Cintaku Kepada Baha$a Daerah Takkan Padam

DI TALAGA BODAS. Angin sumiliwir, leutik, tiis. Selengseng walirang sakuliahna. Aambeuan seubeuh celep pabrik. Cai bodas semu hejo anteng dibawa ulin angin, ririakan ka lebah basisir. Jujukutan milu oyag. Ti jauhna, ti jauhna, haseup bodas ngayang ka awang-awang. Halimun turun kana sela-sela tangkal. Saung-saung mararungkut. Duh, ku cambewek ieu punduk.

Di pasampangan, 26/02

Status Facebook Atep Kurnia, kontributor majalah Mangle.

Kamus Basa SundaSebagai urang Sunda aku terpekur membaca tulisan di atas. Betapa bahasa ibuku itu jadi lebih sulit kupahami ketimbang bahasa ibunya Pangeran William. Memang, sehari-hari di rumah kami menggunakan bahasa Indonesia karena suami orang Malang dan sebelum jadi penerjemah purnawaktu dengan basangan bahasa Inggris – Indonesia aku bekerja di sebuah organisasi Inggris. Praktis bahasa Sunda hanya kugunakan untuk bercakap-cakap dengan teman kantor atau tetangga yang urang Sunda juga. Kupikir itu sudah cukup untuk mengaku mahir berbahasa Sunda. Ternyata belum.

Padahal, banyak produk luar negeri yang justru mengalihbahasakan manual mereka ke dalam bahasa daerah. Tengok saja Google.co.id yang tersedia dalam bahasa Indonesia, Jawa, dan Bali. Menurut teman penerjemah yang menguasainya, honor menerjemahkan pasangan bahasa Inggris-Jawa jauh lebih tinggi daripada honor menerjemahkan pasangan bahasa Inggris-Indonesia dan persaingannya tidak seketat persaingan pasangan bahasa Inggris-Indonesia (yang kita bicarakan di sini adalah honor dalam mata uang asing). Tak heran beliau menyatakan bahwa

“Menerjemahkan itu tidak cuma bisa membantu keuangan keluarga, bahkan bisa buat tumpuan, menyekolahkan anak, beli mobil, rumah dan lain-lain.”

Aku sempat penasaran, memangnya apa yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah, apa ada pasarnya? Ternyata, selain situs web, manual telepon genggam, game, dan panduan wisata juga termasuk produk-produk yang disediakan dalam bahasa daerah. Selain itu, ada juga topik-topik, legal, umum, agama, filsafat dan lain-lain, hingga ke menerjemahkan (lebih tepatnya menjelaskan) lagu/tembang.

Ada semacam bursa tempat bertemunya para penyedia jasa penerjemahan dan  pencari jasa di dunia maya. Di situs-situs semacam ini, proyek terjemahan ditawarkan melalui direktori penerjemah online dan halaman profil pemakai. Kita bisa mendaftar untuk memasarkan jasa kita di bursa itu agar mudah mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan yang diposting oleh para pencari jasa terjemahan. Beberapa di antaranya yang terkemuka adalah Translators Cafe dan ProZ. Keanggotaan situs bisa gratis atau berbayar. Kelebihan dari keanggotaan berbayar adalah mendapatkan prioritas untuk melamar lowongan yang tersedia, di samping manfaat-manfaat lainnya. Keanggotaannya pun tidak murah, per tahun $110.00. Konon, kata yang sudah menjadi anggota, investasi tersebut bisa kembali sebelum satu tahun berakhir. Nah, kedua situs ini punya program pelokalan atau menerjemahkan isi situs ke dalam berbagai bahasa, di antaranya bahasa daerah. Saat ini bahasa daerah di Indonesia yang sudah ada di ProZ dan Translators Cafe adalah bahasa Jawa. Pelokalan ini umumnya digarap oleh anggota dengan imbalan keanggotaan gratis (entah itu setahun penuh atau beberapa bulan, tergantung dari volume penerjemahan).

Kalau begini caranya, siapa yang tidak cinta pada bahasa daerah? Penguasaan bahasa daerah ternyata bisa mendatangkan rezeki!

Ehm… dalam rangka mengasah kemampuanku berbahasa Sunda, kucoba menerjemahkan paragraf di atas dengan bantuan Kamus Basa sunda dan www.kamusbahasasunda.com (correct me if I’m wrong):

“Di Talaga Bodas. Angin berdesir, sepoi-sepoi, dingin. Bau belerang samar terhirup. Penciuman Udara dipenuhi dengan aroma pewarna kimia pabrik. Air putih kehijauan tenang dipermainkan angin, beriak ke arah pesisir. Rerumputan ikut bergoyang. Dari kejauhan, dari kejauhan, asap putih melayang ke awang-awang. Kabut turun ke sela-sela pepohonan. Gubuk-gubuk meringkuk. Duh dingin sekali pundak tengkuk ini.”*

Di suatu tempat, 26/02.

* Terjemahan sudah dikoreksi oleh si empunya tulisan.

Iklan

6 thoughts on “Cintaku Kepada Baha$a Daerah Takkan Padam

Add yours

  1. wuaaaaaaaah tertohok, saya org Jawa sih, tp krn lahir n besar di Surabaya maka bosonya ya boso Arek Suroboyo hehehe

    btw itu gambar Tugu Pahlawan bukan ya? #malah komen gambar 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: