[Suntingan Terjemahan] Bab 1 Numbers

Numbers

Rachel Ward

Bab 1

number-IDAda tempat-tempat yang biasa didatangi oleh anak-anak seperti aku. Anak pemurung, anak nakal, anak yang bosan dan anak kesepian, anak-anak yang berbeda. Hari apa saja, kalau kau tahu ke mana harus mencari, kau akan menemukan kami: di belakang pertokoan, di jalan tikus, di bawah jembatan di pinggir kali dan sungai, di sekitar garasi, di gubuk-gubuk, di kebun kosong. Kami ada ribuan jumlahnya. Itu pun kalau kau memutuskan untuk mencari kami. Kalau melihat kami, biasanya orang-orang membuang muka, berpura-pura kami tak ada. Begitu lebih mudah. Jangan langsung percaya omong kosong tentang memberikan kesempatan kepada semua orang. – sSaat orang melihat kami, mereka merasa lega karena kami tidak berada di sekolah bersama anak-anak mereka, mengganggu pelajaran mereka anak-anak itu, membuat hidup mereka menderita. Guru-guru juga begitu. Apakah menurutmu para guru kecewa kalau kami tidak datang untuk mendaftar? Yang benar saja, mereka malah tertawa. – mMereka tidak menginginkan anak-anak seperti kami berada di kelas mereka, dan kami juga tak ingin berada di sana.

Sebagian besar anak-anak itu nongkrong dalam kelompok-kelompok kecil, berdua atau bertiga, menghabiskan waktu dengan percuma. Kalau aku, aku lebih suka sendirian. Aku lebih suka mencari tempat yang tidak ada orangnya, tempat aku tidak perlu memandang siapa-siapa, tempat aku tidak usah melihat nomor mereka.

Itulah sebabnya aku kesal saat aku tiba di tempat tongkrongan kesukaanku di pinggir kali dan mendapati seseorang sudah ada di sana sebelum aku. Kalau itu hanya orang asing sih, gelandangan tua atau pecandu, aku tinggal cari tempat lain, gampang., tTapi, dasar nasib, itu salah satu anak dari kelas ‘khusus’ Mr McNulty: si besar mulut jangkung yang tak bisa diam, yang biasa dipanggil Spider.

Dia tertawa saat melihatku, langsung menghampiri dan menggoyangkan satu jari di wajahku. Nakal, nakal! Sedang apa kau di sini, Nak?

Aku menggerakkan bahu, menunduk.

Dia terus menggodaku. Tak kuat seharian bersama Nutter, ya? Bukan salahmu, Jem. – dDia sakit. Seharusnya dia tidak boleh dibiarkan keluar, iya, kan?

Spider bertubuh besar, jangkung. Salah satu dari orang-orang yang gemar berdiri terlalu dekat, tak tahu kapan harus mundur. Kurasa itulah sebabnya dia sering berkelahi di sekolah. Dia selalu berada di dekatmu, sampai-sampai kau bisa mencium baunya. Bahkan, kalau kau berpaling dan berputar, dia masih ada di dekatmu – sama sekali tidak membaca tanda-tanda, tak pernah mengerti isyarat. Pandanganku terhalang oleh tepi tudung baju hangatku, tapi karena dia menjulang di atasku dan secara naluriah aku mengerakkan kepalaku untuk menjauhinya, mata kami bertemu sesaat dan terpampanglah di sana. Nomornya. 15122009. Itulah alasan lain mengapa dia membuatku merasa tidak enak hati. Anak malang. – dDia tidak mungkin selamat, bukan, dengan nomor seperti itu?

Semua orang punya nomor, tapi kurasa hanya aku yang bisa melihatnya. Yah, sebenarnya aku tidak benar-benar melihat“-nya, cuma seperti sesuatu yang melayang di udara; nomor itu sepertinya muncul begitu saja di kepalaku. Aku merasakannya, di suatu tempat di belakang mataku. Tapi, nomor itu nyata. Aku tak peduli kalau kau tak percaya, terserah kau saja, aku tahu nomor itu nyata. Dan, aku tahu apa artinya. Teka-teki itu terpecahkan pada hari ibuku meninggal.

Aku selalu melihat nomor-nomor itu, sepanjang ingatanku. Kukira semua orang begitu. Sambil berjalan-jalan, kalau aku bertemu pandang dengan orang lain, pasti ada, nomor mereka.  Dulu aku suka memberitahukan nomor orang-orang itu kepada ibuku saat dia mendorong keretaku. Kukira ibu Mum akan senang. Pasti ibu Mum pikir aku pintar. Dasar bodoh.

Kami sedang bergegas maenyusuri jalan utama, menuju kantor Departemen Sosial untuk mengambil tunjangan mingguan Mum. Kamis biasanya hari yang indah. Sebentar lagi, tak lama lagi Mum bisa membeli barang dari rumah yang dipalangi di ujung jalan kami, dan dia akan merasa senang selama beberapa jam. Setiap otot tegang di tubuhnya akan mengendur, dia akan mengajakku bicara, bahkan terkadang membacakan cerita untukku. Aku memekikkan nomor orang-orang dengan riang sambil kami melaju. ‘Dua, satu, empat, dua, kosong, satu, sembilan! Tujuh, dua, dua, kosong, empat, enam!’

Tiba-tiba, Mum menyentakkan kereta dorong sampai berhenti dan memutarkannya sampai menghadap dirinya. Dia merunduk dan memengang kedua sisinya, membentuk kerangkeng dengan tubuhnya, mencengkeram dengan begitu eratnya sampai-sampai aku bisa melihat urat-urat di lengannya menonjol, lebam dan bekas jarum suntiknya semakin kentara. Dia menatap mataku dengan tajam, amarah terpampang jelas di wajahnya. Dengar, Jem, kata-katanya menghambur dari wajahnya, aku tak tahu apa yang kau ocehkan itu, tapi kumau kau menghentikannya. Bikin kepalaku pusing. Aku tidak membutuhkan itu hari ini. Mengerti? Aku tidak membutuhkannya, jadi… tutup… mulut… mu.” Kata-kata menyengat seperti lebah mengamuk, ludah berbisanya muncrat ke arahku. Dan sementara itu, saat kami duduk di sana saling menatap, nomornya ada di sana, tertatah di bagian dalam tengkorakku: 10102001.

Empat tahun kemudian, aku memperhatikan seorang pria yang mengenakan jas lecek menuliskannya di atas selembar kertas: Tanggal kematian: 10.10.2001. Aku menemuikan Mum pagi-pagi. Aku bangun tidur, seperti biasanya, memakai baju hendak berangkat sekolah, mengambil sereal untukku sendiri. Tidak pakai susu, karena susunya basi saat kukeluarkan dari kulkas. Aku meletakkan kotak susunya di samping kulkas, menjerang air dan mengunyah Coco Popsku sambil menunggu airnya mendidih. Setelah itu aku membuatkan kopi hitam untuk Mum dan mengantarkan ke kamarnya dengan hati-hati. Mum masih di tempat tidur, kelihatannya sedang bersandar. Matanya terbelalak, dan ada sesuatu, muntahan, di bagian depan tubuhnya dan di atas seprei. Aku meletakkan kopi di lantai, di samping jarum suntik.

Mum? Kataku, walaupun aku tahu dia tidak akan menjawab. Tidak ada orang di sana. Mum sudah pergi. Dan nomornya juga hilang. Aku masih ingat, tapi tak bisa melihatnya lagi saat aku menatap mata hampanya yang kosong.

Aku berdiri di sana selama beberapa menit, beberapa jam – entahlah – kemudian turun dan menceritakannya kepada wanita yang tinggal di flat di bawah flat kami. Dia naik untuk memeriksa. Menyuruhku menunggu di luar flat, seolah-olah aku belum melihatnya, dasar bodoh. Wanita itu hanya menghilang selama tiga puluh detik, lalu tergopoh-gopoh melewatiku dan menumpahkan isi perutnya di lorong. Begitu selesai, dia mengelap mulutnya dengan saputangan, membawaku ke flatnya dan menelepon ambulans. Setelah itu orang-orang pun berdatangan: orang-orang berseragam – polisi, petugas ambulans; orang-orang berjas – seperti lelaki yang membawa papan catatan dan kertas itu; dan seorang wanita, yang berbicara kepadaku seakan-akan aku ini anak terbelakang dan membawaku pergi dari sana, dengan begitu saja, membawaku pergi dari satu-satunya tempat yang pernah kukenal.

Di dalam mobilnya, dalam perjalanan yang hanya Tuhan yang tahu akan ke mana, aku terus-menerus memutar rekaman itu itu di benakku. Kali ini bukan nomor, melainkan kata-kata. Dua kata. Tanggal Kematian. Tanggal Kematian. Kalau saja aku tahu bahwa nomor itu adalah tanggal kematian, aku bisa memberitahu Mum, menghentikannya, entahlah. Apakah akan ada bedanya? Kalau Mum tahu bahwa kami hanya punya waktu tujuh tahun untuk bersama? Atau apakah malah akan jadi neraka – Apa Mum akan tetap saja jadi pencandu. Tak ada di dunia ini yang bisa menghentikannya. Dia sudah terjerat.

Aku tak suka berada di kolong jembatan dengan Spider. Aku tahu itu di luar ruangan, tapi aku merasa tersekap, terperangkap di sana bersamanya. Spider seolah-olah memenuhi tempat dengan lengan dan tungkainya yang panjang dan kurus, terus menerus bergerak – tersentak-sentak, tepatnya – belum lagi baunya yang minta ampun itu. Aku menghindar melewatinya dan keluar ke jalan di pinggir kali.

Mau ke mana kau? dia berseru di belakangku, suaranya menggelegar, memantul di tembok beton.

Jalan, gumamku.

Baik, katanya, sambil mengejarku. Jalan dan ngobrol, katanya, jalan dan ngobrol. Dia berjalan mengiringi langkahku, terlalu dekat dengan bahuku, menyenggolku. Aku terus berjalan, menunduk, tudung dipasang, petak-petak jalan dan sampah melesak di bawah sepatuku. Spider berjalan dengan santai di sampingku. Kami pastilah kelihatan tolol, aku yang bertubuh kecil untuk anak berumur lima belas tahun dan dia yang seperti jerapah hitam yang berlari. Dia mencoba mengajakku mengobrol sedikit, dan tetapi aku tak menggubrisnya. Sambil berharap dia menyerah dan pergi. Tidak ada harapan. Kurasa aku harus mengusirnya dengan kata-kata untuk membuatnya menyingkir, dan bahkan saat itu pun dia belum tentu mau pergi.

Jadi kau anak baru di sini, ya?

Aku menggerakkan bahuku.

Dikeluarkan dari sekolahmu yang lama? Kau cewek bandel, ya?

Dikeluarkan dari sekolah, dikeluarkan dari rumah terkhirku, dan yang sebelumnya dan yang sebelumnya lagi. Orang-orang itu cuma hanya tidak mengerti aku. Tidak mengerti bahwa aku butuh sedikit ruang. Selalu mendikte apa yang harus kulakukan. Mereka pikir peraturan, dan rutinitas, dan tangan bersih dan memperhatikan kata-kata guru akan membuat semuanya baik-baik saja. Mereka sama sekali tidak tahu.

Spider merogoh sakunya. Mau rokok? Aku punya, lihat.

Aku berhenti, dan memperhatikan saat dia mengeluarkan satu pak lecek. Ambillah.

Dia menyodorkan sebatang, dan menyalakan korek untukku. Kucondongkan tubuhku ke depan dan menarik nafpas sampai rokok terbakar, pada saat yang sama menghirup bau badannya. Dengan cepat aku mundur, dan menghembuskan nafpas lagi. Trims, gumamku.

Spider mengisap rokoknya, seakan-akan itu benda paling enak sedunia, kemudian lalu mengembuskan asapnya dengan dramatis dan nyengir. Dan kupikir, kurang dari tiga bulan lagi, hanya itu. Yang dilakukan anak malang ini hanyalah bolos sekolah dan merokok di pinggir kali. Itu tidak bisa disebut kehidupan, bukan?

Aku duduk di atas tumpukan bekas bantalan rel kereta. Nikotin mengurangi sedikit kegelisahanku, tapi tak ada yang mampu membuat Spider tenang. Dia naik-turun, memanjat bantalan rel, meloncat turun, berjalan di atas ujung kakinya sambil berusaha menyeimbangkan diri di bantaran sungai, melompat lagi. Kupikir, begitulah caranya dia pergi nanti, dasar bocah sinting, meloncat turun entah dari mana, mengakibatkan leher celakanya itu patah.

Apa kau tak bisa diam? Kataku.

Tidak, aku bukan patung. Bukan patung lilin seperti di museum Madame Tussauds. Aku punya banyak energi, Sob. Spider berjingkrak-jingkrak di sana, di jalanan pinggir kali. Mau tak mau aku nyengir. Rasanya seperti untuk yang pertama kalinya dalam setelah beberapa tahun. Anak muda itu membalas cengiranku.

Senyumanmu manis, katanya.

Itu membuatku jengkel, aku tak suka komentar pribadi. ‘Persetan Tutup mulutmu, Spider, kataku, jangan banyak omong.

Santai, sob. Aku tidak bermaksud apa-apa.

Yah, nah . . . Aku tidak suka.

Kau juga tak suka menatap orang, kan? Aku menggerakkan bahuku. Kata orang kau sombong, gara-gara kau selalu menunduk, tak mau melihat mata orang lain.

Nah, itu juga urusan pribadi. Aku punya alasan tersendiri.

Spider berputar dan menendang batu ke dalam kali. Terserah. Dengar, aku tak akan mengatakan yang baik-baik bermanis-manis lagi padamu, mengerti?

Baiklah, jawabku.

Ada bel tanda bahaya berbunyi di dalam kepalaku. Sebagian dari diriku menginginkan ini lebih dari apa pun di dunia – punya seseorang untuk berbagi, bersikap seperti orang lain untuk sejenak. Sebagian lagi menjerit menyuruhku menyingkir dari sana, agar jangan terjerat. Kau terbiasa dengan seseorang – mulai menyukai mereka – dan mereka meninggalkanmu begitu saja. Pada akhirnya, semua orang akan pergi. Aku menatapnya, dia melompat ke sana kemari dari satu kaki ke kaki lainnya, lalu meraup kerikil dan melemparkannya ke air. Jangan melangkah ke arah situ, Jem, pikirku. Dalam waktu beberapa bulan dia akan pergi.

Sewaktu punggung Spider berbalik, aku bangkit diam-diam dari tempatku bertengger di atas bantalan rel dan mulai berlari. Tidak ada penjelasan, tidak ada ucapan selamat tinggal.

Aku bisa mendengar Spider memanggil dari belakangku, Hei, mau ke mana kau? Aku ingin dia tetap di sana, tak usah mengikuti. Semakin jauh jarak yang kurentangkan di antara kami, suaranya semakin samar-samar

Ya sudah. Sampai besok, Sob.

Silakan membaca bab 1 & 2.

Chapter 1

 NumbersThere are places where kids like me go. Sad kids, bad kids, bored kids and lonely kids, kids that are different. Any day of the week, if you know where to look, you’ll find us: behind the shops, in back lanes, under bridges by canals and rivers, round garages, in sheds, on allotments. There are thousands of us. If you choose to find us, that is – most people don’t. If they do see us, they look away, pretend we’re not there. It’s easier that way. Don’t believe all that crap about giving everyone a chance – when they see us, they’re glad we’re not in school with their kids, disrupting their lessons, making their lives a misery. The teachers, too. Do you think they’re disappointed when we don’t turn up for registration? Do me a favour, they’re laughing – they don’t want kids like us in their classrooms, and we don’t want to be there.

Most hang about in small groups, twos or threes, whiling away the hours. Me, I like to be on my own. I like to find the places where nobody is – where I don’t have to look at anyone, where I don’t have to see their numbers.

That’s why I was pissed off when I got to my favourite haunt down by the canal and found someone had got there before me. If it had just been a stranger, some old dosser or junkie, I’d have gone somewhere else, easy, but, just my luck, it was one of the other kids from Mr McNulty’s ‘special’ class: the restless, gangly, mouthy one they call Spider.

He laughed when he saw me, came right up to me and wagged a finger in my face. ‘Naughty, naughty! What you doing here, girl?’

I shrugged, looked down at the ground.

He carried on for me. ‘Couldn’t face another day of the Nutter? Don’t blame you, Jem – he’s a psycho. Shouldn’t be allowed out, that one, should he?’

He’s big, Spider, tall. One of those people who stand too close to you, doesn’t know when to back off. Suppose that’s why he gets into fights at school. He’s in your face all the time, you can smell him. Even if you twist and turn away, he’s still there – doesn’t read the signs at all, never takes the hint. My view of him was blocked by the edge of my hood, but as he loomed up to me and I moved my head instinctively away from him, our eyes met for a moment and it was there. His number. 15122009. That was the other reason why he made me feel uncomfortable. Poor sod – he doesn’t stand a chance, does he, with a number like that?

Everyone’s got one, but I reckon I’m the only one that sees them. Well, I don’t exactly ‘see’ them, like something hang-ing in the air; they kind of appear in my head. I feel them, somewhere behind my eyes. But they’re real. I don’t care if you don’t believe me – please yourself, I know they’re real. And I know what they mean. The penny dropped the day my mum went.

I’d always seen the numbers, for as long as I could remember. I thought everyone did. Walking down the street, if my eyes met someone else’s there it would be, their number. I used to tell my mum people’s numbers as she pushed me along in my buggy. I thought she’d be pleased. She’d think I was clever. Yeah, right.

We were making our way rapidly along the High Street, on the way to the DSS to pick up her weekly money. Thursday was normally a good day. Soon, very soon, she would be able to buy that stuff from the boarded-up house down our street, and she would be happy for a few hours. Every taut muscle in her body would relax, she’d talk to me, even read to me sometimes. I called out people’s numbers cheerily as we hurtled along. ‘Two, one, four, two, nothing, one, nine! Seven, two, two, nothing, four, six!’

Suddenly, Mum jerked the pushchair to a halt and swung it round to face her. She crouched down and held both sides of the frame with her hands, making a cage with her body, clutching so tightly I could see the cords in her arms standing out, the bruises and pinpricks more vivid than ever. She looked me straight in the eye, the fury clear on her face. ‘Listen, Jem,’ the words came spitting out of her face, ‘I don’t know what you’re going on about, but I want you to stop. It’s doing my head in. I don’t need it today. Okay? I don’t need it, so just . . . bloody . . . shut . . . up.’ Syllables stinging like angry wasps, her venom fizzing all around me. And all the time, as we sat there eye-to-eye, her number was there, stamped on the inside of my skull: 10102001.

Four years later, I watched a man in a scruffy suit write it down on a piece of paper: Date of Death: 10.10.2001. I’d found her in the morning. I’d got up, like normal, put my school things on, helped myself to some cereal. No milk, because it stank when I got it out of the fridge. I left the carton on the side, put the kettle on and ate my Coco Pops while it boiled. Then I made Mum a black coffee and carried it carefully into her room. She was still in bed, kind of lean-ing over. Her eyes were open, and there was stuff, sick, down her front and on the covers. I put the coffee down on the floor, next to the needle.

‘Mum?’ I said, even though I knew she wouldn’t reply. There was no-one there. She was gone. And her number was gone too. I could remember it, but I couldn’t see it any more when I looked into her dull, empty eyes.

I stood there for a few minutes, a few hours – I don’t know – then I went downstairs and told the lady in the flat below us. She went up to look. Made me wait outside the flat, like I hadn’t already seen it, silly cow. She was only gone about thirty seconds, and then she rushed out past me and was sick in the hallway. When she’d done, she wiped her mouth on her hanky, took me back to her flat and rang for an ambu-lance. Then all these people came: people in uniform – police, ambulance men; people in suits – like that man with the clipboard and paper; and a lady, who spoke to me like I was simple and took me away from there, just like that, the only place I’d ever known.

In her car, on the way to God knows where, I kept going over and over it in my mind. Not numbers this time, words. Three words. Date of Death. Date of Death. If only I’d known that was what it was, I could have told her, stopped her, I don’t know. Would it have made a difference? If she’d known that we only had seven years together? Would it hell – she would still have been a junkie. There was nothing on this earth that could have stopped her. She was hooked.

I didn’t like being there under the bridge with Spider. I know it was outside, but I felt closed in, trapped there with him. He filled the space with his gangly arms and legs, con-stantly moving – twitching, almost – and that smell. I ducked past him and out onto the towpath.

‘Where you going?’ he shouted behind me, his voice booming off the concrete walls.

‘Just walking,’ I mumbled.

‘Right,’ he said, catching up with me. ‘Walk and talk,’ he said, ‘walk and talk.’ Drawing level, too close to my shoulder, brushing against me. I carried on, head down, hood up, a blinkered patch of gravel and rubbish moving under my trainers. He loped along beside me. We must have looked so stupid, me being small for fifteen and him like a black giraffe on speed. He tried to chat a bit, and I just ignored him. Hoped he’d give up and go away. No chance. Reckon you’d have to tell him to piss off to get rid of him, and even then he probably wouldn’t.

‘So you’re new around here, yeah?’ I shrugged. ‘Got kicked out your old school? Been a bad girl, have ya?’

Kicked out of school, kicked out of my last ‘home’, and the one before that and the one before that. People just don’t seem to get me. Don’t understand that I need a bit of space. Always telling me what to do. They think rules and routine and clean hands and minding your p’s and q’s will make everything all right. They haven’t got a clue.

He reached into his pocket. ‘D’you wanna fag? I’ve got some, look.’

I stopped, and watched as he extracted a crumpled packet. ‘Go on, then.’

He handed me a cigarette, and flicked his lighter for me. I leaned forward and inhaled until it caught, drawing in some of his stink at the same time. I moved back quickly, and breathed out again. ‘Ta,’ I mumbled.

He drew on his fag, like it was the best thing on earth, then blew the smoke out theatrically and smiled. And I thought, less than three months to go, that’s all. All this poor bugger’s got is skiving off school and having a smoke by the canal. Not what you’d call a life, is it?

I sat down on a heap of old railway sleepers. The nicotine made me feel less edgy, but nothing calmed Spider down. He was up and down, climbing on the sleepers, leaping off, balancing on the edge of the canal on the balls of his feet, jumping back again. I thought to myself, that’s how he’ll go, the silly sod, jumping off something, breaking his bloody neck.

‘Don’t you ever keep still?’ I said.

‘Nah, I’m not a statue. Not a waxwork like at Madame Tussauds. I’ve got all this energy, man.’ He did a little dance there on the towpath. Made me smile, couldn’t help it. Felt like the first time in years. He grinned back at me.

‘You got a nice smile,’ he said.

That did it, I don’t like personal comments. ‘Fuck off, Spider,’ I said, ‘just fuck off.’

‘Relax, man. I didn’t mean nothing by it.’

‘Yeah, well . . . I don’t like it.’

‘You don’t like looking at people neither, do you?’ I shrugged. ‘People think you’re up yourself, the way you keep looking down, don’t look no-one in the eye.’

‘Well, that’s personal too. I’ve got reasons.’

He turned and kicked a stone into the canal. ‘Whatever. Listen, I’ll never say nothing nice to you again, okay?’

‘Okay,’ I said. There were alarm bells going off inside my head. Part of me wanted this more than anything else in the world – to have someone to hang out with, be like everyone else for a while. The rest of me screamed to get the hell out of there, not to get sucked in. You get used to someone – start to like them, even – and they leave. In the end, every-one leaves. I looked at him jiggling restlessly from foot to foot, now scooping up some stones and chucking them into the water. Don’t go there, Jem, I thought. In a few months, he’ll be gone.

While his back was turned, I got up quietly from my perch on the sleepers and started running. No explanations, no goodbyes.

From behind me I could hear him calling, ‘Hey, where you going?’ I was willing him to stay there, not to follow. His voice faded away as I put some distance between us.

‘Okay, be like that. See you tomorrow, man.’

Iklan

17 thoughts on “[Suntingan Terjemahan] Bab 1 Numbers

Add yours

    1. Iya, penerjemah dapat buku, istilahnya bukti terbit. Tapi itu tergantung penerbitnya juga sih. Kebanyakan ngasih 1 eksemplar, ada yang lebih, ada juga yang ngasih setelah diminta. Ada yang belum ngasih juga padahal sudah diminta berkali-kali #eh #curcol.

      1. kira2 berapa lama ya mbak terbitnya setelah terjemahan selesai?
        pengen gabung anggota HPI tapi nunggu terjemahan pertamaku terbit dulu..
        hehe..

  1. Mbak Dina,
    Salam kenal nama saya Gustari. Saya mau tanya bagaimana pada awalnya bisa menjadi seorang penterjemah. Saya soalnya sedang mencari pekerjaan sebagai penterjemah bahasa mandarin. Terimakasih infonya. 🙂

  2. Assalamualaikum mbak Dina,
    Saya ingin sekali membuat sampel terjemahan di blog. Saya suka membaca novel (ebook) dan mulai belajar menerjemahkannya. Apakah boleh jika saya mencantumkan terjemahan 1 bab dari novel yang saya baca ke dalam blog? Saya takutnya setelah saya cantumkan ternyata yang seperti itu dilarang karena berhubungan dengan lisensi dan sebagainya.
    Terima kasih atas jawabannya 🙂

    1. Waalaikumsalam, Reksitawardani.
      Contoh terjemahan yang kuungah ke blog ini atas seizin penerbit (Indonesia) karena beberapa memang menyediakan nukilan sebagai “icip-icip” dari novel-novel yang sudah terbit.
      Sebaiknya sih kalau mau menampilkan kebolehan menerjemahkan novel, carilah nukilan yang sudah tersedia online, seperti dari Amazon dot com atau Goodreads dot com agar aman, tidak menimbulkan konflik kepentingan terkait hak cipta.

        1. Kalau kontennya tersedia untuk umum tanpa harus membeli dan bukan bajakan kurasa aman. Aku enggak bilang pasti akan terlibat masalah, tapi lebih baik berhati-hati daripada kesulitan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: