Menerjemahkan Novel Fantasi

Comot dari statusnya Uci Barokah Ruziati.

Tips seru dari Poppy D. Chusfani tentang menerjemahkan novel fantasi yang penuh istilah, benda, dan makhluk asing.

Menurut Poppy, menerjemahkan fantasy itu harus ‘terjun bebas’, artinya berani mencari padanan istilah seberani dan sekreatif mungkin, asalkan tidak melenceng dari konteks. Dan sebisa mungkin semua diterjemahkan, kecuali misalnya klasifikasi benda / makhluk yang tidak ada padanannya seperti marid, unicorn, centaur, dan lain-lain. Contoh, Poppy pernah menerjemahkan skin-scanner, yang merupakan aliterasi, menjadi susuk sidik.

Mengapa sebaiknya diterjemahkan? Karena kalau semua istilah dibiarkan seperti aslinya, bakal ada beberapa maksud yang tidak tersampaikan. Harus diingat bahwa tidak semua pembaca sudah tahu atau paham istilah aslinya, tapi jika dituturkan dalam bahasa Indonesia, mereka jadi bisa membayangkan.

Bagaimana dengan pembaca yang protes jika istilah-istilah asing diterjemahkan, karena mereka maunya semua sesuai naskah asli? Tentu saja kita tidak dapat memenuhi keinginan semua orang karena enggak bakal ada habisnya. Tapi sebaiknya juga berdiskusi dengan penerbit karena kebijakannya bisa berbeda-beda.

Penting juga untuk diingat bahwa tidak semua bisa diterjemahkan menjadi ‘terlalu domestik’. Misalnya banshee yang tidak bisa langsung disamakan dengan kuntilanak karena di negara asal cerita itu berlangsung, kuntilanak tidak dikenal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: