Peran Orangtua Mengantisipasi Dampak Trend Mobile Internet Terhadap Perkembangan Anak

Suatu pagi

“Googleplay-ku error.”

Pemenang I
Pemenang I Lomba Blog DPTalk
Edisi Tren Gadget dan Perkembangan Anak.

Kalimat singkat anakku yang berusia 18 tahun itu akhirnya berujung pada perdebatan yang menyebabkan si ibu dan si anak sama-sama merasa kesal. Si anak merasa ibunya menuduhnya sembarangan mengotak-atik aplikasi telepon genggam sehingga menyebabkan munculnya pesan kesalahan. Padahal, si ibu ingin membantu dengan menelusuri perubahan apa yang terakhir dilakukan terhadap telepon genggam, agar bisa dicari apa biang keladi masalah itu. Si ibu tahu bahwa baru-baru ini operating system telepon genggam anaknya diperbarui sendiri dari Ice Cream Sandwich ke Jellybean jadi curiga itu penyebabnya. Kemungkinan besar si anak menganggap ibunya gaptek alias gagap teknologi jadi mana mungkin bisa menyelesaikan masalah. Sebaliknya, segagap-gagapnya si ibu, dia toh bisa memberi tips tentang problem solving. Ibu keren yang satu ini mampu menguasai berbagai perangkat lunak Computer Aided Translation Tool secara otodidak dan lumayan cakap dalam memanfaatkan Google. Seburuk-buruknya, telepon genggam itu bisa dibawa ke sebuah gerai di Mall terdekat untuk mengatur ulang operating systemnya.

Adegan di atas menggambarkan betapa teknologi sudah sedemikian rupa sehingga menjadi santapan sehari-hari di rumah. Menurut hematku, pemicu perdebatan itu adalah cara masing-masing mengutarakan pendapat. Ko·mu·ni·ka·si.

Kata para ahli

DPTalkJuli2013
[credit]
Benar sekali yang dipaparkan Shita Laksmi saat gelar wicara Dari Perempuan “Peran Orangtua Mengantisipasi Dampak Trend Mobile Internet Terhadap Perkembangan Anak.” Di acara yang diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2013 di One Fifteeth Coffee itu Shita memaparkan tentang hal-hal berikut:

  • Penggunaan PC (Personal Computer) sangat rendah.
  • Terjadi kesenjangan digital antara orangtua dan anak.
  • Internet didominasi oleh platform “barat.”
  • Remaja di Indonesia kebanyakan lebih menyukai memakai telepon genggam ketimbang PC.
  • Risiko yang timbul: anak bebas mengakses konten apa saja di internet tanpa pendampingan dan pengawasan orangtua dan terpapar ancaman bahaya kejahatan dunia maya.

Lalu apa yang bisa orangtua lakukan untuk mencegah atau bahkan mengatasi ini? Tidak memberikan gadget kepada anak? Memberikan gadget tapi yang tidak cerdas-cerdas amat? Ternyata bukan itu. Shita memaparkan orangtua bertanggungjawab untuk menciptakan komunikasi terbuka dengan anak-anaknya sehingga tercipta kesepakatan dalam penggunaan gadget. Misalnya, sepakat memakai tablet atau komputer di ruang keluarga, memakai gadget hanya ketika orangtua ada di rumah, dan lain-lain.  Anak perlu didampingi, oleh karena itu emak dan bapaknya tidak boleh gaptek. Bagaimana kita bisa menjelaskan baik-buruknya gadget, khususnya internet, jika kita tidak mengenalnya? Bertemanlah dengan mereka di media sosial. Jadilah teman yang baik  sehingga mereka tidak merasa dikuntit. Ajari juga anak-anak tentang pentingnya melindungi data pribadi di dunia maya, dan sikap bijak dalam menentukan apa yang pantas dan tidak pantas disebarkan di media sosial. Orangtua juga harus menjadi panutan. Walk the talk, kata urang Sunda mah. Jangan sampai kita omong doang, menasihati agar anak jangan menggalau di media sosial tapi kita sendiri mengumbar kegalauan di status/tweet, misalnya. Tanamkan kepada diri kita sendiri agar memiliki segala sesuatu berdasarkan fungsi agar tidak “diperbudak” oleh gadget. Untuk apa mengganti gadget dengan model terbaru sesuai tren kalau fitur yang kita butuhkan hanya itu-itu saja? Sadarilah perbedaan atara kebutuhan dan keinginan.

2013-06-08 18.23.00
Gadget mengalihkan perhatian si keponakan dari gitar yang sedang dimainkannya.

Seperti kata Elga Yulwardian, anak-anak kita termasuk Z Generation Kids. Mereka lahir saat kemajuan teknologi sudah seperti sekarang ini. Mustahil kita memisahkan mereka dari habitat mereka. Elga yang punya buah hati yang masih kecil sudah memajankan teknologi kepada anaknya. Menurut pemaparannya, “Masalahnya bukan terletak di gadget, melainkan pada konten dan aplikasinya.” Jadi, dirinyalah yang menentukan konten dan aplikasi apa yang dimasukkan ke dalam tablet yang dipakai anaknya, disesuaikan dengan usia dan tugas-tugas sekolahnya. Misalnya, saat anaknya belajar huruf dan angka, dia menginstal aplikasi game tebak angka/huruf. Malah, kata Elga, dia lebih mengkhawatirkan media televisi ketimbang internet seluler. Acara TV zaman sekarang seolah tak mempertimbangkan dampak dari acara yang disiarkan, sepanjang waktu, tak peduli siapa yang menonton. Ini menjadi ancaman terutama jika anak-anak kita tinggal di bawah pengasuhan orang lain. Nah, bagaimana ini? Tidak ada salahnya kita juga memberi pengertian agar nenek/kakek/paman/bibi/guru dan lain-lain juga melek terhadap hal ini. Lagi-lagi: ko·mu·ni·ka·si.

warnet-rumahDi rumahku

Pantang bagiku membuat anak anteng dengan memberikan gadget untuk mereka mainkan tanpa tahu aplikasi apa yang ada di dalamnya. Aku dan suami tidak mengizinkan anak-anak kami (kini 18 dan 19 tahun) membuat akun di sosial media sebelum usia mereka mencapai batas usia yang sudah ditentukan. Mereka menggunakan media sosial (pada saat itu yang sedang ngetop Friendster) setelah duduk di bangku SMP padahal  teman-teman mereka banyak yang sudah mejeng di dunia maya sejak SD. Walaupun bukan penggemar game komputer, kucoba beberapa permainan hanya sekadar untuk tahu apa itu (biasanya sudah kalah di babak awal), jadi tidak hanya mengetahuinya dari omongan orang saja. Semasa SMA, mereka menginginkan ponsel cerdas karena teman-teman mereka kebanyakan menggunakan ponsel buah beri hitam, bahkan memiliki lebih dari satu ponsel dan membawa tablet/netbook ke sekolah. Kami terus-menerus memberikan pengertian tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Setelah membutuhkan (si sulung sudah kuliah sementara si bungsu menjelang lulus SMA), barulah anak-anak kami belikan laptop dengan kesepakatan benda itu untuk mereka gunakan sebagai penunjang pendidikan dan kami pun berhak memakainya kalau membutuhkan. Sampai saat ini tak satu pun dari kami sekeluarga yang memiliki lebih dari satu ponsel.

Aku jarang menonton TV, paling-paling menonton film atau sesekali berita. Sejak anak-anak masih kecil, kami juga tidak membebaskan mereka menonton TV pada hari sekolah. Mereka bisa banyak menonton pada hari libur atau akhir pekan, itu pun acara-acara tertentu saja. Tentu saja kami tidak nongkrongin  sepanjang waktu, lebih banyak mewanti-wanti bahwa acara tertentu tidak pantas ditonton oleh anak-anak lengkap dengan penjelasannya. Kulihat mereka cukup bisa “hidup” dengan peraturan ini, kemungkinan besar karena mereka melihat orangtuanya juga jarang menonton TV.

Apa yang Shita Laksmi dan Elga Yulwardian paparkan itu bukan sekadar teori. Semuanya bisa diterapkan, asal kita konsisten. Gelar wicara yang diselenggarakan oleh Perempuan dot com bekerjasama dengan Indosat Mentari Aura yang dipandu oleh Utami Utar ini sungguh mencerahkan. Tak sia-sia rasanya aku memenuhi undangan Emak-emak Blogger datang dari Bekasi walau harus nyasar sehingga terlambat sekitar 50 menit. Acara ini juga bertaburan hadiah dari Indosat Mentari Aura. Selain undian berhadiah voucher pulsa senilai Rp50.000 untuk beberapa orang pemenang (salah satunya aku. Yeeeey!), ada juga hadiah uang tunai untuk para pemenang lomba Livetweet & Tweetpic.

Simak materi presentasi Shita Laksmi.

Hadiahnya sudah diterima dengan baik. Terima kasih, Dari Perempuan. 

Iklan

15 thoughts on “Peran Orangtua Mengantisipasi Dampak Trend Mobile Internet Terhadap Perkembangan Anak

Add yours

  1. Anakku udah 14 tahun juga gak punya FB, pdhl anak2 temanku dr SD udah punya, dibuatkan ortunya, jelas2 minimal 13 th baru boleh. Skrg udah punya twitter tp aku suruh locked. Ortu skrg wajid ngerti internet, kalau enggak mereka ngeluh krn tdk bisa bicara dg “bahasa” yang sama dengan ibunya.

    1. Setuju, Mak. Walaupun enggak aktif jadi netizen minimal orangtua harus tahu bagaimana sih cara peredaran informasi di media sosial itu.
      Dengan segala pembatasan (pada dasarnya sih karena ga mampu beliin gadget mahal-mahal hahaha!) anak-anakku enggak jadi kuper atau minder. Waktu masih kecil sampai remaja, kesibukan bermain dengan anak-anak tetangga di lingkungan rumah atau teman sekolah saja sudah cukup menyita waktu.

  2. semestinya orang tua punya tanggung jawab, mendampingi. tapi ya begitulah, orang tua sendiri sering sibuk dengan urusannya shg anak dibebaskan mendapatkan “budaya” baru yang didapatnya via gadget.

    1. Ya gitu deh. Padahal kan lebih baik mencegah daripada mengobati. Aku memilih berusaha, bahkan sampai memaksakan diri, meluangkan waktu untuk mendampingi anak daripada tahu-tahu kesenjangan teknologi itu sudah terlalu jauh untuk diseberangi. Ga jaminan berhasil sih tapi setidaknya ada usaha.

  3. sodaraku juga ada yang dari kecil nggak dibiasakan nonton TV, sampai gede dia nggak suka diem dan cuma nonton TV, sebenernya nggak susah-susah banget mungkin ya membentuk karakter anak, cuma penuh perjuangan aja? *maklum belum punya anak hihihihi*

    1. Kurasa sama aja tingkat kesulitannya dengan ortu zaman dulu karena orangtua juga mengalami dan harus mau berusaha berkembang. Ngemong anak itu dinikmati aja, jadi lebih ringan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: