Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Baby, it’s cold outside

Bekerja-mati-lampu

Mati listrik, tetap menerjemahkan. Mengisi daya baterai dengan aki mobil.

Teringat ke masa-masa masih jadi pegawai kantoran, musim hujan merupakan saat yang kusuka sekaligus kubenci. Lahir dan dibesarkan di Bogor, aku suka musim hujan semata-mata karena terbiasa dengan mendung. Aku jadi benci musim hujan tatkala menghadapi banjir yang melanda Ibu Kota tempatku mencari nafkah.

Pagi merupakan waktu yang berat saat musim hujan, ketika aku harus berbisik “I have to go,” lalu dijawab, “But, baby, it’s cold outside…” oleh bantalku.

Lantai dasar gedung S. Widjojo tempat kantorku berada pernah terendam beberapa puluh senti tahun 1992, kala itu aku masih dalam masa percobaan sebagai karyawan baru. Kantor suamiku di Bukit Duri malah terendam sampai sekitar tiga meter pada tahun 1997. Aku pernah naik bus pergi ke kantor dan tanpa turun ikut lagi ke Bekasi karena banjir menggenangi jalan-jalan di kawasan Sudirman beberapa tahun silam. Berjam-jam di jalan, dari jendela bus kota kusaksikan air mengalir deras menggenangi jalan. Para penumpang yang naik untuk kembali ke Bekasi mengaku terdampar di jalan, tidak bisa mengantor lalu memutuskan pulang saja. Diguyur hujan deras, banyak yang terpaksa berjalan beberapa jam mengarungi genangan air yang permukaannya terus naik dalam upaya mencapai kantor tapi gagal. Sesampainya di kompleks, banjir sudah tinggi. Baru kali itu aku naik becak dengan kaki sampai bokong basah kuyup.

Di kantor, saking banyaknya kawan-kawan yang kebanjiran, ketinggian air banjir di wilayah tempat tinggal mereka seakan jadi kontes.

“Rumah gue kebanjiran sampe sebetis.”

“Di rumah gue banjir sedengkul.”

“Air yang masuk ke rumah cuma sampai semata kaki… di lantai dua!” <– semoga cuma bercanda.

“I almost feel bad because I can’t brag about the water level…”

Yang terakhir itu kata salah satu kolega orang Inggris. Dia seakan kecewa karena rumah dan wilayah tempat tinggalnya aman dan bebas banjir. Walau begitu, keprihatin terpancar dari wajahnya mendengar nasib beberapa teman yang terpaksa mengungsi karena rumah mereka kebanjiran.

Terbersit perasaan bersalah karena bersyukur sekarang aku bisa mencari nafkah dari rumah. Namun, percayalah, hatiku turut merasakan penderitaan para pekerja yang kesulitan pergi dan pulang kantor. Kupanjatkan doa semoga mereka yang kemalangan akibat banjir bisa bertahan dan semoga air cepat surut. Kuharap mereka tidak melupakan ini, agar semakin banyak orang yang sadar lingkungan, tidak buang sampah sembarangan, menanam lebih banyak pohon dan menyediakan lebih banyak daerah resapan air. Hormatku yang setinggi-tingginya untuk para sukarelawan yang membantu para korban banjir, termasuk hewan-hewan peliharaan telantar.

Iklan

One comment on “Baby, it’s cold outside

  1. Petz
    Januari 21, 2013

    “I almost feel bad because I can’t brag about the water level…”

    even if he/she is not an Indonesian, we are felow human after all..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 18, 2013 by in Ini-itu and tagged .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 261,995 hits
%d blogger menyukai ini: