Nukilan favorit dari buku “Roots and Wings”

Untuk kurenungkan  kala order sedang sepi dan kekhawatiran tak ayal melandaku:

“Saya sedang berlibur di Diu, dan saya berjalan kaki di pantai. saat masih pagi pada suatu hari. Laut yang berkilauan cemerlang dengan warna oranye lembut, mengalihkan pandangan langsung dari langit yang terbuka. Matahari, yang masih berupa bola oranye, dengan cepat berubah menjadi kuning cerah seiring dengan berlalunya waktu. Embusan angin, sepoi-sepoi dan cepat, berbisik di antara pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dan membuat mereka menari mengikuti kehendaknya. Kicauan burung-burung pagi memberikan lirik kepada alunan musik pengantar tarian. Alam bersuka cita menyambut pagi yang indah, dan saya lebih dari ingin bergabung dengan perayaan itu.

Saya menerima sambutan air laut sejuk yang menenangkan, yang membelai kaki saya dari waktu ke waktu. Suara ombak yang berat dan berwibawa menyelimuti sekeliling dengan keagungannya dan saya berserah diri dengan memejamkan mata dan tidak mendengarkan apa-apa lagi selain itu. Ada keindahan, kebahagiaan dan kepuasan di mana-mana. Saya berjalan sekitar 100 meter dan setelah itu berbalik. Tampaklah jejak kaki saya, begitu jelas di atas pantai luas, dan itu membuat saya merasakan kebanggaan aneh.  Sekarang saya berkonsentrasi pada membuat impresi yang lebih baik di atas pasir. Saya berjalan dengan langkah yang diperhitungkan untuk meninggalkan jarak yang sama panjang di antara langkah, mencoba mengatur tekanan di atas tanah dengan setiap langkah untuk membawa konsistensi pada kedalaman yang saya buat… hilanglah sudah matahari, lenyaplah gelombang, sirnalah semua keindahan.

Setelah membuat langkah-langkah yang dipantau secara serius, saya berbalik dan sekali lagi mengagumi jejak yang saya buat. Gelombang besar yang sampai saat ini tadi menjadi sekutu saya dengan menggelitik, membawakan kebahagiaan, mendadak berubah menjadi musuh saat menghancurkan karya seni saya, dengan kejam menghapus jerih payah saya. Agar tidak dikuasai kekecewaan saya mencoba membuat jejak kaki baru, hanya untuk disapu ombak lagi. Saya berjalan sedikit lebih jauh dari pantai untuk membuat jejak lagi; sebuah ombak membuat karya seni saya bernasib sama dengan yang tadi. Saya menyimpulkan, “Kalau pekerjaan saya untuk sementara tidak sesuai dengan megahnya kehidupan, kenapa tidak berkonsentrasi pada menikmati kemegahan itu saja.” Saya kembali ke keindahan hidup. Sensasi kebahagiaan, kepuasan dan kegembiraan yang sudah tidak asing lagi kembali membanjiri. Saat itu saya melihat kulit kerang indah di pasir dan membungkuk untuk memungutnya sebagai oleh-oleh untuk putri saya dan di hadapan saya terhamparlah jejak kaki saya, berkilauan, tertawa, berbaring di atas pasir, menyatu dengan alam. Saya memetik pelajaran, ‘Ikutilah kata hatimu, maka yang lain-lainnya akan mengikuti.'”

Roots and Wings, karya Raksha Bharadia.

Baca tentang tips untuk menghadapi ‘masa kekeringan.

footprint
Di Pelabuhan Ratu.
Iklan

2 thoughts on “Nukilan favorit dari buku “Roots and Wings”

Add yours

    1. Salam kenal.
      Sebenernya ini konteksnya mengasuh anak alias parenting. Kalau mendidik anak dibuat seperti hitungan matematika niscaya banyak makna yang hilang dari prosesnya. Entah mengapa kupikir ini cocok buatku yang tempo hari lagi galau saat sepi order 😉 Tapi beneran lho, dengan bersyukur masih bisa idup aja rasanya sudah hilang separuh beban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: