, eh belum tau kapan 😛

  2. mariaperdana
    Desember 7, 2014

    Hahahaha, aku terima ping-nya tadi pas sedang berkutat ganti nama domain di WP, oh ternyata Kobayashi Maru “ini” yang disebut hihihihi … sukses ya mbak Dina, was not so bad, right? *super big grin*

    • Dina Begum
      Desember 7, 2014

      Makasih, Maren. Saran2mu jitu. Tinggal deg2an nunggu hasil. Bahan tesnya super menantang. *gigitkamus*

      • mariaperdana
        Desember 7, 2014

        Makanya aku juga gak bawa kamus tempo hari. Percuma – yang dicari gak ada dalam kamus. Mau dikasih bocoran seberapa banyak juga gak akan ngaruh, soal TSN akan berbeda tahun depan kok. Cerita nanti ya, soal setan apa lagi yang keluar tahun ini kwkwkwk … (tadi gak ada gorila kan?)

        • Dina Begum
          Desember 7, 2014

          Adanya ikan. Sekolah ikan. #sokmisterius

          • mariaperdana
            Desember 7, 2014

            Ahahahaha … schools of fish, you mean? (Ikan yang berenang berkelompok)? Salut deh sama panitia KKS, idenya ada ajah hahahaha

  3. mbincung
    Desember 8, 2014

    Semoga lulus ya mbak Dina.. 🙂

  4. Ari Hastanto
    Juli 15, 2015

    Mbak Dina
    Saya sudah membaca uraian di atas.
    Saya seorang karyawan, sebenarnya dari dahulu sudah tertarik dengan dunia penerjemah.
    Karena saya bukan lulusan sastra (teknik), ada beberapa hal yang saya kurang familiar:
    1. Apa itu ‘tesaurus’? Mungkin saya tahu tapi dengan istilah yang lain.
    2. Dan apakah untuk mendapatkan sertifikat penerjemah, harus memiliki syarat-syarat dokumen tertentu? Seperti nilai toefl, dll.
    3. Tiap berapa lama sekali HPI mengadakan tes sertifikasi?

    Terima kasih.

  5. Ping-balik: TSN yang Bikin Senewen – LAMFARO | English > Indonesian Translator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 7, 2014 by in Uncategorized and tagged , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,995 hits
%d blogger menyukai ini: