Kemajuan Dunia Penerjemahan

Laporan Pandangan Mata Konferensi Penerjemahan 1991

Oleh: Sofia Mansoor

Dalam diskusi di Forum HPI di Facebook, diobrolkan soal mesin penerjemah. Hal ini mengingatkan saya pada konferensi penerjemahan yang saya hadiri di Kuala Lumpur 22 tahun yang lalu!

Silakan…

KEMAJUAN DUNIA PENERJEMAHAN

Oleh-oleh dari 3rd International Conference on Translation, Kuala Lumpur, 1991

Kita ketahui bahwa ilmu dan teknologi terus berkembang, bahkan dalam bidang tertentu kemajuannya sangat pesat. Dalam bidang komputer misalnya, komputer pribadi yang kita beli lima tahun yang lalu terasa sudah mulai ketinggalaman zaman karena sekarang sudah diciptakan komputer pribadi yang mempunyai kemampuan lebih hebat.

Sebagai negara yang sedang berkembang, kita perlu mengikuti semua kemajuan itu agar pengetahuan kita tidak ketinggalan. Cendekiawan kita perlu giat menyebarluaskan kemajuan ilmu dan teknologi itu. Kurikulum pendidikan kita perlu terus dikembangkan untuk mengikuti kemajuan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan bacaan mutakhir bagi mahasiswa, baik berupa buku ajar (textbook) maupun buku penunjangnya.

Sayang sekali, karya tulis dalam bahasa Indonesia, khususnya yang berupa buku yang diperlukan di perguruan tinggi masih sangat kurang. Banyak hal yang menyebabkannya, antara lain keengganan cendekiawan kita untuk menulis buku karena pembajakan masih merajalela. Imbalan bagi penulis pun dirasakan masih terlalu rendah – mereka yang mampu menulis lebih suka menulis artikel untuk koran karena imbalannya lebih besar dibandingkan dengan royalty buku yang dibayarkan berdasarkan jumlah buku yang terjual.

Karena itulah kini banyak penerbit berpaling pada kegiatan penerjemahan. Menerjemahkan dianggap lebih mudah daripada menulis karya sendiri karena bahan bakunya – buku yang akan diterjemahkan – sudah siap ditulis. Yang perlu dilakukan penerbit `hanyalah’ mencari penerjemah yang andal untuk menerjemahkannya.

Konferensi penerjemahan

Dalam kegiatan penerjemahan, banyak hal perlu diperhatikan: jenis dokumen yang akan diterjemahkan, izin penerjemahan, penerjemahan puisi, penerjemah yang andal, penerjemah yang mampu menerjemahkan dalam waktu cepat, pelatihan penerjemah, penghitungan imbalan penerjemahan, dsb. Semua ihwal yang berkaitan dengan penerjemahan ini dibicarakan dalam sebuah konferensi yang baru-baru ini berlangsung di Malaysia.

Pada tanggal 27–29 Agustus yang lalu diselenggarakan 3rd International Conference on Translation di Kuala Lumpur. Konferensi ini dihadiri oleh hampir 300 orang dengan 38 pembicara. Dari Asia berdatangan wakil dari Jepang, Thailand, Singapura, Brunei, Korea, Hong Kong, Indonesia, dan tentu saja Malaysia sebagai tuan rumah. Eropa diwakili oleh Inggris, Prancis, dan Belanda. Dari benua Amerika datang wakil dari Kanada dan Amerika Serikat, sementara Australia pun tidak ketinggalan mengirimkan wakilnya. Sayang sekali tidak ada wakil dari Afrika.

Peserta Indonesia

Dari Indonesia hadir dua orang pembicara. Yang pertama, Dr. Asim Gunarwan dari Universitas Indonesia, mengemukakan tentang `kemustahilan’ menerjemahkan puisi Chairil Anwar dan Rendra ke dalam bahasa Inggris. Menerjemahkan puisi memang tidak gampang. Selain harus terampil memilih padanan kata, penerjemah juga harus memperhatikan irama puisi yang diterjemahkannya. Dengan jenaka Dr. Asim menunjukkan berbagai kejanggalan yang dijumpainya pada penerjemahan puisi karya dua penyair besar kita itu. Peserta konferensi dapat turut tersenyum mendengar uraiannya karena sebagian besar memahami bahasa Inggris dan Indonesia (Melayu). Mereka yang tidak memahami bahasa Melayu pun tetap dapat mengikuti penjelasan Dr. Asim karena pada konferensi ini tersedia penerjemah lisan (interpreter).

