Menerjemahkan Cita Rasa

“Uleni adonan sampai kalis,” begitu menurut petunjuk resep membuat donat. Apakah bahasa Inggrisnya ‘kalis’? Setelah melakukan pencarian bak mencari jarum di dalam tumpukan jerami, padanan yang paling mendekati makna itu adalah Knead the dough until it doesn’t stick to the bowl. Huh?

KRB
Foto hasil jepretan Lucy Aryani.
Lokasi: Kebun Raya Bogor.

Begitulah Ibu Maria E Sundah beragih kisah penerjemahan resep masakan Indonesia ke dalam bahasa Inggris. HPI Komda Jawa Barat mengadakan pertemuan sersan (serius tapi santai) di Kebun Raya Bogor pada tanggal 12 Maret 2013. Walaupun pasangan bahasa yang dikuasai oleh kedelapan belas peserta yang hadir berbeda-beda, tapi dalam menerjemahkan resep masakan kendala yang dihadapi hampir sama, baik dari bahasa Indonesia ke bahasa asing maupun sebaliknya. Selain itu, istilah bahan-bahan juga tak jarang sulit diterjemahkan karena ketidaktersediaan. Sebagai contoh, cobalah menerjemahkan cara membuat rawon ke dalam bahasa asing. Dari pemilihan judulnya saja sudah rumit, apalagi saat menerjemahkan bahannya. Satu petunjuk, bila kita tidak menemukan padanan bahan atau bumbu, gunakan saja nama latinnya. Misalnya: kluwek = pucung nut.

Bagiku, menerjemahkan resep merupakan pekerjaan yang sangat sulit karena risiko kekeliruan bisa mengakibatkan masakan tidak jadi atau tidak enak. Pengalamanku menerjemahkan resep hanya sebatas menerjemahkan ramuan sihir dalam sebuah novel fantasi. Saat itu, aku punya kemewahan ‘mengarang bebas’ karena kebetulan walaupun bahan-bahannya memakai nama betulan penulisnya merekayasa dengan menambahkan white atau purple pada bahan-bahan. Setelah dicari, rupanya jenis itu memang tidak ada dalam kenyataan. Kupikir, toh tidak akan ada yang bakalan membuat ramuan itu (kecuali mungkin tukang sihir) jadi risiko gagal tidak ada.

Hanif Cahyono, penerjemah yang jago berbahasa Jepang menyumbangkan kiat uniknya dalam menerjemahkan makanan Jepang saat teks menggambarkan rasa. Biasanya, setelah mencicipi masakan kita cukup mengatakan “gurih,” “enak,” “lezat,” atau “maknyus.” Orang Jepang tidak begitu. Salah satunya, jika diterjemahkan secara harfiah kira-kira arti teksnya, “Cita rasa orang dewasa,” (??!) Rupanya, masakan Jepang ada yang untuk anak-anak, ada yang untuk orang dewasa. Demi mencari padanan kata yang pas, Hanif lantas mencicipi masakan yang dimaksud. Wah, jangan-jangan penerjemahnya semakin gemuk tapi penerjemahan tidak selesai-selesai, atau, yang lebih tidak enak lagi, honor belum keluar uangnya sudah habis, hahaha! Yang membuat repot adalah ketika Hanif menerjemahkan komik tentang minuman anggur. Karena Hanif tidak minum anggur, dia tidak bisa serta merta membeli dan mencicipinya.

Andina Margaretha Rorimpandey yang memperdalam ilmu penerjemahan di Prancis juga menghadapi kendala serupa. Beruntung, di Paris ada semacam komunitas bernama Onvasortir, tempat anggotanya bisa mengajak anggota lain yang berminat untuk melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Kalau ingin lari pagi, jalan-jalan, nonton, belanja, masak-masak, makan-makan, ke teater, bahkan liburan bareng, orang tinggal memasukan saja ajakan itu ke dalam agenda bersama, tunggu peminatnya lalu ketemuan. Andina bisa mengajak orang yang berminat untuk makan bareng di tempat tertentu lalu dia bisa bertanya-tanya tentang berbagai masakan Prancis yang diinginkan. Bila ada, komunitas penggemar minuman anggur bisa dijadikan acuan untuk mengetahui istilah-istilah khusus tanpa harus mencicipi minumannya.

A Jakarta Market Isi A Jakarta MarketTerkait dengan pencarian istilah, Bu Lanny Utoyo, ketua HPI Komda Jabar, mengatakan bahwa 10%-25% dari pekerjaan menerjemahkan adalah riset. Bu Lanny, Bu Maria dan Pak Hendarto Setiadi lalu berbagi kiat melakukan pencarian efektif di Google. Bu Maria memperlihat sebuah buku yang berjudul “A Jakarta Market” karya Kaarin Wall yang berisi tentang segala macam bahan makanan Indonesia dalam bahasa Inggris, lengkap dengan ilustrasinya.

Begitulah, kalau orang seprofesi bertemu ada saja kiat menarik yang bisa ‘dicuri’. Bu Maria memberikan kiat-kiat agar ‘dilirik’ oleh penerbit seperti penerbit Gramedia, misalnya. Katanya, jika penerjemahannya bebas kesalahan makna dan sangat sedikit (kalau tidak bisa bebas sama sekali) kesalahan tik niscaya penerbit mana saja dengan senang hati merekrut penerjemah. Konon, penerjemah seperti itu bahkan bisa menentukan genre apa yang ingin dia garap dan… ehm… menentukan honornya.

Setelah makan siang, Lucy Aryani mengundi hadiah hiburan. Sayangnya menjelang sore cuaca kurang bersahabat. Angin kencang dan mendung gelap menyudahi pertemuan yang sarat manfaat ini.

Terima kasih HPI Komda Jawa Barat yang mengatur acara.

Iklan

7 thoughts on “Menerjemahkan Cita Rasa

Add yours

  1. Salam kenal, mbak Dina… Barusan baca tulisan mbak di KEB yg ttg yoga itu… Wah sy jg suka yoga tp blm bisa pose yg aneh2 hihihi… Kelenturan tubuh, bikin iri aja.. Hehe…

    Ehiya malah bahas yg lain… 🙂
    Seruuuuuu mbak, pengalaman menerjemah nya…. Susah ya ternyata… Hihihi….
    Klo dlu sy wkt kuliah pernah cari tambahan uang jajan dari nerjemahin jurnal buat senior2 yg mo skripsi or thesis… Inggris Indo atau sebaliknya.. Hihihi… Jurnal kedokteran gigi sy kira udah salah satu jenis terjemahan yg paling susah… Ternyata buku masakan lebih susah lg, …. Seruuuuu ^_^

    1. Salam kenal juga Lyliana.
      Memang, aku juga baru ngeh betapa sulitnya menerjemahkan resep… apalagi buat orang yang ga mahir masak kayak aku :p Menerjemahkan cara memasak juga enggak kalah peliknya, ternyata.

  2. Aku nggak bisa berenti nyengir nih, Mbak, baca tulisan ini. Soal rawon, soal mencicipi cita rasa demi mendapatkan padanan kata yang pas, soal honor keburu abis… 😀
    Tapi biarpun pusing, pasti menarik dan jadi belajar banyak hal ya jadi penerjemah. Thanks for sharing, Mbak. ^^

    1. Makasih juga udah mampir. Hehe pas ngobrolinnya juga kami cekakakan gitu… 😀 Apalagi pas denger ‘Cita rasa orang dewasa’ eeeeyyyyy? Maksun looh? hihihi yang kebayang yang enggak-enggak deh :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: