Penerjemah Buku, Nasibmu Kini

Seseorang di milis Bahtera menyatakan keprihatinannya tentang kondisi honor penerjemah buku (khususnya buku sastra) yang hanya sepuluh persennya dari acuan tarif penerjemahan yang dikeluarkan oleh Kementrian Keuangan, dan bahwa besaran honor penerjemah buku ini belum banyak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu, padahal gaji buruh saja sudah naik beberapa kali lipat selama itu (dari beberapa ratus ribu rupiah menjari dua juta-an rupiah).

Bila masih ada yang bertanya-tanya berapa honor penerjemah buku, kira-kira begini gambarannya: Setelah diterjemahkan, satu novel berbahasa Inggris 400 halaman menjadi 329 lembar (A4 spasi ganda, margin kiri-kanan-atas-bawah 1” dengan font Times New Roman 12pt). Jika memakai angka yang “dibocorkan” Mas Mulyono dari Visimedia di acara Temu Penerbit, honor penerjemahan buku ini adalah 329 x Rp 15.000 = Rp4.935.000. Waktu yang diberikan kepada penerjemah untuk menyelesaikan penerjemahan dua bulan. Rp4.935.000 dibagi dua … y-yaaah … masih di atas UMR. #PositiveThinking. Kalau ingin kaya, jangan hanya berprofesi sebagai penerjemah buku. Tentu saja tidak semua penerjemah buku menerima honor ini. Ada yang di atas bahkan ada juga yang di bawah ini.

Dalam acara Temu Penerbit Penerbit yang diselenggarakan oleh Inisiatif Penerjemahan Sastra pada tanggal 25 September 2013 terungkap:

  1. Menerjemahkan sastra (buku) itu tidak mudah.
  2. Penerjemah diharapkan untuk melakukan riset sendiri dengan membaca beberapa buku terbitan penerbit yang dibidik.
  3. Penerjemah dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan. Wani piro?
  4. Penerbitan merupakan perusahaan yang harus menghasilkan laba, tidak bisa semaunya menaikkan honor penerjemah.

Dari keterangan Ibu Sofia Mansoor yang pernah bekerja selama 20 tahun di sebuah penerbitan diketahui bahwa honor penerjemah hanya sekitar 5% dari biaya produksi buku dan kalau angkanya tinggi, harga bukunya bakalan melambung, tak terbeli. Namun, tak dapat dipungkiri penerjemah butuh uang untuk membeli kamus dan buku-buku sebagai bahan ajar, berlangganan internet, membeli komputer/laptop, dan perangkat lunaknya serta mengikuti seminar atau lokakarya, di antaranya.

Akan tetapi, ada berbagai cara untuk mendapatkan kesejahteraan dari profesi penerjemah.  Selain menerjemahkan buku, untuk mencari nafkah aku juga menerjemahkan dokumen. Rata-rata, perbandingan honor antara menerjemahkan buku  dengan menerjemahkan dokumen adalah 1:5. Perbandingan ini bisa lebih besar jika menggarap proyek dengan subyek khusus seperti kedokteran, hukum, teknik, dan proyek dari luar negeri yang honornya mata uang asing atau menjadi juru bahasa. Simak tips untuk menjadi penerjemah internasional. Seorang teman editor mengatakan, “Jadi ghostwriter saja, honornya bisa puluhan juta.”  Ahaay!

Marjin Kiri

Bagiku, dan ini diamini oleh banyak penerjemah buku yang mengobrol denganku, insentif bagi penerjemah buku bukan hanya uang. Kebanggaan yang dirasakan saat membaca nama kita bersanding dengan penulis buku itu salah satunya. Tentang pencetakan nama penerjemah ini juga berbeda-beda. Penerbit Serambi meletakkan namaku di halaman judul. Menurut Mas Ronny Agustinus, Marjin Kiri pada prinsipnya berusaha mengikuti standar internasional. Sebagai pengakuan dan apresiasi tentang pentingnya kerja penerjemahan mereka membuat SOP yang mencantumkan nama penerjemah di sampul belakang dan biodata ringkas penerjemah di bawah biodata penulis di halaman ii (untuk semua buku, baik fiksi maupun nonfiksi). Di situs webnya juga nama penerjemah tercantum, lengkap dengan harga bukunya.

Berikut contoh-contoh lain tentang apresiasi yang dilakukan penerbit terhadap penerjemah:

Photo0083

  • Mengundang penerjemah ke peluncuran buku yang diterjemahkan/gelar wicara dengan penulis bukunya.
  • Diundang ke acara bedah buku yang diterjemahkannya.

Tidak semua penerjemah bersedia dicantumkan namanya di dalam buku terjemahan. Ada juga yang sengaja memakai nama samaran yang sama sekali berbeda dengan nama aslinya. Salah seorang penerjemah yang menggunakan pseudonim utuk buku-buku yang ia terjemahkan mengatakan melakukan itu karena menurutnya ia tidak punya kendali atas buku terjemahan yang diterbitkan. Selesai menerjemahkan dan mengirimkan hasilnya, memang pada umumnya naskah terjemahan melalui proses penyuntingan dan pemeriksaan aksara sebelum kemudian terbit. Juga, tidak semua penerjemah merasa nyaman tampil dalam gelar wicara atau siaran di radio (menunjuk diri sendiri) tetapi hal-hal seperti ini merupakan pajanan yang sangat berarti bagi penerjemah.

Tidak ada kesimpulan dalam renungan pada Hari Penerjemah Internasional yang jatuh setiap tanggal 30 September ini. Namun bolehlah kusampaikan, ketika menggeluti profesi ini, aku sadar betul dengan kenyataan tentang honor penerjemahan buku tetapi ini pilihan. Aku bisa take it or leave it, kata urang Sunda mah. Setelah membaca tulisan tentang royalti penulis oleh Dee Lestari, salah satu penulis favoritku, aku sepakat, seperti menulis, menerjemah adalah urusan kepuasan batin karena membahas honor terlalu menyakitkan. Ada beberapa teman yang tadinya penerjemah buku memutuskan untuk meninggalkannya dan lebih memilih menerjemahkan dokumen atau jadi juru bahasa, seperti yang diakui oleh Ijul Baso ini. Ada juga penerjemah dokumen yang justru memilih menjadi penerjemah buku saja karena kecintaannya terhadap buku. Secara pribadi aku mengenal beberapa penerjemah luar biasa yang memang khusus menerjemahkan buku. Sekali lagi, ini pilihan. Rata-rata, penerjemah buku mengaku menerjemahkan buku karena cinta, suka, doyan. Sesederhana itu.

You do understand that being a literary translator is probably not a way to make a living without a day job, right? – Susan Bernofsky New York, NY

Iklan

26 thoughts on “Penerjemah Buku, Nasibmu Kini

Add yours

  1. Curhat sedikit, mba. Kalau ngomongin segi honor, memang ga akan ada habisnya ya… Lokakarya kemarin alhamdulilah banyak membuka mataku, terutama masalah honor ini. Memang menurutku idealnya ada pekerjaan lain yang bisa ditekuni dan lebih menghasilkan duit… hehe… Sementara penerjemahan buku–yang menurutku terkadang lebih memeras otak–mungkin dilakukan karena rasa cinta seperti dalam postingan mba ini. Thanks tulisannya, mba. Kangennya nulis blog…

  2. Sama aja kok mak, royalti penulis buku gak banyak, meskipun penerbit major. Kecuali udah ngetop banget. Tapi paling nggak, kalau penerbit major perjanjiannya jelas, DP langsung dibayar begitu naik cetak & royalti gak telat. Idealnya pake sistem royalti,tapi mengingat life-cycle buku di toko buku cuma beberapa bulan (denger2 3 bulan)ya apa artinya royalti? Kalau mau agak lama, ya bikin buku yg temanya timeless,gak musiman, jd msh dicari scr online… Laaaah curhat dibalas curhat wkwkwkk… Yg penting kita happy ya maaak

  3. Kira-kira seberapa banyak ya penerjemah yang murni penghasilannya dari buku? Aku sempat beberapa lama hanya menerjemahkan buku, tetapi selama itu juga masih tinggal bersama ortu, lalu kemudian bersama suami, jadi ada sumber penghasilan lain. Aku belum pernah benar-benar hanya hidup dari menerjemahkan buku.

        1. Kombinasi pekerjaan yang menafkahi kami masih bersepupu dengan terjemahan, yaitu ngedit dan ghostwriting. Setelah nengok catatan bulanan, kami pernah ditopang hidup hanya dari pendapatan menyunting buku:)

  4. Aku tetap berpikir idealis bahwa menerjemahkan buku itu tidak boleh dilihat dari uangnya lho, hehehe. Buku resmi yang benar-benar kuterjemahkan hanya dua. Sisanya sudah tidak tertangani karena sudah beralih ke penerjemahan dokumen – aku gak punya lagi stamina yang dibutuhkan untuk buku. Tapi andai aku tidak berawal dari penerjemah buku, gak akan mungkin aku bisa menerjemahkan aplikasi game, atau perangkat lunak. Kenapa? Ada rahasia konteks seluas samudra yang bisa dipelajari dari menerjemahkan buku – ini tidak bisa diajarkan, harus dirasakan dan dicoba sendiri 😀 – prinsipku: kalau sudah pernah menerjemahkan buku beberapa kali, dijamin tidak akan gentar menghadapi manual yang penuh istilah teknis sepanjang 200 halaman sekali pun. Buka rahasia sedikit: penerjemahan buku itu sangat membantu dalam penerjemahan UI (User Interface). Bisa jadi bayaran penerjemahan buku akan sulit didongkrak bahkan untuk sepuluh tahun mendatang. Tapi pembelajaran dari menerjemahkan buku akan mendatangkan uang ratusan kali lipat 🙂

    1. Makasih bocorannya, Maren. Emang bener, sebanyak apa pun bahan terjemahan rasanya ga masalah kalau tenggatnya cukup. Mungkin selama ini aku ‘take it for granted’ ya tapi sekarang sadar itu berkat terbiasa garap penerjemahan buku.

  5. jadi inget temanku yang initial V.. dia akhirnya memilih keluar dari pekerjaan kantornya untuk serius jadi penterjemah karena satu alasan: pendapatannya katanya lebih besar ketimbang kerja kantorannya selama ini. nah, temanku yang lain, initial I.B, malah happy banget jadi penterjemah karena katanya ini pekerjaan dimana dia bisa tetap main game sepuasnya. hahahaha… hidup penterjemah.

  6. Menerjemahkan buku itu…gimana ya rasanya? Indah aja gitu. Tapi kalau aku hitung2, kalo speed-nya oke, dan jam kerjanya sama banyaknya dengan orang kerja 9 to 5, bisa lebih gede lho daripada kerja kantoran. Tapi (tapi mulu), emang kudu disiplin. Nah, ini yang susah. Haha…apalagi makin banyak sosmed (alasan, nyalahin sosmed mulu). Hihi. Semangat, Mbak! *dari yang kangen udah lama nggak nerjemahin buku tapi emang lg gak bisa disiplin*

  7. Saya kebetulan mengalami masa yg lebih jaya sebagai penerjemah buku, yaitu sebelum krismon ’98. Waktu itu saya menghasilkan sekitar 1 juta untuk satu buku, sedangkan harga mobil Daihatsu Hijet pick-up terbaru (1984) 3,4 juta. Jadi saya bisa membeli mobil hanya dengan menerjemahkan sekitar 3,5 buku. Sayangnya, honor sbg penerjemah buku tidak berlipat sebanding dgn nilai tukar rupaih terhadap dollar, setelah krismon. Sekarang, untuk satu buku saya mendapat honor sekitar 6-10 juta. Namun harga mobil Daihatsu pick-up setara Hijet ’84 saat ini sekitar 120 juta. Berarti saya harus menerjemahkan sekitar 15 buku untuk bisa membelinya…!
    Tetapi kecintaan saya pada penerjemahan buku tidak pernah surut. Sudah tiga puluh tahun lebih saya mengetik setiap pagi setelah salat Subuh, setiap hari, dan tetap merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan di masa awal karier saya. Saya juga tidak pernah tergoda untuk pindah jalur menjadi penerjamah dokumen atau juru bahasa, yang penghasilannya jauh lebih menggiurkan.
    Jadi, saya kira, kuncinya adalah cinta. Karena itu, dalam setiap acara ngobrol2 ttg penerjemahan buku, saya selalu berpesan pada penerjemah buku pemula: kalau cintamu pada buku tidak cukup besar, jadilah penerjemah dokumen saja, hidupmu akan lebih makmur…hahaha.

    1. Wow! Asik banget, Mbak, sebelum krismon.
      Makanya, setiap ada teman penerjemah dokumen atau juru bahasa mengatakan ingin jadi penerjemah buku aku sering sangsi. “Ah, yang benerrrrrr?” 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: