Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Manajemen Keuangan Penerjemah

Ada rasa takut tak terperi saat aku hendak memulai karier sebagai penerjemah lepas pada tahun 2008. Memang saat itu ada uang pesangon dari kantor tapi memangnya orang bisa mengandalkan hidup dari simpanan saja? Bagaimana kalau ada yang sakit, bagaimana kalau ada keperluan mendadak? Penghasilan pekerja lepas kan tidak menentu. Kadang banyak, kadang sedikit, bahkan kadang tidak ada pemasukan sama sekali. Oleh karena itu, hal-hal pertama yang kulakukan dengan uang pesangon adalah:

  1. Membeli laptop, berbagai kamus, modem dan berlangganan internet.
  2. Melunasi utang.
  3. Membeli reksa dana.

Setelah itu, barulah aku mewujudkan beberapa keinginan yang bersifat konsumtif. Aku juga menganggap mengikuti berbagai pertemuan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Himpunan Penerjemah Indonesia dan milis Bahtera sebagai investasi, untuk mengasah kemampuan menerjemahkan.

Benar saja, melengkapi diri dengan “peralatan perang” untuk menerjemahkan membuatku bisa dengan mudah belajar, mengajukan lamaran ke mana-mana dan menerima order saat peluang terbuka. Mengingat suku bunga pinjaman yang membuat merinding disko, melunasi utang KPR itu sangat besar manfaatnya. Itu penghematan luar biasa dan memberikan ketenangan batin. Aku bukan anti pinjaman. Aku tidak ragu-ragu berutang jika manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya. Misalnya, membeli lisensi CAT Tools untuk mengerjakan proyek penerjemahan, dengan catatan honor yang akan diterima cukup untuk membeli lisensi. Toh setelah proyek selesai, aku bisa menggunakan CAT Tools untuk proyek lainnya. Reksa dana yang kutanamkan selama lima tahun sangat menguntungkan. Dananya sudah habis dipakai untuk sesuatu yang lebih penting.

Walaupun rasa-rasanya tindakanku itu tepat, tak ada salahnya menggali ilmu pengetahuan tentang Manajemen Finansial dalam Dunia Penerjemahan dan Kejurubahasaan dari pakarnya. Tema tesebut menjadi pengisi Komp@k HPI yang diselenggarakan di Restoran Bale Raos, Jakarta Selatan dengan pembicara Ibu Fioney Sofyan Ponda, S.Ked., RFA dan Ibu Sofia Mansoor. Acara dihadiri oleh sekitar 40 orang, terdiri dari penerjemah anggota HPI, penerjemah non-anggota HPI dan bahkan beberapa orang yang baru ingin menjadi penerjemah. Berhubung sedang bulan Ramadan, pertemuan dimulai pukul 15.00 dan diakhiri menjelang bedug magrib lalu disambung dengan acara buka puasa dan makan malam bersama.

Paparan Bu Fioney sangat membuka mata dan mencerahkan. Intinya, dengan penghasilan tidak menentu, penerjemah perlu cermat dalam mendahulukan kebutuhan ketimbang keinginan, memiliki dana darurat dan berinsvestasi. Silakan mengunduh materinya dengan mengklik tautan di bawah. Bu Fioney juga menjelaskan perbedaan satu jenis investasi dengan jenis lainnya dan menganalisis berbagai jenis investasi yang ditanyakan hadirin.

20140719_163458Ibu Sofia tiada habisnya membuatku kagum, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari darinya. Pengaturan keuangan, menurutnya, dimulai dari mencatat order secara terperinci sehingga kita bisa mencermati saat-saat sepi order dan ramai order untuk memudahkan pengaturan keuangan. Dana yang tidak habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup ditanamkan ke dalam beberapa bentuk investasi.

Nah, bagaimana bila belum punya kelebihan dana untuk ditanamkan ke dalam deposito, koin dinar, sukuk, reksa dana dan lain-lain? Ada satu investasi yang bisa dilakukan oleh hampir setiap orang, lho: menjaga kesehatan. Menjaga kesehatan dengan pola makan sehat, cukup beristirahat, menghindari stres dan berolahraga akan menghindarkan kita dari mengeluarkan dana untuk pengobatan. Bila sakit, kita pekerja lepas bukan saja harus merogoh saku untuk berobat melainkan juga penghasilan terancam macet karena tidak bisa bekerja.

Selain kesehatan, investasi yang paling besar kurasakan manfaatnya adalah menimba ilmu dengan mengikuti berbagai pelatihan, pertemuan untuk berbagi pengalaman, diskusi di berbagai media dan membaca. Tengok saja NiFi (Nini Fifi, panggilan sayang untuk Ibu Sofia Mansoor), siapa pun pasti ngiler melihat spreadsheet tempatnya mencatat perincian proyek, ramai lancar, bo! Orang yang baru melihatnya mungkin belum tahu bahwa di balik lembar bentang itu ada sekitar 30-an tahun pengalaman menghasilkan kualitas penerjemahan prima. Dengan kualitas penerjemahan prima, order yang menghampiri penerjemah, bukan sebaliknya. Mau mendapatkan kiat-kiat untuk menjadi penerjemah sukses? Silakan klik di sini.

Simak Manajemen Finansial dalam Dunia Penerjemah dan Juru Bahasa.

 

Iklan

6 comments on “Manajemen Keuangan Penerjemah

  1. sofiamansoor
    Juli 21, 2014

    Dina, tulisan singkat padat, dilengkapi tautan yang relevan. Terima kasih pujiannya, tapi jangan terlalu tinggi melambungkanku, kalau jatuh, sakitnya sakit sekali… 🙂

    • Dina Begum
      Juli 21, 2014

      Ah itu bukan pujian tinggi NiFi melainkan fakta. Dirimu membuat keberhasilan tampak bisa dicapai. Achievable kata urang Sunda mah 🙂

  2. hery
    Juli 23, 2014

    ow begitu ya kak Dina, setuju, lebih mengutamakan kebutuhan ketimbang keinginan. Apalagi menyiapkan peralatan2 perang dulu untuk mempermudah proses kerja penerjemah. good luck kak Dina

  3. Indria Salim
    Juli 30, 2014

    Terima kasih berbagi “lapanta”-nya. Bermanfaat, khususnya bagi saya yang berhalangan hadir di acara itu. Salam hangat, Jeng Dina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,830 hits
%d blogger menyukai ini: