Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

“Kecelakaan” yang Menyenangkan

Sewaktu browsing mencari keterangan tentang bagaimana cara menjadi penerjemah novel beberapa tahun silam, aku menemukan forum Goodreads Indonesia dan utas “Buku terjemahan apa yang kamu tunggu? ” Di sana ada postingan yang mengatakan bahwa dia menunggu buku apa saja yang diterjemahkan oleh Poppy D Chusfani. Penasaran, kucari terjemahan Poppy dan membacanya. Memang, novel-novel terjemahannya nikmat dibaca! Terlebih karena genre-nya sesuai dengan seleraku.

Nah, begini cerita Poppy yang mengalami “kecelakaan” menyenangkan.

—oOo—

poppy-nulis“Bagaimana ceritanya Mbak bisa jadi penerjemah/penulis?” Itu pertanyaan yang sering sekali mampir. Aku sudah pernah bercerita di berbagai forum, tapi karena masih banyak yang bertanya, mari cerita lagi.

Aku jadi penerjemah dan penulis karena ‘kecelakaan’ (atau lebih tepatnya, kebetulan). Sejak bisa membaca dan menulis aku sudah tidak terpisahkan dari buku, kertas dan pensil; di usia SD aku sudah membuat beberapa cerita pendek, bahkan komik, yang beredar di kalangan teman-teman satu sekolah. Merekalah pembaca pertamaku, malah beberapa teman dekat menjadi kritikus berharga. Semakin banyak aku membaca buku, semakin bersemangat aku mencoba menulis. Novel pertama yang aku baca, kelas 2 SD, adalah serial Lima Sekawan terjemahan, dan untuk anak usia 8 tahun rasanya prestasi bisa menghabiskan satu judul Lima Sekawan dalam empat sampai lima hari (dulu masuk SD harus sudah berusia 7 tahun, tidak seperti sekarang, dan baru belajar baca dengan benar kelas 1 SD). Lama-kelamaan aku penasaran bagaimana kalimat-kalimat aslinya dalam bahasa Inggris. Meski di awal tahun 1980an buku-buku impor masih sulit didapat, aku beruntung karena salah satu bibi bekerja di Bogor International School, dan beliau rajin membawakan buku anak-anak berbahasa Inggris untukku. Sementara aku belum bisa mendapatkan buku-buku Enid Blyton yang asli, aku membaca buku-buku second-hand hadiah dari bibiku dengan rakus, sebagian besar adalah dongeng klasik. Dari situ aku berusaha menuliskan terjemahannya, untuk dibaca adik-adikku.

Poppy-and-me

Di Festival Pembaca Indonesia, 2013.
Foto: Haris Thambris.

Peran orangtuaku sangat penting di sini, karena alih-alih menjawab pertanyaanku tentang beberapa kata yang tidak aku mengerti, mereka menyuruhku membuka kamus. Kalau masih tidak menemukannya di kamus, aku harus membuka ensiklopedia. Ayahku mengoleksi Encyclopaedia Americana, dan aku ingat kata pertama yang aku cari di sana, sewaktu kelas 4 SD, adalah ‘hamster’. Dan untuk membacanya aku harus buka kamus lagi. Kemudian, sementara anak-anak kelas 5 SD mendapatkan mainan, salah satu hadiah ulang tahunku waktu itu adalah kamus Inggirs-Indonesia Echols-Shadily hardcover (masih ada di rak bukuku sekarang). Kelas 6 SD aku mulai mengacak-acak rak buku orangtuaku, yang isinya sebagian besar novel berbahasa Inggris, Belanda, Prancis dan Rusia. Sejak itu novel-novel berbahasa Inggris masuk daftar permintaanku pada orangtua jika mereka bertugas ke luar negeri, dan aku mulai membandingkan buku aslinya dengan terjemahannya. Jadi, aku belajar ‘menerjemahkan’ secara otodidak, akibat penasaran, dari para penerjemah terkenal seperti Agus Setiadi, Listiana Srisanti, Rahartati Bambang, dan lain-lain yang buku-buku terjemahannya aku baca berulang-ulang.

Kapan aku memutuskan untuk berprofesi jadi penerjemah/penulis? Tidak pernah. Pertama, aku adalah orang yang tidak percaya diri dalam bidang tulis-menulis. Dulu aku beranggapan tulisanku tidak layak ‘tayang’, dan aku cukup puas menjadi penggemar penulis/penerjemah terkenal, meski sebetulnya orang-orang terdekat dan guru-guru sekolah mendorongku untuk mengirimkan naskah ke penerbit. Aku terus melahap buku, menulis, dan menerjemahkan dalam hati kalimat-kalimat yang aku baca. Tapi memutuskan untuk menjadikannya profesi? Total nightmare!

Fast forward tahun 2001, aku bergabung dalam komunitas Indo-HarryPotter, dan di sana aku didaulat untuk bercerita tentang salah satu buku suplemen Harry Potter yang membahas mitos serta legenda yang dipakai JK Rowling untuk bahan serialnya. Buku itu berbahasa Inggris, sulit didapat, dan sebagian besar member yang penasaran ingin aku menerjemahkannya secara informal agar mereka bisa menikmatinya juga. Pendek cerita, almarhumah Listiana Srisanti, salah satu penerjemah idolaku, dan Anastasia Mustika, chief editor GPU saat itu yang juga member komunitas, melihat hasil terjemahan kasarku dan bertanya apakah aku tertarik untuk menjadi penerjemah freelance. Bodoh sekali kalau aku menolak kesempatan, bukan? Meski dengan rasa percaya diri sebesar biji kemiri, aku datang ke kantor GPU untuk mengikuti ujian penerjemahan, dan lulus!

Setelah resmi menjadi penerjemah, proses belajar baru benar-benar dimulai. Naskah yang dikembalikan oleh editor waktu itu penuh tulisan merah, menandakan aku masih harus banyak mengasah kemampuan. Semakin diasah, semakin lancar aku membentuk kalimat yang baik, dan kepercayaan diriku meningkat. Sampai suatu ketika seorang editor senior mendorongku mengirimkan naskah sendiri. Berapa lama yang kubutuhkan untuk menulis buku pertamaku? Tiga tahun. Sekali lagi, rasa tidak percaya diri jadi penghalang.

Intinya, meski kesempatanku untuk menjadi penerjemah dan penulis adalah akibat kecelakaan menyenangkan, di saat usiaku nyaris kepala tiga, bekal untuk itu sudah aku kumpulkan sejak usia SD dengan banyak membaca, dan juga menulis meski pembacanya hanyalah orang-orang terdekat. Bagi dua profesi yang ‘bersaudara’ itu, passion adalah yang utama. Kedua, belajar dari yang sudah ahli. Bukan secara formal, tapi dengan memperhatikan betul-betul apa yang aku baca. Dari menyimak buku-buku karya penulis terkenal, aku belajar cara membangun plot, menyusun kalimat dan mengeksekusi cerita. Dari sifat yang penasaran, aku bergaul dengan kamus dan ensiklopedia sejak kecil, dan itu jadi modal menjadi penerjemah serta memperluas wawasan. Aku tidak pernah membatasi bahan bacaan, dari nonfiksi sampai puisi. Karena semua penulis berawal dari pembaca.

Mau jadi penulis/penerjemah? Banyak-banyaklah membaca, dan simak setiap kata yang kamu baca, sampai ke titik koma 🙂

Poppy D Chusfani.

Iklan

6 comments on ““Kecelakaan” yang Menyenangkan

  1. Linda B
    Februari 27, 2014

    Reblogged this on Pelayan Kata.

  2. Lidya
    Februari 28, 2014

    sampai ke titik koma ya mbak kalau baca, hiks aku tuh suka gak menrhatiin malah, baca ya baca aja 🙂

    • Dina Begum
      Februari 28, 2014

      Hehe iya. Koma itu penting banget lho.

      “Mengurangi rambut, rontok hingga 98%”
      “Mengurangi rambut rontok, hingga 98%”

      Beda, kan? 🙂

  3. kenterate
    Maret 5, 2014

    Kagum total pada Mbak Poppy. Aku juga suka terjemahan beliau dan pengin baca buku karangannya (kok ya belum sempat, sigh).

    • Dina Begum
      Maret 5, 2014

      Aku penggemar novel karangannya, asal enggak yang serem-serem. 🙂

  4. Ping-balik: Wishful Wednesday #43 | Faraziyya's Bookshelf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 27, 2014 by in Kisah kawan and tagged , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,995 hits
%d blogger menyukai ini: