Kisah Brigita

Halo rekan-rekan penerjemah budiman,

Perkenankanlah saya untuk sedikit membagikan pengalaman terutama kepada para penerjemah muda atau pun yang baru berminat untuk menjadi penerjemah. Saya mendapatkan pesan di inbox dari seorang teman di Bali dan terlintas dalam benak saya untuk membagikan sedikit pengalaman saya yang masih hijau dan bau kencur ini. Minggu ini saya mendapatkan 2 kontrak dari 2 perusahaan Amerika; sebagai freelance translator dan ebagai Service Provider. Saya juga sedang menunggu hasil tes dan kepastian dari sebuah perusahaan lokalisasi dari Dublin. Sebenarnya saya merasa ciut dan kurang percaya diri, namun JJ teman baik saya, seperti biasa telah mendorong dan mendukung saya untuk melakukannya. Dia menulis dalam surel: “do it and it shall inspire others.”

Menjadi penerjemah sebenarnya telah saya mulai semenjak zaman saya sekolah di SMA 9 , Yogyakarta. Saya selalu menjadi “guru bahasa” dan “penerjemah” bagi para siswa pertukaran pelajar AFS. Kebetulan saya selalu mendapat nilai bagus untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan cukup lumayan dalam bahasa Perancis. Kebiasan baik yang saya lakukan semenjak mulai belajar bahasa Inggris adalah menuliskan kembali dan menerjemahkan apa pun yang saya anggap menarik dan bermanfaat. Mungkin secara tidak sadar, kegemaran saya membaca buku berbahasa Inggris dan kemudian menulis esai tentang isi cerita dan pendapat saya yang tentu saja juga dalam bahasa Inggris telah menjadi sarana pelatihan yang sangat berguna. Selanjutnya kemampuan saya semakin terasah sewaktu belajar di LBA Atma Jaya Yogyakarta di mana dosen-dosennya yang notabene lulusan terbaik dari Princeton University telah mendidik dan melatih saya dengan keras. Setiap 2 minggu sekali kami diharuskan menulis dan mengumpulkan esai atas 5 pilihan novel asing dari penulis ternama. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada para dosen saya tersebut. Selanjutnya, secara tidak sengaja saya diterima menjadi guru bahasa Indonesia di sekolah bahasa REALIA-Yogyakarta, saya katakan tidak sengaja karena sebenarnya saya bermaksud mengantarkan seorang teman untuk melamar dan menjalani tes wawancara tetapi kemudian saya juga tertarik untuk mendaftar. Ternyata saya diterima dan teman saya itu tidak diterima.

Di Realia, saya mendapatkan kesempatan yang lebih luas. Murid-murid saya yang kebanyakan adalah diplomat, professor dan dosen, peneliti, CEO, serta siswa dari berbagai Negara di lima benua telah berjasa besar. Baik di dalam atau pun di luar kelas, saya dilatih dan terlatih untuk menjadi penerjemah mereka. Bahkan, beberapa kali para murid kandidat Doktor telah melibatkan saya dalam penelitian mereka baik sebagai anggota tim mau pun sebagai penerjemah dwi bahasa. Saya juga pernah beberapa kali saya terlibat sebagai juru bahasa dan penerjemah lepas untuk beberapa lembaga PBB. Selain itu dari murid-murid yang bekerja pada perusahaan minyak & gas serta farmasi, saya juga sering diminta membantu menerjemahkan atau bahkan dibayar untuk pekerjaan penerjemahan baik tulis maupun lisan.

Kesempatan lain juga saya dapatkan dari tempat kerja. Sewaktu 9 tahun memiliki perusahaan ekspor kerajinan “home décor”, hamper setiap hari saya berkorespondensi dan berbicara di bahasa Inggris dan beberapa bahasa lain yang telah saya pelajari seperti bahasa Perancis, Jerman, Itali, dan Spanyol. Gempa tahun 2006 di Yogyakarta, telah memaksa saya untuk menutup perusahaan dan bekerja untuk orang lain. Sebuah perubahan yang sangat berat tentunya. 

Pekerjaan pertama saya adalah sebagai Executive Secretary untuk Direktur Keuangan & HRD sebuah BUMN, Jakarta Lloyd. Pengalaman selama satu tahun yang sangat mengesankan. Memperdalam korespondensi, menambah perbendaharaan kata dan kemampuan menerjemahkan di bidang keuangan, perdagangan, perkapalan, dan sekaligus HRD. Selanjutnya saya bekerja di beberapa perusahaan dan organisasi milik asing seperti GlobalT, Sacred Childhood, dan contain Energy. Dari GlobalT, saya mendapatkan pengetahuan dan kemampuan baru terutama di bidang kebahasaan dan budaya karena saya bekerja sebagai hired language and cultural trainer. Di Sacred Childhood, saya berkenalan dengan dunia hukum, kesehatan ibu dan anak, serta jejaring luas termasuk dengan INP, FBI, AFP, serta Interpol. Dan terakhir di Containt Energy, saya belajar banyak tentang tenaga alam alternatif yakni tenaga surya, “cold storage”, perikanan dan pelabuhan, serta bagaimana menulis proposal dan laporan profesional yang ditujukan kepada badan resmi internasional.

Selain itu juga keaktifan saya sebagai anggota Indonesian Herritage Society, Sekar Jagat, ICC (Indonesian-Canadian Chamber of Commerce) dan Ekonid (Indonesia-German Business Assosiation) telah memberikan kontribusi yang sangat besar untk lebih mendalami dan memperluas pengetahuan dan sekaligus mengasah kemampuan di bidang penerjemahan menyangkut kebudayaan terutama Batik dan tekstil Indonesia, perdagangan dan hubungan internasional.

Saya bergabung menjadi anggota penuh HPI pada April 2013 sewaktu saya masih tinggal dan bekerja di Bali. Berhubung saya masih bekerja maka saya belum benar-benar berkonsentrasi untuk serius terjun sebagai penerjemah paruh waktu meskipun iseng-iseng saya mendaftar gratisan di ProZ dot com dan juga mengirimkan beberapa lamaran kerja. Saya mengubah CV saya utuk keperluan melamar pekerjaan sebagai penerjemah lepas dan juga meminta beberapa referensi dari rekan, mantan pimpinan, dan bahkan juga kepada Pak Eddie. Selain itu, saya juga melakukan perubahan profil di linkedin serta mengirimkan permohonan pertemanan kepada beberapa penerjemah asing dan dalam negeri dan juga CEO agen lokalisasi dan penerjemahan asing.

Akhir tahun lalu saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan mulai mencoba untuk lebih serius dalam menggapai peruntungan di bidang penerjemahan. Saya bahkan memberanikan diri untuk mencoba mengirimkan pesan permohonan kepada segelintir senior untuk dapat bekerja magang (bahkan kalau probono pun akan saya jalani), namun sayang, saya sama sekali tidak mendapatkan tanggapan serius bahkan pesan saya pun tidak terbalas sampai saat ini. Saya juga mengalami pengalaman buruk dengan senior lain atas suatu tawaran pekerjaan yang diputus di tengah jalan. Namun saya dapat mengerti dan menerima kenyataan itu. Tidak mudah memberikan kepercayaan kepada orang baru yang belum dikenal. Sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia perdagangan dan pemasaran, saya mengerti dan paham betul akan moto “pelajari dulu para calon rekan bisnismu karena mereka sekaligus juga akan menjadi pesaing utamamu”. 🙂 🙂

Dalam kesempatan baik ini saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Mohammad Iwan Munandar atas kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan untuk terlibat dalam beberapa proyek serta untuk dorongan semangat, Dina Begum yang selalu ada untuk menjawab semua pertanyaan saya, Sofia Mansoor yang sering menyemangati, dan last but not least kepada Helmy Ismail S yang dengan tangan terbuka berkenan berbagi pengalaman, dan juga kepada para rekan lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih!!!

Dua kontrak kerja yang saya tanda tangani pada hari ini merupakan buah dari kerja keras dan pantang menyerah selama beberapa bulan. Sekalipun mendapatkan pengalaman yang mengecilkan dan menciutkan hati, namun saya terus maju pantang mundur (Terima kasih Tuhan karena selalu ada uluran tangan dan dukungan, baik dari teman dekat mau pun sesama rekan penerjemah. Sekali lagi terima kasih banyak para rekan terkasih.) Perjalanan saya tentunya masih sangat panjang. Banyak PR yang harus saya kerjakan. Menjadi professional mungkin lebih mudah dari pada menjaga keprofesionalan kita. Memberikan kualitas terbaik mungkin akan lebih mudah dari pada mempertahankan kualitas. Mendapatkan nama baik mungkin akan lebih mudah dari pada mempertahankan nama baik. Mohon doa dan dukungan dari para rekan semua, semoga saya bisa melakukannya.

Pesan saya untuk para rekan penerjemah muda atau pun para pemula atau para peminat dunia penerjemahan. Janganlah berputus asa, semuanya akan tertata indah pada waktunya. Penolakan dan kegagalan hanyalah sekedar bumbu kehidupan. Ibarat pisau, kita diasah untuk semakin tajam dan tetap tajam. Terima kasih. GBU all.

Salam,
Gita
HPI-01-13-0830 

Iklan

13 thoughts on “Kisah Brigita

Add yours

    1. Mungkin seniornya sibuk jadi enggak bisa meluangkan waktu untuk “membimbing.” Biar bagaimanapun juga dia kan harus memeriksa hasil terjemahan agar nadanya serasi dengan keseluruhan proyek. Bukan belain, tapi pernah juga “magang” hehehe.

  1. Mba , saya sudah sering jadi penerjemah beberapa teks lokal, gimana cara jadi anggota HPI, dan gimana caranya untuk jadi penerjemah tersumpah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: