Makhluk Sureal Dalam Bus

Sepulang bertemu teman untuk membicarakan sebuah kerja sama, aku naik bus Kopaja 66 dari daerah Kuningan ke Komdak. Hari hujan. Begitu naik, mataku langsung tertuju kepada seorang pemuda yang langsung tampak ganteng berlipat-lipat kali karena dia sedang asyik baca buku. Aku duduk di bangku di seberangnya dengan posisi agak belakang. Kuamati dia terus karena ingin tahu apa yang dibacanya. Tatapan tajamku rupanya tidak mampu menembus kemasyukannya. Sedemikian rupa, sehingga menoleh pun tidak ketika kuambil gambarnya secara sembunyi-sembunyi.

Dari tempatku duduk yang terpisah oleh gang di antara dua deretan kursi itu tak bisa kulihat apa yang dibacanya. Kertasnya tidak berwarna putih, jenis kertas kesukaanku. Jelas bukan buku pelajaran. Kelihatannya bukan buku baru. Apa itu buku pinjaman yang harus segera dikembalikan kepada si empunya sehingga terpaksa dibaca di perjalanan? Penampakan lembaran kertasnya terkesan tidak terlalu tebal. Saat dia membalik halaman dan sampai di bab baru, huruf yang dipakai untuk judul bab jenis huruf hias. Aku langsung menuduh itu novel. Ya, seluruh radarku menginginkan itu novel. Siapakah penulisnya? Betapa bangganya dia jika tahu karyanya mendapatkan kehormatan dibaca di bus dengan sepenuh hati seperti itu. Jika itu buku terjemahan, oh, betapa aku ingin itu buku terjemahanku.

2013-04-24 20.42.04
Talking books Clive Cussler, dari Papa Jim.

Aku tidak pernah bisa membaca di mobil. Seperti kata Bayu Dirgantoro, temannya seorang temanku di Facebook, membaca seperti ini adalah cara instan untuk mabuk darat. Aku pernah mencoba membaca di ferry dalam perjalanan dari pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk. Walhasil aku jadi mabuk. Cuma di pesawat dan kereta eksekutif saja aku bisa membaca tanpa setelahnya merasa harus minum antimo. Oleh karena itulah aku menggemari talking books. Talking books itu rekaman orang membacakan buku sehingga bisa dinikmati dengan cara didengarkan. Mediumnya bisa kaset, CD atau MP3. Dulu, saat masih jadi pegawai, aku mendengarkan talking books yang kupinjam dari perpustakaan British Council. Aku juga punya beberapa judul kiriman seorang teman di Amerika. Talking books itu jadi teman setiaku di bus.

Kembali lagi ke anak muda yang membaca di bus itu, menurutku dia pastilah salah satu makhluk sureal, sama dengan Briliantina Hidayat yang bahkan sambil berdiri di bus pun bisa baca. Aku jadi lupa daratan. Tergiur. Kukeluarkan bukuku dan kubaca. Alamak! Baru satu dua halaman isi perutku serasa mau tumpah. Kupejamkan mata sambil menyimpan buku baik-baik di tas. Malang bagiku, rupanya tepat pada saat itu ada seorang ibu yang naik bus dengan dua anak kecil. Saat kubuka mata anak muda tadi sudah berdiri untuk memberikan tempat duduknya kepada ibu dan anak-anak itu. Tangannya kosong! Aku tidak sempat melihat judul buku yang rupanya sudah dimasukkan ke dalam tas. Selain gemar membaca, ternyata dia juga baik hati, rela berdiri agar ibu dan kedua anaknya bisa duduk. Sampai aku turun di tempat tujuan si anak muda tidak menunjukkan tanda-tanda hendak membaca buku lagi.

Ah, sore mendung ini sangat berkesan.

Komentar my roomate setelah mendengar ceritaku ini, “Kamu ga tahu aja, setelah kamu turun, anak itu langsung muntah-muntah.”

Huh.

Iklan

20 thoughts on “Makhluk Sureal Dalam Bus

Add yours

  1. Apakah saya juga makhluk sureal?
    Di kereta jabodetabek yang penuh pun asal masih ada space untuk berdiri, saya masih bisa membaca novel dengan baik.
    Kalo sureal itu artinya mimpi, khayalan ya mbak.
    Pantes aja teman-teman sering bilang, “mbak put itu memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain”.
    I dont know, help me please…:)

  2. hihihi, makasih colekannya mbakyu. semoga ketularan jadi seleb blog. aku suka banget baca di bus, karena kadang bus membutuhkan ‘kesadaran’ mutlak. bayangin saja, mulai dari risiko kalo ketiduran bisa ada kemungkinan ngeces (bawaanku kalo kecapekan tidur suka ngowoh. hihihi), copet, atau seumpama melek dan kliatan ‘nganggur’ orang2 iseng suka pada ngajak ngobrol. mulai dari nawarin produk, jawil2 mesum, sampai curhat dengan suara yang kenceng banget.
    kalo pas berdiri sih asal dapet sandaran jok orang buat numpang nyandar, kenyamanan baca sudah bisa aku dapatkan. paling2 risikonya adalah halte tujuan jadi terlewat deh 😀

  3. huahahaha, baris terakhir itu yang bikin jadi ngakak. Aku jg suka baca buku kalo lagi ngangkot mau belanja, kalau engga ngerajut, tapi belakangan lebih sering memperhatikan tingkah laku orang kalo ngangkot atau ngedamri. hihihi.

    1. Kalau merajut di kendaraan, anehnya aku enggak mabuk. Pernah aku pergi ke arisan keluarga. Rupanya, di jalan menjelang tempat tujuan, ada sepupuku yang sedang menunggu angkot melihat kendaraan kami dan berusaha menarik perhatian. Suamiku enggak hafal wajahnya jadi enggak menepi. Kata sepupuku, “Huh saking asiknya main BB si Dina sampe ga lihat dipanggil-panggil!” Padahal aku lagi asik knit-purl-knit-purl 😉

  4. Aku cuma mabuk kalau pas baca di mobil belum makan. Anehnya kalau di busway atau kopaja asyik2 aja, kalau naik taksi atau mobil sendiri (Karimun) malah cuma tahan 5 menit. @_@

  5. Saya tahan baca di kendaraan, apalagi kalau bahan bacaannya tabloid masak-masakan.
    Mudah2an suatu hari barengan Mbak Dina di kendaraan umum..siapa tau difoto..hehe 😀

  6. Bukannya apa yang dilakukan bu Dina, dengan memperhatikan makhluk Sureal, adalah juga membaca? Membaca alam, membaca kejadian dan peristiwa. Nggak perlu mabuk darat untuk bisa membaca, cukup mabuk kepayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: