The Blind Leading the Blind

Senang rasanya mengetahui semakin banyak orang yang terinspirasi menjadi penerjemah. Bagi yang menyukainya, pekerjaan menerjemahkan itu memang mengasyikkan. Entah bagaimana beberapa dari teman-teman ini kemudian menghubungiku dan bertanya, meminta, agar aku membimbing mereka atau bahkan magang. Aku tidak menyediakan jasa bimbingan menjadi penerjemah, tidak merasa pantas menjadi pembimbing. Aku bisa menerjemahkan dengan cara meraba-raba belajar sendiri. Jangan-jangan nanti malah bagaikan the blind leading the blind, sama-sama tersesat

Pernah juga aku sok tahu dan menawarkan diri untuk memberikan masukan terhadap contoh karya terjemahan orang lain. Ternyata ini berat untukku. Aku kurang menikmati mengulas terjemahan orang lain karena tidak percaya diri dan elmu kanyahoan ilmu pengetahuanku masih dangkal. Membimbing seseorang itu menyita waktu yang sangat kubutuhkan untuk “mengejar setoran” mencari nafkah. Lagi pula, mengajar itu ada ilmunya, yang tidak kumiliki.

Sebagai gantinya, aku mengerahkan kemampuan menulisku yang pas-pasan untuk menceritakan pengalamanku sebagai penerjemah di blog ini. Silakan disimak, mohon menyebutkan sumber dari blog ini bila Anda menemukan sesuatu yang pantas dikutip.

Bila serius ingin menjadi penerjemah tapi tidak bisa berlatih sendiri, cobalah kursus. Berikut beberapa informasi tentang kursus penerjemah:

  1. Legal Translation Center (LTC) menyediakan paket jasa sebagai berikut: Jasa penerjemahan dokumen hukum (legal document), Jasa interpreting, Kursus Penerjemahan Daring (on-line)
  2. Lembaga Bahasa Internasional Universitas Indonesia.
  3. Kursus terjemahan Universitas Atma Jaya, Jakarta:

Simak 9 hal yang perlu Anda ketahui tentang menjadi pekerja lepas purnawaktu. Baca juga sisi lain profesi penerjemah lepas.

Semoga bermanfaat.

Iklan

16 thoughts on “The Blind Leading the Blind

Add yours

    1. Justru wajib hukumnya penerjemah buka kamus. Ga boleh enggak.
      Coba perhatiin deh, bahkan kalau mau nge-tweet atau update status aja penerjemah, editor, penulis suka buka kamus. 😉 Kalau ga pernah buka kamus, bukan penerjemah/penulis/editor namanya.

  1. Teh Dina Begum ini selalu merendah ya :). Pengalaman kerja di British Council dan menerjemahkan buku sekian tahun cukuplah untuk dianggap guru bagi penerjemah pemula,hehe. Happy translating & writing!

  2. Mbak, kalau hanya berbekal kesukaan membaca karya- karya terjemahan, tanpa background pendidikan bahasa Inggris, apakah memungkinkan menjadi seorang penerjemah fiksi seperti Mbak Dina?

    1. Bisa, asal memiliki kemampuan menulis dalam bahasa Indonesia dengan baik, tidak cepat marah kalau dikritik, enggak manja dan bisa belajar dengan cara banyak membaca, santun dalam membangun jaringan. 🙂

  3. Mbak dina..hehe.
    kalau ngerasa blind in leading newbie-translator kayak saya, minimal pastinya tahu dong buku panduan untuk urusan terjemah-menterjamah yg mbak rekomendasikan. ntar saya buru buku itu. Soalnya saya pernah lihat di toko buku tp lupa dan keburu sold out..:-(

  4. kak, maaf kalo boleh bertanya apaan di tempat kaka kerja masih ada lowongan untuk menjadi penerjemah film atau drama yang berbahasa mandarin ? aku ingin sekali melamar pekerjaan untuk menjadi translator film mandarin. kalau tidak ada, apakah kaka tau dimana saja tempat atau perusahaan yang mempunyai lowongan pekerjaan seperti itu ??
    maaf ya mengganggu kaka .
    sebelumnya terima ksih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: