Dina's Pensieve

Blog penerjemah bersertifikat HPI

Syahdan (3)

Lanjutan dari Syahdan… dan Syahdan (2)

Manis, ya, kisah hidupku? Tidak juga. Aku pernah mengalami kejadian memalukan yang menjadi cambuk untuk terus belajar. Sementara itu, usaha yang dijalankan suami dengan uang hasil pesangonku mengalami kemacetan. Anakku kecelakaan, sempat kehilangan kesadaran karena mengalami pendarahan otak dan harus dioperasi untuk memperbaiki rahangnya yang patah.* Keadaan keuangan kami mulai gonjang-ganjing. Aku mulai berpikir untuk melupakan keinginan menjadi penerjemah lepas purnawaktu yang penghasilannya tak menentu. Lamaran demi lamaran kembali kulayangkan ke berbagai kantor yang sedang membutuhkan karyawan. Entah mengapa semua pintu seakan tertutup untukku. Pada saat-saat seperti inilah hobiku yang lain, yoga, yang telah kutekuni sejak beberapa tahun sebelumnya mulai terasa manfaatnya.  Well, sh*t happens, so what? pikirku. Aku memilih untuk tetap optimis dan bahagia.

Percayalah, agar sesuatu berjalan dengan baik harus tercapai keseimbangan. Untuk menyeimbangkan keterisolasian di rumah, aku menggunakan internet untuk berhubungan dengan dunia luar, mengikuti perkembangan – dan gosip-gosip – dan mendapat teman baru di samping memelihara hubungan baik dengan teman-teman lama. Dengan ‘mencuri’ dan menerapkan trik-trik dari rekan-rekan penerjemah sukses, aku menjaga profil dan pergaulanku di dunia maya agar tetap santun. Lalu pada suatu sore yang bersejarah, aku ‘mengobrol’ dengan teman Facebook menggunakan fasilitas chat. Ternyata dia editor sebuah penerbitan ternama. Sebagai tindak lanjut dari obrolan-garis-miring-agak-menjurus-ke-wawancara itu, aku mengirimkan lamaran beserta contoh hasil terjemahan. Setelah mengerjakan materi tes, aku pun diterima dan mendapatkan order penerjemahan novel pertamaku. Alhamdulillah. Rupanya alasan semua pintu tertutup untukku selama ini yaitu agar aku bisa membuka satu pintu yang menuju ke jalan yang tepat.

Pesona-Penyikap-Makna-200x209

Buku terbaru Bahtera, terbit bulan Maret 2013.

Bahtera menerbitkan kumpulan cerita pendek tentang pengalaman para penerjemah, Tersesat Membawa Nikmat dan  Menatah Makna. Bak gurun pasir yang mendambakan hujan, aku menyesap kisah demi kisah pelipur dahaga. Dari situ aku bisa mengintip sekelumit seluk-beluk dunia penerjemahan – baik kisah keberhasilan maupun kegagalan – dan dari situ pulalah aku mengenal CAT Tool (Computer Aided Translation Tool), yaitu perangkat lunak yang mampu menyimpan hasil penerjemahan kita ke dalam memorinya. Jadi, jika suatu saat kita menemukan lagi frasa yang sama dengan yang sudah diterjemahkan sebelumnya, maka perangkat lunak itu akan memunculkan terjemahannya dari memori. Tidak perlu mengetik ulang. Maksimal hanya perlu sedikit penyuntingan untuk menyesuaikan dengan konteks. Penggarapan terjemahan jadi lebih cepat selesai dan konsistensinya terjaga, sehingga bisa menerima order lain. Kuunduh perangkat lunak gratisannya, belajar sendiri dari manualnya. Ketika HPI, kemudian Bahtera, menyelenggarakan pelatihan menggunakan CAT Tool, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftar, walaupun biaya keikutsertaannya lumayan besar bagi penerjemah pemula sepertiku.

Masalahnya, CAT Tool gratisan yang diunduh dari situs web penyedia perangkat lunak itu kapasitasnya terbatas, sementara lisensinya cukup mahal. Ada kebimbangan yang muncul, apakah aku perlu untuk membeli lisensinya atau tidak? Namun setelah bertanya sana-sini kepada teman-teman penerjemah sukses, kuputuskan untuk membelinya – hitung-hitung untuk investasi. Kata-kata seorang penerjemah sukses, “Kalau mau dapat order kelas kakap, umpannya jangan setengah-setengah,” terngiang-ngiang di benakku.

Kepercayaan diriku semakin meningkat. Dengan CAT Tool sudah tertanam di komputer, aku pun siap menghadapi tantangan. Benar saja, rata-rata penggarapan penerjemahan menjadi lebih cepat sekitar 30 persen, dan investasi tersebut sudah balik modal oleh sebagian honor dari satu proyek penerjemahan, terutama kalau menerjemahkan materi yang banyak pengulangannya. Selain untuk dokumen nonbuku, aku juga sering menggunakan CAT Tool untuk menerjemahkan buku.

Jika dibandingkan dengan sewaktu masih bekerja di kantor, penghasilanku yang sekarang jauh berbeda. Kadang kurang, kadang lebih, kadang bahkan tidak ada pemasukan sama sekali dalam sebulan. Tapi, yang jelas, semua itu kudapat tanpa bekerja. Aku begitu menikmati kegiatan menerjemahkan sehingga rasanya sama sekali tidak bekerja, melainkan melakukan hobi yang dilakukan di rumah dan mendapat penghasilan dari situ, sambil mengurus rumah tangga. Dapat bonus terbebas dari kemacetan, pula! 😀 Masa-masa sulit sebagai breadwinner tentu masih kualami tapi semua itu terbayar oleh masa-masa yang membuatku terus mengucap syukur.

Tulisan ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen “Bye-bye Office” terbitan MIC Publishing pada bulan Maret 2012.

* Peristiwa kecelakaan ini terjadi tiga tahun yang lalu, alhamdulillah dia sudah sehat wal afiat, sudah jadi mahasiswa, sementara adiknya duduk di bangku SMA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 7, 2012 by in Di balik layar and tagged .

Bergabunglah dengan 325 pengikut lainnya

Arsip

Statistik Blog

  • 262,033 hits
%d blogger menyukai ini: