Nuff Said

image
[credit]
Siang itu, aku menerima surat elektronik dari seseorang yang belum kukenal,

“Mbak Dina Yth., Mohon info biaya unt menterjemahkan buku bahasa Inggris sebanyak 74.800 kata ke dalam bahasa Indonesia. Ditunggu ya mbak. Terima kasih”

Setelah berbalas surel beberapa kali, disimpulkan bahwa orang ini bukan dari penerbit, melainkan karyawan yang butuh modul untuk ujian profesi, “Jd Mhn bantuan jgn biaya di hitung tinggi, kr ini biaya pribadi,” katanya.

Dia melampirkan buku yang dimaksud untuk menghitung perkiraan biaya penerjemahan. Setelah kuberikan ancer-ancer biayanya, aku menerima balasan, “Mbak Dina, Mohon maaf, jumlah biaya belum masuk dalam budget sy. Terima kasih ya.”

Kuucapkan terima kasih, tak lupa kulampirkan gambar ini sebagai kenang-kenangan.

Sekadar penjelasan saja, taksiran biaya yang kuberikan kubuat berdasarkan honor penerjemah buku dari penerbit, bukan penerjemahan dokumen. Kisaran honor penerjemah buku bisa dibaca di tulisan ini, bila dibandingkan dengan honor penerjemahan dokumen bisa 1:5 atau lebih. Aku bukan penerjemah yang bisa menentukan honor sendiri masih dalam proses menjadi penerjemah yang berhonor tinggi jadi honorku saat ini termasuk sedang-sedang saja. Aku tahu diri karena subyek yang kukuasai tidak spesifik seperti kedokteran, teknik, hukum, dll. Namun, Anda boleh yakin kualitas terjemahanku sepadan dengan imbalan yang kuminta. Bila berkenan, silakan simak komentar pembaca tentang beberapa buku terjemahanku.

Penerjemahan itu bukan pekerjaan mudah. Berikut kutipan tulisan Ibu Maria E. Sundah dari situs Himpunan Penerjemah Indonesia:

“Tanya: Apakah semua orang Indonesia yang mengerti bahasa Inggris secara otomatis dapat menerjemahkan ke bahasa Indonesia?

Jawab: Tidak. Menerjemahkan merupakan keterampilan komunikasi khusus yang memanfaatkan penguasaan bahasa asing dan bahasa ibu untuk menyampaikan pesan.

Seseorang harus mampu memahami bahasa asing tertentu secara baik untuk dapat menyerap secara utuh makna pesan yang akan ‘diseberangkan’. Kemampuan yang sama dibutuhkan juga untuk mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia yang jelas dan lancar serta mudah dimengerti.”

“Tarif yang murah juga tidak menduduki urutan teratas dalam dasar pemilihan penerjemah yang andal. Jam terbang lebih berperan penting dalam proses pembentukan seorang penerjemah yang terampil.” Simak selengkapnya.

Jadi, jangan samakan honor penerjemah dengan honor juru tik. Juru tik bagian laporan kehilangan di kantor polisi di wilayah tempat tinggalku saja menerima ‘imbalan’ Rp10.000,- untuk setiap lembar surat keterangan laporan kehilangan (kasihan ya, sudah kehilangan, harus bayar pula). Padahal, dia hanya mengetik nama, alamat, barang yang hilang serta nomor barang tersebut. Tidak sampai 250 kata. Sekadar informasi saja, simak juga Acuan Tarif Penerjemahan dokumen dari Himpunan Penerjemahan Indonesia.

kaus-translator
Tulisan dicetak di atas kertas t-shirt transfer (bisa dibeli di toko buku) lalu disetrika di kaus polos.
Iklan

13 thoughts on “Nuff Said

Add yours

  1. sepertinya tidak hanya penerjemah yang mengalami hal ini mbak. hampir semua profesi terutama yang hasilnya jasa mengalaminya. orang indonesia memang kurang menghargai jasa. mereka tidak menghitung otak dan keringat yang dikeluarkan 😥 mereka menghitung berdasarkan barang yang mereka terima. kalau penerjemah mereka anggap seperti jasa pengetikan. mereka mikirnya masak hanya beberapa lembar bayarnya begitu mahal. mereka tidak menghitung jerih payah menerjemahkannya. begitu juga arsitek, desain interior, dokter, psikater atau profesi jasa lainnya. arsitek dan desain interior cuma dianggap tukang gambar. dokter dan psikiater kalau tidak memberi obat dianggap tidak melayani jadi tidak perlu dibayar.
    bahkan ketika di pasar, betapa perhitungannya ibu-ibu ketika menawar seikat sayur padahal berapa yang diperoleh petani yang bersusah payah menanamnya. atau kita membayar tukang becak berdasarkan jarak. tidak berdasarkan banyak sedikitnya bawaan kita. padahal kan nggenjotnya beda hehehehe kok jadi sampai ke tukang becak segala. ngelantur nih =D tapi yang jelas memang kita kurang menghargai jasa orang lain (self reminder nih)

    1. Betul sekali. Oleh karena itu, kita sebagai profesional yang harus menentukan sikap.
      Aku jarang menawar kalau beli sayur. Kita kan bisa ‘survei’ kecil-kecilan biar enggak merasa dimahalin. Entah bagaimana, tukang sayurnya sering membulatkan ke bawah harga belanjaan yang harus kubayarkan. 😀

  2. Hihihi, kadang-kadang kalo belanja suka nawar juga siy. Tapi lebih ke nanya, kira-kira pasnya berapa, kalo harga cocok oke, kalo engga tinggalin aja. Semenjak jadi bakulan buku dan benang, udah lumayan insaf, jadi jarang nawar. karena kalo jualan trus ditawarnya edan, bikin sakit hati dan jadi males ngelayanin orangnya. Sebaliknya, kalo konsumennya yang enggak nawar dan simpel langsung to the point, sret sret, proses cepat, kadang suka kubonusin sesuatu di paketnya atau kubuletin ke bawah belanjanya. Ih, apa sih, enggak nyambung, ya. hehehe.
    Mbak DIna, ini salah satu konsumen teladan. hihihi, favorit penjual. hahaha, 😉

    1. Tawar menawar kan emang udah rukun perniagaan untuk mencapai mufakat. Kalau enggak cocok harga memang lebih baik ya ga usah dibeli, bukannya kasih komentar yang membuat kesal >.<
      Kalau ke tukang sayur aku beda, karena hampir tiap hari ketemu jadi kurang lebih udah tahu harga 🙂

  3. Aku pernah meneliti fenomena tawar-menawar ini dalam profesi lain yang kutekuni (tukang uwer kawat alias jewelry maker). Terus terang keadaan di kancah ini sama bahkan lebih parah. Semisalkan kita menjual satu model dengan harga X, kebanyakan yang terjadi adalah harga X-30 bahkan X-50 persen. Padahal namanya tenaga seniman itu hampir sama keluarnya dengan penerjemah, ditambah dengan keluaran fisik yang lumayan dan peralatan yang jauh lebih mahal karena sifatnya non-permanen (tidak seperti CAT tools yang permanen) karena bisa aus. Sepertinya pembeli merasa jadi juara ketika mereka berhasil menawar, padahal mereka baru ‘ngerasanin’ si penjual :(. Aku sendiri ogah ditawar – oleh siapa pun. Karena itu aku pun konsekuen dan ogah menawar, hahaha. Aku cenderung percaya bahwa selain tidak menghargai jasa, orang-orang – terutama orang Asia, bukan hanya orang Indo!! – memiliki kesalahan persepsi yang kompleks dalam hal prinsip ekonomi ‘mengeluarkan biaya sesedikit mungkin untuk untung sebesar mungkin’ – karena ini hanya berlaku untuk komoditas. Sebenarnya, yang terjadi dalam produk jasa adalah ‘semakin besar biaya, untung akan semakin besar’ – contoh: agensi yang mengeluarkan biaya besar untuk memperoleh penerjemah berkualitas baik, cenderung memperoleh klien loyal yang permanen; pembuat perhiasan yang menggunakan bahan berkualitas tinggi, akan bisa menjual dengan harga lebih mantap dan mendapatkan klien loyal yang permanen juga. Karena itu aku gak menganut prinsip ekonomi itu 🙂

    1. Emang sulit menakar jasa. Tapi, ada benernya juga jawaban tukang becak zaman dulu ketika aku menawar ongkosnya dengan alasan jarak tempuhnya dekat, “Kalo deket, jalan aja, Neng.”
      Kalo gampang, coba deh menerjemahkan/bikin sendiri. Tul, ga?

      Jadi inget, ada teman yang menanyakan apa aku bisa menerjemahkan kontrak setebal 100 halaman selama akhir pekan. Tentu saja aku angkat tangan. Karena didesak, aku balas tanya, “Gini aja deh, bisa ga lo ngetik – ga usah diterjemahin – sebanyak itu dalam waktu dua hari?” Ternyata maksudnya dia ingin aku mengerjakan penerjemahan itu dengan cara keroyokan dengan teman-teman. Aku tetap tidak menyanggupinya. Walaupun dikerjakan secara beramai-ramai, tetap aku harus membaca ulang dan menyunting dokumen. Kalau tidak, dijamin hasilnya tidak konsisten dan ujung-ujungnya hasil buruk, kepala pusing, klien tidak puas. Tidak sepadan dengan imbalannya.

  4. karna aku masih baru jadi gak enak nentuin tarifnya mbak. Sama temwn2 aja aku cuma patok 5000 pergalaman. Padahal tulisan jurnalnya kecil2 dan rapat 😦

    1. Memang itu alasan penerjemah pemula ‘pasrah’ menerima honor yang termasuk rendah.
      Aku jadi ingat pesan seorang teman penerjemah, kalau sudah kewalahan menerima order penerjemhan, sudah saatnya menaikkan honor 😉 Takut klien kabur? Cari yang lain dong! Dengan adanya internet kita tidak perlu dibatasi pangsa pasar fisik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: