Kembali Menerjemahkan Kisah Klasik

Les Miserables ini adalah karya klasik Victor Hugo yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1862 dalam bahasa Prancis. Aku mengenal kisah ini melalui film yang diputar di TVRI sewaktu masih kecil. Siapa pemerannya, bagaimana jalan ceritanya, aku sudah lupa. Namun aku masih ingat penderitaan Jean Valjean dimulai dari mencuri karena lapar. Tidak pernah terpikir olehku untuk membaca bukunya karena aku kurang hobi membaca kisah suram, sedih, sadis atau horor.

Les MiserablesPenerbit menyediakan buku cetak versi terjemahan bahasa Inggris terbitan Penguin Books terjemahan Norman Denny dan versi e-book (PDF) dari web-books.com. Isi kedua versi itu berbeda. Akhirnya, setelah membaca sekilas keduanya, kuputuskan untuk menerjemahkan dari versi buku tercetak karena bahasanya lebih mudah dan ini disetujui oleh Muthia, sang editor. Walaupun begitu, jika menemukan frasa atau kalimat yang kurang kupahami aku juga membuka-buka versi e-book (dan versi ebook lain yang tersedia di internet) untuk menghasilkan terjemahan yang mendekati pas.

Hal pertama yang kulakukan adalah menonton film Les Miserables yang dibintangi Hugh Jackman. Setelah itu, membaca buku terjemahan Mas Anton Kurnia terbitan Bentang, disusul membaca buku bagian pertama terbitan Visimedia, yaitu Les Miserables: Jean Valjean – Fantine. Belum cukup, aku juga meminta beberapa halaman hasil terjemahan Fahmy yang saat itu menerjemahkan buku bagian keduanya. Terima kasih, ya Fahmy.

Dari hasil diskusi di grup Facebook Penerjemah-Editor Buku, menerjemahkan karya klasik itu banyak kendalanya:

  1. Bahasanya kadang tidak mudah dipahami, panjang-panjang (beranak, bercucu, bercicit sampai kadang kita lupa mana Subyek/Predikat/Objek-nya). “Membacanya semasa jadi tugas kuliah saja sudah membuat saya merasa sengsara,” kata Rini Nurul Badariah tentang novel Les Miserables.
  2. Penulisnya sudah almarhum(ah), jadi tidak bisa ditanya.
  3. Satu buku bisa diterbitkan oleh beberapa penerbit pada saat yang bersamaan. Mau tidak mau harus siap kalau terjemahan kita dibanding-bandingkan. Kata Rini, “… membuatmu merasa disamakan dengan membandingkan benang di toko…”
  4. Sehubungan dengan karya klasik terjemahan seperti Les Miserables ini, banyak versi terjemahan bahasa Inggrisnya. Kadang penerjemahannya pun tidak selalu tepat.

Ada juga sih kelebihannya. Buku klasik banyak diulas, dikaji dan dibahas sehingga memudahkan kita untuk memahaminya. Langgananku adalah Cliffsnotes.

Bagian ketiga yang kugarap ini membahas tokoh Marius, putra seorang kolonel yang setia kepada Napoleon. Dia dibesarkan oleh kakeknya yang kemudian mengusirnya karena perbedaan pandangan politik saat Marius mulai beranjak dewasa. Dia lalu bergabung dengan sekelompok pemuda yang menamakan diri Kelompok ABC yang menginginkan kebebasan. Pada awalnya aku ingin menjitak Mas Victor karena dia suka membuatku merasa dicabut dari keasyikan membaca dengan menyisipkan keterangan seperti ini:

“He who writes these lines has long been a prowler about the barriers of Paris, and it is for him a source of profound souvenirs. .”

Yang dimaksud “he” di sini Victor Hugo. Gak usah disebutin, kalii. Ada lagi:

“At Eylau he was in the cemetery where, for the space of two hours, the heroic Captain Louis Hugo, the uncle of the author of this book, sustained alone with his company of eighty-three men every effort of the hostile army. .”

Eh, halooo? Ini sebenarnya fiksi atau memoar ya. Salahku juga sih, mau-maunya menerjemahkan novel ini hehehe. Setelah membacanya secara utuh, Bagian Tiga ini membuatku paham kenapa Jean Valjean sampai dihukum sedemikian rupa hanya karena mencuri roti. Ada di halaman 595 di buku aslinya 😉

Berbeda dengan bagian pertama menceritakan tentang orang-orang yang sudah tua, bagian ini lebih banyak menceritakan kaum muda. Jadi, menurutku jangal rasanya bila pemuda-pemuda menggunakan “Anda” dan “saya” sebagai kata ganti orang pertama dan kedua dalam percakapan. CMIIW. Waktu yang kuhabiskan untuk menerjemahkan buku ini lebih lama dari perkiraanku, karena waktu untuk melakukan riset lebih banyak ketimbang penerjemahan novel-novel lain. Semoga hasilnya tidak terlalu mengecewakan.

“Nerjemahin klasik itu tiap kelar pasti pengin bertobat, hahaha. tapi tiap ditawari lagi selalu tak kuasa menolak. semacam ada candunya.”
Antie Nugrahani

Simak juga pengalaman Lulu Fitri Rahman saat menerjemahkan kisah klasik.

Iklan

3 thoughts on “Kembali Menerjemahkan Kisah Klasik

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: