Tes Sertifikasi Penerjemah, Perlukah? (2)

Baca postingan sebelumnya: Tes Sertifikasi Penerjemah, Perlukah? (1). Syahdan, pada era tahun ’70-’80an ketika Indonesia mulai dilirik oleh investor asing, Gubernur DKI Bapak Tjokropranolo berpendapat penerjemahan berbagai dokumen kontrak tidak dapat dibiarkan tak terkendali, perlu “dikawal.” Maka, lahirlah Ujian Kemampuan Penerjemah yang menelurkan gelar Penerjemah Bersumpah. Oleh karena itulah UKP yang sejak tahun 2010 tidak diselenggarakan lagi itu hanya diselenggarakan di Jakarta dan diangkat sumpahnya oleh Gubernur DKI. Kita butuh semacam sertifikasi untuk jasa penerjemahan yang dapat dipercaya (helm saja punya SNI!).

Mengingat banyak sekali yang harus diprioritaskan oleh Pak Jokowi, sepertinya DKI tidak akan menyelenggarakan sertifikasi penerjemahan semodel UKP dalam waktu dekat. Lagi pula, UKP memiliki keterbatasan geografis. Banyak negara yang memiliki sertifikasi penerjemahan, seperti yang dipaparkan di dalam presentasi Ibu Rita. Berbagai sertifikasi yang dikeluarkan oleh macam-macam badan/lembaga/pemerintah seperti SATI, ITI, ATA, NAATI, CTTIC, DPSItidak selalu cocok untuk kebutuhan pasar di Indonesia. Berangkat dari itulah Himpunan Penerjemah Indonesia membentuk Komite Kompetensi dan Sertifikasi (KKS) untuk menyelenggarakan Tes Sertifikasi Nasional.

Tes Sertifikasi Nasional Himpunan Penerjemah Indonesia 2013 adalah sistem yang menguji kompetensi seorang penerjemah/juru bahasa profesional dalam melaksanakan tugas penerjemahan/penjurubahasaan sebagaimana diminta oleh pengguna jasa.

Tak seperti UKP yang rentan disalahgunakan karena tidak ada masa berlakunya, sertifikat TSN 2013  berlaku selama lima tahun. VISI TSN HPI Menjadikan semua penerjemah dan juru bahasa HPI diakui pengguna jasa mereka sebagai ahli komunikasi antarbahasa dan budaya yang memegang peranan penting dalam menyukseskan pekerjaan/kegiatan/acara yang mereka selenggarakan. MISI TSN HPI Menjadi alat ukur kompetensi profesional dan sarana pengembangan kapasitas profesional penerjemah dan juru bahasa HPI yang keandalannya diakui oleh pengguna jasa penerjemahan dan penjurubahasaan. Mungkin teman-teman yang sudah lulus UKP bertanya, untuk apa mengikuti TSN, kan sudah punya titel Penerjemah Bersumpah. Berikut adalah manfaat TSN HPI:

  • TSN HPI dapat dimanfaatkan oleh penerjemah/juru bahasa profesional yang ingin mendapat pengakuan dari sejawatnya dan untuk mendapatkan gelar “penerjemah bersertifikat HPI.”
  • Penerjemah/Juru Bahasa bersertifikat HPI dianggap mampu mempraktikkan profesi mereka secara mandiri karena dalam TSN HPI mereka telah menunjukkan kemampuan terjemahan yang sesuai dengan tujuan fungsional penerjemahan.
  • Bagi pengguna jasa penerjemahan/penjurubahasaan, Sertifikat HPI dapat membantu menemukan penerjemah/juru bahasa profesional yang memiliki kompetensi tinggi sehingga dapat memastikan keberhasilan kegiatan komunikasi yang mereka.

Jadi, dengan mengikuti TSN Anda mengirimkan pesan kepada pengguna bahwa I am very much updated about what I am doing. Tidak seperti UKP yang konon tidak ada bankdatanya, kredibilitas pemegang sertifikat TSN yang mencantumkannya di direktori Penerjemah dan Juru Bahasa Sihapei bisa di-crosscheck ke HPI sebagai lembaga penyelenggara yang menyimpan bankdatanya. Ke depannya, tidak tertutup kemungkinan TSN diadakan di luar Jakarta.

“Saya masih ragu, apakah akan mengikuti TSN dengan pasangan bahasa Inggris – Indonesia atau Indonesia – Inggris, karena saya menawarkan jasa keduanya. Bolehkan saya ikut dua tes sekaligus?”

Tentu saja boleh. Namun, sekadar berbagi pengalaman, baru-baru ini aku mengikuti tes penerjemahan untuk menggarap sebuah proyek penerjemahan produk. Caranya peserta tes diundang ke kantor yang ditunjuk untuk menerjemahkan materi produk tersebut. Tes dibagi menjadi dua babak, pagi (09.00 – 12.00) dan siang (13.00-16.00). Saat itu tidak ada batasan harus selesai berapa kata tapi kami diharapkan untuk menerjemahkan sebanyak mungkin dengan seakurat mungkin. Ternyata, hasil terjemahanku pada babak pertama lebih banyak dibandingkan dengan babak kedua. Walaupun sudah disuguhi kopi nikmat oleh penyelenggara tes, tak ayal kinerja babak kedua menurun daaan… hasilnya gagal. Oh ya sudah, mungkin memang bukan jodoh (curcol).

Di penghujung acara, Bapak Evand Halim memberikan contoh seperti apa terjemahan yang mendapatkan nilai minus dan nilai plus. Caranya, Pak Evand menampilkan nukilan artikel di layar, sepertinya itu diambil dari bahan ujian suatu tes penerjemahan. Peserta diminta menerjemahkan secara dadakan. Setelah itu, ditampilkan dua versi terjemahan yang dilakukan peserta ujian. Hadirin diminta turut menilai terjemahan manakah yang memenuhi kriteria “3-B”, yaitu: (1) baik, (2) benar dan (3) berterima. Rugi deh yang enggak datang ke acara ini! Jadi, kita perlu sertifikasi penerjemah. Sudah siapkah Anda mengikuti TSN 2013?

Dumbo tea time
Dumbo, boneka gajah milik Ijul, ikut menyimak acara HPI Komp@k.

Simak pengalamanku mengikuti TSN HPI 2014.

Simak daftar Penerjemah Bersertifikat HPI.

Selengkapnya tentang TSN HPI 2014: http://www.hpi.or.id/tsn-2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: