Goodreads Indonesia · Laporan Pandangan Mata

Obsesi bersama Klub Siaran GRI

Sisma cerita, pada acara ulang tahun GoodReads Indonesia (GRI) yang ke-6 sepekan silam, salah satu pertanyaan kuis yang dilontarkan adalah, “Apa judul buku terjemahanku yang terbaru?” Tentunya pertanyaan dilemparkan oleh seorang anggota komunitas GRI yang juga penerjemah. Sejak saat itu Sisma terusik, karena selama ini kalau membaca buku terjemahan tidak pernah terpikir untuk melirik siapa penerjemahnya, kecuali terjemahannya kurang asik dibaca. Jadilah Klub Siaran GRI punya ide ngobrolin dunia penerjemahan pada hari Sabtu, 22 Juni 2013 di Radio Pelita Kasih 96,3 FM pukul 07.00-08.00. Entah dapat wangsit apa, Farah mengajakku siaran. Kemungkinan besar karena cuma aku yang mau  diajak ngobrol pagi-pagi di radio pada hari Sabtu hahaha! Justru karena acaranya hari Sabtu pagi itulah aku mau. Toh orang-orang pasti masih tidur atau bersantai-santai dan enggak mendengarkan radio jadi enggak ada saksi telinga. Aku gampang gugup jika harus bicara di depan mikrofon. Suara bisa mendadak raib. Tapi, karena belum pernah siaran di radio aku tergoda untuk mencobanya. 

Beberapa hari sebelumnya, Farah mengirimkan email berisi kira-kira apa saja yang ingin ditanyakan. Wah ada 23 pertanyaan! Mulai dari menanyakan tentang bagaimana sampai aku jadi penerjemah, tentang Himpunan Penerjemah Indonesia sampai ke Tips bagi Sahabat RPK yang mau terjun ke dunia penerjemahan. Okesip!

Resize of Re-exposure of CIMG4218
Bersama Klub Siaran GRI.

Dasar tukang nyasar, tiba pukul 06.30, dengan santainya aku nyasar ke gedung yang keliru. *tepokjidat* Ternyata gedung tempat Radio Pelita Kasih berada terletak agak jauh dari jalan masuk. “Di belakang,” kata bapak-bapak petugas kebersihan yang kutanya, setelah turun dari lantai 3. Duh, mana aku lagi batuk (apa hubungannya, coba!).

Kurang lebih ini yang ditanyakan:

  • Ingin tahu lebih banyak mengenai buku terjemahan. Kalau dari segi industri penerbitan buku, sebenarnya siapa sih yang memutuskan apakah sebuah buku itu layak diterjemahkan atau tidak?
    • Selama ini sih yang berinisiatif menerjemahkan novel adalah penerbitnya, bukan aku. Tapi enggak tertutup kemungkinan sebaliknya. Mungkin bisa dilakukan dengan menghubungi penerbit yang kira-kira cocok dengan genre bukunya. Contohnya seri The Wheel of Time terbitan Mizan Fantasi yang diusulkan oleh Femmy Syahrani.
  • Adakah kaitannya antara prospek penerjemah seiring dengan berkembangnya teknologi, dalam hal ini, e-book?
    • Enggak ada. Tugas penerjemah kan di seputar isi buku, enggak terpengaruh medianya. Bahkan aku lebih suka jika mendapat order penerjemahan berbahan e-book, karena bisa ditampilkan di monitor, jadi penggarapan bisa lebih efisien.
  • Adakah standardisasi bahasa terjemahan? (Pengalaman pribadi, ada terjemahan yang enak dan kurang enak dibaca.)
    • Setiap penerbit punya gaya selingkung (pedoman tata cara penulisan) dan diksi (pilihan kata) masing-masing. Karena aku menerjemahkan untuk beberapa penerbit, aku harus mempelajari selingkung dan diksi klien penerbitku yang tidak selalu sama. Mengenai penerjemahan yang enak dan kurang enak… sebagai penikmat baca, aku memilih setia kepada pembaca dalam memindahkan makna dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pokoknya, patokanku aku ingin menerjemahkan sedemikian rupa sehingga hasilnya enak kubaca. Itu kulakukan dengan cara menyediakan banyak waktu untuk riset.
  • siaranGimana sih pekerjaan Mbak Dina sebagai penerjemah (freelance kah?) Enak mana jadi penerjemah tetap dan penerjemah freelance?
    • Enak freelance, enggak perlu mandi sebelum mulai bekerja mengarungi lalulintas dengan segala kemacetan dan mengurangi jejak karbon di kota yang sudah sumpek ini. Selain itu, aku juga bisa menentukan jam kerja sendiri, disesuaikan dengan kegiatan yang ingin kulakukan. Tapi, ini menuntut disiplin yang sangat tinggi.
  • Sebagai profesi penerjemah tentunya punya wadah untuk bertukar pikiran, berdiskusi dan lain-lain, apa saja?
  • Kapan HPI dibentuk? Bagaimana caranya menjadi anggota?
    • HPI dibentuk tahun 1974. Sempat mati suri beberapa dekade sebelum dihidupkan kembali pada tahun 2000. Simak selengkapnya. Cara menjadi anggota bisa disimak di sini. Kegiatannya selain mengadakan pertemuan rutin juga menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas penerjemahan. Simak selengkapnya.

Selain penerjemah buku, anggota HPI juga terdiri dari penerjemah dokumen, juru bahasa, subtitler. Endang, Sisma dan Farah tercengang-cengang ketika kuceritakan bahwa gadget yang mereka pakai juga melibatkan penerjemah untuk mengalihbahasakan manual dan menu-menu di dalamnya. Tidak hanya itu, kosmetika, situs web pariwisata, peralatan pabrik dan masih banyak lagi juga membutuhkan jasa penerjemah. Kemampuan bahasa yang bisa “dijual” pun tidak melulu bahasa Indonesia dan bahasa asing saja, bahasa daerah juga “laku.” Apalagi ketika mendengar bahwa karier penerjemah juga bisa dijadikan sandaran hidup, mereka tambah “Oh yaaaa?” 😀

Aku tak menyangka banyak juga SMS  yang masuk selama acara berlangsung. Pertanyaannya mulai dari bagaimana cara menjadi penerjemah sampai ke bagaimana jika ternyata buku yang diterjemahkan dianggap dilarang, apakah penerjemahnya bisa terlibat masalah hukum? Kukira cuma kami berempat aja yang sudah terjaga.

Menyenangkan. Itulah yang kurasakan. Farah, Endang dan Sisma begitu mahir memandu acara sehingga tak terasa satu jam bagaikan sekejap mata. Usai siaran, Endang menawarkan apakah aku ingin menyalin rekaman acara ini. Sayangnya aku tidak membawa flaskdisk, tapi kalaupun membawanya, pasti aku akan jadi bahan tertawaan. Pasalnya, menurut anakku yang turut mendengarkan di  tempat kost-nya, ketahuan aku gugup banget, sampai suara napasku kedengeran gemetarrr. Padahal itu kan gara-gara menahan deham akibat tenggorokan gatal ingin batuk. Tapiii… ternyata zaman sekarang rekaman siaran kayak gini bisa didengarkan online. Hasyah. Kubayangkan suaraku 11-12 dengan Byonce, ternyata mirip suara Patrick-nya Spongebob.

Terima kasih Klub Siaran GRI yang sudah mengundangku ke acara Obrolan Sehat dan Berisi (Obsesi) di Radio RPK 96,3 FM, Jakarta.

Resize of Re-exposure of CIMG4216

Iklan

16 tanggapan untuk “Obsesi bersama Klub Siaran GRI

    1. Sama-sama, Lulu. Aku gugup karena ngebayangin kalau salah ngomong gimana, kalau keceplosan terus ada orang yang marah gimana, kalau ditanya ga bisa ngeles jawab gimana hehehhe…

  1. Selamat ya, Dina. Apa yang Dina ceritakan sungguh sejalan dengan program HPI yaitu penyebarluasan informasi seputar profesi penerjemah. Bahwa profesi penerjemah adalah profesi yang sangat terhormat dan sangat menjanjikan.

    1. Terima kasih, Pak Eddie. Tadi Endang juga bilang dia tidak menyangka bahwa profesi penerjemah begitu beragam macamnya.
      Dari ke-23 pertanyaan, hanya sedikit yang diulas. Kami sibuk mengupas masalah seputar dapur hehe. Begitu tahu kalau menerjemahkan buku aku lebih sering dibayar per karakter, Farah langsung mengonversikan jumlah karakter tweet yang selama ini dia buat ke dalam Rp. Belum lagi saat kuceritakan ada penerjemah yang bisa membeli rumah dari hasil menerjemahkan, histeria berlanjut 😀

  2. wah seru acaranya. bisa denger suara mbak dina gemetarrr… hehehe
    (padahal gak dengerin krn masih mimpi :D)

    “karena selama ini kalau membaca buku terjemahan tidak pernah terpikir untuk melirik siapa penerjemahnya, kecuali terjemahannya kurang asik dibaca.”
    hoho. temenku sampe ada yg ‘melarang’ aku beli buku tertentu karena penerjemahnya si anu yg gagal sewaktu menerjemahkan serial anu.
    padahal kemampuan penerjemah kan berkembang ya? lagian, buku terjemahan yg terbit itu bukan cuma hasil kerja penerjemah, tp ada campur tangan editor juga.

    1. Iya, buku terjemahan itu karya bersama penerjemah, editor dan proofreader. Tapi kata editor kalau terjemahannya dianggap bagus yang dapet nama penerjemahnya hehehe… gapapa dong karena kalau dibilang jelek yang dihina-hina juga penerjemahnya.
      Aku selalu berusaha ngumpulin review buku-buku hasil terjemahanku buat bahan ajar. Engga takut atau jadi membela diri kalau ada yang bilang jelek. Kalau masalahnya timbul karena aku kurang mengerahkan kemampuan, tentunya sedapat mungkin akan kuperbaiki. Tapi, kalau masalahnya adalah selera yah kuterima saja karena toh kita tidak bisa mengubah pendapat orang lain.

  3. Mbak Dinaaa terima kasih banyak yaaa
    Sudah mau datang, sharing, dan mengudara bersama kami semua.
    hihihi seneng banget sampe dibikinin LPM lho XD
    Ijin sharing untuk di blognya bacaituseru, boleh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s