Sementara itu, Penulis menyampaikan makalah tentang perlunya pengubah-suaian penerjemahan buku ajar, dengan studi kasus penerjemahan di Penerbit ITB. Penerjemah di Penerbit ITB kebanyakan dosen perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Karena itu, mereka menguasai benar bahan yang diterjemahkan. Misalnya, jika dianggap ada bab yang tidak relevan dengan pendidikan di Indonesia, maka bab tersebut diusulkan untuk tidak diterjemahkan. Pengurangan ini akan dapat menurunkan harga jual buku terjemahan karena tebalnya berkurang. Ada kalanya bab yang ditanggalkan itu diganti dengan bab lain yang lebih sesuai dengan kurikulum pendidikan kita. Berbagai contoh yang terlalu membarat diganti dengan contoh yang dikenal di Indonesia sehingga pembaca merasa akrab dengan pokok bahasan. Mereka tidak merasa sedang membaca buku terjemahan, melainkan buku yang seakan-akan sengaja ditulis untuk mereka, pembaca Indonesia. Bukan hanya nas (text) yang diubah-suai, karena gambar pun, bila perlu, dapat diganti sehingga menampilkan manusia dan suasana Indonesia. Tentu saja semua penggantian ini dilakukan dengan persetujuan penerbit aslinya. Dan, tentu saja tidak semua penerbit dan penerjemah mau bersusah payah melakukan pengubah-suaian ini mengingat untuk melakukannya diperlukan kerja keras dan kemampuan untuk menentukan bahan mana yang harus diubah-suai.

Cara yang ditempuh Penerbit ITB ternyata menarik minat Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia serta penerbit dari Brunei dan Thailand. Mereka berniat meneladani apa yang telah dilakukan Penerbit ITB karena mereka pun merasakan bahwa banyak bahan kupasan dalam buku Barat yang sebenarnya tidak cocok untuk negara mereka. Hanya saja selama ini mereka tidak tahu bahwa mereka sebenarnya berhak mengubah-suai, asalkan dilakukan seizin penerbit aslinya.

Penerjemahan dengan komputer

Hal yang paling menarik bagi Penulis dalam konferensi itu adalah penerjemahan dengan komputer. Ada sejumlah karya penelitian yang dibicarakan dan dipamerkan. Salah satu di antaranya adalah Multilingual Computer Translation Project (MCT)-KANTA, yaitu projek kerja sama (1987-93) antara Malaysia, Indonesia (BPPT), Jepang, Cina, dan Thailand. Hasil proyek ini nampaknya belum terlalu jauh. Yang diperagakan baru tahap penerjemahan kalimat yang masih sangat sederhana.

Hasil karya lain yang dipamerkan adalah kemampuan komputer membuatkan surat resmi yang sudah baku, misalnya surat penawaran dalam tender, surat pesanan pembelian barang, surat permintaan pemasangan telepon. Komputer menyediakan surat resmi baku itu dalam bahasa Malaysia dan bahasa Inggris.

Yang terakhir, yang paling menarik, adalah karya penelitian Universitas Sains Malaysia (USM), Penang. Mereka menyajikan dua program yang dinamai SISKEP dan JEMAH. Program SISKEP dapat disamakan dengan sebuah program pengolah kata yang canggih. Program itu dilengkapi dengan tesaurus (dalam bahasa Inggris dan Malaysia), kamus istilah, perintah pemindahan letak kata (sehubungan dengan kaidah DM dan MD), serta pemeriksa ejaan. Yang menarik, tesaurusnya memuat pula padanan dalam bahasa Indonesia. Pada SISKEP, manusialah yang menerjemahkan, sedangkan komputer `sekadar’ membantu dengan menyediakan secara terpadu semua sarana yang biasa diperlukan penerjemah sehingga penerjemahan diharapkan berlangsung lebih cepat.

Program JEMAH adalah kebalikan SISKEP. Pada program ini komputer menerjemahkan, dan manusia membantu komputer menyunting terjemahan itu sehingga hasilnya menjadi lebih baik. JEMAH mampu menerjemahkan kalimat yang agak rumit, misalnya kalimat yang di samping memiliki subjek, predikat, dan objek, juga mempunyai beberapa keterangan tambahan. Bahkan JEMAH mampu menerjemahkan kalimat susun, yaitu kalimat yang mempunyai anak kalimat. Tentu saja kalimat yang dihasilkan masih perlu disunting, terutama bila kita menghendaki terjemahan dalam bahasa Indonesia karena JEMAH menerjemahkan kalimat bahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Malaysia. Walaupun demikian, JEMAH akan sangat membantu penerbit karena dapat mempercepat proses penerjemahan. Penerjemah yang sibuk, yang tidak kunjung rampung pekerjaannya, dapat digantikan oleh JEMAH. Yang perlu disediakan penerbit adalah penyunting yang andal yang ditugasi menyunting terjemahan `kasar’ yang dihasilkan JEMAH. Sayang, saat ini JEMAH baru diperlengkapi dengan bahasa khusus dalam bidang komputer sehingga peristilahan yang dikenalnya pun berkisar pada peristilahan komputer saja, yaitu sekitar 12.000 kata. Akan tetapi, menurut Penulis, kemampuan demikian sudah akan sangat membantu mempercepat penerjemahan.

Menghitung biaya penerjemahan

Makalah lain yang juga menarik adalah cara menghitung imbalan penerjemah yang disampaikan peserta dari Inggris. Imbalan penerjemah di Indonesia pada umumnya dihitung berdasarkan hasil terjemahan, yaitu jumlah halaman terjemahan. Di Malaysia, Inggris, Kanada, dan sejumlah negara lain, imbalan dihitung berdasarkan naskah asli, biasanya menurut jumlah kata. Akan tetapi, mengingat jumlah kata dalam kalimat berbagai bahasa berbeda-beda, maka menerapkan cara tersebut saja tidak selalu bijaksana. Karena itu, ada perhitungan tersendiri mengenai imbalan penerjemahan dari dan ke dalam bahasa tertentu seperti bahasa Indonesia, Jepang, Cina, dsb.

Hal lain yang turut diperhatikan dalam menentukan imbalan penerjemah adalah waktu yang tersedia bagi penerjemah, kepentingan dokumen yang diterjemahkan, tingkat kesulitan bahan yang diterjemahkan, nilai komersialnya, jenis bahasa sumber maupun bahasa sasaran, dan keterbacaan naskah (tulisan tangan, ketikan yang buram, fax, dll).

Penerjemahan di Kanada

Pokok pembicaraan lain yang juga menarik adalah penerjemahan di Kanada. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Inggris dan Perancis. Karena itu, setiap dokumen negara harus disediakan dalam kedua bahasa resmi tersebut. Akibatnya industri penerjemahan di Kanada berkembang dengan sangat pesat. Saat ini penerjemah dokumen negara berjumlah sekitar 2000 orang yang bekerja penuh setiap hari. Dalam satu hari sekitar satu juta kata diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Prancis. Kalau satu halaman dirata-ratakan mengandung 200 kata, maka dalam satu hari diterjemahkan sekitar 5000 halaman! Karena itulah Kanada menyambut dengan sangat gembira perkembangan penerjemahan dengan komputer. Sekarang ini di Kanada sudah digunakan komputer untuk menerjemahkan secara langsung dokumen yang berhubungan dengan cuaca, pedoman penggunaan peralatan dan mesin, surat resmi yang baku, serta surat pengantar yang menyertai barang Kanada yang diekspor.

Penutup

Berbagai pokok bahasan yang disampaikan pada konferensi ini tidak dapat disangkal lagi merupakan pokok yang menarik dan perlu disimak oleh mereka yang berkecimpung dalam kegiatan penerjemahan. Kemajuan dalam dunia penerjemahan dengan diciptakannya berbagai program komputer perlu terus diikuti agar kita dapat segera memanfaatkannya guna mempercepat proses penerjemahan berbagai informasi yang penting.

Akan sangat menarik untuk mengikuti perkembangan dunia penerjemahan dalam dua tahun mendatang yang akan digelar kembali dalam konferensi sejenis, yaitu Konferensi Internasional Penerjemahan yang keempat pada tahun 1993.

(Pikiran Rakyat, Oktober 1991)

Iklan

2 thoughts on “Kemajuan Dunia Penerjemahan

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: