Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Apakah Sastra Itu?

Usai acara jumpa pers Jumpa Pers Menuju Pusat Penerjemahan Sastra di Indonesia (Bagian II) di PDS HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki kemarin, 13 September 2013, aku mengobrol dengan teman-teman panitia acara. Ibu Ariany Isnamurti, Ketua Pelaksana Harian Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, menyampaikan bahwa PDS menerima bila aku mau menyumbangkan karya terjemahanku. “Oh, dengan senang hati,” sahutku, bangga. Eh tapi nanti dulu. Aku jadi berpikir, apakah novel-novel yang kuterjemahkan itu termasuk karya sastra? Bahkan, apakah karya sastra itu hanya fiksi?

Kutanyakan kepada Eliza, ketua kegiatan Lokakarya dan Forum Penerjemahan Sastra 2013, katanya sastra itu suatu karya tulis yang punya nilai tambah di dalamnya sehingga karya tersebut menjadi sebuah karya seni. Diskusi dilanjutkan melalui surat elektronik yang ditutup dengan apakah pendapatku sendiri tentang sastra.

Duh… apa ya? Serius nanya nih. Aku kan mau kuliah sastra tapi gagal. Tolong?

Ada yang bilang sastra itu yang bahasanya ngawang-ngawang enggak jelas. Ada juga yang berpendapat tergantung kesepakatan. Kata Rina Susanti “Fiksi sastra itu kaya deskripsi, deskripsinya detail, runut dan enak di baca. Dialognya padat dan bernas, pesan yg disampaikan trsamar tp mngena, humanis.”

Hilda Novita mengingatkan, “Kata literature bisa mencakup fiction dan non-fiction. berarti semua bacaan bisa dibilang karya sastra. Atau, secara spesifik Imaginative or creative writing, especially of recognized artistic value: ‘Literature must be an analysis of experience and a synthesis of the findings into a unity’ (Rebecca West).”

Shinta terpancing ‘menggali’ memori yang tertimbun: (hahaha *nyengir jahil*) “Kurang lebih, buku itu mirip kuliner. Ada beragam jenisnya, dari jajanan pinggir jalan sampai hidangan di resto mewah. Ada low culture, ada high culture. Meskipun bentuknya sama (buku, atau spaghetti, misalnya), tentu kandungan bahan, gizi, & kualitasnya beda antara satu dengan yang lain.

Sastra –> high culture. Pop-lit –> low culture.
High-culture –> punya pesan nilai/moralitas/keluhuran yang tinggi, yang memperkaya batin pembacanya & memperdalam pemahaman akan kehidupan.
Low-culture –> just for fun, sesudah baca ya sudah, asal lewat, sekadar buat mengisi waktu senggang biar happy, gak suntuk-suntuk amat menghadapi rutinitas.”

Dian Purnama ikut ‘turun gunung.’ Katanya, “Agaknya buku sastra sekarang ini cenderung terkait sama karya sastra fiksi yang sifatnya deskriptif, imajinatif, dan banyak diwarnai metafora. Ada yang bikin saya sakit kepala tiga belas keliling bacanya…”

Senang deh, para jebolan Fakultas Sastra pada keluar, termasuk Ilham Santoz. “Berbicara tentang sastra mengingatkan saya waktu kuliah dulu,” katanya. “Dalam pertemuan pertama mata kuliah Sejarah Kesusasteraan Inggris, dosen saya melempar pertanyaan, ‘Apa itu sastra?’. Semua mahasiwa menjawab dengan opininya masing-masing. Sang dosen tersenyum tanpa memberikan jawaban pasti. Pertemuan-pertemuan selanjutnya kami membahas puisi-puisi Shakespeare dan penyair-penyair Inggris klasik. Sampai berakhirnya mata kuliah tersebut, jawaban itu tak diberikan jua.”

“Sama,” Shinta menimpali. “Pas pertemuan pertama mata kuliah filsafat dulu, dosen saya juga melontarkan pertanyaan, ‘Apa itu filsafat?’ Dan sesi itu ditutup dengan, ‘Tugasnya para filsuf memang memperdebatkan definisi filsafat. Jadi, jangan heran jika tidak ada definisi yang mutlak tentang filsafat. Memang itulah tujuan dialektika dalam bidang ini.’ Gedubraaakkk! *mahasiswa puyeng*”

Yang nanya udah mulai mabuk darat nih. Jika sastra itu jenis novel yang bisa mengungkap sisi kehidupan atau jiwa manusia yang tak pernah terbayang sebelumnya, bagiku Lord of the Rings dan seri Harry Potter termasuk yang begitu. Tapi kenyataannya Harry Potter itu enggak tergolong ke dalam kategori sastra (setidaknya di Goodreads).

Akhirnya aku main aman aja. Sebagai penggemar cerita, aku enggak memusingkan apa yang kubaca. Kalau cerita itu menghibur, bikin aku puas bacanya maka bacaan itu cukup bagus bagiku. Sastra atau bukan. Sebagai penerjemah, aku juga bisa memilih untuk menerima atau menolak order, baik sastra maupun bukan. Banyak pertimbangan untuk menerima misalnya apakah – ehem – honornya cocok, apakah ceritanya mengasyikkan, apakah tingkat kesulitannya menantang, apakah akan tampak bagus di dalam portofolioku. Banyaklah. Jadi kupikir, biarlah para pengamat aja yang memutuskan sebuah buku itu sastra atau bukan. hihihi.

Senada denganku, Akhlis Purnomo bilang, “Seperti yoga, sastra bukan untuk didefinisikan tapi untuk dibaca dan dinikmati. hehe..ga usah pusing dengan definisi.” (_/\_ namaste, Akhlis)

Jadi, kembali ke pokok permasalahan, akhirnya kupilih Charlotte’s Web karya E.B. White, Sherlock Holmes: Anjing Iblis Keluarga Baskerville karya Arthur Conan Doyle dan Dear Kitty karya Anne Frank untuk PDS HB Jassin. Toh, kata Slamat Parsaoran Sinambela “Sastra dan bukan sastra tak pernah selesai perdebatannya. Enjoy aja. Susah atau mudah dipahami juga bukan kriteria yg pasti. Pokoknya enjoy aja.”

Siip! This is me, enjoying myself:

20130905_163453

Iklan

4 comments on “Apakah Sastra Itu?

  1. rinasusanti
    September 15, 2013

    setuju mba sastra atau bukan bukan untuk diperdebatkan karena fiksi itu untuk dinikmati …:)

    • Dina Begum
      September 15, 2013

      Hihihi biar aja panitia Lokakarya Penerjemahan Sastra repot menentukan buku mana saja yang disebut sastra. *evil laugh*

  2. Juman Rofarif
    September 27, 2013

    itu kasurnya oke punya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 14, 2013 by in Ini-itu.

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,830 hits
%d blogger menyukai ini: