Menerjemahkan Anjing Iblis

Aku kurang hobi baca cerpen karena pendek-pendek (!) jadi bacanya cepat habis. Saat diminta memilih untuk menerjemahkan antara kumpulan cerpen atau novel karya Sir Arthur Conan Doyle, dengan sendirinya aku memilih novel. Ternyata dapat kisah hantu-hantuan. Waduh! Agak menyesal juga. Aku paling penakut kalau baca soal hantu… Bukannya pernah punya pengalaman melihat entitas lain selain manusia, hewan dan tumbuhan atau semacamnya, tapi serem membayangkannya. Kalau aku membaca novel, ceritanya sering terbawa sampai ke dalam mimpi. Saat terjaga kita bisa menghentikan membaca, nah, kalau di alam mimpi, mau minta tolong sama siapa?

Baru sampai 28 sudah deg-degan.  Apalagi pas sampai bagian Watson mendengar suara isak tangis wanita pada tengah malam dan ketika ditanyakan keesokan paginya ternyata tidak ada satu pun yang mengaku menangis malam itu…. jeng jeeeeeng… aku buru-buru berhenti baca, dilanjutkan besoknya.

Untunglah ceritanya tidak seseram yang kukhawatirkan. Bahkan, menurutku ini kisah Sherlock Holmes yang paling seru. Ada misteri di dalam misteri di buku ini, satu demi satu terungkap dengan memikat.

Ketika ditawari menerjemahkan The Hound of Baskervilles aku merasa ketinggalan banyak karena belum banyak memiliki perbendaharaan kisah tentang penghuni 221B Baker Street ini. Walaupun demikian, sosok Sherlock Holmes yang sering kujumpai di dalam novel-novel lain, seperti Trio Detektif, seri Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan, dll. membuatku merasa cukup percaya diri dalam menerjemahkan.Aku bukan penggemar Sherlock Holmes. Mungkin ini ada hubungannya dengan cerita petualangan Sherlock Holmes pertama yang kubaca, The Sign of Four. Di situ Holmes memakai heroin. Tanpa ba-bi-bu, hilang sudah rasa hormatku terhadap detektif ini. Menurutku walaupun pintar, kalau menganggap perlu heroin untuk merangsang dan menjernihkan pikirannya kepintaran itu tidak ada gunanya. Pada masa itu kokain dan heroin memang bukan barang haram seperti sekarang, dan konon bisa didapatkan tanpa resep. Walaupun demikian, kentara sekali Dr. Watson keberatan terhadap kebiasaan sahabatnya itu. Aku sempat heran tega-teganya Doyle  menjerumuskan tokohnya ke dalam jurang narkoba. Akan tetapi, Doyle kan dokter. Dia menulis cerita detektif ini sebagai hobi dan sebagai pekerjaan sampingan karena konon gajinya sebagai dokter tidak terlalu besar. Jadi, dia pasti tahu apa yang dilakukannya dan aku percaya ketika membaca bahwa Holmes bukan pecandu narkoba. Dia hanya punya otak yang sangat aktif. Ketika menangani kasus, otaknya bekerja dengan baik tapi saat tidak ada kasus otaknya kelebihan energi.

Persiapanku sebelum menerjemahkan novel ini yaitu membaca novel Sherlock Holmes lain terbitan Visimeda untuk mendapatkan gambaran kira-kira seperti apakah gaya yang disukai oleh Visimedia. Proses ini sangat membantuku untuk ‘menyerap’ gaya bahasa agar nantinya pekerjaan penyunting tidak terlalu berat sehingga bukunya cepat terbit. Di samping itu, aku juga membaca terjemahan novel ini yang sudah terbit. Fakta bahwa ini karya klasik yang sangat terkenal dan sudah pernah diterbitkan oleh beberapa penerbit lain memberikan beban tersendiri bagiku. Apalagi ternyata penerjemah sebelumnya adalah penerjemah senior yang menerjemahkan buku-buku bestseller, benar-benar membuat ciut nyali.

Menerjemahkan karya klasik bukan perkara mudah bagiku. Perasaanku saat memandang naskahnya mirip dengan perasaan ketika membaca dokumen hukum untuk diterjemahkan. Belum lagi paragraf yang terkadang sedemikian panjangnya sampai-sampai satu halaman hanya terdiri dari dua atau tiga paragraf, bahkan ada yang menyita sampai satu halaman penuh. Kalimat-kalimatnya yang cenderung panjang, beranak, bercucu, penuh dengan ‘jebakan’. Mengikuti kiat teman penerjemah, “Pokoknya kalau sudah ketemu subyek dan predikatnya, gampang, sisanya hanya keterangan.” Malangnya, subyek dan predikat itu mahir bersembunyi.

Awalnya aku sangsi apakah novel ini akan sanggup menawarkan kejutan untukku, mengingat ini kisah klasik, apalagi ketika aku mendapati Watson-lah yang lebih banyak diceritakan. Kisah diawali oleh kedatangan Dr. Mortimer yang mendapat tugas untuk menjemput seorang ahli waris tetangganya di Devonshire yang sudah almarhum, Sir Charles Baskerville. Dr. Mortimer meminta bantuan Holmes untuk menyelidiki kasus yang berbau gaib seputar kematian Sir Charles yang konon akibat kutukan anjing iblis yang merundung keluarga Baskerville selama kurang lebih satu abad. Ketika Holmes menugaskan Watson pergi ke Devonshire untuk mendampingi si ahli waris, Sir Henry Baskerville, untuk menyelidiki kasus, aku heran. Ini apa-apan, kan jagoannya Holmes, kenapa jadi Watson yang lebih banyak diceritakan? Holmes berpesan agar Watson membuka mata dan telinga lebar-lebar dan menceritakan semua yang dia lihat dan dengar melalui surat. Aku jadi bertanya-tanya, apa Watson ini tidak buka praktik atau apalah, soalnya dia bisa dengan begitu saja menyanggupi permintaan Holmes menjadi tamu di rumah Sir Henry selama beberapa minggu.

SH-sepiaNamun, Watson tentu saja tidak mengecewakan pembaca. Omong-omong, menurutku Watson lebih cocok jadi jurnalis ketimbang dokter. Selama di Baskerville Hall, kediaman Sir Henry, Watson memaparkan kejadian sehari-hari yang dialaminya kepada Holmes. Bahkan, beberapa bab dari novel ini dipaparkan dalam bentuk surat Watson kepada Holmes, dan bab-bab terakhir ‘dikutip’ dari buku harian Watson. Di sinilah yang menurutku sangat menarik. Aku seakan tenggelam ke dalam cerita, aku seakan menjadi Holmes. Apa Anda juga sepertiku, kalau membaca aku suka membayangkan diriku salah satu tokoh di dalam buku itu? (Biasanya sih jagoannya atau pacar si jagoan.) Doyle seakan mengerti kebiasaan seperti itu. Dibiarkannya pembaca merasa dirinya Holmes yang membaca laporan Watson, mencurigai setiap orang, mencoba menarik kesimpulan, mencoba menerka siapa penjahatnya. Namun, aku curiga Doyle melakukannya sambil tersenyum simpul dan membatin, “Mana mungkin kalian sejago Holmes.” Ya, memang, sampai misteri terkuak, aku tidak bisa melihat apa hubungan antara hilangnya sebelah sepatu bot Sir Henry—pertama sepatu bot baru lalu sepatu bot lama—dengan kasus ini.

Mungkin semua cerita Sherlock Holmes seperti itu, entahlah, seperti yang kubilang, aku baru membaca sedikit dari sekian banyak petualangan detektif kondang itu. Yang jelas, aku jadi ingin mengejar ketinggalan dan membaca semua kisahnya.

Di Goodreads, ada 646 edisi yang berbeda untuk novel ini, dua di antaranya terjemahan bahasa Indonesia. Semoga versi terjemahanku mendapat tempat di hati para Sherlockian dan Doylean.

Judul asli: The Hound of Baskerville
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Dina Begum
Penyunting: Muthia Esfand
Penerbit: Visimedia
Terbit: Februari 2013
ISBN: 979-065152-X

Iklan

4 thoughts on “Menerjemahkan Anjing Iblis

Add yours

  1. Di rumah saya punya salah satu kumpulan ‘original’ karya2 sherlock holmes. Memang saya aja yang ‘native speaker’ (ibu saya, maksudnya :P) kesulitan memahami kisahnya. Butuh waktu men-decipher bahasa klasiknya heheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: