Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Untung Ruginya Jadi Anggota HPI

Aku mendaftar dan diterima sebagai anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) pada tahun 2011, setelah punya cukup bukti terjemahan berbayar sesuai dengan syarat keanggotaan. Selama menjadi anggota HPI, sudah beberapa kali klien mengatakan bahwa mereka memilihku karena aku anggota HPI. Dengan mengikuti pertemuan-pertemuan HPI aku mendapat banyak ilmu dan membangun jaringan di kalangan penerjemah. Namun, harap diingat bahwa HPI itu himpunan profesi, bukan agen penyalur order terjemah, atau tempat meminta diajari untuk menjadi penerjemah. Walaupun demikian, HPI mengadakan pelatihan atau pertemuan dengan tema berbagi pengalaman yang dapat diikuti oleh siapa saja.

09022013-9

Pertemuan HPI 9 Februari 2013 di PDS HB Jassin, Taman Izmail Marzuki, Jakarta.
Foto hasil Jepretan Arfan Achyar.

Acara pertemuan Himpunan Penerjemah Indonesia pertama tahun 2013 diadakan pada tanggal 9 Februari 2013 di PDS HB Jassin, Jakarta. Selain sebagai syukuran hari jadi yang ke-39, acara diisi dengan gelar wicara “Sukses Membangun dan Beralih Karier Menjadi Penerjemah/Juru Bahasa: Bagaimana Tantangan dan Kiat Mengatasinya” dengan narasumber Bapak Wiyanto Suroso, Ibu Naindra Pramudita dan Ibu Claryssa Suci Fong, pengukuhan Penerjemah Bersertifikasi Nasional dan peluncuran Direktori Penerjemah/Juru Bahasa Himpunan Penerjemah Indonesia.

Ketiga narasumber gelar wicara memaparkan bagaimana pengalaman mereka sampai terjun ke dunia penerjemahan. Pak Wiyanto yang dahulu konsultan mengambil keputusan yang menurutnya berani yaitu menjadi penerjemah purnawaktu. Pasalnya, saat Pak Wiyanto mengikuti Ujian Kemampuan Penerjemah (UKP) beberapa tahun silam, beliau terheran-heran mendapati para peserta ujian kebanyakan penerjemah lepas. Ternyata pekerjaan yang selama ini ditekuni sebagai bagian dari pekerjaannya sebagai konsultan itu bisa dijadikan sandaran hidup. Bukan hanya Pak Wiyanto yang tercengang seperti itu. Ibu Dita, begitu panggilan akrab Ibu Naindra Pramudita, juga mengalaminya. Setelah kiprahnya di BPPN berakhir, berkat temannya yang sudah 10 tahun menggeluti dunia penerjemahan Bu Dita mengenal dan kemudian menyelami profesi yang kian menjanjikan ini.

Pertama-tama yang disiapkan Bu Dita adalah Curriculum Vitae atau Resume. Rupanya, CV penerjemah tidak seperti CV karyawan. Sebagai ‘brosur’ jasa yang kita tawarkan, CV penerjemah harus semenarik mungkin tanpa terlihat terlalu bombastis.

CV boleh dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, disesuaikan dengan calon klien. Selain itu, lampirkan juga contoh terjemahan yang kita buat. Dari sesi tanya-jawab, diketahui bahwa pemberi kerja lebih menyukai melihat informasi yang spesifik, sesuai dengan keahlian yang dicarinya. Oleh karena itu, lumrah bila seseorang memiliki beberapa versi CV yang disesuaikan dengan calon pemberi kerja yang dituju. Bila sudah punya pengalaman, kita bisa juga mengelompokkannya—untuk orang-orang seperti aku yang selain menerjemahkan novel juga menerjemahkan dokumen, misalnya, atau penerjemah yang sekaligus penyunting, juru bahasa, dll.—berdasarkan keahlian dan menaruh bidang yang sedang kita lamar di urutan paling atas, atau dipisahkan sama sekali.

Bagaimana bila belum punya pengalaman? Tidak usah berkecil hati, penerjemah bisa memasukkan informasi tentang minat terbesarnya pada bidang apa, untuk memperbesar peluang mendapatkan tempat di ceruk pasar yang dibidik.

keepcalmBagaimana dengan juru bahasa, samakah? Kata Ibu Claryssa Suci Fong, ketua HPI Komisariat Daerah (Komda) Provinsi DIY-Jateng yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta, CV seorang juru bahasa tidak jauh berbeda dengan penerjemah, hanya saja penguasaan perangkat lunak tidak terlalu signifikan. Bahkan, dari pengalamannya, kebanyakan kliennya lebih memilih rekomendasi dari mulut ke telinga ketimbang CV. Ibu Claryssa menambahkan, kartu keanggotaan HPI (anggota penuh) menambah kredibilitas juru bahasa dan penerjemah. Di Bali, keanggotaan HPI diterima sebagai kredibilitas pemegangnya untuk menjadi juru bahasa di pengadilan. Dalam pemaparannya, baik Pak Wiyanto, Bu Dita maupun Bu Claryssa mengaku kesejahteraan mereka meningkat setelah menjadi anggota HPI.

Pada ulang tahunnya yang ke-39 ini, HPI mengukuhkan para anggotanya yang lulus Tes Sertifikasi Nasional (TSN). Dari sekian banyak peserta tes yang lulus, 17 orang hadir untuk menerima sertifikat. Penerima sertifikat termasuk Pak Eddie Notowidigdo, Ketua HPI, dan Pak Hendarto Setiadi, Ketua HPI periode 2007-2010.

Setelah makan siang sambil dihibur oleh para penerjemah bersuara emas dengan diiringi organ, tibalah acara yang dinanti-nantikan yaitu peluncuran Direktori Penerjemah/Juru Bahasa Himpunan Penerjemah Indonesia, http://sihapei.hpi.or.id. Direktori online ini menampilkan nama-nama anggota penuh HPI berikut dengan bidang keahlian dan data diri yang memudahkan pihak calon pemberi kerja menghubungi penerjemah. Fitur-fitur dalam direktori ini dibuat sebagian besar berdasarkan pengalaman Bapak Eddie tentang informasi yang biasanya ingin diketahui oleh calon pemberi kerja. Setiap anggota penuh nanti akan mendapatkan surat elektronik pemberitahuan tentang bagaimana cara untuk mengakses direktori dan memperbarui data masing-masing.

Menurut Pak Eddie,

“…dengan adanya direktori ini para pengguna jasa di mana pun dapat dengan mudah mencari dan memilih penerjemah/juru bahasa HPI yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, direktori ini merupakan layanan HPI kepada para anggotanya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan menyediakan pajanan (exposure) secara nasional dan internasional guna menjangkau pasar luar negeri dan meningkatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di dalam negeri.”

Pada kesempatan ini, Bapak Ivan Lanin yang memimpin tim Infotek HPI memperlihatkan tampilan layar laman-laman direktori dan menjelaskan fitur-fitur apa saja yang terdapat di dalamnya. Kontan para hadirin yang masih memenuhi ruangan acara menghujani Pak Eddie dan Pak Ivan dengan pertanyaan dan masukan. Direktori versi pertama ini akan siap dipakai publik pada bulan Maret 2013. Jika keanggotaan HPI saja membuat kesejahteraan para narasumber gelar wicara meningkat, bisa dibayangkan betapa besar dampak direktori ini terhadap penerjemah.

Nah, itulah keuntungan menjadi anggota HPI. Kerugiannya? Bagiku sih tidak ada. 😀

Kesan peserta yang datang untuk pertama kalinya ke acara pertemuan HPI:

“Untuk pemula seperti saya, pertemuan ini membuka dunia baru banget dan terkesan dengan kekompakan para pengurusnya, kekeluargaannya dan senior-seniornya yang engak pelit bagi ilmu. Yang baru jadi merasa diakui, langsung nyaman. Pak Eddie itu baik banget ya. Saya menambahkan teman ke grup HPI, dan cerita tentang acara kemarin. Dia menjadi  interpreter sejak tahun 1989 di Sidoarjo, bisa bahasa Inggis, Italia dan Jepang. Dia langsung berencana melengkapi syarat (referensi) untuk menjadi anggota HPI, dan ingin datang kalau ada acara lagi. Saya mau mendaftar jadi anggota muda karena ingin kerja dari rumah, tidak kuat menghadapi macetnya Ibu Kota.”

– Dedeh Handayani, orang yang sedang belajar menjadi penerjemah.

Iklan

36 comments on “Untung Ruginya Jadi Anggota HPI

  1. Ceritaeka
    Februari 10, 2013

    Wow aku baru tahu soal HPI ini mbak. Aku sering diminta nerjemahin di kantor sih tapi gak tahu kalau bisa diseriusin begini

    • Dina Begum
      Februari 10, 2013

      Kalau dikau turut melihat statistik penghasilan Pak Wi kemarin, mungkin dirimu ikutan Pak Wi berhenti kerja dan jadi penerjemah penuh heheh… Pokoknya bikin ngiler deh!

      • Ceritaeka
        Februari 12, 2013

        Mbak kalau ada acara gini, aku diajak dunk mbak 😀 *pupoy eyes*

        • Dina Begum
          Februari 12, 2013

          OK. Biasanya HPI ngadain pertemuan setiap dua bulan. Sambil ngumpul kita bikin sesi berbagi dengan narasumber beda-beda, untuk ‘mengorek’ kiat sukses mereka. Seru dan bermanfaat deh.

          • Ceritaeka
            Februari 14, 2013

            Menanti colekan di FB KEB 😛 hehe

  2. Indradya SP
    Februari 11, 2013

    Penghasilannya bisa buat backapacking nggak mbak? 🙂

    • Dina Begum
      Februari 11, 2013

      Bisa aja kayaknya… ada juga tuh penerjemah yang hobi couch surfing. Kalau aku sih baru sampai pada tahap bagpacking ke rumah ortu yang satu provinsi ^_^

      • Indradya SP
        Februari 11, 2013

        Kayaknya suatu hari mesti begini nih….udah muak sama macet. Yah, risiko sih tinggal di pulau terpadat sedunia 😛

  3. Intan Permatasari
    Februari 11, 2013

    Mbak Dina, salam kenal ya. kemarin mau nyapa di acara HPI, cuman bingung mau ngomong apa. hehe. Intan

    • Dina Begum
      Februari 11, 2013

      Hai Intan… waah kok gitu… Tapi tenang, biasanya HPI kumpul2 setiap dua bulanan. Bisa ketemuan lagi 🙂

  4. UnikTenan
    Februari 12, 2013

    makin banyak kategori himpunan,, makin spesifik makin asik. haha

  5. nafasdunia
    Februari 12, 2013

    bookmark dulu ah. kirim komentarnya besok 😀

    • Dina Begum
      Februari 12, 2013

      yasudah reply-nya juga besok aja ;D

      • nafasdunia
        Februari 13, 2013

        ini sudah ‘besok’ 🙂
        ternyata nggak jadi komentar. cuma mau bilang makasih buat posting yg informatif ini ❤
        konon bekerja jadi penerjemah itu 'menempuh jalan yang sunyi'
        tapi kalo melihat cerita di posting ini, sepertinya jalan itu nggak sunyi-sunyi amat 😀

        • Dina Begum
          Februari 13, 2013

          Mungkin sebelum pemakaian internet meluas seperti sekarang ini memang begitu (ga kebayang deh). Sekarang, ditambah lagi dengan adanya berbagai media sosial, para pekerja lepas bisa dengan mudah saling berhubungan dan ketika bertemu langsung ‘klik’.

  6. puspa
    Februari 13, 2013

    Mbak,saya bercita-cita jadi penerjemah,sekarang saya kerja di KONI Prov Serang…langkah awal apa yg harus saya lakukan??T_T

    • Dina Begum
      Februari 13, 2013

      Langkah awalnya adalah banyak baca dan menerjemahkan.
      Kalau yang Mbak Puspa maksud adalah bagaimana cara mencari order penerjemahan, setelah bisa menerjemahkan aku melakukannya dengan melamar ke pihak-pihak yang mencari jasa penerjemah. Mungkin Mbak tertarik membaca pengalamanku ini:
      https://dinabegum.wordpress.com/2011/09/29/sekadar-berbagi-bagaimana-caraku-sampai-menjadi-penerjemah/

      • puspa
        Februari 14, 2013

        Saya sndiri msh blajar menerjemahkan,hanya saja belum memiliki tutor…jadi koreksi sendiri kadang terlihat bagus semua hehee..
        Hrus ambil kelas/pendidikan/pelatihannya mngkin ya mbak?

        • Dina Begum
          Februari 14, 2013

          Harus banyak latihan, sebenarnya.

          • puspa
            Februari 14, 2013

            Terima kasih atas sarannya mbak,sy akn terus berusaha..doakan suatu hari sy bsa bergabung di Himpunan Penerjemah dan bertemu lngsung dgn Mbak Dina,aamiin 🙂

          • Dina Begum
            Februari 14, 2013

            Kalau sempat datang aja ke acara kumpul2 HPI. Dulu pas pertama dateng aku juga sungkan tapi setelahnya merasa bersyukur saat itu dateng. 🙂

  7. Ping-balik: CV Penerjemah, Perlu Dibuat Berbeda | LAMFARO

  8. Wahyu
    Februari 24, 2013

    Salam kenal Mbak Dina, aku Wahyu. Belakangan ini aku lagi ‘getol-getolnya’ mendalami dunia penerjemahan. Nah salah satunya HPI ini. Aku pengen gabung di HPI, tapi gimana caranya ya? Barusan aku cek di situsnya tinggal minta formulir aja gitu? Pengen banget jadi penerjemah sukses *Amiiin* 🙂

    • Dina Begum
      Februari 24, 2013

      Hai Wahyu. Salam kenal juga.
      Iya, ikuti saja petunjuk dan persyaratan di laman HPI itu.

  9. seawind
    April 12, 2013

    Mbak Din, aku baru baca “http://www.hpi.or.id/lang/id/kiat-memilih-penerjemah”. Di bagian “Tanya: Mengapa tarifnya mahal?”, disebutkan bahwa tarif minimum yang dianjurkan oleh HPI adalah Rp 150.000,- per halaman.

    Itu serius? Berarti untuk nerjemahin novel dg jumlah halaman rata-rata 200 halaman aja misalnya, tarifnya Rp 30juta??? Buseeeddd… aku gak pernah tau klo segitu “basahnya” ladang terjemahan ini. #ngeces

    • Dina Begum
      April 12, 2013

      Itu untuk dokumen, say. Untuk buku jauh lebih rendah dari itu.

      • seawind
        April 12, 2013

        Oohhh… kirain utk buku. Salah paham aku.
        Tapi tetap menggiurkan juga ya. Akta PT, misalnya dg jumlah halaman 22 hlm (kyk akta PT kantorku), dikali 150rb = 3,3 juta. Wiiiiihh.. sekali nerjemahin dapet segitu. #tetepngeces

        • Dina Begum
          April 12, 2013

          Kalau akta atau dokumen hukum honornya bahkan bisa jauh lebih tinggi dari dokumen biasa. 😉
          Slllrrrp!

  10. Andrie Prasetyo
    Juli 23, 2014

    Jadi kalau mau jadi anggota HPI, harus udah pengalaman ya? Saya newbie, basic-nya guru Bahasa Inggris… Jadi belum punya pengalaman menerjemah buku. Kalau ngajar sih udah dari 2008. Kemarin lihat situs HPI katanya ada “junior member” itu kalo newbie kayak saya bisa kan?

    Saya udah daftar jadi junior member, itu biasanya diproses berapa lama ya mbak? Maaf banyak nanya…

  11. Andrie Prasetyo
    Juli 23, 2014

    Makasih atas responnya mbak, Ternyata fast response sama newbie kayak saya….
    *terharu*
    Oh ya, di link yang Mbak kasih disebut harus cantumkan contoh terjemahan. Kemarin tempo hari nggak saya cantumkan karena saya nggak menemukan prosedur itu di website resminya. Apa perlu saya kirim ulang lagi dengan attachment tambahan?
    Maturnuwun sanget

    • Dina Begum
      Juli 23, 2014

      Silakan hubungi Sekretariat ya, Mas Andrie. 🙂

  12. ann
    Mei 22, 2015

    Permisi mba dina salam kenal, saya dan teman saya mau menjadi anggota HPI. Baru saja ingin mendaftar. Tapi saya dan teman saya belum ada sama sekali pengalaman dalam menerjemahkan, boleg minta alamat email mba dina untuk bertanya-tanya?

    Terima kasih, mba.

    • Dina Begum
      Mei 22, 2015

      Salam kenal, Ann.
      Silakan baca blog ini untuk mengetahui tentang pengalamanku sebagai penerjemah. Email untuk terima order saja. 😀

  13. Mutiara Selatan
    November 26, 2016

    Hai mba,
    Infonya menarik sekali. Sy sudah lama ingin menjadi penerjemah indo ing, ing indo. Tapi sy tdk tau caranya dan dr mana harus memulainya. Mohon bimbingannya. Saat ini sy sem 1 sastra ingg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 10, 2013 by in Laporan Pandangan Mata and tagged , , .

Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 265,038 hits
%d blogger menyukai ini: