Catatan Bacaan

taking-notes-dogear
Ini bukunya Fanda.

Suatu hari aku pernah menemukan satu kata (nama latin sesuatu) yang panjangnya hampir satu setengah senti. Sayang waktu itu aku tidak mencatatnya jadi lupa kata apakah itu dan di buku mana. Sekarang, saat membaca novel, baik sekadar menikmatinya maupun memeriksa hasil terjemahanku yang sudah terbit, sering aku menandainya atau membuat catatan. Biasanya yang kutandai adalah frasa yang kusukai, kosa kata yang baru kutemui, terjemahan cantik, kalimat absurd atau, kalau dalam buku terjemahanku, bagian-bagian yang dikoreksi dan typo alias salah tik.

Aku paling benci melihat buku dilipat. Merusak pemandangan. Mau marah rasanya kalau bukuku dibegitukan. Lebih baik diberi penanda buku saja. Dilipat ujungnya saja udah bikin senewen, apalagi ditulisi *mimpi buruk.* Aku pernah menulisi buku gara-gara menonton salah satu episode Gilmore Girls. Jess Mariano (Milo Ventimiglia) yang badung ternyata gemar membaca. Dia meminjamkan bukunya yang sudah dibubuhi catatan pendapatnya tentang apa yang dituliskan di buku itu kepada Rory (Alexis Bledel). Dari situlah Rory mulai tertarik kepada Jess karena ternyata cowok itu tidak sedangkal yang dibayangkannya. Bukannya aku ingin memikat seseorang, tapi gagasan menulis di dalam novel itu baru bagiku jadi ingin tahu seperti apa rasanya. Ternyata rasanya sama sekali tidak menyenangkan. *kapok.* Setiap kumembuka buku itu seakan-akan dia memandangku dengan tatapan menuduh. Aku jadi merasa bersalah karena telah ‘menodai’ kertasnya  dengan tulisanku yang tidak sedap dipandang mata.

2013-02-10 13.41.36

Pernah juga aku berusaha membuat catatan di buku tulis. Masalahnya, setelahnya tidak ada jaminan aku bisa membaca tulisanku sendiri. Karena sudah terbiasa mengetik, tulisan tanganku jadi jelek sekali. Alamak! Bagaimana kalau aku ikutan Tes Sertifikasi Nasional penerjemah kalau begini caranya! Omong-omong, aku juga sering bermasalah dengan bank atau asuransi perkara tandatangan. Sulit rasanya menirukan tanda tanganku sendiri. << Tidak berbakat jadi direktur.

flag

Jadi, untuk buku tercetak aku lebih suka menggunakan kertas catatan lengket (post-it notes) dan menandai buku dengan plastik penanda yang banyak tersedia di toko buku, meniru salah satu kiat Truly Rudiono dalam membuat resensi buku. Kalau buku elektronik lebih mudah lagi prosesnya. E-book readerku bisa ‘mencoret-coret’ buku dan menyimpan sebagai satu kesatuan dengan e-booknya. Tentu saja andalan utamaku adalah daya ingat. Catatan ini hanya berguna untuk mempermudah menemukan kembali frasa yang kuperlukan. Biarlah aku sering nyasar dan suka lupa orang, asalkan aku ingat garis besar kebanyakan buku-buku yang pernah kubaca.

Kalau kamu bagaimana?

how to open new book

Iklan

4 thoughts on “Catatan Bacaan

Add yours

  1. Melipat ujung halaman asal kecil aja, dan langsung diluruskan lagi segera setelah selesai, lalu disimpan di rak di antara jajaran buku2 lain, gak kentara kok bekasnya. Setelah agak lama, aku bahkan pernah mencari lagi bagian yg pernah aku lipat, dan sudah gak bisa kutemukan lagi. Buatku pake post-it ribet, harus beli dan kurang praktis kalau untuk baca di jalan atau tempat umum.

    1. Menuduhku menodainya hahahaha. Wah kreatif tuh, bikin penanda buku sendiri. Biasanya kalau lagi kepepet, struk pembelanjaan pun bisa jadi penanda buku, bahkan kadang-kadang uang. Tapi aku cuma sekali thok nandain buku pake uang. Soale uangnya kepake batasnya hilang deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: