Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Punya NPWP? Punya dong.

Kembali HPI menyelenggarakan Komp@k di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat tanggal 2 Desember 2012. Mengingat lembaran tahun 2012 sudah hampir habis, dengan cermat HPI memilih topik Pelaporan Pajak untuk Penerjemah dan Laporan Kegiatan HPI Tahun 2012. Sebenarnya aku sudah pernah mengikuti pemaparan tentang pajak yang juga diselenggarakan HPI beberapa tahun silam di Pusat Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, tapi ingin tahu apakah ada pembaruan.

Kali ini HPI mengundang konsultan pajak MIM Consulting sebagai narasumber. Pemaparan Mbak Ayu dan Mas Dodi yang diselingi tanya-jawab sistematis lebih membuka mataku yang baru sejak tahun 2009 memiliki NPWP, membayar pajak dan membuat pelaporannya ini.

Disimpulkan, sebagai penerjemah lepas pajak kita termasuk ke dalam jenis Pajak Orang Pribadi. Objek pajaknya adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, yang berasal dari Indonesia atau dari luar Indonesia dengan nama dan bentuk apa pun.

Untuk metode penghitungannya, kita memakai Norma, yaitu dengan cara mengalikan seluruh penghasilan bruto yang diterima dengan persentase yang sudah ditetapkan oleh Direktoran Jenderal Pajak. Menurut MIM Consulting, untuk penerjemah, norma yang digunakan adalah 50% (untuk yang berdomisili di 10 ibu kota provinsi), 47,5% (kota provinsi lain), dan 45% (daerah lain). Di sini ada perbedaan. Banyak di antara para penerjemah, termasuk aku, selama ini memakai norma 35%. Saat mengisi SPT untuk pertama kalinya, oleh petugas di kantor pajak jenis pekerjaanku dimasukkan ke dalam golongan ‘jasa penunjang hiburan’ (kemungkinan pak petugasnya teringat subtitle film yang baru ditontonnya) dan norma yang dipakai 35%. Yang mana yang kita pakai? Aku sih mengikuti keputusan petugas pajak di tempatku mendaftar saja deh 😉

Wajib Pajak memiliki Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

PTKP setahun (2012)
Rp
PTKP setahun  (2013)
Rp
Wajib Pajak Orang Pribadi 15.840.000 24.300.000
Tambahan Wajib Pajak Kawin 1.320.000 2.025.000
Tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan suami 15.840.000 24.300.000
Tambahan untuk anggotan keluarga sedarah dan semenda dalam satu garis keturunan lurus (orang tua atau anak, bukan adik/kakak) 1.320.000 2.025.000

Harap periksa berapa PTKP tahun pajak terbaru karena angkanya cenderung naik setiap tahunnya.

Tarif Pajak penghasilan Orang Pribadi:

Tarif Penghasilan Rp.
5% Sampai dengan 50.000.000
15% 50.000.000 – 250.000.000
25% 250.000.000 – 500.000.000
30% Di atas 500.000.000

Rumus menghitung pajak penghasilan:

(Penerimaan bruto x norma) – Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) = n

Yang harus dibayarkan: n x tarif.

Sebagai ilustrasi, berikut contohnya (diambil dari sana).

Fulan menikah dan mempunyai 3 (tiga) orang anak, istri tidak bekerja. Fulan tinggal di Jakarta dan memiliki usaha Rotan di Cirebon. Selain usaha rotan Fulan juga seorang penerjemah di Jakarta.

Peredaran Usaha Rotan (setahun) = Rp.40.000.000,-

Penerimaan Bruto sebagai penerjemah = Rp.72.000.000,-

Penghasilan Neto dihitung sebagai berikut :

– Dari Industri Rotan : 12,5% x Rp.40.000.000,- = Rp.5.000.000,-

– Dari Sebagai Penerjemah : 45% x Rp.72.000.000,- = Rp.32.400.000,-

– Jumlah Penghasilan Neto = Rp.37.400.000,-

PPh = Ph Neto – PTKP

PPh = Rp.37.400.000 – Rp.21.120.0000 = Rp.16.280.000,-

PPh terutang = 5% x Rp.16.280.000,- = Rp.814.000,-

Perusahaan pemberi order penerjemahan memotong PPh pasal 21 dan/atau Pasal 26 sebesar 50% dari  Dasar Pengenaan Pajak (jadi 2,5%). Jadi, misalnya Fulan menggarap proyek senilai Rp 10.000.000 dia akan dipotong Rp 250.000. Bukti potong ini harus diminta untuk dilampirkan saat melapor pada akhir tahun yang akan mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan. Kalau tidak ada bukti potong, honor yang sudah dipotong seharusnya dibayarkan kepada penerjemah dan setelah dihitung secara keseluruhan kelak disetorkan ke negara melalui bank atau kantor pos.

Kalau Fulan menerima pembayaran dalam mata uang asing, dia harus mengacu kepada kurs pajak yang diperbarui per minggu untuk mengetahui berapa rupiah penghasilannya bulan tersebut.

Pelaporan

Sebagai Wajib pajak orang pribadi yang dalam satu tahun pajak menerima atau memperoleh penghasilan di atas penghasilan tidak kena pajak (PTKP) kita wajib melapor dengan mengisi SPT tahunan. Untuk kita, penerjemah lepas, formulirnya menggunakan SPT Orang Pribadi 1770. Tahun pajaknya ialah Januari hingga Desember dengan tenggat mengirimkan SPT tanggal 31 Maret. Jika terlambat melapor ada denda Rp100.000.

Fulan harus melampirkan satu lembar berisi perincian penghasilan selama satu tahun. (Berupa tabel sederhana yang memerinci penghasilan selama 12 bulan dari bulan Januari 2012 sampai Desember 2012) DAN bukti potong dari perusahaan. Karena sudah dipotong oleh klien, kemungkinan Fulan lebih bayar. Bagaimana cara memintanya kembali? Saranku sih ikhlaskan sajalah. Tidak sebanding dengan mengurusnya. Itulah sebabnya aku lebih memilih membayar pajak pada akhir tahun saja.

Sebenarnya rugi sekali tidak datang di acara ini, karena kondisi masing-masing berbeda sehingga apabila ada pertanyaan bisa langsung dijawab oleh ahlinya. Ada yang bertanya bagaimana dengan ibu tunggal beranak dua, apakah PTKPnya juga ditambah dengan adanya tanggunan dua anak? Karena Indonesia menganut sistem patriarkat, wanita tidak menanggung keturunan. Akan tetapi, jika memang keadaannya demikian, yang bersangkutan harus melampirkan surat dari kelurahan yang menerangkan bahwa memang dia tidak terikat perkawinan dan menanggung dua anak agar beban pajaknya lebih ringan. Bagaimana bila penerjemah ini wanita yang suaminya sudah pensiun, punya anak, dan NPWP terpisah, bagaimana sebaiknya cara melaporkannya? Disarankan NPWP istri dicabut saja dan pelaporan penghasilan istri digabung dengan suami.

Sehubungan dengan acuan tarif penerjemahan HPI, bagaimana cara menyiasati jika kita ingin menerima honor secara utuh setelah dipotong pajak? Istilahnya gross up, katanya. Kalau memang ingin begitu, mau tidak mau harus menaikkan honor dong. Aku sih tidak keberatan dipotong pajak, tidak pakai grossup-grossup-an. Toh menurutku itu sudah kewajiban. Dan masih banyak lagi yang bisa ditanyakan dan dijawab langsung oleh konsultan pajak andal ini.

Penghitungan pajak ini self-assessment. Jadi tergantung kejujuran si pelapor. Sebaiknya dokumen kita lengkap dan disimpan dengan baik. Idealnya semua bukti potong, tanda terima penyerahan dokumen pajak dan lain-lain kita simpan selama minimal lima tahun.

Ada lagi pertanyaan tentang penghitungan pajak agensi penerjemahan. Karena usahaku belum sampai ke situ, aku tidak terlalu menyimaknya.

Ada peserta yang menyatakan keengganannya mendaftar untuk mendapatkan NPWP. Khawatir diperiksa, khawatir kena denda dan lain-lain. Kalau aku sih karena klien meminta NPWP, dan kalau tidak punya peluangku mendapatkan pekerjaan mengecil, aku memilih mendaftar. Clarissa dari Jogja berbagi pengalamannya yang karena tidak punya NPWP honornya dipotong 21%. Nah, pilih mana, meluangkan waktu untuk mencatat pemasukan selama setahun dan melaporkannya setahun sekali atau penghasilan kena potongan lebih besar gara-gara tidak punya NPWP?

Mengisi formulir SPT 1770 yang “sudah disederhanakan” (6 lembar!) merupakan kerumitan tersendiri dan memang tidak dibahas dalam acara Komp@k ini. Pernah seorang teman mengajariku cara mengisi formulir ini, “Dari lembar paling belakang dulu,” katanya. Terus terang formulir ini rumit. Menyebalkan sekali. Mau bayar pajak saja kok dipersulit. :p Akan tetapi, tetap saja menurutku sebanding dengan manfaat kelancaran usaha yang didapat.

Acara kedua, yaitu pemaparan kegiatan HPI sepanjang tahun 2012 merupakan rekapitulasi kegiatan yang sebagian besar dapat dilihat di sini. Pak Eddie, selaku ketua, juga menyampaikan rencana tahun depan yang akan membuat direktori penerjemah online. Kalau butuh juru tik aku siap membantu, Pak.

 

Iklan

7 comments on “Punya NPWP? Punya dong.

  1. hana
    Desember 4, 2012

    aku istri TKI mak , harus punya NPwp ga? hehe

    • Dina Begum
      Desember 4, 2012

      Hmmm itu mah perlu ditanyakeun kepada konsultan pajak… 🙂

  2. rodamemn
    Desember 4, 2012

    wah mbak…ricni dan jelas sekali…a pusing klo mikirin pajak di Indonesia, maslahnya tidak selaras dengan biaya hidup dan fasilitas umum yang kita rasakan..hiks…

    • Dina Begum
      Desember 4, 2012

      Memang bete abis kalau mikirin itu. Alasanku sih jelas, banyak klien yang hanya mau menyewa jasa supplier yang memiliki NPWP. Dengan sendirinya kalau ga punya akan tersingkir dari persaingan. Kalau pun ada yang tidak keberatan berurusan dengan yang ga punya NPWP biasanya memotong honor lebih besar. Lagian, gak mesti bayar pajak kok jika penghasilannya di bawah jumlah tertentu. Hanya melapor saja, dengan angka nihil. Aku sih lebih memilih berpenghasilan sebesar penghasilan pak Fulan dan membayar pajak daripada terhambat gara-gara ga punya NPWP 🙂
      Perkara fasilitas umum yang dirasa kurang memadai, bagiku itu sesuatu yang tidak bisa kuubah secara langsung. Jika setidaknya dengan membayar pajak ada peluang untuk memperbaiki itu, dengan senang hati aku bersedia melakukannya demi peace of mind (jadi inget “inner peace… inner peace…” hehehe). Kalau sama sekali tidak… yah… gimanaaa gitu.

  3. rina
    Desember 5, 2012

    punya donk..oh ya klo tulisan saya dimuat dimedia kok diminta no npwp buat apa ya…apa honor dipotong pajak? padaha jumlahnya gak besar…

    • Dina Begum
      Desember 5, 2012

      Hai Rina. Mungkin aja honornya dipotong pajak walau ga gede, mungkin juga enggak. Untuk lebih jelasnya silakan ditanyakan ke pihak yang meminta nomor NPWPnya. 🙂

  4. jessmite
    Desember 15, 2013

    udah pernah ke kantor pajak sama suami utk bikin npwp, eh katanya security “untuk apa bikin npwp?”
    maklum saya ibu rumah tangga aja hmmm…. cape deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 3, 2012 by in Laporan Pandangan Mata and tagged , .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 258,285 hits
%d blogger menyukai ini: