Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Masih Perlukah Kita Ber-Sastra-ria?

Tulisan Moelyono, pimpinan redaksi VisiMedia.

Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. —Plato

Tanggal 25 September 2013 yang baru lalu, saya (Visimedia Pustaka) diundang oleh komunitas yang bernama Inisiatif Penerjemah Sastra untuk sedikit sharing pada acara Temu Penerbit – Penerjemah yang merupakan bagian dari rangkaian acara “2013 Literary Translation Workshop” (23—28 September 2013), di Atmajaya Translation Conference, Jalan Jenderal Sudirman 51, Jakarta. Acara ini tampaknya sangat menarik perhatian peserta yang jumlahnya lebih dari 100 orang, yang sebagian besar translator (penerjemah) yang tergabung dalam HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).

Pada sesi ini beberapa perwakilan penerbit memberikan presentasi tentang A—Z hubungan antara penerjemah dan redaksi (editor), serta nasib buku sastra terjemahan sebagai tema besar. Di antaranya Mizan (Esti Budihabsari), Serambi (Anton Kurnia), Gramedia Pustaka Utama (Tanti Lesmana), KPG (Andya Primanda), Lontar (John McGlynn), dan Visimedia Pustaka (Moelyono).

Terlepas dari diskusi tentang penerjemahan dan permasalahannya, bagi saya ada dua hal yang menarik perhatian dari pertanyaan para peserta karena “menyinggung” keberadaan kita sebagai penerbit buku. Pertanyaan pertama adalah bagaimana nasib buku sastra jika sebagian besar penerbit menjejali pembaca dengan buku-buku pop(uler)? Kedua, apakah penerbit tidak mempunyai CSR yang bisa mendanai penerbitan buku-buku idealis, termasuk buku sastra?

Perjalanan Sastra (di) Indonesia

Menurut pemahaman saya (yang awam sastra), karya sastra termasuk buku satra, merupakan eskpresi “perjuangan dan pemberontakan” manusia terhadap situasi dan kondisi zamannya. Selain itu, karya sastra juga merupakan cermin dari situasi dan kondisi masyarakat (pesikologis, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan sebagainya).

Sejarah Indonesia setidaknya mencatat berapa gelombang besar gerakan sastra yang kemudian dinamakan “angkatan”, yaitu Balai Pustaka (1920-an), Pujangga Baru (1930-an), Angkatan 1945, Angkatan 1950—1960-an, Angkatan 1966—1970-an, Angkatan 1980-1990-an, Angkatan Reformasi, lalu Angkatan 2000-an.

Semua angkatan memiliki ciri khasnya tersendiri. Balai Pustaka mencoba bangkit untuk “menyelamatkan” generasinya dari gempuran satra (dan budaya barat/Belanda/Eropa) dengan tokoh seperi Abdul Muis, Marari Siregar, Marah Rusli, dan tokoh lain yang karya-karyanya melegenda hingga kini, seperti Siti Nurbaya dan Azab dan Sengsara. Pujangga Baru lahir sebagai kritik pedas terhadap Balai Pustaka yang dianggap mengekang terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistis, dan elitis. Tokoh-tokoh Pujangga Baru pun bermunculan, seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Armin Pane, Hamka, Sanusi Pane. Contoh karya fenomenal pada zaman Pujangga Baru adalah Dian yang Tak Kunjung Padam dan Di Bawah Lindungan Kabah.

Kemudian pada dekade 1940-an nongol juga sastrawan baru seperti Chairil Anwar, Achdiat Kartahadimaja, Suman Hs, Asrul Sani, dan lain sebagainya. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan 45 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan ’45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Dari sana sastra Indonesia tak mati. Sastra Indonesia terus ada dan berjalan di relnya. Selalu lahir pula satrawan-satrawan dan penulis-penulis besar sesuai dengan zamannya. Dari  Pramudya Ananta Toer hingga Hilman Hariwijaya. Dari WS Rendra, Muchtar Lubis, Taufik Ismail, hingga Dorothea Rosa Herliani dan Ayu Utami. Dari NH Dini, Ahmad Tohari, Budi Dharma, Sindhunata, Goenawan Muhammad, Sitok Srengenge, hingga Habiburrahman El Shirasy. Dari AA Navis, Ajib Rosidi, hingga Andrea Hirata. Dari Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, YB Mangunwijaya, hingga Ahmad Fuadi dan Langit Kresna Hariyadi. Dari Ramadhan KH, Remy Silado, hingga Raditya Dika. Tentu saja semua dengan karya-karya yang luar biasa (yang sekali lagi sesuai dengan zamannya).

Menjawab pertanyaan bagaimana bagaimana nasib buku sastra jika sebagian besar penerbit menjejali pembaca dengan buku-buku pop(uler)? Sementara, buku-buku sastra yang diminati dan bisa dinikmati oleh komunitas sastra juga dikeluhkan keberadaanya yang sangat terbatas di toko buku. Saya menjawab bahwa karya sastra tetap ada dan selalu akan ada. Tetap akan ada penerbit yang menerbitkan buku sastra. Meskipun di sini, di pihak penerbit, terjadi “pertempuran kepentingan antara gambling dan meraup keuntungan”. Persoalan keberadaan di toko buku tentulah harus dipahami bahwa ruang di toko buku relatif terbatas, bahkan tak sebanding dengan hadirnya buku-buku baru yang diterbitkan oleh ratusan, bahkan ribuan penerbit se-Indonesia.

Buku Sastra, Buku Idealis?

Bagaimana penerbit harus mengambil sikap atas fakta ini? Ini terkait dengan pertanyaan kedua, apakah penerbit tidak mempunyai CSR yang bisa mendanai penerbitan buku-buku idealis, termasuk buku sastra?

Menurut hemat saya, tidak semua buku sastra merupakan buku idealis yang tak laku dijual. Bukankah faktanya buku-buku (novel) karya Langit Kresna Hariyadi, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirasy, Ayu Utami, Ahmad Fuadi, Raditya Dika, dan karya-karya anak-anak muda berbasis Twitter pun laris manis alias best seller? Tentu saja laris manisnya karya mereka berkaitan erat dengan “koordinasi” antara penerbit (beserta tim promosi dan marketing) dan penulis/satrawan dalam menjual karya-karya mereka. Bahkan peran serta media massa (cetak, elektronik, dan online/termasuk social media), resensor, juga peran toko buku dalam mendisplay!

Untuk itu, barangkali kawan-kawan penerbit yang memfokuskan diri di bidang penerbitan buku-buku sastra (atau nyastra) tampaknya tak perlu khawatir, bahkan tak perlu mengeluarkan dana CSR untuk menerbitkan buku-buku tersebut, asal…..

  1. Bisa mendapatkan/menggaet penulis yang potensial. Jika memungkinkan penulis (atau sponsorshipnya) bersedia mendanai biaya produksinya.
  2. Mengemasnya dalam bentuk menu luar biasa lezat sehingga membuat “air liur pembaca menetes”.
  3. Mengerti dan “menguasai” peta persastraan.
  4. Mau dan mampu membina komunitas sastra (bekerja sama dengan penulis) beserta jejaring penulisnya.
  5. Melibatkan atau memanfaatkan semaksimal mungkin media massa yang ada (cetak, elektronik, dan online/termasuk social media).
  6. Melalui pihak distributor/marketing, menyakinkan (dan membuktikan kepada) pihak toko buku bahwa buku sastra yang telah diterbitkan tak akan sia-sia jika didisplay dengan layak.

Konklusinya, karya (buku/novel) satra masih sangat mungkin untuk kita terbitkan, karena zaman belum berhenti. Zaman masih bergerak menuju kesempurnaan (kehancuran?)-nya sehingga tetap akan ada dan lahir manusia-manusia penggugat yang genius dalam mengemas bahasanya. Tetap aka nada penggemar atau pembaca setia yang butuh pencerahan, atau bahkan sekadar hiburan.Do the best! Semoga.

Bawah pohon rambutan, akhir September 2013

Bahan untuk Warta IKAPI

Iklan

2 comments on “Masih Perlukah Kita Ber-Sastra-ria?

  1. mariaperdana
    September 26, 2013

    Artikel yang sangat menarik mbak Dina, trims 🙂

    • Dina Begum
      September 26, 2013

      Sama-sama. Ini nyomot artikelnya Mas Moelyono, Maren, atas seizin ye be es :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 26, 2013 by in Comotan.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 262,033 hits
%d blogger menyukai ini: