Laporan Pandangan Mata

Kiat Bertahan dan Berjaya di Dalam Industri Terjemahan

Tanggal 22 Agustus 2014 Pak Sugeng Hariyanto memposting semacam survei kecil menarik di grup Himpunan Penerjemah Indonesia di Facebook. Survei ini melontarkan dua pertanyaan, (1) “Bagaimana caranya bertahan dan berjaya di industri terjemahan dan penjurubahasaan sekarang ini” dan (2) “Sudah berapa lama Anda bekerja sebagai penerjemah dan/atau juru bahasa.” Ternyata, survei dibuat dalam rangka pebuatan makalah sebagai keynote speaker dalam The 4th Atma Jaya International Conference in Translation & Interpretation Studies. Acara berlangsung di Universitas Atma Jaya, Jakarta, 13 September 2014. Konferensi ini mengusung topik “Empowering Translators: The Art of Thriving in the Translation Industry.”

Berhubung belum pernah mengikuti konferensi penerjemahan dan penasaran ingin mendapatkan informasi lengkap tentang cara berjaya di dunia penerjemahan, aku hadir. Acara berlangsung dari pukul 08.00 sampai 16.00.

Dari 118 responden, hanya 78 yang dianggap sah, yaitu yang menjawab kedua pertanyaan di atas. Pertanyaan pertama menyediakan 10 pilihan strategi yang kemudian menjadi 16 pilihan yang ditambahkan oleh responden. Pertanyaan kedua digunakan untuk membuat pola strategi yang digunakan terkait kesenioran penerjemah/juru bahasa.

Berikut hasil survei:

“Bagaimana caranya bertahan dan berjaya di industri terjemahan dan penjurubahasaan sekarang ini”

(Diurutkan berdasar jawaban terbanyak)

  1. Dengan menjaga/meningkatkan kualitas terjemahan
  2. Dengan aktif memelihara hubungan dengan pelanggan lama
  3. Dengan membina hubungan baik dengan manajer proyek
  4. Selalu memenuhi tenggat waktu.
  5. Dengan meningkatkan ketrampilan untuk selalu mengikuti perkembangan industri
  6. Dengan aktif mencari pelanggan baru
  7. Dengan menjadi anggota HPI
  8. Dengan mengambil bidang spesialisasi
  9. Dengan membeli CAT Tools yang diperlukan klien
  10. Dengan meningkatkan keterampilan CAT Tools dengan ikut pelatihan
  11. Dengan meminta masukan tentang kinerja penerjemah/jurbah sebagai umpan balik
  12. Dengan membalas email klien tidak lebih lama dari 15 menit sejak email diterima.
  13. Dengan menunjukkan testimonial/referensi
  14. Dengan menambah pendidikan formal
  15. Dengan berbagi pengalaman di blog
  16. Dengan memberi harga yang lebih rendah daripada harga pesaing

“Sudah berapa lama Anda bekerja sebagai penerjemah dan/atau juru bahasa.”

  • Kurang dari 5 tahun: 21 orang
  • 5 tahun hingga 10 tahun: 30 orang
  • 10 tahun lebih hingga 15 tahun: 28 orang
  • 15 tahun lebih hingga 20 tahun: 4 orang
  • Lebih dari 20 tahun: 5 orang

Temuan di atas menunjukkan bahwa penerjemah dapat bertahan dan berjaya di dalam industri penerjemahan.

Untuk memeriksa apakah strategi di atas berhasil atau tidak, Pak Sugeng mewawancarai beberapa orang dari pihak pemberi kerja secara online. Kejutan! Ternyata responden pemberi kerja menyatakan tidak ada hubungannya antara pendidikan formal dengan kualitas terjemahan. Pendidikan formal merupakan salah satu informasi yang dapat dijadikan pegangan, selain hasil tes terjemahan, ketika memilih penerjemah baru. Sementara meningkatkan kualitas terjemahan, memenuhi tenggat, meningkatkan ketrampilan untuk selalu mengikuti perkembangan industri – termasuk meningkatkan keterampilan perangkat lunak – itu sangat penting. Menulis blog tidak dianggap penting, sodarah-sodarah, ini hanya memberikan keterangan bahwa penerjemah yang bersangkutan itu ada. #uhuk Akhirnya, mengenai honor rendah, responden sepakat bahwa kualitaslah yang menjadi faktor penentu, bukan honor. Akan tetapi, bila ada dua kualitas yang setara, penerjemah yang mengajukan honor lebih rendah yang akan dipilih. (Catatan: ini hanya cuplikan dari analisis hasil survei menyeluruh yang ada di dalam Prosiding TransCon 2014.)

Pak Sugeng juga memaparkan tren dalam industri penerjemahan dan jenis-jenis pekerjaan baru yang timbul akibat perkembangan zaman, yang perlu dicermati oleh penerjemah dan juru bahasa bila ingin bertahan di dalam industri ini. Satu hal yang sangat menarik muncul di kesimpulan, yaitu seperti dalam profesi lainnya, keterampilan interpersonal itu sangat penting. Aku tertarik karena walaupun lebih banyak berkomunikasi lewat internet ketimbang tatap muka, ternyata keterampilan ini tetap tidak boleh diabaikan oleh penerjemah.

20140913_100909 20140913_103755Acara dilanjutkan dengan sesi-sesi kenferensi berupa mendengarkan paparan para nara sumber. Dari mengikuti sesi-sesi ini, aku mendapatkan banyak kiat untuk memahami teks sumber agar tidak keliru mengalihbahasakannya. Dari berbagai sesi, kuperhatikan anjuran untuk bergabung dengan himpunan profesi (Himpunan Penerjemah Indonesia) diungkapkan oleh beberapa nara sumber. Bergabung dengan HPI atau menghadiri kegiatan-kegiatannya dapat menambah wawasan dan mengasah keterampilan. Mungkin ada yang menyangsikannya, mengingat setiap habis acara HPI yang paling banyak beredar adalah foto makan-makan.  Menurutku justru di situlah kuncinya: mengobrol sambil makan-makan. Berbagi pengalaman lebih menyenangkan bila dilakukan secara santai dan akrab. Sesi yang dibawakan oleh Pak Alvin Taufik membuktikannya. Pak Alvin membahas tentang kompetensi mahasiswa dalam menerjemahkan artikel surat kabar. Menurut temuan beliau, mahasiswa lebih memilih pola formal dalam menerjemahkan akibatnya berbagai kesalahan timbul, terutama makna tidak sampai ke dalam bahasa sasaran atau ambigu. Mungkin kalau sambil makan-makan mahasiswanya jadi bersemangat belajar? #abaikan Etapi benar, lho. Penyelenggara TransCon 2014 juga menyadari ini, hidangan makan siang yang disajikan… mamamia! Enak binti lezat.

Di penghujung acara, ada lokakarya singkat menerjemahkan teks hukum yang disampaikan oleh Bapak Evand Halim.

Sayangnya dari 24 pembicara yang dijadwalkan menyampaikan makalah, banyak yang tidak hadir. Untungnya ada prosiding yang dapat dibawa pulang.

Ini hanya sekelumit laporan pandangan mata acara konferensi. Hanya seujung kuku bayi.

Simak juga tulisan Bu Sofia Mansoor: How to produce satisfactory translations for your clients

Iklan

2 tanggapan untuk “Kiat Bertahan dan Berjaya di Dalam Industri Terjemahan

  1. Dear Dina,

    Sebetulnya saya sudah menyanggupi permintaan Pak Evand untuk berbagi pengalaman di sesi Professional Sharing. Tema yang hendak saya sampaikan, dan abstraknya sudah sampai ke panitia adalah “How to become the most valuable translator for your clients”. Tetapi, pada waktu yang bersamaan, saya ada acara lain yang tidak kalah pentingnya, yakni menghadiri pernikahan putri sulung Bashir di Singapura, salah satu sosok yang paling berjasa mengantarkan saya memasuki dunia penerjemahan profesional.

    Saya mengenal Bashir juga dalam konferensi semacam TransCon ini, yakni Konferensi Penterjemahan Antarbangsa di Kuala Lumpur pada 1991. Sejak itulah saya perlahan-lahan memasuki dunia penerjemahan profesional, sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil pensiun dini sebagai PNS pada 2001, sekitar 5 tahun sebelum memasuki masa pensiun yang sesungguhnya dan secara penuh menekuni dunia penerjemahan profesional. Sampai sekarang 🙂

    Semua gara2 konferensi penerjemahan! 🙂

    1. Memang sayang NiFi tidak hadir tapi mungkin di lain kesempatan bisa. Untung acara pak Bashir bukan pas acara HPI hahahaha! Tadinya aku juga enggak tertarik ikutan karena alasan ada “singa mati.” Untung aku memutuskan datang. Tidak sia-sia. Saat rehat kopi dan makan siang itu sebenarnya sesi penting, untuk berkenalan dengan penerjemah lain dan membangun jaringan, hampir sama pentingnya dengan sesi-sesi konferensi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s