Di balik layar

Antara Aku, Penerjemah Pertama, Editor dan Penerbit

Ini cerita tentang penerjemahan novel Clockwork Princess karya Cassandra Clare.

Ketika ditawari menerjemahkan Clockwork Princess, aku tidak serta merta menerima. Memang ceritanya bagus tapi itu buku ketiga dari seri yang ngetop banget, banyak penggemarnya. Kalau aku keliru menerjemahkan bakalan dicerca satu komunitas. Di samping itu, aku harus membaca dua buku sebelumnya, Clockwork Angel dan Clockwork Prince (masing-masing tebalnya sekitar 4 senti) agar terjemahan buku ketiga selaras. Rupanya, Melody Violine, penerjemah buku kesatu dan kedua sedang sibuk oleh karena itu bukan dia yang menggarap penerjemahan finale kisah ini. Baiklah. Siapa takut.

Selain buku Clockwork Princess edisi bahasa Inggris, aku menerima Clockwork Angel dan Clockwork Prince edisi bahasa Indonesia. Yeay! Inilah enaknya jadi penerjemah. Suka dapat buku gratis.

Aku harus mengenali padanan istilah apa saja yang dipakai, agar seragam. Misalnya, rune Voyance yang diterjemahkan menjadi rune Waskita. Kan enggak nyambung kalau dari buku pertama sampai kedua rune dasar yang diberikan kepada Pemburu Bayangan sewaktu masih kecil itu disebut Waskita tapi di buku ketiga disebut Voyance. Selain istilah, aku juga perlu mempelajari cara tokoh-tokohnya bicara. Setting kisah ini zaman Victoria. Aku perlu tahu bagaimanakah cara Charlotte Branwell, kepala Institut London, berbicara dengan Konsul Josiah Wayland, apakah mereka saling ber-“aku-kau” atau “Anda-saya”? Hal-hal semacam itulah. Aku juga menanyakan kepada Melody bagaimana sih sebenarnya hubungan antara Will, Tessa dan Jem itu. Kali ini aku tak keberatan mendapatkan spoiler. 😉

Clockworks
Clockwork Angel & Clockwork Prince yang berwarna-warni oleh penanda halaman.

Terpikir olehku untuk meminta naskah terjemahan Clockwork Angel dan Clockwork Princess yang sudah terbit. Pencarian dengan soft copy itu lebih mudah dan lebih cepat ketimbang hard copy. Namun, sebelum aku memintanya, Melody sudah menawarkannya. Baik hati sekali temanku ini. Untunglah dia punya kebiasaan baik yaitu meminta naskah terjemahan yang sudah siap cetak kepada editornya untuk dipelajari. Kebiasaan baik yang patut diteladani. Psst.. padahal aku sudah menandai setiap bab buku untuk memudahkan pencarian, lho. Benar saja, ternyata ada beberapa bagian yang mengacu ke kalimat-kalimat yang ada di buku-buku sebelumnya. Kan aneh kalau berbeda terjemahannya.

Penyuntingan dilakukan oleh editor yang kukenal, Gita Nuari. Saat menyunting, Gita menghubungiku untuk mengonfirmasi beberapa perbaikan dan menandai bagian yang dirasa kurang dapat dimengerti agar terjemahannya diperbaiki. Setelah masuk ke dalam proses setting, kembali aku dan Gita mendapatkan naskah tersebut. Ternyata, Gita yang bermata jeli menangkap beberapa typo dan kejanggalan lainnya untuk diperbaiki.

Saat memilih sampul pun Muthia Esfand membolehkan aku mengintip desainnya. Cantiknya!ClockworkPrincess

Begitulah sekelumit kisah di balik penerjemahan Clockwork Princess. Semoga pembaca menerimanya dengan baik. Saran dan kritik sepedas apa pun kuterima dengan senang hati.

Iklan

6 tanggapan untuk “Antara Aku, Penerjemah Pertama, Editor dan Penerbit

  1. Sebenarnya asyik ya Mba kalau dalam menerjemahkan kita mengenal orang-orang yang terlibat. Jadi mudah minta masukan. Kebiasaan Melo juga okeh banget. Aku jarang melakukannya, biasanya belajar dari bukti terbit aja. Makasih buat ceritanya, Mba 😀

    1. Sama-sama, Lulu. Ini terisnpirasi postinganmu tentang The Darkest Minds.
      Iya, beda rasanya. Lebih mengasyikkan. Biasanya kita serasa terkucil, dibiarkan dalam kegelapan tanpa tahu naskah kita itu banyak tambalannyakah, bikin editor garuk-garuk tanahkah, atau…. akan diterbitkankah?
      Dengan begini rasanya menerjemahkan buku jadi agak lebih “rewarding” kata urang Sunda mah. 😉

    1. Aku ga nyangka kita boleh minta naskah siap cetak. Lebih asik lagi sebetulnya kalau bisa dapat naskah yang masih ada track changes-nya, jadi aku tidak perlu melakukan “compare files” di MS Word. 😉 Cuma, sering kali aku ga tahu siapa editornya, tahu-tahu sudah terbit aja (atau bahkan enggak terbit-terbit).

      1. Bener Mbak, kalo bisa dapat naskah yang udah diedit aku jg pengen minta, tapi masalahnya ga tau siapa editornya atau apa udah diedit atau malah blom diapa2in hehehe… Trus takutnya kalo minta ke editor yg kasih proyek ke kita malah nambah2in kerjaannya pula, ga enak hati euy >.<

        1. Tak semua penerbit mau memberikan file “mentah”nya. Entah karena enggak percaya kepada penerjemah atau apalah. Ada juga yang menolak dengan alasan karena sudah memberikan bukti terbit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s