Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Waspadai Penipuan

“Halo, ini benar kediaman Bapak Bambang Tedjo?”
“Iya, betul.”
“Bapak ada, Bu?”
“Ini dari mana, ya?”
“Dari Telkom, Bu.”
“Ada keperluan apa?” (mulai curiga, belum pernah ada orang Telkom nelepon)
“Ini mengenai undian Telkom.”
“Ooooh, sebentar ya….. Maaas, ini ada yang mau nipu, katanya dari Telkom.” (di dekat corong telepon)
Tuuut…. tuuut….. tuuut….

Banyak sekali cerita tentang penipuan lewat telepon. Aku pun sudah sering menerima telepon yang mencoba menipu. Pada awalnya hampir percaya dan sempat trauma selama beberapa waktu.

Saat itu anakku sedang berlibur dengan teman-temannya ke luar kota selama beberapa hari. Ada telepon pukul dua pagi. Terdengar suara pemuda menangis mengaku ‘Ade’ minta tolong. Setelah itu diambil alih oleh seseorang yang mengaku polisi yang menangkap anakku karena kasus narkoba. Minta tebusan Rp45 juta, ditransfer ke nomor rekening BRI 078001001680508 atas nama Dede Saputra. Ketika diberitahu kami tidak punya uang, turun jadi 5 juta. Seharusnya sampai sini mulai curiga tapi saking paniknya karena gagal menelepon anak, kami malah berusaha mengumpulkan uang. Ditelepon jam dua pagi dan mendengar berita seperti itu bukan pengalaman yang menyenangkan bagi siapa pun. Tidak heran bila nalar jadi kacau.  Aku sempat minta tolong teman untuk pinjam uang segala. Duh kasihan temanku jadi terganggu.

Saranku adalah jangan panik, jangan langsung transfer. Tetap tenang. Usahakan mengulur waktu. Seiring waktu berjalan, ‘nyawa’ dan akal sehat kita kembali ke otak dan mulailah kejanggalan-terlihat terlihat. Dalam kasusku, kebetulan isi rekening bank-ku sedang minim  jadi ada jeda sampai bisa berpikir jernih. Setelah menelepon temanku yang terkantuk-kantuk, hatiku agak tenang karena merasa didukung dan dilindungi. Aku jadi ingat penginapan tempat anakku mondok lalu kucari nomor teleponnya lewat internet. Untung akhirnya berhasil menghubungi anakku dan dia baik-baik saja.

Bila Anda menerima telepon dari saudara atau sahabat yang meminjam uang untuk keperluan yang diduga penipuan semacam ini, mohon jangan langsung menolak dan mencoba menyadarkannya saat itu juga. Orang yang minta tolong malah akan merasa terluka karena merasa tidak didukung dan jadi semakin panik. Sanggupi saja (tapi tidak usah langsung mentransfer), usahakan ajak dia bicara dengan tenang untuk meredakan kepanikan, seperti yang dilakukan temanku.

Walaupun sudah tahu bahwa anakku tidak apa-apa, aku sempat membayangkan yang tidak-tidak. Bayangan itu tidak mudah dihapus. Sekarang aku mengerti kenapa orang suka tega sama maling yang tertangkap. Mungkin sebagian orang menyimpan dendam terhadap pelaku (atau calon pelaku) kejahatan yang tidak tertangkap dan melampiaskannya kepada penjahat mana saja yang bisa mereka dapatkan.

Penjahat-penjahat ini menggunakan teknik-teknik forcing yang biasa digunakan untuk pertunjukan sulap, teori-teori hipnosis, dll. Begitu telepon diangkat dan kita mengucapkan salam, mereka langsung beraksi dengan mengatakan “Ma,” (bila yang mengangkat perempuan) atau “Pa,” (bila yang mengangkat laki-laki) Setelah itu, dia memancing kita menyebutkan nama anggota keluarga yang teringat oleh kita demi mendengar suara di telepon. Aku jadi bertanya-tanya, dari mana mereka mendapatkan ilmunya. Penjarakah? Lokakarya bandit? e-learning pencoleng? *Grrrr*

Penipu-penipu ini menelepon secara acak. Mendengar ceritaku, banyak teman yang kemudian menceritakan bahwa mereka juga pernah menerima telepon serupa. Banyak yang salah sasaran, misalnya orangnya tidak punya anak atau si anak sedang ada di rumah dll. Tetanggaku, suami-istri dokter, juga tak luput dari penipuan. Mereka malah sudah sampai tahap mentransfer uang segala. Skenarionya adalah yang nelepon mengaku dokter di sebuah rumah sakit yang memberitakan bahwa anak tetanggaku kecelakaan, harus masuk ICU dan diperlukan uang untuk membayar jaminan. Kupikir sebagai dokter semestinya tahu bahwa proses itu mustahil. Namun, kemungkinan besar kepanikan mengalahkan akal sehat.

Beberapa waktu yang lalu aku juga menerima telepon pada dini hari, tapi aku tidak langsung mengucapkan salam. Orang yang diujung telepon berkata dengan nada memelas tapi ragu, “Pak….?” Kubiarkan saja telepon tersambung tanpa kudengarkan. Lama-lama dia memutuskan sambungan sendiri.

Tidak ada gunanya juga menanggapi percobaan penipuan seperti ini dengan marah-marah dan memaki. Itu hanya membuat kita mengeluarkan energi negatif dan kemangkelan tiada tara. Tetanggaku pernah melakukannya. Dia meladeni skenario si penipu dan mengakhirinya dengan menggelontorkan sumpah serapah yang paling kasar baginya. Dan jawaban si penipu? “Biarin, udah banyak yang ketipu, weeeee!” *langsung pingin menancapkan seligi ke jantung si penipu*

Waspadalah!

Iklan

11 comments on “Waspadai Penipuan

  1. tricahyoaCahyo
    April 5, 2013

    Saya juga pernah disamperi pukul dua pagi Mbak. Saya ulur-ulur ditutup oleh penipunya. Hehehe. Di teman milis pernah beredar luas cara mengulurnya sampai direkam dalam dua rekaman, masuk TVOne dan berita-berita lain. Juga sudah diunggah di yutub. Om Hery SW yang jadi beken karena penipunya kocak banget. wkwkwkwk. Sampai sekarang saya simpan di HP buat senyum2 sendiri. )

    • Dina Begum
      April 5, 2013

      Lumayaan, bisa dapat honor. Jadi pingin dengerin juga. 😉

  2. Hapsari
    April 5, 2013

    wah, ngeriii… 😦

    • Dina Begum
      April 5, 2013

      Memang, kejam banget ya orang yang berusaha cari duit dengan cara seperti ini. Bukan hanya dia menipu melainkan juga mengikis kepercayaan orang terhadap kebajikan. Kita jadi meragukan orang yang benar-benar membutuhkan karena sulit membedakan antara yang sungguhan dan yang tidak.

  3. seawind
    April 5, 2013

    Trik yg dilakukan Mbak Dina di 2 alinea terakhir menurutku sangat bagus utk ditiru. Iya ya, biar yg menelepon yg duluan menyapa. Dlm kondisi normal, yg menelpon pastinya tau dong mau bicara dengan siapa. Tanpa kita sapa duluan pun, logikanya klo dia ada perlu pasti dia yg akan mulai ngomong duluan.

    Aku share di FB yo Mbak… 🙂

    • Dina Begum
      April 5, 2013

      Betul… kita juga kalau menelepon begitu, nyapa duluan.
      Silakan, dengan senang hati. 😀

  4. Maddy Pertiwi
    April 5, 2013

    Kemaren yang kena Nenek pas lagi nginep di Jatiwaringin. Dia ditelpon orang bilang Mama ketangkep polisi karena bawa narkoba. Padahal Mama lagi di rumah Cikarang nonton TV… Untung ada Om yang ambil alih. Nenek panik banget tuh,,, Bete deh!!!

    • Dina Begum
      April 5, 2013

      Grrrrrr!!!! Kita aja trauma, apalagi orangtua.

  5. Diah Didi
    April 6, 2013

    Papaku nih yg pernah kena, tapi jaman minta pulsa belum marak, jd bukan yg versi di kantor polisi. Papaku orangnya gampang panik sih, jd dipikir yg minta pulsa itu aku. Pdhal kalo mau cermat, bahasanya beda banget. Dia pake kata ‘saya’, padahal seumur hidup saya nggak pernah pake kata ‘saya’ ke papa, tapi pake ‘aku’. Trus pas si papa minta pulsa ke sepupu yg jualan, sepupu tuh udah pernah bilang, perasaan Diah nggak punya nomor ini, Om. Tp si papa karena udah keburu panik udah nggak dengerin. Kena deh 100ribu. Trus waktu itu ada yg telpon bilang anak bapak di sekolah kecelakaan. Secara anaknya semua udah pada tua2x, ya papaku langsung tau. Cuma aku sama si mama mikir, kalo itu orang cuma sekedar bilang kecelakaan, kira2x si papa panik nggak ya? 😀
    Thanks for sharing, Mbak. *cerita ke papaku aaaah …

    • Dina Begum
      April 6, 2013

      Itulah kekhawatiranku juga, orangtua kita kan lebih rentan terhadap berita begini dariada kita. Kita aja stres mendengarnya, apalagi mereka. Poor Papa!

  6. diahz
    April 8, 2013

    Mertuaku pernah ditelp orang yang mengaku dari polisi yang menangkap suamiku karena narkoba (kejadiannya waktu kasus Raffi Ahmad lagi hangat2nya). Trus backsound-nya ada suara perempuan lagi nangis yang katanya istrinya (berarti saya). Orang itu pake ngancam kalo tidak segera transfer suami akan dipenjara+dipecat dari kerjanya. Padahal kami sekeluarga saat itu lagi berenang, untung saja telp ke saya langsung nyambung. Kalo inget betapa paniknya mertuaku, kalo ketemu orangnya pengen kurobek2 mulutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 5, 2013 by in Ini-itu and tagged , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,830 hits
%d blogger menyukai ini: