Kecepatan Menerjemahkan

Seseorang memintaku bercerita seputar kecepatan menerjemahkan, apakah tekanan tenggat sangat berpengaruh pada hasil? Seberapa gugupnyakah sikapku terhadap tenggat, dulu dan sekarang.

Menurut Ibu Maria Sundah, kecepatan rata-rata penerjemahan teks umum untuk bahasa asing ke bahasa Indonesia adalah 30-60 menit per halaman atau sekitar 300 kata (untuk bahasa Indonesia ke bahasa asing: 45-90 menit per halaman). Aku lebih sering menggarap penerjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Jika diasumsikan jam kerja satu hari 8 jam, dalam satu hari rata-rata penerjemah bisa menggarap sekitar 2.400 – 4.800 kata, sudah termasuk waktu untuk riset yaitu 10-25%. Semakin sulit materi penerjemahan, semakin besar pula porsi waktu untuk melakukan riset dan semakin berkurang jumlah kata yang bisa digarap.

Saat memutuskan untuk menjadi penulis, Jostain Gaarder mewanti-wanti istrinya bahwa menulis buku itu mungkin tidak banyak menghasilkan uang. “Kalau begitu, nulisnya yang cepat saja!” jawab istrinya.

Pertama kali menerima order penerjemahan buku, aku gemetar karana bahagia sekaligus gugup karena belum tahu berapa lama aku bisa menggarap buku sampai selesai. Setelah tanya sana-sini, akhirnya aku menyanggupi menyelesaikan buku setebal sekitar 300 halaman dengan bahasa yang tidak terlalu sulit (bukan klasik atau nonfiksi) dalam waktu 8 minggu. Itu yang menjadi patokanku hingga sekarang.

Selain fiksi, nonfiksi, subyek dan genre, faktor lain yang memengaruhi kecepatan penerjemahanku adalah format materi. Untuk penerjemahan dokumen tidak pernah ada masalah karena materi hampir selalu berupa soft copy yang bisa diedit. Aku lebih menyukai menggarap materi soft copy karena naskah sumber dan sasaran bisa ditampilkan dalam satu layar sehingga pandangan tidak perlu berpindah-pindah. Di samping itu, teks pada soft copy bisa diperbesar sehingga mata tidak lelah membacanya. Maklum, faktor “u” alias usia unyu-unyu. Dengan materi soft copy, aku juga bisa menggarapnya dengan bantuan CAT Tool. Namun, itu tidak berarti aku akan menampik order bila materi yang diberikan berbentuk tercetak atau buku. Baik materi tercetak maupun soft copy tidak jadi soal bagiku. I can dance to any music.

Dari dulu aku juru tik 10 jari yang lumayan cepat. Menurutku inilah yang sangat memengaruhi kecepatan penerjemahan. Walaupun otak mampu dengan cepat melakukan proses alih bahasa, jika hanya mengetik dengan 11 jari tetap saja pekerjaan jadi lambat. Begitu pula sebaliknya. Aku pernah iseng ingin tahu berapa kata yang mampu kuterjemahkan dalam waktu satu jam dengan mengetik santai. Saat itu aku sedang mengerjakan novel fantasi remaja yang bahasanya tidak rumit, tidak banyak idiom. Jenis novel yang kusukai. Hasilnya adalah sekitar 1000 kata dengan typo belasan dalam waktu satu jam. Ini hasil maksimal jadi bukan rata-rata. Mustahil kinerjaku konstan selama 8 jam nonstop. Ada teman penerjemah yang sanggup menerjemahkan kurang lebih 15.000 kata sehari. w-o-w. Namun, katanya, setelah itu dia terkapar. Aku lebih memilih kecepatan sedang-sedang saja dan tidak mengorbankan kesehatan.

Aku tidak senang menunda-nunda. Semakin cepat selesai penerjemahan dan revisi, semakin banyak waktu luangku untuk beristirahat, berlibur atau melakukan hobi (atau menerima order baru hehe). Jika ternyata ada kejadian di luar dugaan yang kira-kira akan mengakibatkan tenggat tidak bisa dipenuhi, aku akan langsung membicarakannya dengan pihak pemberi kerja untuk menanyakan apakah tenggat bisa dimundurkan, tapi ini jarang terjadi.

Mengetik 10 jari memang mempercepat kecepatan menerjemahkan, karena mata tidak perlu bolak-balik terlalu sering antara naskah asli, hasil terjemahan, dan papan tik. Cukup berfokus pada naskah asli saja.
Femmy Syahrani

Akan tetapi, mohon diingat:

Fokus pada kualitas jangan pada kecepatan. Ibarat orang nyetir mobil kalau sudah mahir, cepat lambat bisa diatur sesuai kebutuhan. Sebaliknya kalau belum mahir, tapi maksa mau cepat, pasti nabrak.
Ade Indarta

Iklan

22 thoughts on “Kecepatan Menerjemahkan

Add yours

  1. Mbak Dina, ada gak sih kursus utk meningkatkan kecepatan mengetik? Klo ada, mau bgt ikutan. Sy ngerasa masih lambat ngetik. Ini jd kendala pas harus kejar2an sm singa mati (heran…tp klo ngetik komentar di blog atau FB kok bisa cepet ya :D).

  2. Dulu aku belajar sendiri mengetik 10 jari, sewaktu di SMA. Pokoknya tinggal menghafal letak tombol dan mendisiplinkan diri tidak melihat jari. Soal jari mana menekan tombol mana, bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Touch_typing . Lama-lama bisa juga. Apalagi kita kan kerjanya memang tiap hari mengetik, pasti lebih cepat bisa karena berlatih terus.

    Tapi, kalau ingin bimbingan “guru”, sekarang di internet sekarang ada banyak perangkat lunak untuk melatihnya, tinggal dicari aja.

    Menurutku mengetik 10 jari memang mempercepat kecepatan menerjemahkan, karena mata tidak perlu bolak-balik terlalu sering antara naskah asli, hasil terjemahan, dan papan tik. Cukup berfokus pada naskah asli saja.

    1. Saya belajar mengetik waktu di SMP. Waktu itu harus menghafal posisi huruf-huruf sampai tombol-tombolnya ditutupi selotip biar bisa mengetik buta. Jadi mata gak boleh curi-curi melihat tombol/karakter yang mau diketik, harus fokus ke layar atau teks.

  3. Aku belajar ngetik cepat selulus SMA, setelah UMPTN. Hehehe. Kursus. Setiap hari. Pakai mesin tik. Alhasil jari merah-merah, terutama kelingking. Saking terdoktrinnya… bahkan mikir pun sambil membayangkan ngetik 😀

    1. Mesin tiknya merek brother? 😉
      Aku sih ga sampai kursus. Di rumah kebetulan ada mesin tik papapku dan setiap tugas kelompok sekolah aku hampir selalu jadi juru tik. Lumayan, sambil berlatih.

  4. Saya bisa mengetik 10 jari karena tugas kuliah yang bejibun di kampus. Ditambah skripsi tentang pemrograman, kalau mengetik 11 jari dengan mata menatap ke keyboard pasti gak terkejar hehe… waktu itu pakai bantuan perangkat lunak belajarnya. Dari mengetik per huruf sampai mengetik kalimat yang panjang-panjang. Awal-awal jangan kejar cepat dulu, tapi yang penting benar tanpa typo, lama-lama juga lancar dan cepat. Dulu kurang lebih 2 minggu belajar per hari kira-kira 1 jam (akumulasi) sudah bisa mengetik tanpa melihat keyboard. Sekarang kemampuan ini sangat berguna dalam pekerjaan 😀

  5. saya ngetik 8 jari, dengan kedua jari kelingking (tanpa sadar) melentik :v :v jadi agak-agak feminin hahaha.. yg sadar pertama kali adalah teman-teman saya di suatu diklat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: