Syahdan…

Sebagai pencari nafkah tunggal dalam keluarga, tak terpikir sekali pun olehku untuk sembarangan berganti profesi, walaupun kata-kata ‘restrukturisasi’, ‘perubahan’, dan entah apa lagi istilah penghalus – yang berarti pengurangan pegawai – berseliweran kala itu. Sudah beberapa kali kantor tempatku bekerja dilanda berbagai gejolak karena program restrukturisasi. Oleh karena itu, hari itu perasaanku sudah kebas, tak lagi terkejut dengan pemberitahuan keputusan restrukturisasi yang harus kuterima pada bulan Oktober 2007. Apalagi posisiku ada di divisi gabungan, yang membuatku terkena Skema Pemberhentian Kerja Berdasarkan Kesepakatan.

BC-220208Organisasi asing tempatku dulu bekerja itu sudah menjadi rumah kedua bagiku. Berdiri sejak tahun 1948, nilai-nilai yang dianutnya selaras dengan sebagian besar nilai-nilai yang kujunjung tinggi. Pekerjaannya menyenangkan sehingga walau terkadang berat jadi tak terasa, dan imbalannya (apalagi tunjangan kesehatannya) lebih dari cukup, plus banyak kesempatan mendapatkan pelatihan yang terkadang diselenggarakan di luar kota bahkan di luar negeri. Rasanya berat hati ini meninggalkan zona nyaman yang sudah kuhuni selama hampir enam belas tahun itu. Sempat terpikirkan untuk kembali melamar posisi kosong yang diakibatkan restrukturisasi..

Tentu saja aku sempat galau. Betapa tidak,  cicilan pinjaman belum lunas, anak masih kecil-kecil, aku bukan sarjana, kepandaianku pas-pasan, tidak punya jaringan luas, punya keluarga yang harus dinafkahi, dan bukan saudara orang-orang berpengaruh. Aku bersikap tenang bukan karena aku manusia dinamis yang gemar menerima tantangan, panjang akal, dan serba bisa. Bukan. Jauh dari itu. Aku ketakutan setengah mati.  Kalau dipikir-pikir lagi, justru karena tidak punya apa-apa itulah yang membuatku merasa tidak kehilangan banyak. Oh, ya, aku memang kehilangan penghasilan tetap dan bagiku itu cukup banyak. Akan tetapi, daripada tertekan dan akibatnya anak-anakku tidak punya masa depan, seperti biasa aku berpikir “Nanti saja kucari solusi masalah itu kalau sudah terjadi.” Aku di-PHK dan harus memikirkan cara agar dalam waktu enam bulan sampai satu tahun ke depan, aku sudah mempunyai mata pencaharian lain.

Naluriku berkata… Baca selengkapnya.

Iklan

24 thoughts on “Syahdan…

Add yours

  1. Huaaa…kebeneran pas baca ini aku sedang galau mikirin keuangan setelah berhenti kerja, mbak…Ternyata dunia tulis menulis itu bisa menghasilkan ya! Makasih ya mbak tulisannya bikin aku tetap semangat utk nulis!

  2. Din, seru juga ceritamu … kagak nyangka gue elo mengalami hal kayak begini …. Setiap manusia pasti mengalami peristiwa dimana itu menjadi turning pointnya …. Hidup memang selalu penuh tantangan … dinikmati ajha … Aku yakin sekarang kamu sudah mulai “harvest” dari apa yang pernah dikau “invest”.
    Maju terus Din … hidup selalu penuh dengan warna dan justru warna-warna itu yang membuat kita menjadi manusia yang berbeda ….. Keep fighting and never give up !!!!!

  3. Mbak Dinaaaa…….

    hikss… *tak terasa menetes air matakuuu*….

    Dunia memang kadang terasa mengombang-ambing kehidupan kita dengan caranya yang aneh namun penuh makna. Beruntunglah bagi mereka yang tetap kuat dan tidak berputus asa…

    My dream, ingin jadi penerjemah juga mbak, sekarang aku dalam proses latihan-latihan-dan-latihan terjemah, sudah kukirim lamaran ditolak-tidak dijawab-ditolak… *blm ada order satupun*… Semoga segera datang… amiin.. _/\_.

    Pengen beli CAT Tools tapi belum sanggup :(( … (hihiii jadi pake yg gratisan dulu :D)

    Semoga ada sweet memories at the end…

    SEMANGATTTT!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: