Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Temu Penerbit – Penerjemah Sastra

Sastra terjemahan mempertemukan kita dengan berbagai suara dari berbagai dunia dan sebaliknya sastra juga memperkenalkan kita dengan dunia luar. Ini diakui oleh Mbak Tanti dari Gramedia Pustaka Utama yang menjadi salah satu pembicara dalam acara Temu Penerbit pada tanggal 25 September 2013 di Universitas Atma Jaya, Jakarta. Pertemuan yang terbilang langka ini diselenggarakan oleh Inisiatif Penerjemah Sastra, sebuah gerakan yang digagas oleh Eliza Vitri Handayani, yang diantaranya berprofesi sebagai penulis, penerjemah dan editor dengan segudang prestasi. Berangkat dari keprihatinan tentang banyaknya kendala untuk menghasilkan terjemahan sastra berkualitas di Indonesia, Inisiatif Penerjemahan Sastra bergulir sejak tahun 2012. Simak apa saja kegiatannya.

20130925_092710

Esti Budi Habsari (Mizan), Tanti Lesmana (Gramedia Pustaka Utama), Andya Primanda (Kepustakaan Populer Gramedia), Hendarto Setiadi, Anton Kurnia (Serambi).

Acara temu penerbit ini dihadiri oleh lebih dari 60 peserta yang terdiri dari para penerjemah, calon penerjemah, wartawan, peneliti, penulis dan penerbit. Hadir di antara peserta adalah perwakilan dari penerbit Alvabet, Bhuana Ilmu Populer, Dastan, Dolphin, Elex Media, Marjin Kiri, Nourabooks, Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Mizan, Serambi, Visimedia, dan Yayasan Lontar. Perwakilan dari enam penerbit yang disebutkan terakhir duduk sebagai panelis, diampu oleh Pak Hendarto Setiadi, penerjemah yang sangat oke punya. Acara dimulai dengan kelima penerbit yang memaparkan tentang penerbitan mereka dan bagaimana perhatian mereka terhadap karya sastra terjemahan, rihat minum kopi, sesi tanya-jawab dan ditutup dengan makan siang sambil ramah-tamah sekaligus ajang mengajukan CV serta contoh terjemahan.

I-am-a-freelance-translator-200Ironisnya, meskipun sama-sama mengakui bahwa pekerjaan menerjemahkan karya sastra itu tidak gampang, mulia dan besar jasanya, honor penerjemah buku sastra rata-rata jauh di bawah honor penerjemah nonbuku. Penerbit tentu saja harus memperhitungkan sisi komersial karena walau bagaimanapun juga penerbitan merupakan bisnis yang harus menghasilkan laba. Bahkan (semoga ini hanya berseloroh saja) PENERBIT ALVABET mengatakan mengundang semua penerjemah untuk mengajukan diri menjadi penerjemah lepas di penerbitannya dengan catatan bersedia dibayar dengan semurah-murahnya. “Ini seperti lingkaran setan,” kata Pak John H. McGlynn dari yayasan Lontar yang diminta menyampaikan paparannya dalam bahasa Inggris. Mas Moelyono dari Visimedia membeberkan “rahasia dapur,” yaitu honor Rp15.000 untuk hasil terjemahan per lembar A4, spasi ganda, font Times New Roman 12 pt.

Dibahas juga soal insentif untuk penerjemah, beli putus atau royalti. Aku sih lebih memilih sistem beli putus, honornya diterima utuh di muka. Pembayaran royalti kan sekian bulan sekali, itu pun kalau bukunya laku. *uhuk* Mas Anton Kurnia dari Penerbit Serambi mengatakan bisa juga diatur pembayaran honor penerjemah secara “borongan” per proyek (per buku) Rp sekian, misalnya.

Akan tetapi, menurut hematku penghargaan terhadap penerjemah sastra bukan melulu uang, meskipun tak dapat dipungkiri kita butuh uang untuk membeli modal berupa kamus dan buku-buku sebagai bahan referensi, berlangganan internet, membeli komputer/laptop dan perangkat lunaknya serta mengikuti seminar atau lokakarya, di antaranya. Ada kebanggaan tersendiri manakala nama kita bersanding dengan nama penulis buku yang kita terjemahkan, yang karyanya telah menyentuh kehidupan kita. Dibandingkan dengan penerjemah nonbuku yang seringkali harus menandatangani NDA* penerjemah buku dapat memajang portofolio hasil karya terjemahannya.

Dari mengikuti pemaparan para penerbit, sesi tanya jawab serta mengobrol setelahnya, aku menarik kesimpulan bahwa bila kualitas terjemahannya baik penerbit enggan beralih ke penerjemah lain dan dengan sendirinya honornya relatif lebih tinggi dibandingkan honor penerjemah rata-rata. Penerjemah yang baik itu “Yang tidak membuat editor menjadi penerjemah kedua” kata mas Andya dari KPG. Selain itu, editor menyukai penerjemah yang baik hati, ramah, ceria, tidak sombong, rajin menabung, bisa diajak komunikasi, diketahui minat bacaannya, mudah dihubungi dan senantiasa meningkatkan kualitas penerjemahannya. Komunikasi bisa dengan media apa saja, baik surat elektronik, ponsel maupun media sosial. Komunikasi melalui media sosial sebaiknya dilakukan melalui jalur pribadi, tidak melalui status, apalagi status editor mengeluhkan hasil pekerjaan penerjemah atau sebaliknya.

Tercetus tanya dari para peserta apakah penerbit berupaya “mendidik” penerjemah? Aku tergelitik saat Mas Andya mengatakan “Pekerjaan editor itu banyak, [dst] penerjemah kan hanya menerjemahkan saja [dst].” Beliau lupa, penerjemah juga tidak hanya menerjemahkan untuk satu penerbitan (atau klien) saja. Gaya selingkung penerbit kan beda-beda, jadi lebih mudah rasanya bila diberi panduan penerjemahan berisi beberapa standar yang dipakai di penerbitannya, misalnya “Titik setelah kalimat jika bukan akhir kalimat ditulis tiga kali (…) jika merupakan akhir kalimat ditulis empat kali (….)” dan sebagainya. Memang mungkin sulit meluangkan waktu untuk menyusunnya tapi menurutku upaya ini sepandan dan akan memudahkan kedua belah pihak. Jangan lupa juga, menerjemahkan melibatkan pekerjaan mengetik yang bisa menentukan kecepatan menerjemahkan.

Menurut hematku, yang juga senada dengan jawaban para panelis, kita tidak bisa menunggu “disuapi” oleh editor. Memang beberapa tahun silam ketika dunia penerbitan belum sesemarak seperti sekarang ini beberapa penerbit kerap mengadakan pertemuan dengan para pekerja lepas mereka, seperti yang dilakukan oleh Mizan. Namun, seiring dengan kesibukan yang semakin meningkat, kegiatan tersebut kalah prioritas. Oleh karena itu, kita, penerjemah, harus proaktif. Mbak Esti Budihabsari dari Mizan memberikan tips, sebelum melamar ke penerbit tertentu, bacalah beberapa buku terbitan penerbit tersebut. Kenali seperti apa gaya selingkung mereka, karena tidak semua penerbit bisa memberikan daftar istilah “do’s and don’ts” kepada penerjemahnya. Luangkanlah waktu untuk membandingkan karya yang sudah terbit dengan soft copy terjemahan kita agar tahu bagian mana saja yang diubah oleh editor dan belajar dari situ.

Berikut hal-hal mendasar yang dikeluhkan oleh para editor, yang sebaiknya kita cermati:

  • Bila melamar ke lebih dari satu penerbit, kirimkanlah satu surat elektronik kepada satu penerbit. Jangan mengirimkan secara massal dengan subyek “Lamaran Penerjemah Lepas” badan surel kosong, di bidang “Kepada” tercantum alamat surel banyak penerbit. Selain ada kemungkinan masuk ke folder SPAM, editor yang menerimanya juga menganggap itu tidak etis.
  • Jangan lupa menyertakan surat lamaran di badan surel saat mengirimkan lamaran, jadi tidak berupa lampiran agar bisa langsung dibaca.
  • Bila melamar ke lebih dari satu penerbit, pastikan salam pada awal surat sesuai dengan paragraf penutup, jangan “Kepada, Editor Mizan,” lalu diakhiri dengan “Besar harapan saya Anda mempertimbangan saya untuk menjadi penerjemah lepas yang mungkin sedang dibutuhkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama,” misalnya.
  • Kemukakan genre yang diminati di dalam surat pengantar.
  • Untuk lampiran, cantumkan nama pada judul file. Kemungkinan dalam sehari banyak sekali surat lamaran yang diterima editor jadi lamaran kita tidak segera dibaca melainkan disimpan dahulu. Bila hanya menulis “CV” atau “Contoh Terjemahan” saja itu sama dengan merugikan diri sendiri. Sebaiknya, buat nama file seperti “CV_DinaBegum” atau “Contoh_Terjemahan_Fantasi_DinaBegum.”

Simak juga tips tentang menyusun CV penerjemah yang perlu dibuat berbeda.

Tambahan catatan dari Mbak Istiani Prajoko:

Penjelasan lain dari Mbak Tanti tentang 4 kategori penerjemah.

  1. Penerjemah yang sangat baik penguasaannya dalam bahasa sumber dan bahasa target. Hasil terjemahannya sangat mulus dan sangat meringankan editor. Penerjemah macam ini disayang editor dan jelas akan diberi pekerjaan terus.
  2. Penerjemah yang menguasai bahasa sumber dengan sangat baik dan terjemahan ke bahasa target pun akurat, tapi masih kaku. Penerjemah semacam ini juga disayang editor karena punya potensi menghasilkan terjemahan yang baik.
  3. Penerjemah yang hasil terjemahannya sangat mulus dan bagus, tapi kalau dicocokkan ke bahasa sumber ternyata banyak yang ‘hasil karangannya sendiri’, alias tidak tepat karena opini pribadi ikut dimasukkan. Penerjemah semacam ini harus diwaspadai, dan editor tidak boleh lengah. Kemungkinan besar, si penerjemah tidak akan dihubungi lagi.
  4. Penjerjemah yang penguasaan bahasa sumber dan bahasa targetnya sangat minim, sehingga hasil terjemahannya tidak akurat dan buruk. Tentu saja penerjemah ini tidak akan dihubungi lagi.

Jadi termasuk penerjemah yang manakah Anda?

Kategori penerbit kesayanganku:

  • Tidak memberikan honor rendah,
  • memberikan pengakuan kepada penerjemah, dan
  • memberikan tenggat yang wajar.

Baca juga tips untuk penerjemah pemula.

*Non Disclosure Agreement dalam penerjemahan adalah penerjemah tidak boleh mengungkapkan informasi materi yang diterjemahkannya, bahkan terkadang ada yang tidak mengizinkan penerjemah mencantumkan nama kliennya di dalam CV.

Iklan

14 comments on “Temu Penerbit – Penerjemah Sastra

  1. Indradya SP
    September 26, 2013

    Wuih, ada mbak Esti 😛

    • Dina Begum
      September 26, 2013

      Ada dong. Penggemarnya banyaaak.

      • Indradya SP
        September 26, 2013

        Saya juga penggemarnya lho….hihihi 🙂

  2. Sugianto
    September 26, 2013

    Cool… lhah udah penuh. Dua jempol.

  3. egipang
    September 26, 2013

    Seperti biasa, terima kasih banyak ya ceritanya Mbak… seperti biasa, aku ketelatan daftar ikut acara ini dan akhirnya kelewat lagi… Semoga lain kali aku lebih sigap dan lebih beruntungg… 😥 trims sekali lagiiiii

    • Dina Begum
      September 26, 2013

      Beeuuuuh padahal acaranya seru, Egi. Jarang-jarang acara kayak ini diadain.

      • egipang
        September 26, 2013

        iya mbak, aku juga pingin, tapi lupa ngirim contoh terjemahan karena urusan domestik emak2 beranak 2 dan berkeponakan 3 tanpa mbak sama sekaliiiii… lain kali aku akan lebih sigap!!! SEMANGAT!

  4. nanda_lova
    September 26, 2013

    Ini nih yg aku cari, makasih banyak mbak Dina, artikelnya gemuuk banget, hehehe…
    Udh lama aku cari artikel seperti ini, ngk nyangka ketemu disini.
    Akhirnya aku menemukanmu… hihihi…
    Salam,

    • Dina Begum
      September 27, 2013

      Salam! Gemuk kayak yang nulis 😀

      • nanda_lova
        September 30, 2013

        Gemuk itu ngegemesin lho mbak, pingin diapain gitu. hihi….
        Salam,
        nanda_lova

  5. Ping-balik: Ingin Jadi Penerjemah (Buku)? | Zona Aini

  6. Ping-balik: Ingin Menjadi Penerjemah Buku? – eha translator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 26, 2013 by in Laporan Pandangan Mata.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 262,033 hits
%d blogger menyukai ini: