Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Jadi Terwawancara di Entrepreneur Rumahan

Dikutip dari Entrepreneur Rumahan edisi 20 Januari 2013

Apakah teman-teman suka membaca buku dan membaca novel? Ingin bekerja di rumah sesuai dengan pekerjaan teman-­teman tersebut?

Yuk kita simak wawancara dengan Mbak Dina Begum, seorang Freelance Translator (Penerjemah lepas) yang merupakan anggota Himpunan Penerjeman Indonesia.  Mbak Dina adalah seorang work at home mom, mantan seorang pegawai kantoran yang kini bekerja di rumah menjadi seorang penerjemah yang sesuai dengan passion dan hobinya. Untuk membaca prodil lengkap Mbak Dina, silakan baca blognya mengenai Mbak Dina Begum di blog pribadinya.

 

Hai Mbak Dina.. Kenalan dulu yuk dengan pembaca Entrepreneur Rumahan..

Hai, nama panggilanku Dina Begum, 42 tahun, penerjemah lepas penuh waktu sejak tahun 2008, punya dua anak, yang satu sudah kuliah di IPB dan yang bungsu in sya Allah tahun ini kuliah juga.

Bisa tolong diceritakan pekerjaan Mbak Dina sebagai penerjemah freelance?

Tugasku sebagai penerjemah yaitu memindahkan makna dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dengan akurat, dalam bahasa yang dimengerti dan sesuai untuk pembaca sasaran, dan dalam waktu yang ditentukan oleh klien. Yang dimaksud `lepas’ yakni aku tidak bekerja untuk perusahaan tertentu dan `penuh waktu’ maksudnya menerjemahkan merupakan satu-satunya profesi yang kugeluti, selain menjadi ibu, tentunya. Klienku selama ini perusahaan komersial, baik asing maupun nasional, agensi penerjemahan asing, orang pribadi, dan yang paling banyak penerbit. Jika mereka membutuhkan jasaku, dari awal kami menyepakati tenggat, volume serta format materi yang harus diterjemahkan, bagaimana cara mengirimkan hasil terjemahan, dan tentu saja -ehm- honor serta cara pembayarannya.

Bagaimana jadwal Mbak Dina sehari-hari, khususnya bila sedang ada job terjemahan?

Biasanya aku mulai menerjemahkan pagi Bari setelah semua urusan emak-emak selesai. Walau enggak punya jam kerja khusus, aku mengikuti prinsip jam kerja kantorku dulu yang fleksibel, rata-rata aku menerjemahkan sekitar 8 jam sehari. Mau mulai jam 5 pagi atau jam 9 pagi pokoknya sehari 8 jam. Kalau mulai lebih awal artinya aku punya waktu untuk hobo siang atau jalan- jalan. Aku juga punya jadwal rutin lain pada siang hari Nah, waktu yang kugunakan untuk melakukan kegiatan itu kuganti pada malam atau pagi-pagi sekali. Tentu saja kantorku dulu punya core office hours sementara aku enggak. Tapi karena sudah terbiasa kerja seperti itu aku bisa ngukur waktu. Kalau aku `terpaksa’ harus bekerja lebih dari itu artinya lembur, bayarannya harus dobel dong. Yang jelas aku enggak biasa begadang. Mendingan bangun jam 3 pagi daripada harus kerja lewat jam 10 malam.

Boleh diceritakan bagaimana ceritanya hingga Mbak Dina menjadi penerjemah freelance?

Awalnya dari hobi baca kisah detektif atau petualangan. Sejak SD aku sudah baca novel karya Enid Blyton, disusul membaca karya-karya Agatha Christie, Alfred Hitchcock dll. Aku terpesona karena bisa menikmati kisahnya sama seperti aku menikmati karya-karya Arswendo Atmowiloto, V. Lestari, S. Mara GD., dll. Aku mulai menyadari profesi penerjemah dan mulai melakukannya sejak di bangku kuliah, menerjemahkan bahan-bahan tugas kuliah, baik untuk sendiri maupun untuk teman-teman. Kurasa hasil terjemahanku tidak terlalu buruk, karena tugas-tugasku itu tidak ada yang bermasalah, bahkan ada dosen yang memujiku karena aku berani mengambil bahan dari sumber berbahasa asing. Lama-lama menerjemahkan jadi hobi. Seperti main teka-teki atau memecahkan misteri Suatu hari, seorang temanku beralih profesi menjadi penerjemah novel. Saat membaca karyanya, aku merasa kurang sreg. Sebagai penikmat baca, aku tidak menikmati karya tersebut. Saat itulah timbul kepercayaan diri bahwa aku bisa menerjemahkan lebih baik dari itu. Jadi, ketika tiba saatnya karierku berada di persimpangan jalan, dengan sendirinya yang terpikir olehku adalah menjadi penerjemah.

Apa sih kelebihan dari pekerjaan Mbak sekarang? 

Dibandingkan dengan profesiku sebelumnya sebagai orang kantoran, menerjemahkan banyak kelebihannya. Yang paling utama yaitu tidak perlu menembus kemacetan Jakarta untuk mendapatkan penghasilan. Aku bisa mengurus rumah tangga, tetap berhubungan dengan dunia luar dengan internet. Selain itu, aku dibayar untuk melakukan hobi.

Hambatan apa saja yang kerapkali dilalui sebagai penerjemah freelance? Bagaimana cara mengatasinya?

Hambatan pertama yang kuhadapi adalah mendapatkan order. Sebagai pekerja lepas aku tidak bisa duduk manis menanti order. Cara mengatasinya yaitu dengan mencari order. Aku bergabung dengan mailing list Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia). Selain kadang-kadang ada informasi mengenai lowongan kerja untuk penerjemah, aku juga banyak belajar dari diskusi-diskusinya. Aku juga mengirimkan lamaran yang disertai CV dan contoh hasil terjemahan ke berbagai penerbit dan perusahaan yang diketahui sedang mencari penerjemah. Aku juga turut menggarap proyek penerjemahan teman penerjemah yang membutuhkan bantuan. Sekarang, hambatan yang sering kuhadapi adalah membagi waktu karena terkadang ada order datang padahal sedang mengerjakan order lain. Caraku mengatasinya yaitu dengan bersikap realistis. Tidak rakus. Kalau aku main terima saja dan mengerjakannya dengan buru-buru, hasilnya tidak dijamin memuaskan. Bisa saja kulimpahkan order itu kepada penerjemah lain. Namun, aku tetap butuh waktu untuk memeriksa hasil terjemahannya dan menyesuaikannya dengan gayaku. Kalau lalai, risikonya putus hubungan dengan klien. Jika menghadapi situasi seperti itu, lebih baik aku mengatakan bahwa aku sedang mengerjakan terjemahan dengan tenggat tertentu, dan bertanya apakah klien tidak keberatan menunggu. Kalau tidak bisa menunggu, lebih baik aku menolaknya dan menawarkan untuk meneruskan tawaran tersebut ke penerjemah lain di milis atau ke seseorang yang tepat untuk mengerjakanannya.

Selain menjadi penerjemah freelance, apa kegiatan Mbak Dina lainnya?

Selain menerjemahkan, aku hobi yoga dan merajut. Sesekali aku juga menghadiri acara yang diadakan oleh komunitas yang kuikuti, seperti Himpunan Penerjemah Indonesia, komunitas merajut, Goodreads Indonesia, dan Indo Startrek.

Terakhir.. bagi-bagi dong tips untuk menjadi penerjemah freelance yang sukses seperti Mbak

Jangan suka menunda-nunda. Walau tenggat masih lama selesaikan sesuai kemampuan kita. Cepat selesai = cepat bisa menerima order. Kurasa aku juga ingin mengutip diskusi di milis Bahtera seperti yang kuposting di sini. 

Bagaimana, wawancara dengan Mbak Dina Begum sangat inspiratif kan? Buat teman-teman yang jatuh cinta dengan dunia literatur, suka membaca novel/buku dan ingin mendapatkan penghasilan di rumah, ikuti yuk langkah Mbak Dina Begum untuk menjadi seorang penerjemah lepas. Atau bagi teman-teman yang bekerja di agency atau perusahaan penerbitan dan mencari seorang penerjemah lepas, silakan hubungi Mbak Dina Begum atau lihat contoh buku yang diterjemahkannya.

Hasil Kuesioner Minat Mbak Dina Begum

entrepreneur-rumahanKuesioner Minat

Dina Begum! ini Adalah Minat Anda!

kuesioner

Nah sekarang kita lihat yuk hasil kuesioner minat Mbak Dina. Berdasarkan hasil kuesioner, bisa kita lihat Mbak Dina memiliki minat Konvensional dan Artistik yang menonjol. Umumnya, orang orang yang bertipe Konvensional dan Artistik sekaligus menyukai tugas-tugas yang terstruktur, memiliki sistem jelas, namun di satu sisi is senang dengan pekerjaan yang memberinya kebebas an berekspresi, kreatif, dan menyukai seni. Seseorang yang memiliki dua tipe Artistik dan Kovensional yang dominan seperti Mbak Dina ini cukup langka, karena tipe Kovensional bersebrangan dengan tipe artistik (lihat bagannya di halaman cara membaca hasil). Umumnya seseorang yang menyukai pekerjaan yang terstruktur akan kesulitan berada dalam situasi bebas tanpa aturan yang disukai oleh seseorang dengan tipe Artistik. Begitu pula dengan orang Artistik yang senang berekspresi bebas sebabas-bebasnya dalam membuat karya umumnya kurang suka bila dimasukkan dalam situasi penuh aturan dan struktur.

Namun, itulah keunikan Mbak Dina, seseorang penerjemah lepas yang dapat bekerja dalam situasi bebas namun tetap dapat bekerja sesuai dengan struktur seperti yang ada di kantor lamanya. Karir sebagai seorang penerjemah lepas — khususnya penerjemah novel- tampaknya sudah cocok dengan diri Mbak Dina. Untuk menjadi seorang penerjemah, diperlukan orang yang dapat bekerja seeara sistematis, terstruktur, dan peduli terhadap detil, ya seperti Mbak Dina ini.

Sekian wawancara dengan Mbak Dina dan sedikit analisis tentang pekerjaannya yang seru! Buat yang mau cari terjemahan untuk bukunya, silakan hubungi Mbak Dina di:

www.faceebook.com/dina.begum

@dinabegum

begumdina@gmail.com

Iklan

3 comments on “Jadi Terwawancara di Entrepreneur Rumahan

  1. Nursalam AR
    September 4, 2013

    Judulnya sedikit ambigu. Jika sekilas baca, terkesan yang akan diwawancarai adalah seorang ‘Entrepreneur Rumahan’ (selain Mbak Dina Begum) yang diwawancarai oleh Mbak Dina Begum. Eh, ternyata rupanya ini kutipan wawancara Entrepreneur Rumahan (rupanya nama institusi!) dengan Mbak Dina Begum sendiri :). Barangkali ini masalah teknik pengutipan ya.

    Jika judulnya “Wawancara dengan Dina Begum” kemudian di bagian awal ada keterangan, semisal: “Dikutip dari Entrepreneur Rumahan edisi xxx”, mungkin keterbacaannya akan lebih baik.

    Just my two cents 🙂

    • Dina Begum
      September 4, 2013

      Siaap. Makasih koreksinya. Begini nih kalau malas cari ide buat nulis blog. Keluar jurus comotnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 3, 2013 by in Comotan, Di balik layar and tagged , , , , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,995 hits
%d blogger menyukai ini: